
Eira Adiratna. 20 tahun.
Dia adalah seorang gadis yang terlahir dari keluarga yang serba berkecukupan atau bahkan tidak mengada-ngada kalau mengatakan kalau dirinya terlahir dari keluarga yang kaya raya.
Eira adalah putri pertama sekaligus anak tertua dari dua bersaudara. Eira memiliki seorang adik lelaki yang baru saja menginjak bangku SMA dan sejak seminggu yang lalu sudah tinggal di asrama khusus laki-laki karena memang sekolah yang dia masuki itu memiliki sistem asrama.
Walau usia Eira sudah menginjak 20 tahun, tapi dia tidak sedang berkuliah atau bahkan menikah.
Itu dikarenakan Eira terlahir dengan fisik yang lemah sehingga membuatnya sering sakit-sakitan hingga tidak jarang dia keluar masuk rumah sakit karena kondisinya itu.
Betapa beruntungnya Eira karena memiliki orang tua yang peduli padanya dan sanggup membayar semua biaya pengobatannya selama ini.
Karena fisiknya yang lemah, Eira hanya mampu mengenyam Pendidikan hingga bangku SMA. Itupun dia harus ikut paket ketiga karena menghadiri sekolah seperti para murid pada umumnya itu terlalu berat baginya.
Setelah lulus dari sekolah, Eira hanya menghabiskan waktunya dengan berbaring di dalam kamarnya sambil membaca buku, menonton film, atau bermain game konsol milik adiknya yang kini sudah tidak dia gunakan lagi.
Eira terus berada di dalam kamarnya sambil senantiasa memandang keluar jendela.
Tidak pernah seharipun dia tidak bermimpi untuk bisa berjalan keluar seperti gadis pada umumnya tanpa kehabisan nafas setelah beberapa meter berjalan. Dari buku yang diabaca hingga dari adegan film yang dia tonton membuatnya semakin mendambakan dunia luar.
Menyadari kalau putri mereka mulai merasa jenuh, orang tua Eira pun memutuskan untuk memberikan putri mereka sebuah hadiah untuk mengusir kejenuhannya sekaligus mengobati rasa rindunya terhadap dunia luar.
“Papa, Mama, apa itu?”
Ucap Eira heran melihat sebuah benda raksasa yang terbungkus kain hitam tiba-tiba saja muncul di dalam kamarnya. Walau memang Eira itu susah jika harus bangun pagi, tapi tertidur pulas sepanjang malam ketika benda aneh itu dimasukkan ke dalam kamarnya dan harus melihat kedua orang tuanya yang pagi-pagi sudah cengingisan di dalam kamarnya tentu sangat mengejutkannya.
Belum lagi ketika melihat benda besar aneh yang tiba-tiba saja mereka letakkan di kamarnya membuatnya menjadi tambah curiga.
“Eira, putriku, walau ini mungkin tidak sepenuhnya sama dengan dunia di luar sana, semoga saja hadiah dari kami ini bisa mengobati hatimu meski hanya sedikit”
“Itu benar, Ayahmu ini sudah bersusah payah untuk mendapatkannya. Siapa sangka kalau mereka hanya menjualnya dalam jumlah yang terbatas”
Bingung akan apa yang kedua orangtuanya bicarakan, Eira hanya bisa memiringkan kepalanya.
Merasa menjelaskan saja tidak cukup, orang tua Eira pun segera membuka kain penutup hitam yang menutupi hadiah yang mereka beli demi putri mereka tercinta.
Apa yang ada di balik kain hitam itu adalah sebuah kapsul putih berbentuk seperti telur atau bahkan seperti kapsul tidur astronot yang ada di film-film yang biasanya dipasangi dengan fungsi yang mendukung tidur dingin (Cold Sleep).
Pada permukaan kapsul yang berwarna putih mulus tersebut tercetak sebuah logo berwarna biru yang bertuliskan V.R.C yang tampaknya adalah logo dari perusahaan pembuat kapsul tersebut.
“...? ...??!”
Setelah melihat kapsul tersebut, Eira menjadi tambah heran. Sebelum akhirnya dia teringat sesuatu dan segera mengambil tabletnya yang tergeletak di atas meja di samping tempat tidurnya.
