A Journey Of A Heartless Necromancer

A Journey Of A Heartless Necromancer
Chapter 14 : Kidnapers



Namanya adalah Lulu.


Dia tidak lebih dari sekedar gadis desa biasa. Ayahnya adalah seorang penggembala domba sedangkan sang Ibu hanyalah seorang Ibu rumah tangga.


Hidup mereka jauh dari kata berkecukupan. Hidup di desa terpencil membuat makanan susah di dapat hingga Lulu harus pergi ke dalam hutan demi memetik sayuran liar sebagai menu makan malamnya pada hari itu.


Seperti biasa Lulu pergi memetik sayuran liar di dalam hutan tidak jauh dari desanya.


Sambil membawa keranjang rotan kesayangannya, Lulu mencari-cari di antara banyak tanaman liar lainnya sesuatu yang bisa di masak.


“Permisi...”


Yang menyapanya secara tiba-tiba adalah seorang gadis cantik yang umurnya tidak lebih tua darinya.


Meski rambutnya pendek selayaknya seorang lelaki, tapi parasnya yang cantik rupawan tetap tidak bisa di bantah. Pakaiannya yang minim menonjolkan lekuk tubuhnya yang menggoda serta kulitnya yang putih mulus membuat Lulu iri melihatnya.


“Halo, permisi?” setelah di sapa untuk yang kedua kalinya, barulah Lulu tersadar dari lamunannya “Iya ada apa?”.


...


Sukses membuat kesan pertama, Chic mengambil nafas lega.


Chic takut jika gadis yang ada di hadapannya sekarang akan segera lari ketika di sapa oleh orang asing. Terlebih sekarang mereka sedang berada di dalam hutan belantara yang penuh akan bahaya sehingga wajar saja jika gadis di hadapannya ini senantiasa menjaga kewaspadaannya.


Namun, melihat gadis itu yang langsung melamun ketika di sapa memberitahukan kalau gadis di hadapannya ini tidaklah sewaspada itu.


Membulatkan tekadnya, Chic kembali melihat Skillnya hanya untuk memastikan.


[Charm Person]


MP : 10 CD : 1 menit


Grade : Tier-1 Spells


Stats : Total Level (Power) MND (Resistance)


Element : Dark


Spells Effect : Membuat (1) target terkena Debuff (Charmed Lv.1). Efektifitas pada mereka yang 10 level di bawah pengguna = 100%. 5 level di bawah pengguna = 50%. 5 level di atas pengguna = -50%. 10 level di atas pengguna = -10%.


Effective Range : 10 meter


Weakness : Makhluk tak berakal


Karena Chic yang sekarang memiliki total level 10, membuat mustahil baginya untuk mendapatkan 100% jaminan kalau Skillnya akan sukses. Tapi setidaknya Chic berharap kalau dia mendapatkan jaminan 50% kalau apa yang akan dia lakukan selanjutnya akan berhasil.


Menatap langsung mata si gadis desa yang ada di hadapannya, Chic akhirnya menggunakan ‘Charm Person’ untuk pertama kalinya.


Kedua mata Chic menyala merah jambu seraya Skill ‘Charm Person’ diaktifkan.


Lulu yang menatap mata Chic seketika berdiri diam tidak bergerak. Matanya terlihat kosong seolah dia tidak berpikir apa-apa.


Hanya untuk memastikan, Chic melambaikan tangannya tepat di depan wajah Lulu. Tidak mendapatkan reaksi apa-apa, Chic akhirnya bernafas lega karena Skillnya telah berhasil.


“Katakan, siapa namamu?” terdapat jeda beberapa detik sebelum Chic akhirnya mendapatkan jawabannya “Lulu” yang diucapkan dengan pelan dan monoton tanpa ada emosi sama sekali.


Efek dari ‘Charm Person’ adalah lima menit, tidak ingin membuang waktu Chic pun mulai bertanya kepada Lulu tentang semua hal penting yang ingin dia ketahui.


...


