A Journey Of A Heartless Necromancer

A Journey Of A Heartless Necromancer
Chapter 27 : Chic in Action



Itu adalah sesosok makhluk dengan rupa yang sulit untuk dijelaskan.


Memiliki tubuh yang kurus kering seperti sebuah ranting. Berjalan dengan dua kaki kurus yang panjangnya mencangkup lebih dari setengah tubuhnya. Kedua lengannya yang juga tidak kalah kurusnya memanjang hingga melebihi dua meter. Memiliki total 12 jari yang tampak seperti bilah pisau yang tajam, tangan makhluk itu terlihat begitu mengerikan hingga membuat bulu kuduk merinding.


Dengan kulit yang pucat seperti mayat, tubuhnya diselimuti oleh semacam kain putih seperti kain kafan yang hanya menutupi bagian atas tubuhnya serta menutupi seluruh kepalanya seperti sebuah tudung sehingga mustahil untuk melihat seperti apa wajahnya yang sebenarnya.


Cara berjalannya tampak aneh karena dia berjinjit dengan ujung jari kakinya bagaikan seorang anak yang takut ketahuan saat sedang begadang di malam hari.


Yang paling aneh adalah wujudnya yang terkadang tampak jelas di mata, terkadang terlihat transparan, dan terkadang wujudnya tidak terlihat sama sekali.


Memperhatikan Mobs Langka ini dari balik semak-semak, Chic sampai bertanya-tanya apakah dia baru saja salah game dan malah memainkan game horror.


Untungnya matahari masih tinggi di langit, jelas sekali dia tidak mau membayangkan bagaimana jadinya jika dia bertemu dengan makhluk itu di tengah gelapnya malam.


Memperhatikan Mobs Langka itu lebih cermat lagi, Chic berhasil menemukan kalau Mobs Langka itu hanya akan terlihat jelas ketika berada di bawah cahaya matahari. Akan tampak transparan ketika dia baru memasuki bayangan atau ketika cahaya matahari sedang tertutup oleh awan, dan akan hilang sepenuhnya ketika berada di bawah bayang-bayang pohon.


Setelah memperhatikan kalau Mobs itu telah menghilang di bawah bayangan pohon, Chic tidak segera kembali untuk melaporkan ini kepada para Prajurit yang sedang menunggunya tidak jauh di belakang. Sebaliknya, dia


yang sudah bertekad untuk memperkuat dirinya sendiri segera mengikuti Mobs Langka itu ke dalam bayang-bayang.


Berkat Skill Passive nya serta fakta kalau dia sedang menggunakan \ Chic berhasil membunuh suara


langkahnya.


Menggunakan Skill ‘Cover Action’ agar lebih aman Chic sukses membuntuti Mobs Langka itu jauh ke dalam hutan. Ketika Mobs Langka itu berhenti, maka Chic juga akan berhenti. Ketika Mobs Langka itu bergerak, maka Chic juga akan ikut bergerak.


Walau terkadang Mobs Langka itu menjadi tidak kasat mata, tapi Chic masih bisa mengikuti jejaknya yang samar berkat ‘Tracking’ yang kini sudah naik tingkat.


Tidak lama kemudian Chic menghentikan langkahnya. Tidak jauh di hadapannya adalah Mobs Langka itu yang juga sedang berhenti. Walau wajahnya tidak terlihat, tapi dari tudungnya dapat diketahui ke arah mana dia sedang menatap.


Mengikuti arah pandangannya, Chic menemukan kalau Mobs Langka itu sedang memperhatikan seekor Rusa yang sedang asyik makan rumput yang hijau.


Sedetik kemudian Mobs Langka itu segera masuk ke dalam bayang-bayang sehingga wujudnya kini tidak lagi bisa terlihat. Memperhatikan ini, Chic pun menahan nafasnya.