Mengutak-atik layar tabletnya, Eira akhirnya ingat dan sadar akan identitas dari kapsul itu yang sebenarnya.
“Mesin VR?!”
VR atau Virtual Reality adalah sebuah dunia yang telah lama didambakan banyak orang.
Menjelajahi negeri dongeng ataupun kota masa depan sudah bukan lagi sekedar mimpi belaka.
Walau sekarang sudah cukup banyak jenis mesin VR yang bertebaran di luar sana, mesin yang ada di hadapan Eira sekarang berbeda dari yang lainnya.
Itu karena mesin VR produksi dari V.R.C ini adalah keluaran yang paling baru dan yang paling mutakhir. Digadang-gadang mampu merekayasa kelima panca indra dengan sempurna dan mampu memberikan visual yang mampu menyaingi bahkan Film kelas Hollywood.
Disebutkan kalau hanya ada 100 mesin VR ini yang diproduksi. Dan salah satunya sekarang berada hadapannya.
Melihat wajah putri mereka yang kembali bercahaya, senyuman puas pun tercipta di wajah kedua orang tua Eira.
Setelah menerima pelukan hangat dari putri mereka yang tercinta, ayah Eira pun segera menjelaskan bagaimana caranya untuk mengoperasikan kapsul tersebut.
...
Membuka matanya, Eira sudah menemukan dirinya berdiri di sebuah ruang putih kosong.
Eira tidak melihat ada hal lain selain dirinya sendiri yang entah mengapa sedang mengenakan sebuah pakaian dalam olahraga yang ketat.
Hal ini membuat tubuhnya yang terbilang kurusan terpampang dengan jelas yang mana ini tentu saja membuat Eira merasa tidak nyaman.
Di tengah kebingungannya, muncul sebuah suara yang terdengar langsung dari dalam kepalanya.
“Silahkan buat Avatar anda”
Seolah suara itu adalah sebuah isyarat, muncul sebuah cermin satu badan tepat di hadapan Eira. Di samping cermin tersebut terdapat semacam konsol semi-transparan yang bisa dioperasikan dengan jari dan berfungsi
untuk mengubah rupa Eira di dalam cermin.
Mengutak-atik konsol tersebut, Eira mengubah penampilannya agar menjadi lebih ‘sehat’.
Dia membuat tubuhnya menjadi lebih berisi lengkap dengan kulit kecokelatan yang sehat. Dengan langkah pertama selesai, Eira lalu kembali merubah penampilannya agar berbeda dari penampilan aslinya karena berjalan-jalan di dunia virtual dengan penampilan aslimu adalah sesuatu yang tabu.
Rambut hitamnya yang panjang dan lurus dibiarkan begitu saja dan hanya mengubah warnanya saja menjadi seputih salju. Sepasang mata cokelat yang Eira warisi dari ibunya dia ubah menjadi warna permata Ruby yang indah... Hanya saja Eira tidak mampu menemukan warna yang dia inginkan dan malah berakhir membuatnya memiliki sepasang mata berwarna merah darah.
Merasa tidak perlu ada lagi yang harus di ubah, Eira pun lanjut menuju proses berikutnya.
“Tolong jawab semua pertanyaan ini dengan sejujur-jujurnya. Hasil jawaban akan berpengaruh terhadapn Job pertama yang akan anda pilih”
Terkejut karena Job tidak di pilih secara manual, Eira tidak punya waktu untuk bertanya karena sebuah pertanyaan essay telah melayang di hadapan matanya.
1. Apa itu kehidupan?
Tiba-tiba saja mendapatkan pertanyaan filosofi, Eira pun menjawab seadanya...
“Kehidupan adalah sesuatu yang harus disyukuri dan di jalani dengan sepenuh hati karena kau tidak akan pernah tahu kapan kehidupanmu akan berakhir”
Selesai menjawab pertanyaan pertama, muncullah pertanyaan kedua.
2. Apa itu kematian?
Eira pun menjawab “Sesuatu yang pasti akan datang dan tidak bisa dihindari semua makhluk hidup”.
