A Journey Of A Heartless Necromancer

A Journey Of A Heartless Necromancer
Chapter 4 : Murder



Log In pagi-pagi sekali, Winter mendapati kalau di dalam game langit masih gelap gulita.


Melihat ke langit, jika berdasarkan posisi bulan, maka sekarang masih sekitar jam 3 pagi. Yang mana itu berarti orang-orang masih tertidur dan toko-toko masih belum buka.


“Aku harap masih ada toko yang buka”


Mencoba peruntungannya, Winter pun mulai berkeliling kota yang masih tertidur ini.


Pada akhirnya Winter berhasil menemukan sebuah toko Equipment yang masih buka. Hanya saja dilihat dari luar saja sudah cukup untuk membuat Winter menjadi berpikir dua kali untuk memasukinya.


Bagaimana tidak, tepat di depan etalase toko yang mana seharusnya menjajakan barang dagangan terbaik malah terdapat sebuah tengkorak utuh yang terpampang jelas.


Menilai kesempatannya kecil kalau itu hanyalah sekedar tengkorak peraga seperti yang biasa ada di dalam laboratorium kimia, Winter jadi merasa ingin menunggu pagi saja sampai toko-toko lainnya buka.


“Tunggu, aku ini Necromancer. Kenapa aku harus takut dengan tengkorak!?”


Membulatkan tekadnya, Winter pun menginjakkan kakinya masuk ke dalam toko tersebut... Dan dia seketika menyelasinya.


Apa yang menyambutnya sesaat setelah Winter memasuki toko adalah bau aneh yang sangat menyengat.


Rasanya bagaikan sebuah jamu basi yang sudah dibiarkan selama sebulan penuh dan diletakkan tepat di samping tempat sampah.


Menahan nafasnya, Winter hendak berbalik keluar.


Namun langkahnya terhenti ketika Winter tanpa sengaja menemukan sebuah rak buku yang diletakkan tidak jauh dari pintu masuk.


“Buku Job?”


Tidak salah lagi, apa yang tertulis di atas rak buku itu adalah “Job Book” yang berarti rak buku tersebut berisikan buku-buku yang bisa memberikan seseorang sebuah Job jika membacanya.


Karena penasaran, Winter pun mendekati rak buku tersebut.


Dilihat dari dekat, baru diketahui kalau buku-buku tersebut tersegel rapat sehingga mustahil untuk di buka. Tidak hanya itu, buku-buku tersebut juga diikat dengan rantai yang terhubung dengan rak buku sehingga membuatnya mustahil untuk di curi.


“Karena buku ini memberikan Job, kurasa wajar saja kalau keamanannya akan seketat ini”


Membaca sampul buku tersebut, diketahui kebanyakan,kalau tidak semua buku di sini memberikan Job yang


berhubungan dengan sihir. Terutama sihir dengan element kegelapan.


Dari Black Mage, Shaman, hingga Necromancer semua tersedia di rak buku tersebut.


“Mahal!”


Melihat harga termurah untuk Black Mage adalah 30.000 G sedangkan harga untuk Jobnya yang sekarang, Necromancer, itu dihargai 50.000 G.Winter pun menarik tangannya menjauh dari rak buku dan segera melangkahkan kakinya menuju rak Equipment.


Uang yang Winter miliki sekarang jumlahnya adalah 25.500 G. Yang mana itu jelas tidak cukup untuk membeli bahkan satu buku sekalipun. Dengan itu Winter hanya memutuskan untuk fokus membeli Equipment baru yang jauh lebih baik dari Equipment pemula yang dia kenakan sekarang.


Untungnya harga Equipment untuk seorang Mage tidaklah semahal yang Winter takutkan.


Harga termurah hanya seharga 300 G sedangkan yang paling mahal hanya seharga 15.000 G.


Tentu saja Winter tidak akan langsung membeli yang paling mahal. Itu karena ada lebih dari satu Equipment yang ingin dia beli makanya Winter harus menghemat uang sebanyak mungkin.


Karena Skill [Keen Eyes] hanya mampu untuk menentukan apakah item itu berharga atau tidak, membuat Winter tidak mampu melihat stats dari semua Equipment yang terpajang. Tapi untungnya pihak toko sudah berbaik hati dengan menampilkan stats dan performa dari setiap barang dagangan mereka.


Memilih di antara semua Equipment yang tersedia, pada akhirnya inilah yang Winter pilih.



DEF : 10 M.DEF : 30 Durability : 60


Sebuah jubah sederhana untuk Mage pemula.


