
Duduk termenung di dalam sebuah gang yang sempit dan bau adalah seorang pemuda yang mengenakan pakaian compang-camping serta memiliki penampilan yang tidak terawat.
Tepat di sampingnya adalah sebuah bungkusan besar yang berisikan ‘Harta’ miliknya.
Meski sekilas dia terlihat seperti seorang NPC yang berperan sebagai penghias latar belakang, janganlah salah! Karena dia adalah seorang Pemain yang mengambil Job sebagai seorang Beggar.
Bermain game hanya untuk menjadi seorang Pengemis.
Tentu saja semua kawannya yang mengetahui hal ini selalu menanyainya kenapa dia mengambil Job yang jauh dari kata hebat dan malah terdengar menyedihkan.
Walau dia selalu dibanjiri oleh pertanyaan semacam itu, dia tidak pernah mempedulikannya dan hanya menjalani kehidupan sederhananya dengan hati yang gembira.
Meski dia tampak termenung, tapi dia sebenarnya sedang sibuk menyortir isi penyimpanannya yang penuh dengan item-item yang dia pungut dari jalanan.
“Ha!... Ha!... Ha!...” Di saat dia sedang sibuk sendiri, baru saja lewat seorang pria paruh baya yang berpakaian seperti seorang saudagar kaya sedang berlari dengan wajah yang pucat serta nafas yang terengah-engah.
Melihat noda merah di yang menetes di atas tanah, si Beggar itu pun menghela nafasnya karena ini adalah kali ketiga dia melihat pemandangan seperti ini minggu ini.
Lihat saja, nanti sebentar lagi juga akan ada sekumpulan preman yang datang menyusul dengan tampang marah di wajah mereka.
“Hmm?” berbeda jauh dari ekspetasinya, apa yang datang menyusul bukanlah sekumpulan preman melainkan hanya satu orang saja.
Seorang pria yang mengenakan topeng kayu seram dengan sebuah golok berdarah di tangannya.
Sontak saja ini membuat Beggar itu bergidik ketakutan hingga membuatnya langsung mengaktifkan Skillnya yang memungkinkannya untuk berbaur dengan lingkungan sekitar.
Tap... Tap... Tap... suara langkah kaki pria bertopeng itu terdengar bergema di dalam gang sempit seraya dia berjalan dengan begitu santainya seolah tidak khawatir kalau mangsanya akan segera berlari menjauh. Setiap langkah yang dia ambil membuat jantung si Beggar berdegup dengan sangat kencang seolah-olah bisa terhenti kapan saja.
Berjalan dengan santai, pria bertopeng itu terlihat tidak sedang terburu-buru walaupun mangsanya sekarang pasti sudah berlari cukup jauh dan tidak lagi bisa terkejar kalau pria bertopeng itu tidak seegra berlari atau setidaknya berjalan dengan lebih cepat.
“?!... Hah, apa lagi yang gadis itu lakukan sekarang”
Berhenti tiba-tiba, pria bertopeng itu tampak sedang membuka Menu pesan yang akhirnya membuat si Beggar menyadari kalau orang yang ada di hadapannya sekarang adalah seorang Pemain sama seperti dirinya.
“Apakah kau serius?!”
Tampak terkejut akan pesan yang baru saja dia terima, pria bertopen itu pun segera menutup layar Menu nya dan segera bergegas pergi menjauh.
“Huh...” melihat sosok pria betopeng itu sudah tidak lagi tampak, akhirnya si Beggar bisa bernafas lega. “Jadi pembunuh berantai yah... Roleplay nya hebat juga” menyapu keringat di jidatnya, si Beggar pun segera mengemas semua bawaannya dan berniat untuk mencari gang sempit lainnya untuk bersantai.
...
Baru saja dia Log In, Chic sudah menerima notifikasi kalau ada temannya yang mengiriminya pesan.
Membuka Menu pesan, benar saja. Satu-satunya orang yang selalu bertukar pesan dengannya hanyalah satu yaitu Winter seorang saja.