Selesai menjawab pertanyaan kedua, muncullah pertanyaan ketiga, keempat, dan seterusnya.
Semua pertanyaan itu Eira jawab dengan jujur dan bersungguh-sungguh selayaknya sedang menjawab soal ujian kenaikan sekolah. Yang mana ini membuat Eira merasa sedikit senang.
Hingga pada akhirnya Eira tiba pada pertanyaan terakhir.
50. Apa yang paling kau inginkan di dunia ini?
Pertanyaan ini membuat Eira berpikir sejenak sebelum akhirnya menjawab “Sebuah tubuh yang sehat dan tidak lagi takut akan kematian yang bisa datang menjemput”.
Setelah menjawab total 50 pertanyaan, hasil dari semua jawaban yang dia berikan pun berubah menjadi sebuah Job yang kini melekat padanya.
Necromancer
Sebuah Job yang berspesialisasi dalam sihir hitam terutama sihir untuk mengendalikan tubuh dan jiwa yang sudah mati.
Stats yang dikembangkan oleh Job ini adalah (HP+20) (MP+40) (INT+10) (MND+10).
Tentu saja Eira jadi bingung bukan kepalang.
Bagaimana bisa jawaban yang dia berikan bisa memberikannya Job yang biasanya hanya dimiliki oleh orang jahat di film-film?
Meski Eira tidak bisa lagi mengulang soal pertanyaannya, tapi dia tampaknya diperbolehkan untuk memilih Job secara manual. Semua pertanyaan tadi hanya ditujukan untuk mereka yang kebingungan saat memilih Job pertama mereka dan dengan menjawab semua pertanyaan itu maka sistem akan menunjukkan Job apa yang paling cocok untuk mereka.
Walau merasa kurang yakin bagaimana bisa Necromancer bisa menjadi Job yang paling cocok baginya, Eira tetap menerima Job ini.
Selain karena penasaran, dari semua game yang pernah dia mainkan, ini adalah pertama kalinya Eira menjadi Necromancer. Mencoba sesuatu yang baru adalah hal yang paling menarik baginya.
Dengan Job sudah di dapat, sekarang hanya tinggal nama “Snow... Sudah di ambil?!” mendapati nama yang dia inginkan ternyata sudah terpakai, Eira pun memutar otak memilih nama apa yang masih ada hubungannya dengan Salju karena memang itulah makna dari nama aslinya.
“Salju... Snow... Ice... Winter!”
Memilih nama “Winter” Eira pun menyelesaikan proses pembuatan avatarnya.
Karena Job yang dia pilih adalah Necromancer, membuat pakaian yang dia kenakan sekarang berubah menjadi secarik jubah usang dan sebuah tongkat kayu sepanjang pergelangan tangannya.
“Avatar baru telah terkonfirmasi! Pemain baru, Winter. Selamat menikmati dunia New Frontier Online dengan sepuas hati!”
Dengan cahaya terang yang membutakan matanya, game pun akhirnya benar-benar di mulai.
...
Cahaya mentari tidak mampu menembus lebatnya kanopi pohon membuat hutan ini cukup gelap dan lembab.
Memeriksa dirinya sendiri, Winter menyadari kalau dia sudah berada dalam wujud avatarnya. Lengkap dengan jubah usang serta tongkat pendek yang tampaknya berguna untuk merapalkan mantra.
Hal pertama yang Winter coba adalah untuk melihat status dari tongkat tersebut, sayang tidak ada layar transparan atau apapun yang muncul dan menjelaskan status dari tongkat yang kini dia pegang.
Mencoba membuka Menu, Winter hanya menemukan status miliknya sendiri.
Name : Winter
Gender/Age : Female/20
Job :
1. Necromancer (Lv. 1)
Stats :
(HP : 30) (MP : 50) (STR : 10) (VIT : 10) (AGI : 10) (DEX : 10) (INT : 20) (MND : 20)
Melihat layar Menu lebih seksama, Winter menemukan kalau dia telah memiliki memiliki 2 buah Skill.
