
Menjelajahi hutan yang lebat adalah seorang gadis muda berambut panjang berwarna ungu gelap yang mengenakan sebuah tudung berwarna hijau daun.
Dengan sebuah pisau kecil di tangannya, dia tidak menggunakannya sebagai senjata melainkan menjadikannya sekop untuk memanen tanaman herbal yang tumbuh subur di dalam hutan.
Tangannya dengan cekatan memetik tanaman herbal dengan penuh kehati-hatian lalu memasukkannya ke dalam keranjang besar yang ada di punggungnya.
Setelah selesai memanen tanaman herbal yang ada di sekitar sana, gadis itu lalu bangkit sambil membenarkan posisi kacamatanya sebelum akhirnya dengan cekatan berlari di antara pepohonan tanpa menimbulkan banyak suara.
Langkahnya begitu senyap sehingga kau mungkin tidak akan menyadari kalau dia baru saja lewat di sana.
Grrrrrr.... menjelajah di hutan rimba, tentu saja berarti kalau kau akan bertemu dengan Mobs yang ganas.
Tidak berusaha untuk kabur ataupun langsung menyerang, gadis itu segera menundukkan badannya berusaha untuk berbaur dengan lingkungan sekitar. Berkat efek dari tudung yang dia kenakan, mempermudah dirinya untuk melakukan itu.
Mengambil sebuah kantung dari penyimpanannya, kantung itu berisikan sebuah serbuk berkilauan yang lalu dia taburkan ke seluruh tubuhnya yang membuatnya sukses menyamarkan aroma tubuhnya.
Sambil menahan nafasnya, gadis itu menunggu sampai Mobs yang berwujud seperti macan untuk menjauh sebelum dia akhirnya bisa pergi dari sana.
Setelah menunggu dengan sabar, gadis itu akhirnya lolos dari bahaya.
Tidak ingin berlama-lama, gadis itu segera pergi menjauh menuju tempat tujuannya yang berikutnya.
Dia pergi dengan terburu-buru sampai tidak menyadari ada seekor burung dengan bulu keemasan bertengger santai di atas pepohonan dengan matanya yang terus mengawasi setiap pergerakannya.
Dari hutan yang lebat kini beralih ke daerah pinggiran hutan dengan pemandangan sebuah sungai kecil yang mengalir dengan tenang. Tidak jauh dari sungai tersebut terdapat sebuah pondok kecil yang ditumbuhi oleh tanaman merambat sehingga membuat orang yang melewatinya akan mengira kalau pondok itu telah lama ditinggalkan.
Berjalan melewati rerumputan ilalang yang tumbuh dengan liar, gadis itu meraih gagang pintu pondok itu, membukanya, lalu segera menutupnya ketika dia telah memasuki pondok tersebut.
Dapat terlihat kalau bagian interior dari pondok tersebut tidak jauh berbeda dengan bagian luarnya.
Berbagai macam tanaman liar tumbuh dengan subur pada lantai pondok yang terbuat dari tanah. Jika ada yang berbeda itu adalah sebuah meja panjang yang dipenuhi oleh berbagai macam botol kosong serta perlengkapan kimia yang tidak banyak orang yang tahu apa fungsinya.
Meletakkan keranjang yang dia bawa ke sudut ruangan, gadis itu lalu mencatat semua yang terjadi selama dia pergi ke dalam sebuah buku catatan yang tersembunyi di atas jendela pondok yang dibiarkan tertutup.
Selesai mengisi lembaran kertas pada buku tersebut, dia lalu menyimpannya kembali dengan rapi ke tempat asalnya. “Hah...” menghembuskan nafas lelah, gadis itu mengambil sebuah kain usang lalu menggelarnya di atas lantai berumput sebelum akhirnya berbaring di atasnya.
Sambil memejamkan matanya, tombol Log Out pun ditekan dan sosok gadis itu berubah menjadi butiran cahaya.
...
Terbangun dari kapsul VR nya, adalah seorang gadis muda dengan rambut panjang berwarna hitam gelap. Rambutnya begitu panjang hingga mencapai lututnya serta kedua matanya tertutup oleh poninya yang menutupi setengah wajah bagian atasnya.
Berjalan di dalam kamar yang gelap, hanya cahaya lampu dari kapsul VR yang menjadi penerangnya.
Karena daster tipis yang dia kenakan, membuat gadis itu seketika menggigil kedinginan setelah keluar dari perlindungan kapsul VR yang hangat. Mengambil jaket yang tergeletak begitu saja di atas tempat tidurnya, gadis itu lalu mengenakannya sebelum mengambil ponselnya yang baru saja menerima sebuah pesan.