Memberikan sedikit perlindungan fisik dan sedikit perlindungan terhadap sihir.


Seperti yang telah tercantum dalam deskripsinya, jubah ini tidak lebih dari jubah polos sederhana yang terbuat dari bahan kain yang tebal dan terasa panas saat digunakan.


Alasan kenapa Winter memilih ini karena harganya yang sangat murah yaitu hanya 500 G saja. Sebagai tambahan, jubah yang Winter pilih memiliki warna hitam malam.



DEF : 30 M.DEF : 30 Durability : 70


Sebuah mantel dengan tudung yang mampu melindungi wajah penggunanya dengan aman.


Dilengkapi dengan Skill [Concealment] yang berfungsi agar pengguna terhindar dari segala jenis Skill yang memiliki efek untuk mengintip identitas dan stats pengguna.


Itu adalah sebuah mantel kulit panjang yang berwarna hitam kelam. Tidak hanya memiliki tudung untuk menutupi kepala Winter, tapi mantel ini juga dilengkapi dengan semacam masker wajah yang bisa menyembunyikan wajah Winter agar tidak bisa dikenali oleh orang lain.


Winter sampai rela membayar mahal sekitar 7.500 G hanya untuk mantel ini.



ATK : 5 M.ATK : 12 Durability : 50


Sebuah tongkat kayu yang berguna untuk merapalkan mantra.


Berkat bulu Night Raven yang tersematkan pada tongkat ini, memberikannya efek untuk mengurangi pemakaian Mana sebanyak 20 %.


Itu adalah sebuah tongkat kayu yang memiliki panjang 1.7 Meter dengan bagian ujungnya yang berbentuk seperti bulan sabit dan terdapat bulu berwarna hitam yang terikat pada bagian pangkal kepalanya.


Berkat efek spesial dari tongkat ini, Winter sekarang hanya perlu menghabiskan 4 MP ketimbang 5 MP untuk melafalkan Negative Energy. Serta Winter juga hanya akan menghabiskan 8 MP ketimbang 10 MP untuk melafalkan Raise Undead.


Untuk harga, ini adalah Equipment termahal yang Winter beli hari ini seharga 11.200 G.


Dengan ini Winter telah menghabiskan total 19.200 G yang mana itu berarti uangnya sekarang hanya tinggal 6.300 G saja.


Winter sebenarnya punya lebih dari cukup uang untuk membeli satu lagi Equipment berupa sepatu karena sekarang dia hanya mengenakan sandal biasa yang terbuat dari bahan jerami.


Hanya saja Winter ingin menghemat uang jadi dia mengurungkan niatnya.


Terlebih ketika dia sudah memiliki sepatu boots hasil dapat dari mayat Petualang yang kemarin. Walau itu adalah sepatu warisan dari mayat, tapi karena bahannya yang terbuat dari kulit serta si Petualang yang belum lama mati membuatnya masih layak untuk dikenakan.


Terakhir, Winter menghabiskan 300 G untuk membeli \ yang bisa memulihkan 50 HP. \ yang bisa memulihkan 20 MP. Serta \ yang bisa untuk menghilangkan racun hingga level 2.


Dua Potion pertama hanya seharga 10 G per botolnya sehingga Winter mampu membeli masing-masing sebanyak 10 botol. Sedangkan Antidote memiliki harga 50 G per botolnya sehingga Winter hanya membeli 2 saja dengan harapan dia tidak akan sering bertemu dengan lawan yang menggunakan racun.


“Racun level 2? Apakah racun ada levelnya?”


Setelah membayar di kasir, Winter pun segera beranjak pergi dan langsung mengenakan semua Equipment barunya termasuk \ yang dia dapatkan dari mayat Petualang.


“Pantas saja tokonya buka sampai subuh. Orang yang jaga itu manekin”


Selesai membeli Equipment baru, sekarang hanya tinggal mencari NPC yang bisa memberikannya Job Scout atau bahkan Job yang lain yang bisa berguna untuk menambah kekuatannya.


Hanya saja mengingat harga buku Job yang paling murah sudah berada di luar jangkauannya, jelas Winter merasa tidak percaya diri dengan uangnya yang sekarang yang hanya tinggal 6.000 G saja.


“Jika saja aku bisa mendapat rezeki nomplok seperti kemarin”


Mengharapkan sesuatu yang terlalu baik untuk menjadi kenyataan, Winter pun hanya bisa mendesah pasrah sembari dia mulai melangkahkan kakinya menuju Guild Petualang.