Ketika sadar, Lulu sudah mendapati dirinya berada di dalam sebuah tempat gelap dengan lantai yang keras dan dingin seperti sebuah permukaan logam.


Tanpa Lulu sadari kedua tangan dan kakinya telah terikat oleh tali sehingga mustahil baginya untuk bergerak. Mulutnya juga sudah dibekam dengan kain hingga mustahil juga baginya untuk berteriak atau bahkan hanya untuk bicara sekalipun.


Rasa takut mulai menggerogotinya ketika dia tidak mengetahui apa yang sebenarnya sedang dia alami.


“Hm?!” tidak lama tempatnya sekarang berada mulai bergoyang dan dari luar terdengar suara tapak kaki kuda yang perlahan mulai melaju. Seketika Lulu paham kalau dia sekarang sedang di angkut di atas sebuah kereta kuda. Dan saat itu juga rasa takutnya kian menjadi karena Lulu sudah mulai bisa menebak situasi apa yang sedang dia alami sekarang.


Sungguh, apa sebenarnya yang sudah dia lakukan sehingga dirinya pantas mendapatkan nasib seperti ini?


“Tadi gadis itu bilang desa terdekat ada di arah sana kan?” meski samar, terdengar suara seorang perempuan dari luar. “Katanya sih begitu” terdengar juga suara orang lain yang tampaknya juga berasal dari seorang perempuan. Namun kali ini entah mengapa Lulu merasa familiar dengan suara orang itu.


Sementara Lulu berusaha keras untuk mengingat dari mana dia mendengar suara orang itu, pembicaraan di luar masih terus berlanjut.


“Apakah kau sudah memastikan kalau desa itu berada di wilayah fraksi cahaya?”


“Tenang saja, sejak kita melewati Middle Lake kita sudah keluar dari wilayah fraksi bayangan. Bahkan jika saja kita salah sekalipun, desa itu palingan masuk ke dalam wilayah fraksi netral”


“Yang artinya selama desa itu tidak termasuk ke dalam wilayah fraksi bayangan maka tidak masalah begitu?”


“Tentu saja! Hal terakhir yang ingin aku lakukan adalah menyerang wilayah sendiri”


Dari topik pembicaraan mereka, mudah di simpulkan bahwa mereka berdua adalah orang dari fraksi bayangan yang ingin membuat kekacauan.


Mengetahui hal ini, hati Lulu kian menciut karena mustahil bagi gadis lemah seperti dirinya untuk menahan agen dari fraksi bayangan.


Tiba-tiba saja kereta berhenti yang membuat sebuah guncangan yang kuat. “Egh!” Lulu harus rela menahan sakit ketika tubuhnya secara tidak sengaja menghantam dinding kandang besi dengan cukup kuat.


Untuk alasan kenapa kereta sampai berhenti...


“Oh, itu ada dua gadis lagi”


“Benar... Apakah mereka berdua kakak beradik?”


Tampaknya kedua penculik itu baru saja menemukan mangsa baru. Lulu jadi penasaran siapakah gadis malang yang sebentar lagi akan bernasib sama seperti dirinya.


“Kalau memang benar mereka itu kakak adik, kenapa yang kakak rambutnya merah sedangkan si adik rambutnya biru?”


Kakak berambut merah dan adik yang berambut biru? Mendengar itu Lulu seketika tahu identitas dari kedua gadis yang para penculik lihat.


...


Mengamati dari balik semak-semak, Winter menggunakan Skill ‘Eagle Eyes’ demi mengamati kedua gadis yang tidak sengaja mereka lihat saat sedang dalam perjalanan menuju desa terdekat.


Kedua gadis dengan umur yang berbeda jauh itu tampak sedang asyik merangkai bunga di sebuah padang bunga kecil di bagian tengah hutan yang bermandikan cahaya mentari.


Gadis yang paling tua tampak berumur setidaknya 20 tahun sama seperti dirinya. Sedangkan yang paling muda palingan masih belum mencapai umur 15 tahun.