Melihat kalau itu adalah pesan suara, gadis itu lalu memutarnya.
“Raisya sayang, kabar kamu gimana? Sudah makan secara teratur? Sudah tidur yang cukup?”
Melemparkan ponselnya ke atas kasur, gadis itu yang bernama Raisya menyalakan lampu yang akhirnya menunjukkan interior dari kamar apartemennya yang sangat berantakan.
Selagi Raisya pergi ke dapur untuk mengambil mie gelas, pesan dari ponselnya masih berputar.
“...Ibu tahu kalau semester baru baru saja dimulai. Ibu cuman mau mengingatkan untuk fokus belajar. Jangan keseringan main sama teman terlebih kalau mereka dari kalangan bawah...”
Meraih remot TV yang terselip di bawah bantal, Raisya terus menekan tombol remot untuk mencari tontonan yang dia rasa menarik.
“Jujur, Ibu masih tidak suka ketika Raisya memilih untuk bersekolah di SMA Kamboja. Padahal Raisya itu anaknya pintar, daripada SMA kampungan itu kau lebih pantas untuk bersekolah di SMA Nusantara tempat para kaum elit belajar. Kakakmu itu lulusan dari sana dan sekarang sudah bekerja di Rumah Sakit ternama. Sedangkan adikmu
tahun ini juga telah masuk di sana. Ibu tahu kalau kamu sudah masuk ke kelas 3 SMA, tapi pindah sekolah masih bisa kan?”
Membiarkan ponselnya berbicara sendiri, Raisya yang baru saja menyelesaikan acara makan sederhananya segera mengambil handuk dan masuk ke kamar mandi.
Beberapa menit kemudian...
Sambil mengeringkan rambutnya, menyadari kalau ponselnya sudah berhenti berbunyi Raisya pun segera mengambilnya. Tidak menghiraukan puluhan pesan yang tidak terbaca serta panggilan yang tidak terjawab, jari-jarinya dengan lincah membuka Forum NFO untuk memeriksa kabar terbaru.
• (NFO) The Newbie Thief
Besok sudah update!!!!
Jadi tidak sabar untuk event terbarunya!
• (NFO) The Newbie Shaman
Event masih lama! Yang penting seletah Update itu soal Familia!
Ahh... Aku penasaran Familia mana yang akan mengajakku untuk bergabung
• (NFO) The Newbie Killer
Emang enggak mau bikin sendiri?
• (NFO) The Newbie Shaman
Baru level 20, belum bisa bikin
• (NFO) The Newbie Thief
Pffft... Baru level 20 aja mimpi sudah selangit
Aku dong sudah level 25!
• (NFO) The Newbie Assassin
Alah, baru level 20-an udah bangga!
Aku dong....
Melihat forum masih ribut seperti biasanya, sebuah senyumanpun tercipta di bibir manis Raisya.
Mengarahkan pandangannya ke atas langit, sebuah ******* panjang dia keluarkan. “Familia yah...” sempat berpikir untuk bergabung, dia yang berada di total level 27 pastinya akan diterima dengan tangan terbuka oleh banyak Familia. Dan jika Raisya mau menunggu sedikit lebih lama lagi, total level 30 pasti bisa dia capai dan dia pun telah memenuhi syarat untuk membuat Familia nya sendiri.
Namun semua itu hanyalah angan belaka.
Bahkan jika Raisya telah mencapai total level 30 sekalipun, dia yang selalu bermain sendirian mustahil untuk bisa menemukan Pemain lainnya yang mau membentuk sebuah Familia bersama dirinya. Bahkan jika Raisya hendak bergabung dengan sebuah Familia, setelah mereka mengetahui identitas Raisya yang sebenarnya mereka pasti akan segera mengeluarkannya.
“Tunggu, bukannya sekarang aku sedang berada di fraksi bayangan? Kalau mereka, mungkin saja...”
Awalnya berada di fraksi cahaya, semuanya berjalan biasa-biasa saja sampai Raisya yang sedang sibuk mengumpulkan material tiba-tiba saja di sapa dari belakang yang sontak saja membuatnya terkejut. Karena Raisya pada saat itu tidak memiliki Job yang memberikannya metode untuk mempertahankan diri, Raisya mempersenjatai dirinya dengan racun hasil dari racikannya sendiri.