[Negative Energy]
MP : 5 CD : 2 detik
Grade : Tier-1 Spells
Element : Dark
Damage : INT + 10%
Effective : Light
[Raise Undead]
MP : 10 CD : 1 menit
Grade : Tier-1 Spells
Element : Dark
Effect : Menghidupkan (1) mayat terdekat dan membuatnya bertarung melawan musuh selama (10) menit.
Weakness : Light, Fire
Dari penjelasannya, Skill pertama jelas adalah Skill untuk menyerang secara langsung. Sedangkan Skill kedua adalah Skill khas dari Job Necromancer. Yaitu Skill untuk menghidupkan mayat dan menjadikannya pelayan.
Walau dari penjelasannya mayat yang dihidupkan hanya bertahan selama 10 menit, karena Winter kini baru level 1 dia berharap kalau kedepannya durasinya bisa menjadi lebih lama lagi.
Melihat tidak ada lagi yang bisa dia periksa, Winter memutuskan untuk segera beranjak dari tempatnya yang sekarang. Kebetulan di hadapannya terdapat sebuah jalan setapak kecil yang bisa dijadikan sebagai petunjuk jalan.
Berjalan mengikuti jalur setapak itu, tidak sampai semenit Winter sudah menemukan mangsa pertamanya.
Seekor kelinci.
Seekor kelinci putih biasa yang sekilas tidak ada bedanya dengan kelinci pada umumnya. Berharap bisa melihat level atau bar darah dari kelinci tersebut, Winter berusaha untuk memperhatikan kelinci itu dengan seksama namun tidak membuahkan hasil.
“Apakah aku butuh Job atau Skill khusus?”
Tidak menemukan jawabannya, Winter pun menyisihkan masalah itu dari kepalanya dan memutuskan untuk menyerang kelinci itu.
“Menyerang... Bagaimana ini, tidak ada yang bisa di klik?”
Di tengah kebingungannya, kelinci itu akhinya menyadari keberadaan Winter dan berniat untuk segera melarikan diri. Tidak mau mangsa pertamanya kabur begitu saja, dengan putus asa Winter pun meneriakkan nama Skill yang sedari tadi hendak dia gunakan sambil mengarahkan tongkatnya kedepan.
“Negative Energy!”
Seketika Winter merasa sesuatu seperti sedang mengalir dari dalam dirinya menuju ke ujung tongkat kayu. Tidak lama kemudian terciptalah sebuah bola energi berwarna hitam seperti bayangan seukuran bola ping pong tercipta di ujung tongkat yang dia pegang.
Hanya memiliki beberapa detik saja untuk membidik, Winter pun berusaha sebaik mungkin untuk mengarahkan serangannya agar mengenai kelinci yang mulai bergerak.
Dengan satu hentakkan, bola energi yang terkumpul tadi melesat dengan cepat dan tepat mengenai punggung kelinci yang baru saja berlari.
Angka 24 berwarna merah menyala muncul berbarengan dengan kelinci itu terkena serangan dari Winter.
Hanya dengan satu serangan saja sudah cukup untuk membuat kelinci itu terkapar tidak bernyawa yang menandakan kalau HP kelinci itu kurang dari 24.
“Kalau kerusakanya 24. Damage Skill ini itu INT +10% kan? INT ku itu 20 +10%... Apakah itu berarti tongkat ini menambah kerusakan sebesar 2?”
Untungnya perhitungan kasarnya itu tepat sasaran.
Tongkat kayu yang dia pegang memang menambah kerusakan serangan sihir sebesar 2. Yang mana itu terdengar kecil namun wajar karena tongkat itu tidak lebih dari sekedar senjata pemula.
Mendekati mayat kelinci yang baru saja dia kalahkan, Winter pun kembali mengancungkan tongkatnya kedepan. Kali ini dia ingin mencoba Skill keduanya.
“Raise Undead”
Tidak lagi berteriak dan hanya melafalkan nama Skill dengan pelan, sudah cukup untuk membuat Winter mendapatkan hasil yang dia inginkan.
Sebuah asap tipis mulai menyelimuti mayat kelinci yang masih segar. Beberapa saat kemudian kelinci yang seharusnya sudah tidak bernyawa kini mulai bergerak dan bahkan bangkit seolah dia tidak pernah mati.