Rusa yang sedang asyik merumput tiba-tiba saja mengangkat kepalanya seolah baru saja merasakan ada sesuatu yang salah. Berusaha memperhatikan jika saja ada bahaya di sekitarnya, tiba-tiba saja bagian dada samping Rusa tersebut berlubang dan menampakkan sebuah telapak tangan yang berlumuran darah.


Ketika tangan itu ditarik kembali, Rusa malang itu bahkan tidak sempat untuk meringis kesakitan ketika pandangan matanya menjadi kosong dan tubuhnya terjatuh ke atas tanah begitu saja. Tidak lama setelah itu tubuh Rusa malang itu tampak sedang dimakan oleh sesuatu.


Meski tubuhnya sekarang sedang tidak kasat mata, tapi darah yang menempel di tangan serta tudungnya membuat Chic dapat dengan mudah memperkirakan posisi Mobs Langka itu dengan cukup akurat.


Melihat Mobs Langka itu yang sedang sibuk makan, Chic pun tidak menyia-nyiakan kesempatan ini.


Masih mengaktifkan ‘Cover Action’ Chic mulai berjalan dengan perlahan ke arah Mobs Langka itu. Selagi berjalan Chic juga dengan hati-hati memperhatikan ke arah mana dia melangkah agar dia tidak menginjak ranting ataupun daun kering yang akan memberitahukan dimana posisinya berada.


Walau sudah lebih dari setengah MP nya habis hanya untuk mengaktifkan ‘Cover Action’ Chic tidak berniat untuk berhemat karena ini memang adalah sebuah pengeluaran yang perlu.


Hanya tinggal kurang dari 5 meter jaraknya dengan Mobs Langka itu. Saat dia sudah berada tepat membelakangi Mobs Langka itu, Chic pun akhirnya mengeluarkan senjatanya. Itu bukanlah \ yang biasa dia gunakan. Tapi itu adalah sebuah pedang pendek dengan bilahnya yang seputih tulang.



Grade : Uncommon     Quality : Normal     Type : Weapon


ATK : 25 Durability : 70


Sebuah pedang pendek yang tercipta dari Skill seekor Sword Bear


Requirement : None


Memegang pedang pendek itu dengan genggaman terbalik, Chic pun kembali menahan nafasnya.


Kini jarak mereka kurang dari 1 meter lagi dan tampaknya Mobs Langka itu masih belum menyadari keberadaan Chic. Melihat kesempatan emas ini, Chic pun tidak menyia-nyiakannya.


“Backstab”


Menusukkan pedang pendeknya ke area di mana jantung Manusia seharusnya berada, Chic tidak merasakan adanya sensasi menusuk daging sebagaimana yang seharusnya. Malahan dia merasa seperti baru saja menusuk


sebuah kardus yang penuh akan debu dan kotoran.


Bahkan bukannya darah yang keluar dari luka yang terbuka melainkan debu putih yang berterbangan.


Meski begitu, rintihan kesakitan dari Mobs Langka tersebut serta angka 470 yang melayang di atas kepala Mobs Langka itu memberitahukan dengan jelas kalau dia telah mengenai targetnya dengan telak.


Akan tetapi, selain bonus dari serangan tersembunyi Chic tidak melihat adanya bonus dari serangan kritikal atau bahkan fatal seperti yang dia harapkan. Bahkan tampaknya serangannya masih belum cukup untuk menjatuhkan Mobs Langka itu.


Sadar akan hal ini Chic tidak menyia-nyiakan waktu dan langsung kembali menyerang menggunakan “Double Stab” yang memungkinkannya untuk menyerang sebanyak dua kali di saat yang hampir bersamaan.


[Double Stab]


MP : 50 CD : 1 menit


Grade : Tier-4 Art


Stats : STR (Power) AGI (Speed) DEX (Accuracy)


Element : Neutral, Pierce Attack


Art Effect : Menusuk lawan sebanyak dua kali dengan cepat..