“Aku harap aku tidak akan terlibat masalah besar lagi”
Semenjak dirinya bertemu dengan Winter, hanya masalah yang selalu mereka datangi. Sudah tidak terhitung berapa kali Winter menyeret dirinya ke dalam sebuah Quest panjang yang cara penyelesaiannya selalu membuat
Chic bertanya-tanya apakah apa yang ada di pikiran Winter itu hanyalah perbuatan jahat saja hingga membuat Chic jadi penasaran sebenarnya bagaimana cara kedua orangtuanya membesarkan dirinya hingga Winter selalu memiliki
pemikiran seperti itu.
Seperti yang bisa di duga dari orang yang memiliki Job Necromancer.
Jika bukan karena kedua orangtua mereka adalah teman dekat, Chic pasti tidak akan mau mendekati orang seperti Winter.
“Kejutan besar?” membaca pesan yang dia terima, Chic pun sadar kalau ini pasti adalah Winter yang kembali bersikap kekanak-kanakan.
Sudah sebulan lebih lamanya semenjak Chic berkenalan dengan Winter. Dan selama itu juga dia jadi tahu kalau Winter memiliki dua sisi.
Seorang wanita yang kejam dan tanpa ampun, dan seorang gadis periang yang hanya ingin bermain sepuas-puasnya.
Winter biasanya bersikap seperti seorang wanita kejam yang suka memerintah serta sok misterius. Namun, jika Winter menemukan sesuatu yang menarik perhatiannya, maka dia akan bersikap seperti seorang gadis remaja yang baru melihat bunga untuk pertama kalinya.
Menilai dari isi pesan yang baru saja dia terima, Chic bisa langsung tahu kalau Winter sekarang sedang bersikap kekanak-kanakan.
“Hah...” menghela nafas berat, Chic pun segera melangkahkan kakinya ke arah kedai tempat mereka bisa berkumpul.
...
““Ah””
Karena tempat tujuan mereka sama, maka tidak terelakkan jika Chic dan Victor saling berpapasan di tengah jalan.
Sama-sama mengenakan set Equipment yang berbeda, mereka berdua berpikiran sama untuk berbaur dengan para Pemain lainnya karena Equipment utama mereka memang terlalu mencolok.
“Jadi kau juga di panggil yah?”
“Tampaknya begitu...”
Berjalan sambil berbincang, Chic dan Victor mulai mendiskusikan alasan kenapa Winter memanggil mereka berdua.
“Dia memanggil kita di tengah-tengah Quest pribadi... Menurutmu Winter menemukan sesuatu saat menjalankan Questnya?”
“Menilai dirinya, apapun yang dia temukan pastilah berbau masalah. Itu tidak akan menyakiti kita, hanya saja masalah tetap saja masalah”
Meskipun Victor tidak terlalu lama bersama dengan Winter. Tapi, dari pengamatan singkatnya sudah lebih dari cukup bagi dirinya untuk mengangguk mendengar perkataan Chic.
Tidak lama kemudian mereka berdua akhirnya tiba di kedai tempat mereka biasa berkumpul.
Yang namanya kota Shoddy memang berbau masalah.
Walau tepat di depan kedai terdapat kumpulan orang-orang yang terkapar dengan luka terbuka di tubuh mereka, mengecualikan para Pemain yang menonton dengan penuh antusias, tidak ada satupun warga sekitar yang peduli dan hanya melangkahi mereka begitu saja. “Hah...” sama-sama mengeluarkan nafas berat, Chic dan Victor mulai merasa malas untuk masuk tapi mereka berdua tidak punya pilihan.
Membuka pintu kedai, sebuah pemandangan seperti kapal pecah terbentang di hadapan mereka.
Meja dan kursi berserakan tanda kalau sebuah pertarungan sengit baru saja terjadi di tempat ini. Di tengah itu semua adalah sebuah meja yang masih utuh serta tiga buah kursi yang mengelilinginya.
Apa yang ada di atas meja tersebut adalah puluhan gelas bir yang isinya telah dikosongkan.
Berdiri di samping meja tersebut adalah seorang pelayan wanita dengan baju kotor serta tampang ketakutan terlihat jelas di wajahnya. Dengan satu botol Wine di tangannya, pelayan wanita itu dengan patuh melayani Winter yang mengenakan set Equipment \ miliknya.
“Mau pulang?”