“Hei, shh... Nona Mage yang ada di sana...”


Merasa dirinya ada yang memanggil, Winter mulai mencari dari mana sumber suara itu berasal.


Matanya pun tertuju pada seseorang pria bertudung yang melambai ke arahnya dari dalam gang yang gelap.


Tidak peduli darimana kau melihatnya, orang tersebut terlihat sangat mencurigakan.


Namun, karena dirinya di panggil maka tidak sopan rasanya jika dirinya tidak menjawab panggilan tersebut.


“Apa maumu?”


“Oh, ya ampun. Langsung ke inti pembicaraan yah. Bagus, aku suka itu”


Walau Winter tidak mampu melihat wajah lawan bicaranya dengan jelas, tapi dia mampu melihat sebuah seringai nakal dari balik tudung yang pria itu gunakan.


“Nona Mage, apakah kau membutuhkan uang?”


Ah, jadi dia adalah NPC yang menyediakan Quest yah.


Itulah yang Winter pikirkan tepat setelah pria itu menawarinya sebuah pekerjaan. Mengingat ini adalah kota yang berada di bawah perlindungan fraksi bayangan, jelas kalau pekerjaan yang di maksud bukanlah sebuah pekerjaan yang terpuji.


“Pekerjaan macam apa yang engkau tawarkan kepadaku?”


Meski begitu uang adalah uang.


Bahkan jika dia harus menerima pekerjaan yang kotor sekalipun, asalkan itu tidak bersangkutan dengan hal yang mesum, maka Winter tidak punya masalah untuk mengambilnya.


Terlebih ini hanya sekedar game.


Tidak peduli seberapa ilegal itu, selama itu berada dalam batas game maka semua pekerjaan itu sah untuk dilaksanakan.


“Ini bukanlah pekerjaan yang susah. Hanya saja ada seseorang yang mengganggu bisnis kami. Jika Nona Mage berkenan, maukah Nona memberi sedikit ‘pelajaran’ kepada orang tersebut?”


“Oh, jadi kau ingin aku mengunjungi orang ini dan memberikan satu dua patah kata? Aku bisa saja mengambilnya, tapi untuk bayaran apa?”


Kembali memberikan sebuah seringai nakal, pria tersebut lalu mengeluarkan tangannya dan memberikan angka 4 dengan jarinya.


“Hanya 40 ribu? Oh, ya ampun, aku tidak tahu apakah kalian hanya malas untuk mengurus masalah ini sendiri atau kalian membutuhkan seseorang untuk menjadi kambing hitam”


Mulai merasa kesal, pria tadi tetap berusaha untuk memberikan sebuah seringai ‘ramah’ sembari mulai menggosok-gosok kedua tangannya.


“Nona Mage tidak perlu khawatir, kami melakukan ini karena kami sekarang sedang kekurangan personel. Asal Nona Mage tahu saja, orang yang harus Nona Mage temui ini punya bisnis yang cukup menggiuarkan. Jika Nona mau, selain bayaran dari kami, Nona Mage juga boleh mengambil semua milik orang itu. Toh, kami cuman ingin orang tersebut untuk tidak lagi menghalangi bisnis kami. Untuk apa yang terjadi padanya ataupun hartanya, kami tidak peduli”


“Menarik, kalau boleh tahu, bisnis apa yang orang itu lakukan?”


Memberikan isyarat untuk meminjam telinga, Winter pun mencondongkan tubuhnya sedikit untuk mendengarkan apa yang pria itu ingin bisikkan kepadanya.


“...”


“...?!”


Dengan seketika Winter pun langsung menyetujui Quest yang diberikan kepadanya.


Setelah itu Winter menerima detil tentang ciri-ciri serta tempat di mana orang yang menjadi targetnya berdiam. Mendapatkan info yang cukup, Winter pun segera pamit untuk menyelesaikan pekerjaannya sebelum matahari terbit.



Difficulty : -


Client : Mysterious Man


Description :


Robert dari toko Job Robert sudah terlalu banyak merugikan kami. Jadi tolong buat orang ini berhenti menjadi halangan bagi kami.


Cara apapun kami tidak peduli.


Time Limit : 1 hari.


Setelah sosok Winter sudah menghilang dari pandangan, yang berdiri diam di tengah gang yang gelap adalah seorang pria yang menampilkan seringai ganas dari balik tudungnya.


...