Effective Range : Jarak dekat


Damage : STR + AGI + DEX + 100% (x2)


Kali ini angka 890 melayang sebanyak dua kali yang total menghasilkan sebanyak 1.780 kerusakan kepada Mobs Langka tersebut.


Tidak perlu diragukan lagi ini adalah jumlah kerusakan terbanyak yang pernah Chic hasilkan dalam satu serangan. Dan hasil dari serangannya ini tentu saja tidak perlu disebutkan lagi.


Tubuhnya yang tidak kasat mata kini terlihat jelas oleh mata telanjang seraya tubuhnya terjatuh lemas ke atas Rusa yang awalnya adalah santapannya. Ketika tubuh Mobs Langka itu telah sepenuhnya berubah menjadi butiran cahaya, hanya tudungnya yang tampak terbuat dari kain kafan saja yang tertinggal.


Tidak punya Skill ‘Appraisal’ membuat mustahil bagi Chic untuk mengetahui stats dan efek dari Equipment yang baru dia dapatkan. Menahan diri untuk tidak langsung memakainya, Chic hanya menyimpannya ke dalam penyimpanan untuk diperiksa oleh Winter nantinya.


...


Bersembunyi dari balik semak-semak di kejauhan adalah Gladius dan para Prajurit bawahannya.


Mereka yang mengikuti Chic dari kejauhan tentu saja telah menyaksikan semua yang telah terjadi. Mereka semua dibuat takjub oleh penampilan Chic yang dapat dengan mudahnya menghabisi Mobs Langka yang telah melukai rekan mereka.


“Dia itu Outsider kan? Apakah semua Outsider sekuat ini?”


“Tidak, para Petualang Outsider yang pernah datang sebelumnya tidaklah sekuat ini”


“Itu berarti Petualang Outsider bernama Chic ini adalah salah satu Outsider terkuat?”


“Aku masih tidak percaya kalau dia masih di tingkat Iron. Orang sepertinya seharusnya berada di peringkat Silver!”


Tidak menghiraukan kicauan bawahannya, mata Gladius terpaku pada Chic.


Sejak awal Chic mulai mengikuti jejak Mobs Langka itu Gladius sudah mengakui keahliannya sebagai seorang Scout. Tapi dari perawakan serta cara berjalannya yang terlalu senyap, dia mulai curiga kalau Chic memiliki Job lain yang berspesialisasi dalam bergerak dalam diam.


Dan tidak butuh waktu lama sebelum dia mendapatkan jawabannya.


Tepat ketika sosok Chic mulai menghilang seolah dia telah berbaur ke dalam bayang-bayang, Gladius langsung tahu kalau itu adalah Skill dari seorang Thief! Dan ketika Chic mulai melancarkan serangannya, itu memberitahukan Gladius kalau Chic juga memiliki Job Assassin!


“Tidak heran jika dia ahli dalam mengendap-endap”


Setelah mengetahu tiga Job yang Chic miliki, Gladius pun mulai menaruh rasa curiga kepadanya. Kalau Job Assassin dia masih bisa membiarkannya karena walau namanya seolah menyiratkan kalau pemiliknya berasal


Gladius bahkan memiliki seorang senior yang juga memiliki Job sebagai Assassin dan ahli dalam bidangnya.


Akan tetapi, Job Thief adalah Job untuk kriminal. Orang biasa tidak mungkin akan memilih Job ini apapun alasannya. Orang-orang yang kedapatan memiliki Job ini kalau bukan gelandangan adalah mereka yang berasal dari Fraksi Bayangan.


“Apa tujuanmu datang kesini?” menggumamkan itu dalam senyap, Gladius pun mulai berjalan mendekati Chic yang baru saja membersihkan pedang pendeknya dengan senyuman ramah di wajahnya.


...


Kembali ke Kuil Dewi Cahaya.