“Yup”
Ingin segera putar balik sebelum Winter menyadari kedatangan mereka, langkah mereka terhenti karena di belakang mereka Winter sudah berteriak “Chic! Victor! Akhirnya kalian datang juga!”.
Tidak punya pilihan lain, mereka berdua pun akhirnya duduk semeja dengan Winter walau sebenarnya mereka enggan untuk melakukannya.
Seolah tidak memedulikan perasaan hati kedua rekan Partynya, Winter yang sudah mabuk berat menjatuhkan sebuah berita yang butuh waktu untuk dicerna oleh kedua rekannya.
“Kenapa kalian cemberut seperti itu? Padahal aku sudah repot-repot mengambil alih tempat ini jadi cerialah! Cerialah! Dan rayakan hal ini bersamaku... yay!!!”
“Kau ini, padahal masih siang tapi sudah ma... Tunggu sebentar, apa kau bilang?”
“Ya ampun, Chic kawanku. Apakah telingamu itu rusak atau apa? Aku bilang ayo rayakan bersamaku!”
“Bukan yang itu, tapi yang sebelumnya?”
“Hmm... Jangan lagi cemberut?”
“Bukan itu! Setelahnya!”
“Setelahnya... Ah! Soal aku mengambil alih tempat ini?”
“Iya itu!”
Wine pada gelas itu “Nah, karena aku capek dan ingin istirahat, aku Log Out dulu untuk bobok siang. Bangun-bangun aku sudah mendapatkan pesan dari pihak pengembang yang isinya...”.
Belum selesai Winter berucap, pintu kedai terbuka yang menunjukkan sesosok Pemain yang mengenakan Equipment pemula masuk ke kedai dan terkejut akan apa yang sedang dia lihat “Hei, apa-apaan ini.. Buagh!” menerima “Negative Energy” tepat di wajah membuat Pemain itu terhempas keluar dan bergabung dengan tumpukkan tubuh yang kini sudah mulai menggunung.
“Tch, tidak bisakah orang itu melihat kalau kedai sudah tutup?! Kau!” tunjuk Winter kepada pelayan wanita yang sedang bergetar ketakutan “...apakah kau lupa untuk mengganti tanda ‘Buka/tutup’ di depan pintu?”.
“Y..Ya akan segera sa...saya laksanakan!” dengan panik pelayan wanita itu segera berlari menuju arah puntu masuk sementara Winter kembali melanjutkan pembicaraan seolah tidak ada yang terjadi.
Melihat sikap Winter yang seperti ini, Chic dan Victor hanya bisa geleng-geleng kepala karena memang tidak ada yang bisa mereka lakukan.
“Sampai di mana aku tadi... Ah, iya! Aku dapat bocoran untuk update selanjutnya!”
““Apa?!”” teriak Chic dan Victor secara bersamaan.
“Hahaha... Kaget kan?” puas dengan reaksi kedua rekannya, Winter pun tersenyum lebar sambil menenggak habis gelasnya untuk merayakan.
“Bagaimana tidak kaget?! Memangnya kau dapat info itu darimana?”
“Dari pihak pengembangnya langsung, jadi dijamin bisa dipercaya!” memberikan jempolan, senyum cerah di wajah Winter sampai membuat Victor terdiam seribu bahasa... Bangkit dari tempat duduknya... Berjalan menuju Winter... dan akhirnya meraih kedua pundaknya.
Melihat tatapan tajam dari mata merah Victor, Winter yang masih berada di bawah pengaruh alkohol pun sontak tersipu malu. “Oh, Victor♪ Jika kau ganas seperti itu aku pun bisa...”. Menolak untuk mengikuti permainan, Victor langsung menuju intinya “Katakan, bagaimana bisa pihak pengembang mau memberikan informasi ini kepadamu?!”.
Mendapatkan tatapan seolah sedang dihakimi, bahkan Winter yang masih berada di bawah pengaruh alkohol pun seketika kembali tersadar.
Saling bertatap-tatapan untuk sementara waktu, senyuman pun kembali ke wajah Winter.
Dengan nada santai dia pun berkata “Bagaimana kalau kau lepaskan dulu pundakku baru aku menjawabnya?” merasakan bulu kuduknya merinding tiba-tiba, sontak Victor pun melepaskan kedua tangannya dan kembali ke tempat duduknya.