Karena selalu menyiapkan racun di tangan, Raisya yang terkejut secara spontan langsung melemparkan racun yang ada di tangannya.
Betapa terkejutnya Raisya saat menyadari kalau dia baru saja melempari seorang Pemain lainnya tepat di wajah.
Karena pada saat itu semua orang masih memulai, membuat total HP mereka tidaklah begitu banyak. Setelah terkena racun mujarab dari Raisya tepat di muka mereka, sebuah serangan kritikal tercipta yang di tambah dengan efek racun yang memberikan kerusakan dari waktu ke waktu membuat Pemain sial itu akhirnya berubah menjadi
butiran cahaya.
Melihat Pemain itu perlahan menghilang dan hanya meninggalkan sebuah belati yang kini tergeletak bersama dengan kepingan uang. Raisya yang tidak tahu harus bagaimana memutuskan untuk memungut semua barang drop itu untuk dikembalikan kemudian.
Tidak pernah Raisya menyangka kalau beberapa hari kemudian Pemain itu kembali menemuinya sambil membawa beberapa kawan bersamanya.
Melihat pihak lain menghunuskan senjata mereka, sontak saja Raisya yang awalnya hendak berbaikan menjadi panik dan langsung mengambil langkah seribu. Sial bagi Raisya karena pihak lain tidak mau menyerah dan malah mengejar dirinya.
Dalam kepanikannya Raisya terus saja melemparkan segala jenis racun serta Potion yang berisikan efek buruk berharap itu akan menghambat mereka.
Setelah berlari cukup lama, barulah Raisya sadar kalau dirinya tidak lagi dikejar. Mengira kalau pihak lain telah menyerah, betapa terkejutnya Raisya setelah tahu kalau semua item yang dia lemparkan bukan hanya berhasil menghambat para pengejar namun juga membuat mereka kini tersungkur di atas tanah menunggu HP mereka menyentuh angka nol.
“Awas saja kau! Dendam ini pasti akan aku balaskan!!!”
Mendengar kata-kata terakhir dari Pemain itu, Raisya pun tahu kalau dia tidak lagi bisa berdiam di fraksi cahaya. Mengemas semua barang-barangnya, Raisya melangkahkan kakinya menuju fraksi netral berharap untuk bisa memulai petualangan yang baru.
Tidak sampai seminggu, hal yang sama kembali terulang.
Kali ini bukan hanya dirinya di incar para Pemain di sana, bahkan para pedagang yang ada di pasar menolak Potion yang dia buat dan langsung memanggil penjaga ketika melihat wajahnya.
Sadar kalau dia tidak lagi bisa tinggal di sana, kini Raisya harus kembali pindah kota.
Berharap kalau kali ini dirinya benar-benar bisa bermain dengan damai, belum juga sampai sehari dirinya sudah dipaksa untuk membantai satu Party Pemain lainnya.
Namun, berbeda dari yang sebelumnya. Party yang dia bantai sebelumnya tidaklah memusuhinya malahan membeli racun darinya.
Sempat bingung, tapi uang tetaplah uang.
Seminggu kemudian, Raisya yang awalnya tidak yakin kini telah terbiasa hidup di Kota Shoddy yang kumuh dan liar.
Memang benar kalau dia harus bertarung dengan sesama Pemain atau hanya Petualang Locals dari waktu ke waktu, tapi mereka yang telah dia kalahkan tidaklah memendam dendam seperti para Pemain dari dua fraksi yang sebelumnya.
Malahan dirinya malah di anggap sebagai salah satu Pemain yang harus diwaspadai. Raisya bahkan mendengar rumor yang berbunyi “Jika kau menemukan seorang gadis berambut ungu di dalam hutan. Janganlah didekati karena dia adalah Venomous Maiden!” tidak tahu darimana rumor itu berasal, tapi berkat itu semakin jarang ada
Pemain yang mencari masalah dengan dirinya.
Bahkan jika ada sekalipun, antara mereka adalah Pemain yang tidak tahu apa-apa atau pelanggan yang sedang mencari racun mujarab untuk Quest mereka.
Dan menjadi semakin mudah membedakan mereka karena para pelanggan akan memanggilnya dari jauh untuk mengutarakan niat mereka.
Berkat itu semua Raisya akhirnya bisa bermain dengan damai seperti para Pemain lainnya.
“Tetap saja, Familia yah...”
Masih bingung apakah dirinya akan bergabung ke dalam sebuah Familia atau tidak, Raisya yang tidak mau ambil pusing segera membereskan kamarnya sebelum akhirnya kembali Log In.