Maria yang kedapatan Quest darurat untuk menyembuhkan luka prajurit yang terluka akhirnya menyelesaikan Questnya setelah setengah jam lamanya.


Walau telah menggunakan ‘Minor Heal’ dan bahkan satu botol \ sekalipun itu masih belum cukup untuk menutup lubang menganga pada perutnya. Barulah setelah berkali-kali menggunakan ‘Minor Heal’ sampai menghabiskan semua MP yang dia miliki serta membanjiri prajurit itu dengan dua \ serta menggunakan \ sebagai penutup luka barulah kondisi prajurit tersebut menjadi stabil dan kini dia sedang tertidur lelap di dalam ruang perawatan.


Sementara itu, Maria yang kelelahan serta kehabisan MP hanya bisa terduduk lepas di ruang pemujaan sambil mengelap keringat di jidatnya dengan handuk bersih. Sebenarnya Maria bisa dengan cepat memulihkan rasa lelah yang dia derita jika saja dia mau meminum satu saja \ tapi dia menolak karena itu hanya akan menghabiskan persediaan Kuil padahal dia lah yang membuat Potion itu sendiri.


Baru saja dia hendak memejamkan matanya untuk mempercepat pemulihan MP nya, terdengar suara segerombolan orang yang masuk ke dalam Kuil.


Menengok ke arah pintu masuk, seketika senyuman cerah merekah di wajahnya.


Mau bagaimana lagi? Sosok yang pertama kali dia lihat adalah Kapten Gladius yang datang kembali tanpa terlihat ada luka atau bahkan lecet sedikitpun pada tubuhnya. Di sampingnya adalah Chic yang juga masih dalam kondisi yang sempurna begitu juga dengan ketiga prajurit yang datang mengiringi mereka dari belakang.


Seolah rasa lelah yang dia derita sebelumnya hanyalah ilusi semata, Maria bergegas untuk menyambut mereka. “Selamat datang kembali, senang tidak ada dari kalian yang terluka” ucapnya dengan senyuman secerah matahari. Melihat ini ketiga prajurit yang datang seketika dibuat terpesona olehnya padahal itu hanyalah sebuah senyuman biasa tanpa ada peningkatan dari Skill apapun.


Berbeda dari ketiga prajurit itu yang bahkan tidak tahu harus berkata apa, Gladius dan Chic dapat dengan mudahnya menjawab salam dari Maria “Terima kasih berkat do’a yang telah kau panjatkan, kami semua berhasil kembali dengan selamat”. “Aku telah kembali”.


Setelah mengucapkan salam, Gladius pun segera mengutarakan maksud kedatangan mereka kemari “Berkat jasa dari Petualang Chic, Mobs Langka yang mengancam keselamatan desa ini telah berhasil untuk dibasmi. Oleh karena itu kami datang kemari untuk melihat keadaan rekan kami yang terluka”.


Puas mendengar berita baik yang Gladius sampaikan, Maria segera memberitahukan perkembangan terbaru dari prajurit yang terluka.


“Walau kondisinya sempat kritis, tapi sekarang dia sudah stabil. Namun,karena dia telah kehilangan cukup banyak darah, aku menyarankan untuk membiarkannya beristirahat di sini untuk beberapa hari”


Menghela nafas lega, Gladius kembali mengucapkan terima kasih karena telah merawat salah satu anggotanya yang terluka. Karena sudah tidak ada urusan lagi, Gladius pun hendak pamit undur diri bersama dengan bawahannya yang lain.


“Tunggu!” menghentikan Glaidus untuk pergi, Maria beralasan kalau hari sudah mulai gelap. Dia pun menyarankan agar mereka beristirahat terlebih dahulu sambil menikmati makan malam yang akan dia buat.


Gladius tentu saja merasa tidak enak dan hendak menolak ajakan dari Maria secara lembut. Akan tetapi ketiga Prajurit yang datang bersamanya berkata lain.