Melihat kedua rekannya sudah duduk dengan rapi, Winter yang sudah sadar sepenuhnya akhirnya memberikan penjelasan yang sebenarnya.
“Beberapa hari lagi akan diadakan acara Live Stream yang akan memberikan penjelasan terperinci perihal Update terbaru yang akan datang pada awal bulan Maret. Pada acara Live Stream tersebut akan di panggil 3 orang Pemain yang akan mewakili ketiga fraksi yang ada. Tentu saja, aku. Telah di pilih sebagai perwakilan dari fraksi bayangan”
Winter mengatakan itu sambil mengancungkan dadanya dengan penuh kebanggaan.
Hendak bertanya kenapa bisa dia yang di pilih, Chic dan Victor sama-sama menahan pertanyaan mereka karena baru saja teringat akan apa saja yang pernah Winter lakukan.
Terlebih Chic yang paling lama bersama dengan Winter.
Dia sudah melihat dengan mata kepalanya sendiri akan apa saja yang pernah Winter lakukan. Seluruh perbuatannya tidak bisa di sangkal lagi adalah penggambaran sempurna bagi para Pemain dari fraksi bayangan.
Jika itu semua tidak cukup untuk membuat Winter terpilih sebagai perwakilan dari fraksi bayangan. Maka Chic takut untuk membayangkan orang macam apa yang bisa melebihi Winter dalam hal kekejaman.
“Jadi, karena kau akan menjadi tamu di sana, maka kau diberikan konten tentang update mendatang jadi kau bisa paham apa yang harus kau bicarakan di sana?”
Menjawab pertanyaan dari Victor, Winter hanya mengangguk.
“Walau aku tidak boleh membocorkan isi dari update mendatang kepada siapapun bahkan kepada rekan satu Partyku sendiri. Bukan berarti aku tidak bisa memberikan petunjuk”
Ketika Winter mengeluarkan seringai nakalnya, seketika Chic dan Victor pun paham tentang alasan sebenarnya kenapa mereka berdua di panggil ke sini.
Mencondongkan tubuhnya ke atas meja, Winter pun memberikan petunjuk pertamanya.
“Hei, apakah kalian sadar kalau penyimpanan kita itu tidak ada batasnya?”
Yang pertama kali paham adalah Victor.
Melihat kembali Menu penyimpanannya, memang benar kalau dia tidak melihat adanya batasan berapa banyak item yang bisa dia simpan. Dia tidak pernah mempertanyakan hal ini karena penyimpanan yang tidak terbatas
adalah hal yang sangat membantu di segala jenis game.
Game dengan total penyimpanan yang terbatas hanya akan membuatmu pusing untuk mengelola semua item yang kau dapatkan.
Karena itulah penyimpanan yang tidak terbatas adalah satu hal yang harus dia syukuri.
Dan sekarang, perkataan Winter barusan membuatnya merasakan firasat buruk.
Melihat ekspresi yang Victor buat, seringai nakal di wajah Winter pun kian menjadi. “Sekarang kau paham kan kenapa aku membutuhkan sebuah tempat aman milikku sendiri? Kalau Chic sih enak dapat kos-kosan gratis
sedangkan aku harus menumpahkan darah untuk itu”.
“Ya, kau benar sekali...” melihat Victor yang mengangguk setuju, Chic yang masih tidak paham hanya bisa menunjukkan wajah keheranan.
Tanpa memedulikan Chic, Winter pun lanjut ke petunjuk kedua.
“Kau tahu, tampaknya aku tidak punya banyak teman...”
“Jelas sekali” ucap Chic dan Victor secara bersamaan yang tentu saja ini sedikit membuat Winter terasa tersinggung “Pokoknya! Mengecualikan kalian berdua, awal-awal aku ingin setidaknya 7 orang lagi agar kita bisa berkumpul bersama, menjalankan Quest bersama, intinya saling membantu satu sama lain”.
Untuk petunjuk kali ini membutuhkan waktu cukup lama sebelum akhirnya Chic paham apa yang Winter coba katakan.