Di dalam sebuah toko sederhana yang sekaligus berfungsi sebagai tempat tinggalnya, terdapat seorang pria paruh baya dengan rambut kemerahan sedang menulis sesuatu di balik meja kasir.


Dia adalah pemilik dari toko Job Robert, Robert.


Walau hari masih subuh, Robert sudah terbangun dari tidurnya dan mulai bekerja di tokonya yang sudah buka lebih cepat dari toko-toko yang lain.


Itu semua berkat keberadaan Outsider yang mendorongnya untuk tutup lebih larut dan buka lebih pagi.


Outsider, mereka adalah sebuah keberadaan yang berbeda dari dirinya. Jika biasanya sekali orang itu mati, terkecuali mereka di hidupkan kembali dengan sihir maka mereka akan tetap mati dan meninggalkan dunia ini.


Namun Outsider itu berbeda.


Satu jam setelah mereka mati, tubuh mereka akan berubah menjadi partikel cahaya. Dan setelah tiga hari, orang yang sama yang seharusnya sudah mati malah timbul kembali di dalam kuil lengkap dengan semua Equipment yang mereka kenakan.


Yah, tidak semua Equipment karena pada saat mereka mati dan tubuh mereka berubah menjadi butiran cahaya, selalu saja setidaknya ada satu Equipment mereka yang akan tertinggal.


Para Outsider juga tidak mengenal waktu.


Pada saat malam hari di saat semua orang sudah terlelap, ada saja dari mereka yang masih saja berkeliaran. Hal inilah yang mendorong beberapa pemilik toko untuk membuka toko mereka sampai larut malam demi bisa mendapatkan untung dari para Outsider.


Meski jumlah Outsider sekarang masih kecil, tapi ramalan dari Dewa Agung mengatakan kalau dengan berlalunya waktu, jumlah Outsider akan bertambah banyak hingga cukup untuk membangun Negeri mereka sendiri.


Tentu saja Robert adalah salah satu dari pemilik toko yang menyesuaikan diri dengan keberadaan para Outsider ini.


Dia yang adalah pemilik toko Job jelas mendapatkan banyak untung dari para Outsider yang gemar sekali bertarung.


Walau harga buku Job yang dia jual jauh lebih murah jika dibandingkan dengan toko yang lain, namun itu membuatnya lebih sering dikunjungi oleh para Outsider yang mana itu membuatnya meraup lebih banyak


keuntungan jika dibandingkan dengan toko lainnya.


“Hah, aku harap hari ini orang-orang dari Kartel tidak datang mengganggu lagi”


Menjadi pembisnis yang sukses, tentu datang dengan resikonya sendiri.


Dia yang terlalu sukses membuatnya menarik perhatian dari kelompok Kartel yang berkuasa di kota ini. Tampaknya mereka tidak senang dengan dirinya yang di anggap telah mencuri pelanggan yang seharusnya berbelanja di toko yang dikelola oleh pihak kartel tersebut.


Hampir setiap hari dirinya didatangi oleh segerombolan preman yang memintanya untuk segera menghentikan bisnisnya di kota ini.


Bahkan tidak jarang dirinya juga menerima ancaman yang bukan hanya mengancam dirinya namun juga mengancam putri satu-satunya yang masih berusia kurang dari 12 tahun.


Setelah sepeninggal istrinya, Robert kini hanya tinggal berdua bersama putrinya tercinta, Clara. Clara adalah seorang anak yang pintar dan juga periang. Setelah istrinya tiadam hanya Clara lah yang menjadi satu-satunya alasan kenapa dia bisa selalu bekerja dengan keras.


Mendapati kalau keselamatan putrinya terancam, jelas membuat Robert tidak bisa tidur dengan tenang.


Mengintip ke bawah meja kasir, Robert mengelus Crossbow kesayangannya yang telah melindunginya dari para preman yang datang mengancam.


Tring♪ Tring♪


Bel yang di pajang di pintu toko pun berbunyi tanda pelanggan telah masuk ke dalam toko.


Sosok yang mengenakan tudung berjalan masuk ke dalam toko yang sunyi. Berkat tudung serta masker yang dia gunakan, membuat Robert susah untuk menentukan apakah pelanggan yang satu ini adalah Outsider atau bukan.


Menilai kalau hanya Outsider yang datang berbelanja di pagi-pagi buta begini, Robert pun memutuskan kalau pelanggannya kali ini adalah seorang Outsider.