“Sungguh Sister Maria sangat baik hati”


“Oh, Tentu saja, kami akan dengan senang hati menerimanya”


“Masakan dari Sister Maria! Aku jadi tidak sabar”


Melihat ini Chic tidak bisa berkata apa-apa. Gladius jadi berpikir untuk memberikan latihan disiplin ekstra kepada mereka bertiga nantinya. Sementara Sister Maria tetap tersenyum dan mulai izin ke dapur untuk mulai menyiapkan makan malam.


Karena ruang makan di dalam Kuil sangat sempit dan hanya cukup untuk empat orang, tiga prajurit yang lain terpaksa harus rela makan di luar sementara hanya Maria, Gladius, dan juga Chic yang makan di ruang makan


yang juga sekaligus adalah dapur untuk memasak.


Selagi Maria sedang memasak, Gladius dan Chic duduk di meja sambil berbincang bersama.


Gladius menanyakan keadaan terbaru di Kota Virtue sementara Chic menanyakan apa saja yang Gladius dan pasukannya lakukan di daerah terpencil seperti ini.


“Jadi para Outsider sekarang sedang berfokus untuk mengincar Mobs Langka? Jadi ini kenapa kau mampu menangani Mobs Langka tadi”


“Ehh... Jadi tepat setelah hutan ini adalah kawasan


gurun...”


Setelah berbincang cukup lama, Maria yang telah selesai memasak pertama memberikan porsi makanan untuk ketiga prajurit yang ada di luar sebelum akhirnya dia membawakan porsi untuk Gladius dan Chic. Setelah mengambil porsinya sendiri, Maria pun mulai membaca do’a yang di iringi oleh Gladius sementara Chic hanya meniru saja.


Saat sedang menikmati makan malam bersama, mereka bertiga berbincang santai sembari membicarkan apa saja yang terjadi pada hari ini.


“Jadi Chic yang mengalahkan Mobs Langka itu sendirian?” terkejut, Maria kini melihat Chic dengan pandangan yang baru.


Berusaha untuk merendah, Chic hanya bisa berkata “Itu bukanlah hal yang besar” sambil berusaha untuk terlihat agak malu-malu.


Namun apa yang Gladius katakan selanjutnya membuat ekspresinya membeku “Itu benar, cukup jarang untuk melihat Assassin selihai dirimu”.


Berusaha keras untuk tidak menunjukkannya, tapi di dalam hati Chic telah meningkatkan kewaspadaannya kepada Gladius hingga berkali-kali lipat. Sementara itu Maria dibuat terkejut oleh perkataan Gladius “Assassin? Chic punya Job Assassin?”.


Meski Gladius tampaknya sudah mulai mencurigainya, tapi setidaknya dia harus berusaha untuk memberikan kesan biasa kepada Maria.


“Haha... Aku berusaha untuk menyembunyikannya, tapi tampaknya mata Kapten Gladius terlalu tajam untuk aku tipu”


“Oh, kau bisa dengan semudah itu mengatakannya?” melihat Chic yang dengan mudah memberitahukan Job nya, tentu saja Gladius jadi sedikit terkejut.


Memberikan senyuman seolah sedang kesusahan, Chic pun berkata “Kalau bisa aku sembunyikan maka akan aku sembunyikan. Tapi kalau sudah ketahuan ya apa boleh buat”. Melirik ke arah Gladius untuk melihat reaksinya,


Chic mendapati kalau dia sedang menyeringai kepadanya.


“Umm...” terlihat ragu untuk bicara, Maria akhirnya memberanikan dirinya untuk tetap menanyakan hal yang ingin dia tanyakan “Apakah karena Chic adalah seorang Assassin, kau akan menangkapnya?”.


Menjawab pertanyaan Maria, Gladius berkata “Jangan khawatir...” sambil memberitahukan kalau Assassin sebenarnya tergolong sebagai Job netral sehingga wajar bagi setiap fraksi untuk memiliki anggota yang memiliki Job tersebut.