...
Membuka matanya, Raisya atau kini bernama Silvia menemukan kalau dirinya masih berada di dalam pondok
kecil yang dia jadikan sebagai markasnya.
Bangkit dari tempatnya berbaring, baru juga Silvia hendak mengolah semua material yang baru dia kumpulkan menggunakan alkemi. Betapa terkejutnya dirinya setelah menyadari kalau meja tempat dia bisa bekerja kini telah kosong melompong.
Apa yang awalnya dipenuhi oleh perlengkapan kimia kini menjadi bersih dengan hanya menyisakan secarik kertas yang tergeletak di sana begitu saja.
Meraih kertas tersebut, Silvia pun membaca apa yang tertulis di atasnya.
“Jika ingin semua perlengkapanmu kembali\, datanglah ke Kedai Polar Night di jalan *** pada malam hari waktu game”
-Heartless Necromancer
Melihat siapa yang meninggalkan kertas tersebut, betapa terkejutnya dirinya karena dia tahu siapa yang meninggalkan pesan tersebut.
“Heartless Necromancer? Apa yang di inginkan oleh Pemain kelas atas seperti dirinya dariku?”
Semenjak Silvia menginjakkan kakinya di fraksi bayangan, nama Heartless Necromancer sudah berkali-kali dia dengar.
Selalu aktif di forum, setiap kemunculannya selalu membawa berita besar yang menggemparkan satu fraksi.
Pemain pertama yang menemukan Main Quest, mampu mengalahkan seorang Pemegang Insignia sekaligus menjadi Pemain pertama yang juga menjadi seorang Pemegang Insignia, dan yang paling baru adalah penampilannya di acara Live Stream sebagai perwakilan dari fraksi bayangan.
Silvia masih tidak tahu apakah orang yang meninggalkan pesan ini adalah Heartless Necromancer yang sebenarnya atau hanya sekedar peniru yang menggunakan namanya. Tapi, fakta kalau dirinya telah di maling tetap tidak berubah.
“Palsu atau bukan, aku harus tetap pergi”
Tidak mau kehilangan perlengkapan mahalnya, Silvia segera meraih atap pondok yang lapuk untuk mengambil racun yang dia simpan. “Kosong!” tidak menemukan apa-apa, Silvia segera menuju tempat penyimpanannya yang lain di sekitar pondok. Hanya untuk menemukan kalau semuanya juga telah kosong tidak bersisa.
“Kau serius?”
Panik sekaligus putus asa mulai melanda dirinya.
Silvia tidak tahu apa yang sebenarnya telah dia lakukan sampai diperlakukan seperti ini. Yang jelas, siapapun yang melakukan ini pastinya orang sangat hati-hati sampai-sampai mereka rela menyisir seluruh area pondok untuk menemukan tempat penyimpanan rahasianya.
“Kalau yang ini sampai ditemukan juga...” dengan satu harapan terakhir yang tersisa, Silvia pun melangkahkan kakinya ke arah sungai kecil yang mengalir dengan tenang di dekat podoknya. Menghitung lima langkah dari pinggiran sungai, tepat 21 langkah dari pohon yang bercabang dua. Silvia pun mulai menggali.
Setelah menggali sedalam 1 meter, Silvia akhirnya menemukan apa yang dia cari.
Tertimbun di dalam tanah adalah sebuah kotak kayu yang berisikan hasil eksperimennya yang gagal.
Ketika seorang Alchemist gagal dalam kreasinya, maka kerja kerasnya akan berubah menjadi sampah. Akan tetapi, selain Alchemsit Silvia juga memiliki Job Herbalist.
Berbeda dari Alchemist, jika seorang Herbalist gagal ketika meramu obat, maka bukannya obat yang mereka dapat melainkan sebuah racun yang mematikan yang tercipta.
Hal inilah yang membuat Silvia memiliki persediaan racun yang melimpah sampai-sampai dia tidak tahu di mana harus menyimpannya.
Awalnya menu penyimpanannya sudah lebih dari cukup. Tapi, setelah menonton acara Live Stream, dengan terburu-buru Silvia segera mencari tempat untuk menyimpan semua racun miliknya.
Siapa yang akan menyangka kalau niatnya untuk berjaga-jaga malah akan membuatnya kesusahan seperti ini.
Mengutuk kesialannya sendiri, Silvia yang sudah menyiapkan amunisinya segera berjalan menuju alamat tempat perlengkapan kimianya telah menunggu.
...