Selama dia melayani pelanggan beberapa hari ini, Chic mendengarkan beberapa rumor yang tersebar di jalanan. Salah satunya adalah rumor mengenai game NFO akhirnya akan mengimplementasikan fitur ‘Serikat’ antar Pemain yang memungkinkan para Pemain untuk saling berkumpul dan bekerja sama.
Melihat kalau saat ini Winter hanya butuh 7 orang lagi, itu artinya jumlah maksimal anggota ‘Serikat’ yang baru dibangun adalah 10 atau syarat untuk membangun sebuah ‘Serikat’ adalah minimal memiliki 10 orang anggota.
“Winter, apakah kau benar-benar berniat untuk mendirikan sebuah ‘serikat’?”
“Oh, Chic sayang. Jika kita ingin terus berperan sebagai penjahat di game ini, bukannya wajar untuk memiliki organisasi kita sendiri?”
“Begitu, apakah itu berarti kedai ini akan menjadi markas kita?” tanya Victor sambil melihat-lihat keadaan kedai yang masih porak poranda.
“Ini hanya pintu depannya saja, yang asli ada di belakang. Nanti akan aku tunjukkan”
Setelah itu Winter terus memberikan beberapa petunjuk lainnya yang membuat kedua rekannya penasaran kapan pihak pengembang akan datang untuk menutup mulut kawan mereka ini.
Tetap saja, dari informasi yang Winter berikan. Mudah menyimpulkan kalau Update berikutnya adalah sebuah update besar-besaran yang akan memberikan pengaruh besar kepada semua Pemain yang ada.
Haus karena kebanyakan bicara, Winter lalu menghabiskan seisi botol Wine yang tersisa.
“Bwah... Karena penjelasannya sudah selesai, saatnya pembagian tugas!” menunjuk ke arah Chic, Winter menyuruhnya untuk pergi keluar dan mencari Pemain yang pantas untuk bergabung bersama mereka sementara Victor bertugas untuk membantunya membenahi kedai ini.
“Kenapa hanya aku sendiri saja yang mencari anggota sementara Victor harus diam membantumu?”
“Lihat wajahnya dan katakan apakah itu adalah wajah yang cocok untuk merekrut anggota baru?!”
Walau Victor sekarang sedang mengenakan masker, tapi terlihat jelas kalau sebagian besar wajahnya dipenuhi oleh bekas luka yang mengerikan. Di tambah dengan mata merahnya yang mengintimidasi serta Job apa yang dia miliki, tidak perlu disebutkan lagi kenapa Winter enggan untuk mengirim Victor untuk mencari anggota baru untuk mereka.
Menyerah, Chic pun hanya bisa pasrah menerima tugas yang diembankan kepadanya “Setidaknya beritahu aku anggota macam apa yang kau inginkan”.
Karena Winter hanya butuh 7 orang, membuat Chic tidak bisa memilih secara sembarangan. Daripada nanti salah orang dan membuat Winter tidak puas, lebih baik menanyakan secara langsung anggota macam apa yang Winter
butuhkan.
“Hmm... Setidaknya aku butuh anggota dengan Job tipe produksi...”
“Aku setuju dengan itu...” sahut Victor “Setidaknya kita butuh satu orang dengan Job Blacksmith untuk membuat dan memperbaiki Equipment kita serta Alchemist atau Herbalist untuk membuat Potion”.
“Tapi Blacksmith itu hanya bisa bekerja dengan Equipment yang mengandung metal kan? Kalau Equipment dari kulit seperti jubahku ini kita butuh Tailor”
“Benar juga, oh iya, kita juga butuh Pemain dengan Job tipe Support. Punya satu atau dua penyembuh itu wajib kalau kita akan melakukan pertempuran jangka panjang”
“Ahh... Walau benar aku juga punya Skill untuk menyembuhkan, tapi itu hanya berlaku jika aku menggunakan \ Chic, carikan juga Cleric”
“Ya ampun, tidak bisakah kalian mengampuniku? Aku hanya sendiri kau tahu! Juga, aku masih punya Quest untuk dijalankan jadi akan butuh waktu”
Mendengar ini Winter pun terkejut “Tunggu, kalian masih belum menyelesaikan Quest kalian?!” melihat kedua rekannya menggelengkan kepala, Winter hanya bisa menghela nafas berat karena progres kedua rekannya tidak seperti yang dia harapkan.