Dari tongkat kayu yang dia bawa, jelas menunjukkan kalau pelanggan kali ini adalah seorang Mage. Dan karena semua pakaian yang dia kenakan bertema hitam, maka besar kemungkinan kalau dirinya adalah seorang Black Mage atau kerabatnya.


Berjalan lurus ke arah meja kasir, Robert akhirnya menyadari kalau pelanggannya kali ini memiliki sepasang mata merah yang menyala.


“Apakah kau memiliki Job Scout?”


Terdengar suara gadis yang merdu dari balik masker yang dia kenakan.


Meski sempat terkesima hanya karena mendengar suaranya saja, Robert dengan cepat menyadarkan dirinya sendiri dan dengan profesionalismenya, dia mulai melayani pelanggan dengan sepenuh hati.


“Job Scout? Tentu saja, mohon tunggu sebentar”


Scout adalah Job yang paling populer di kalangan Petualang. Mereka yang berniat untuk berpetualang sendiri wajib memiliki Job Scout yang mampu menghindarkan mereka dari marabahaya.


Karena itulah Robert menyimpan persediaan Job Scout berada dekat dengan meja kasir sehingga dia bisa dengan mudah mengambilnya.


“Ini buku Job yang kau cari, harganya hanya 15.000 G...!”


Tepat setelah Robert meletakkan buku itu di atas meja, si pelanggan tiba-tiba saja menghantamkan tongkat miliknya tepat ke kepala Robert.


Karena serangan yang tiba-tiba, membuat Robert tidak sempat untuk menghindar. Hasilnya dia pun kehilangan 15 HP miliknya.


Itu masih terbilang kecil untuk total HP miliknya yang adalah 110. Tapi apa yang datang kemudian membuatnya berada dalam bahaya.


“Negative Energy”


“Argh!”


Sebuah bola yang terbuat dari energi negatif menghantam dirinya tepat di dada. Hasilnya bukan hanya kehilangan 23 HP tapi dirinya juga merasakan kekuatannya mulai berkurang.


Sebagai seseorang yang berkutat pada jual beli Job, membuat Robert jelas mengetahui banyak sekali Job serta Skill apa yang mereka miliki.


Negative Energy adalah sebuah Spells Tier-1 dari Black Mage dan sekutunya. Memiliki CD selama hanya 2 detik


membuatnya menjadi Skill dasar yang bukan hanya kuat tapi juga dapat ditembakkan secara bertubi-tubi.


Belum lagi karena sihir ini menembakkan energi negatif yang terkonsentrasi membuat siapapun yang terkena serangan ini perlahan akan kehilangan kekuatan mereka hingga akhirnya mereka akan kehilangan nyawa mereka.


Setelah menyerang Robert, pelanggan itu segera mundur kebelakang menjauh dari meja kasir sembari mengangkat tongkatnya kedepan bersiap untuk kembali menyerang.


“Sialan!”


Robert tidak tahu kenapa dirinya diserang begitu saja. Terlebih yang menyerangnya adalah seorang Outsider. Meski begitu, fakta kalau dirinya sedang di serang tetap tidaklah berubah.


Dengan cepat Robert segera meraih Crossbow yang tersembunyi di bawah meja kasir.


Karena Crossbow tersebut sudah terisi dan siap di tembakkan, Robert hanya tinggal membidik sasaran dan menarik pelatuknya saja.


Whooosssh!


“Negative Energy”


Pada akhirnya Robert dan si pelanggan menyerang secara hampir bersamaan. Bola energi negatif dan sebuah anak panah saling berpapasan di udara.


“Argh!”


“Khuh!”


Kedua proyektil itu akhirnya mengenai targetnya masing-masing.


Robert kembali terkena tepat di dadanya. Sebuah serangan kritikal yang membuatnya hanya tinggal memiliki 15 HP saja yang tersisa. Dengan pandangannya yang mulai kabur, Robert mendapati kalau penyerangnya hanya terkena di bagian pundaknya saja.


Terlebih, berkat mantel yang dia kenakan, membuat anak panah Robert hanya menggali dangkal ke dalam kulitnya dan hanya menghasilkan sedikit kerusakan saja padanya.


Sepasang mata merah menyala pun menatap tajam padanya. Dapat terasa sebuah kedengkian mendalam dari


tatapan mata itu.


Tersungkur di atas lantai, Robert yang sudah terpapar oleh energi negative bahkan sudah tidak lagi memiliki kekuatan untuk mengangkat Crossbow miliknya dengan benar.