Jika dugaan Chic itu benar dan ternyata mereka berdua itu adalah dua bersaudari. Itu berarti si Kakak adalah yang berambut merah sedangkan si adik adalah yang berambut biru. Yang mana itu agak tidak meyakinkan bagi Winter karena jika mereka satu keluarga maka seharusnya ada suatu persamaan di antara mereka berdua.


Tidak lagi memikirkan tentang hubungan mereka berdua, Winter kembali fokus untuk menangkap kedua gadis itu demi mendapatkan bayaran dan menyelesaikan Questnya.


Karena ‘Keen Eyes’ tidak mendapati adanya senjata atau item magis yang mungkin saja kedua gadis itu mungkin kenakan, demi menghemat MP Winter pun hanya memanggil total 2 Skeleton pada level 5.


Berkat efek dari \ yang mampu untuk mengurangi pemakaian MP sebanyak 20%, Winter hanya perlu menghabiskan total 120 MP untuk memanggil dua Skeleton yang identik satu sama lain.


“Kau, diam sebentar di sini. Dan kau, putari mereka dari belakang” memberikan perintahnya, salah satu Skeleton yang Winter tunjuk mulai berjalan perlahan di balik lebatnya pepohonan menuju sisi lain dari padang bunga.


Sementara itu Winter juga ikut bergerak ke arah yang berlawanan dari Skeleton sebelumnya dan meninggalkan satu Skeleton yang tersisa untuk tetap diam di sana sampai ada perintah lebih lanjut dari Winter.


Hal ini Winter lakukan demi bisa mengepung kedua gadis itu dari tiga arah agar mereka tidak bisa kabur.


Ketika semua sudah di posisinya, Winter pun mulai menjalankan rencananya.


Klatak-klutuk suara tulang belulang dari kedua Skeleton yang secara perlahan mulai bergerak mendekati kedua gadis itu. “Kyaaa!” teriak si gadis berambut biru ketika dia baru menyadari ada dua Skeleton yang muncul dari balik bayangan pepohonan.


Dengan ketakutan si gadis berambut merah mulai memeluk si gadis berambut biru dengan erat seolah ingin melindunginya dari tangan dingin para Skeleton.


Karena Skeleton yang muncul secara tiba-tiba, membuat kedua gadis itu menjadi panik hingga tidak ada dari mereka berdua yang terpikirkan untuk lari karena rasa takut akan situasi mencekam yang baru pertama kali mereka alami ini.


Hanya tinggal sejengkal lagi sebelum akhirnya tangan putih Skeleton itu bisa menggapainya. Namun... Tssshhh... Suara mendesis terdengar bersama dengan efek kepulan asap dari tangan si Skeleton yang terjulur masuk ke bawah cahaya mentari.


Melihat HP dari Skeleton itu perlahan menurun, dengan sigap Winter pun memerintahkan Skeleton itu untuk mundur hanya dengan pikirannya.


Menyadari kalau mereka itu aman selama berada di bawah naungan sang mentari, si gadis berambut merah memutuskan untuk tetap diam di sana sampai bala bantuan tiba.


“Tolo...” niatnya untuk berteriak meminta tolong harus terpotong oleh sebuah bola kegelapan yang mendarat tidak jauh darinya.


Mengenakan kembali mantelnya, Winter berjalan dengan angkuh mendekati kedua gadis malang itu.


Dengan mata merah menyala Winter pun berkata “Tenanglah atau aku akan menenangkanmu untuk selama-lamanya” menghadapi sosok Winter yang terlihat mengerikan, kedua gadis itu hanya bisa pasrah ketika mereka di suruh untuk keluar dari bawah cahaya mentari untuk di tahan oleh kedua Skeleton tadi.


...


Melihat tetangganya, Mona dan Moni yang juga ikut tertangkap sama sepertinya. Lulu hanya bisa pasrah karena memang tidak ada yang bisa dia lakukan.