Meski begitu, gerakannya terlihat kaku yang sekilas membuatnya terlihat seperti boneka yang sedang dikendalikan dengan benang.
“Karena pengaktifannya harus menggunakan suara, kurasa mulai sekarang aku harus menghafal semua nama Skill ku. Hah... Aku harap tidak ada nama Skill yang terlalu panjang”
Menghela nafas lelah, Winter pun memutuskan untuk melanjutkan perjalanan sambil ditemani oleh rekan kecilnya yang hanya akan bertahan selama 10 menit kedepan.
Untungnya bagi Winter, hutan tempat dia berada sekarang adalah sebuah hutan yang penuh akan kehidupan. Tidak butuh waktu lama bagi dirinya untuk bisa menemukan kelinci lainnya yang tidak jauh berbeda dari kelinci pertama yang kini menjadi rekannya.
“Serang!”
Atas perintah dari Winter, kelinci rekannya dengan ganasnya menerjang ke arah kerabatnya sendiri yang sedang asyik menikmati rumput segar. Mendapati dirinya di serang, kelinci kedua itu pun mulai mengambil posisi bertarung.
Sontak kedua kelinci itu saling bergerumul dengan dahsyat yang disertai dengan angka-angka merah yang melayang di atas kepala mereka setiap kali mereka melancarkan serangan.
Karena kedua kelinci itu identik, membuat Winter jadi tidak mampu membedakan mana kelinci rekannya dan mana kelinci lawan. Setelah memperhatikan kedua kelinci itu dalam diam, akhirnya muncul seorang pemenang yang dengan ganasnya mulai mencabik-cabik tubuh lawannya bagaikan zombie yang kelaparan.
“Ternyata mayat yang dihidupkan secara fisik memang lebih kuat. Tapi bukan berarti dia bisa lolos tanpa luka”
Tidak tahu mengapa, tapi Winter mampu merasakan dengan jelas kalau kelinci yang berada di hadapannya sekarang memangnya kelincinya. Dia bertambah yakin setelah melihat luka terbuka pada tubuh kelinci itu namun tidak terlihat adanya darah yang tumpah.
Sedangkan kelinci yang menjadi korbannya kini tersungkur di atas rumput yang basah oleh darahnya sendiri.
Mendekati mayat kelinci yang bersimbah darah itu, muncul sebuah pertanyaan di benak Winter.
“Realistis sekali... Tapi bagaimana caranya aku bisa mendapatkan drop item?”
Melihat daging dan darah bukanlah masalah besar bagi Winter. Tidak tahu mengapa, tapi dia tidak pernah merasa jijik saat melihat adegan pembunuhan keji yang ditampilkan di film horror yang terkadang dia tonton.
Malah sekarang dia bingung bagaimana caranya dia bisa mendapatkan drop item yang biasanya akan muncul setelah mengalahkan lawan di dalam game.
Menusuk-nusuk mayat kelinci itu dengan ujung tongkatnya, mayat kelinci itu secara perlahan mulai berubah menjadi butiran cahaya. Yang tersisa di atas tanah tempat kelinci itu baru saja berada adalah seiris daging merah yang segar.
“Oh, jadi begitu caranya”
Puas akan penemuannya, Winter pun kembali melanjutkan perjalanannya.
Setelah akhirnya lewat 10 menit, rekan kelincinya pun berubah menjadi abu tanpa meninggalkan daging, kulit, atau semacamnya.
“Jadi kalau dibangkitkan aku tidak bisa mendapatkan
drop item darinya yah”
Walau Winter sekarang kembali sendirian, tapi dia tidak mempermasalahkannya karena tampaknya dia telah sampai di tujuan.
Tepat di hadapannya berdiri sebuah gubuk tua yang tampak tidak terawat karena ditumbuhi oleh tanaman liar di bagian terasnya.
Meski begitu, saat Winter melihat ke arah cerobong asap, terdapat asap yang mengepul pertanda kalau penghuni rumah sedang ada di dalam.
Dengan langkah percaya diri Winter pun berjalan mendekati gubuk tua tersebut