Bang


Melompati meja kasir, si pelanggan mendarat tepat di atas tubuh Robert yang kini hanya bisa terbaring lemas di atas lantai. Di tangan si pelanggan adalah sebuah belati yang sudah berkarat.


Mengetahui kalau ajalnya sudah dekat, Robert pun mengumpulkan segenap tenaganya yang tersisa untuk bertanya “Apa... Yang... Membuatmu... Melakukan... Ini?”.


Karena dirinya tidak mengharapkan jawaban, Robert tidak akan menyangka kalau si pelanggan akan menjawab pertanyaan terakhirnya.


“Salahkan bisnismu yang terlalu sukses”


Hanya dengan kalimat itu saja sudah lebih dari cukup. Sekarang Robert tahu siapa yang telah mengirim Outsider ini untuk menghabisi dirinya.


Di dalam hatinya Robert sudah menduga kalau pihak Kartel kelak akan mengirim seseorang untuk mengambil nyawanya. Hanya saja dia tidak pernah menyangka kalau itu akan terjadi hari ini. Terlebih lagi yang datang untuk nyawanya adalah seorang Outsider.


Yang menjadi penyesalan terakhirnya sekarang adalah tentang bagaimana nasib putrinya yang masih tertidur lelap di ruang sebelah.


Ingin sekali Robert untuk melihat wajah putrinya untuk terakhir kalinya.


Sayang, apa yang menjadi pemandangan terakhirnya adalah sepasang mata merah menyala yang menatap dirinya dari balik tudung hitam.


“Clara...”


Dengan pisau berkarat yang menikam area dadanya hingga berkali-kali, cahaya pun mengilang dari mata Robert


untuk selama-lamanya.


...


“Ha... Ha... Ha...”


Menenggak \ demi memulihkan kembali HP nya yang hilang, Winter memberanikan dirinya untuk mencabut anak panah yang sedari tadi menancap di pundaknya.


“Hah... Sakit bangsat!”


Membuang jauh anak panah yang baru saja dia cabut, Winter bersyukur dia masih hidup karena serangan barusan telah merenggut setengah HP nya walau dia hanya terkena di pundaknya saja. Tidak terbayang apa yang akan terjadi jika saja dia terkena tepat di dada atau bahkan di kepala.


Memandang kedua tangannya yang berlumuran darah, serta seonggok mayat yang kini bermandikan darah tepat di hadapannya, Winter hanya bisa memandang dingin ke arah mayat tersebut tanpa merasa bersalah sedikitpun.


Malahan dia merasa kesal karena orang ini sampai memberikan perlawanan sengit dan hampir saja memberikannya kematian pertamanya di game ini.


Pada saat Winter bangkit dan mencoba membersihkan tangannya dengan menggunakan kain yang kebetulan dia temukan di bawah meja kasir, pintu belakang toko pun seketika terbuka.


“Papa, ada ribut apa?”


Apa yang tampak dari balik pintu adalah sesosok anak kecil yang diperkirakan berumur kurang dari 12 tahun. Dia mengenakan pakaian tidur yang tampak seperti piyama dengan rambut merahnya tampak berantakan karena dia baru saja bangun dari tidurnya.


Gadis itu seketika terdiam ketika dirinya melihat sosok ayahnya kini sudah tergeletak di atas lantai dengan cairan merah yang membasahi seluruh tubuhnya.


Berdiri di dekat tubuh ayahnya adalah orang asing dengan tudung yang sedang memegang sebuah pisau yang berdarah.


Sontak gadis itu syok akan pemandangan yang baru saja dia lihat.


“Papa... Papa!”


Berteriak memanggil ayahnya, gadis itu pun berlari mendekati sosok ayahnya yang masih terbaring di atas lantai walau sudah di panggil berkali-kali.


Sayang, itu adalah sebuah tindakan bodoh yang bisa dia lakukan di situasi ini.


Mengulurkan tangannya kedepan, Winter secara refleks menembakkan “Negative Energy” tepat ke arah si gadis yang sedang berlari ke arahnya.


Walau dirinya tidak sedang menggunakan tongkatnya untuk melafalkan mantra, tapi dirinya tetap sukses  menghasilkan 27 kerusakan yang mana itu sudah melebihi HP si bocah yang hanya memiliki total 15 HP.


Melihat tubuh si gadis yang kini tersungkur tidak bernyawa di atas lantai, Winter hanya bisa memegangi kepalanya sembari menyembunyikan ekpresi kesal di balik maskernya.