Walau dari luar Mona tampak terperanjak ketika melihat kalau tetangga sekaligus teman sebayanya Lulu telah tertangkap terlebih dahulu, jauh di dalam lubuk hatinya Mona merasa lega karena bukan hanya dia dan adiknya yang mendapatkan nasib buruk.


Moni? Dia sedang sibuk menangis. Untungnya kain yang membungkam mulutnya membuat suara tangisannya tidak terdengar begitu keras. Karena jika tidak, Winter mungkin saja akan membuatnya berhenti menangis dengan paksa.


Dengan kandang besi yang kembali ditutupi oleh kain tebal, membuat ketiga gadis malang itu hanya bisa meringkup diam di dalam kegelapan berharap akan ada sebuah keajaiban yang akan tiba menyelamatkan mereka.


...


“Hah... Tidak aku sangka kalau makhluk panggilanku lemah terhadap cahaya matahari” ucap Winter sekembalinya dia ke kereta kuda yang diparkirkan tersembunyi di dalam bayangan pohon.


Dua gadis yang baru dia tangkap sudah di ikat dan di bungkam mulutnya dengan kain sebelum akhirnya dimasukkan ke dalam kandang besi bersama dengan gadis yang sebelumnya mereka tangkap.


Atas keluhan Winter, Chic pun membalas “Mereka itu mayat hidup, bukankah sudah sepantasnya mereka lemah terhadap matahari?” yang mana tidak terlalu didengarkan oleh Winter yang sudah sibuk mengutak-atik layar Menu nya.


“Hanya untuk percobaan, Summon : Clara”


Dari dalam lingkaran sihir hitam muncul sesosok zombie gadis kecil yang membawa perisai kayu dan pedang besi berkarat.


Setelah bermain bersama dengan Chic dan jumlah makhluk yang bisa dia panggil bertambah, membuat Winter tidak pernah lagi memanggil Clara yang bisa di bilang sebagai makhluk panggilan terlemah miliknya.


Hal ini juga membuat Chic menjadi terkejut karena baru mengetahui kalau Winter memiliki makhluk panggilan berupa zombie anak kecil.


“Clara, pergi ke sana” mendapat perintah dari tuannya, Clara membawa kaki kecilnya berjalan dengan kaku menuju cahaya mentari yang bersinar di antara celah dedaunan. Tepat setelah Clara berdiri tepat di bawah cahaya mentari, tidak ada perubahan yang tampak.


Namun sebuah perbedaan tentu saja terjadi,


Name : Clara


Gender/Age : Female/10


Total Level : 3


Race : Zombie (1)


Job :


1.       Warrior (Lv. 1)


2.       Swordman (Lv. 1)


Stats (Weakened) :


(HP : 55) (MP : 25) (STR : 25) (VIT : 20) (AGI : 10) (DEX : 7) (INT : 5) (MND : 5)


“Ah, semua statsnya berkurang setengah” melihat layar Menu nya Winter jadi tahu perbedaan antara Zombie dan Skeleton jika terekspos sinar mentari.


Selanjutnya Winter memanggil kembali Clara lalu melanjutkan dengan memanggil makhluk panggilan lainnya sebagai percobaan.


Hasilnya, Zombie dan Living Armor akan mengalami pengurangan Stats. Zombie akan berkurang setengah sementara Living Armor hanya berkurang sebanyak 30%.


Di sisi lain, Ghost dan Skeleton akan langsung terkena kerusakan jika terkena cahaya matahari.


Puas akan hasil percobaannya, Winter pun menoleh ke arah Chic... “Perubahan rencana, kita akan menyerang saat malam” yang langsung di balas “Sudah aku duga”.


Dengan rencana yang berubah total, mereka pun memutar haluan.


...


Tanpa di sadari malam sudah tiba di NFO.


Hiruk pikuk hari pertama NFO bisa dimainkan secara massal sudah mulai mereda. Hanya tersisa para Pemain yang tetap bertahan karena ketagihan atau mereka yang baru punya waktu untuk bermain dan kebetulan saja saat mereka Log In langit di dalam game sudah gelap.