Walau matahari sudah tenggelam, namun kota masih terlihat sibuk.
Yang menjadi pembeda dengan siang hari adalah para gelandangan dan berandalan yang memenuhi jalanan melebihi yang sebelumnya.
Tentu saja ini bukanlah lingkungan yang aman bagi seorang gadis muda berkeliaran sendirian.
Akan tetapi, hal yang sama tidak bisa dikatakan kepada Silvia.
Bukannya takut kepada para berandalan yang semuanya memiliki tampang yang sangar dan garang, malahan orang-orang yang bermuka sangar dan garang itulah yang malah gemetar ketakutan ketika melihat penampilan Silvia yang berjalan santai di tengah jalan.
Tidak hanya itu, bahkan tidak sedikit dari mereka yang memilih minggir untuk membukakan jalan bagi Silvia agar bisa lewat.
“Hei, kenapa mereka malah minggir melihat gadis itu?”
“Kau tidak tahu! Dia itu Venomous Maiden!”
“Jangan terkecoh oleh wajahnya yang manis! Sekali kau mendekat, bukannya madu yang kau dapat melainkan racun yang akan kau rasakan! Aku serius!!!”
“Hah... Kemarin Heartless Necromancer. Sekarang ada Venomous Maiden! Jalanan ini semakin tidak aman saja”
Tidak memedulikan bisikan orang-orang, Silvia terus saja melaju hingga akhirnya dia tiba di tujuan.
Melihat simbol bulan purnama dengan kepingan salju ditengahnya, tidak salah lagi ini adalah Kedai Polar Night yang disebutkan di dalam pesan. Walau terdapat tanda ‘Tutup’ yang terpampang jelas di depan pintunya, dengan langkah yang berani Silvia tetap masuk ke dalam kedai.
Apa yang pertama kali menyambut Silvia adalah pemandangan meja dan kursi yang tertata rapi yang tidak akan pernah kau temui di kedai kebanyakan. Dinding-dindingnya dihiasi oleh berbagai macam ornamen yang menambah kesan kalau ini adalah kedai dari abad pertengahan.
Berjalan lurus ke depan, maka kau akan tiba di sebuah meja bar yang terlihat antik dan dipenuhi oleh berbagai macam botol minuman yang siap di ramu.
Sudah menunggu di sana adalah seorang wanita berambut putih serta memiliki sepasang mata merah menyala. Mengenakan jubah perca berwarna kelam, asal dia bukan orang lain yang mengenakan Equipment yang serupa, maka tidak salah lagi kalau wanita yang ada di hadapannya sekarang adalah Pemain paling terkenal di seluruh fraksi bayangan, sang Heartless Necromancer.
Meningkatkan kewaspadaannya, Silvia pun berjalan mendekatinya sambil memegang erat sebotol racun yang dia sembunyikan di balik tudungnya.
“Tidak usah tegang begitu, bagaimana kalau kita minum-minum terlebih dahulu?” menawarkan segelas minuman, Silvia yang masih ingat umur segera menolak tawarannya.
“Maaf, umurku masih belum sampai 20 tahun”
“Tenang saja, ini hanyalah jus buah”
Karena gelas yang digunakan adalah gelas kayu, membuat Silvia jadi tidak bisa melihat warna dari minuman tersebut. Akan tetapi, dari aromanya saja dia sudah tahu minuman apa itu sebenarnya.
“Jus Buah yang sudah difermentasi kan? Aku tidak akan tertipu oleh trik murahan seperti itu”
“Hahaha... Senang tahu kalau kau itu cerdas” menenggak habis isi gelas yang dia pegang, Bang! Gelas itu dia letakkan dengan kuat ke atas meja sebelum akhirnya menatap ke arah Silvia dengan pandangan yang serius.
“Apakah kau tahu alasan kenapa aku memaksamu untuk datang kesini?”
Menggelengkan kepalanya, Silvia benar-benar tidak tahu kenapa dia bisa sampai menarik perhatian Pemain sekelas Heartless Necromancer.
“Apakah aku pernah membunuh kawanmu atau semacamnya?”
“Kurang lebih, tapi bukan itu alasanku untuk memanggilmu kesini”
Menurunkan tudung serta melepaskan masker yang menutupi wajahnya, kini tampak jelas wajah cantik yang selama ini dia sembunyikan. Dengan sebuah senyuman manis di wajahnya, Winter pun berkata...
“Venomous Maiden, aku ingin kau untuk bergabung dengan Familia yang akan aku buat”