Mendengar ini Maria menjadi lega setelah tahu kalau kenalan barunya tidak akan menjadi kriminal hanya karena Job yang dia miliki. Sebaliknya, Chic masih tidak menurunkan kewaspadaannya bahkan sedikitpun.


Tepat sebelum keadaan menjadi lebih tegang lagi, tiba-tiba saja Chic mendapatkan notifikasi dari Winter yang mengirimkan pesan kepadanya. Membaca pesan tersebut, Chic secara tidak sengajak berteriak “Ah!” yang tentu saja membuat Maria dan Gladius menjadi penasaran.


Gladius yang tidak tahu akan kenapa Chic berteriak secara tiba-tiba mulai meletakkan tangannya di gagang pedangnya. Sementara Maria yang tahu kalau Chic baru saja menerima pesan dari temannya langsung bertanya “Memangnya kawanmu mengirimkan pesan apa?”. Ketika Gladius mendengar ini, walau masih heran. Gladius


dengan enggan melepaskan tangannya dari gagang pedangnya.


Menyadari kalau Gladius sudah siap menyerang, tanpa menunda-nunda Chic langsung memberitahukan kalau “Temanku baru saja menemukan sebuah Dungeon”.


““Dungeon!”” teriak Maria dan Gladius di saat yang hampir bersamaan.


Walau Maria tidak memainkan game ini sebagai mana Pemain lainnya bermain, tapi dia masih tertarik dengan hal-hal yang berbau fantasi seperti Dungeon. Sedangkan Gladius lebih penasaran tentang di mana temannya Chic menemukan Dungeon ini.


Apa yang Chic beritahukan selanjutnya membuatnya khawatir.


“Kau bilang mereka menemukannya tepat di dalam Virtue City Graveyard?!” Chic pun mengangguk.


Virtue City Graveyard adalah sebuah kompleks pemakaman umum yang berada 2 km dari Kota Virtue. Walau


memang sering dikabarkan kalau Undead sering muncul disana, tapi ini adalah pertama kalinya dia mendengar kabar kalau ada Dungeon yang muncul di sana.


“Katanya mereka sudah memberitahukan ini kepada pihak Guild Petualang dan resmi menjadi Party pertama yang ditugaskan untuk menilai tingkat kesulitan Dungeon itu”


“Ah, jadi itu adalah Dungeon yang baru lahir” puas setelah mendengar kalau Dungeon itu masih muda, tiba-tiba saja Gladius teringat sesuatu yang membuatnya menjadi cemas. “Bukankah selama masa penilaian maka keberadaan Dungeon itu harus dirahasiakan dari umum?”.


Chic pun kembali mengangguk sebelum akhirnya menoleh ke arah Maria yang sedari tadi menyimak “Oleh karena itu, tolong jangan sebarkan ini di Forum sebelum ada kabar lebih lanjut” yang mana ini langsung disetujui oleh Maria.


“Ah, bagaimana kalau kita bertukar pertemanan? Jadi bisakah nanti kau beritahukan kepadaku isi dari Dungeon itu?”


“Tentu saja”


Melihat Maria dan Chic yang sedang melakukan sesuatu yang tidak dia mengerti, Gladius hanya diam saja dan menganggap kalau ini hanyalah sesuatu yang bisa dipahami oleh sesama Outsider.


Setelah bertukar pertemanan dengan Maria, Chic pun segera pamit undur diri “Karena di dalam Dungeon bisa saja ada banyak jebakan, maka keberadaanku sangat dibutuhkan oleh mereka. Jadi, aku akan pergi dulu”.


“Ya, semoga kau selamat sampai tujuan”


Melambaikan tangannya, Maria melepas keberangkatan Chic dengan senyuman. Sementara di sampingnya adalah Gladius yang tidak melepaskan pandangannya dari Chic sampai sosoknya menghilang di kejauhan.