Berkat itu suasana di dalam kota masih sangatlah hidup seolah kota itu tidak lagi tertidur.


Dari dalam kota Shoddy yang masih penuh akan Pemain, satu kereta kuda yang dikendarai oleh dua orang gadis berangkat ke luar kota.


“Bonus untuk yang perawan cuman 5.000 G” keluh Chic seraya dirinya kembali memegang kemudi kereta.


Winter yang duduk di sampingnya hanya bisa melirik ke arah Chic dengan tatapan seolah tidak percaya “Kau kurang bersyukur apa sih? 5k itu setara dengan satu Quest tingkat Copper loh. Dan itu hanya bonus. Baru dapat tiga saja kita total sudah dapat 45.000 G. Bagaimana setelah kita dapat satu desa?” setelah kembali ke kota, mereka langsung menyerahkan tiga gadis yang mereka dapat sebelumnya ke tempat yang sudah disetujui.


Dansekarang, dengan kereta yang sudah kosong kembali mereka kembali menuju desa yang telah mereka ketahui posisi pastinya.


Selagi berkendara dengan tenang di bawah cahaya bintang, Winter dan Chic yang sama-sama memiliki ‘Eagle Eyes’ melihat sesuatu di kejauhan.


[Eagle Eyes] +1


Passive


Grade : Tier-1 Art


Stats : DEX


Element : Neutral


Art Effect : Meningkatkan batas jarak penglihatan pengguna serta membantu melihat dalam cahaya yang minim.


Effective Range : 100 meter


Itu adalah kumpulan cahaya oranye yang saling berdekatan dan seolah sedang berjalan beriringan.


Dengan cepat Winter pun mematikan lentera yang menjadi sumber cahaya mereka selama perjalanan. Secara bersamaan Chic juga memarkir kereta kuda ke dalam hutan jauh dari jalan raya.


Menggunakan Skill ‘Cat Step’ dari Job Thief serta Skill ‘Stealth Mastery’ dari Job Assassin yang sama-sama mampu untuk meredam suara langkah kakinya. Chic bergerak di balik bayangan malam untuk mencari tahu cahaya apakah itu sebenarnya.


[Cat Step]


Passive


Grade : Tier-1 Art


Stats : DEX


Element : Neutral


Art Effect : Membuat langkah pengguna menjadi lebih ringan dan senyap selayaknya seekor kucing.


Effective Range : Jarak dekat


[Stealth Mastery]


Passive


Grade : Tier-1 Art


Stats : AGI (Speed) DEX (Sound)


Element : Neutral


Art Effect : Meningkatkan keahlian pengguna untuk menyusup dalam senyap dengan mengurangi suara yang Pengguna timbulkan saat mengendap-endap sebanyak 10%.


Effective Range : Jarak dekat


Setelah menunggu beberapa menit, Chic akhirnya kembali untuk menyampaikan hasil pengintaiannya “Itu tampaknya adalah tim pencari dari desa yang hendak kita tuju” mendengar hal ini, Winter pun meminta informasi lebih jauh “Aku tidak tahu jumlah pastinya, yang jelas jumlahnya lebih dari 30. Semuanya adalah pemuda dan beberapa orang tua. Untuk senjata hanya berupa cangkul dan alat pertanian lainnya”.


Dari informasi yang berhasil Chic dapatkan, Winter pun mengutarakan perkiraannya “Katakan saja kalau mereka sedang mencari ketiga gadis mereka yang menghilang. Desa mereka hanyalah desa kecil dengan sedikit penduduk yang mayoritas adalah petani dan peternak. Anggap saja kalau mereka telah mengerahkan semua pemuda mereka yang mampu bertarung ke dalam tim pencari. Itu akan meninggalkan desa mereka dengan pertahanan yang tipis atau bahkan tidak ada sama sekali” melihat senyum lebar di wajah Winter, Chic pun merasakan perasaan buruk.