A Journey Of A Heartless Necromancer

A Journey Of A Heartless Necromancer
Chapter 6 : Crime



Kembali ke Guild Petualang, Winter pun memberitahukan keberhasilah Questnya dan menerima bayarannya.


Karena dirinya sudah lelah, maka Winter memutuskan untuk menyudahi petualangannya hari ini.


Terbangun di dalam kapsul VR nya, Eira memikirkan kembali apa yang telah dia lakukan hari ini.


Berjalan ke sudut ruangan, Eira menyalakan pemutar musik yang telah di isi dengan lagu-lagu kesukaannya.


Mendengarkan lantunan musik Pop yang menyenangkan, Eira berbaring di kasurnya sembari menghayati lirik musik yang diputar.


Eira selalu mendengarkan musik setiap kali suasana hatinya tengah gundah.


Musik juga adalah salah satu dari sedikit hiburan yang bisa dia nikmati di dalam kamar kecilnya ini.


Mengambil Smartphone nya, Eira kembali menjelajahi dunia maya demi bisa mengalihkan perhatiannya sembari mencari informasi terbaru.


·      •   (NFO) The Lost Warrior


Hei, di sini ada yang ada di kota Shoddy nggak?


Kalau ada apakah ada di antara kalian yang tahu ke mana perginya pak Robert dari toko


Job Robert?


Menyesali pilihan pertamanya, Eira hendak mencari topik pembicaraan lain namun akhirnya terus membaca karena dirinya juga penasaran akan opini orang lain akan perbuatannya.


·       •  (NFO) Thief of the Thief


Pak Robert? Emang itu orang kenapa?


·       •  (NFO) Shady Merchant


Aku dengar kabarnya. Rumornya pak Robert telah di bunuh tadi pagi dan mayatnya di bawa oleh si pembunuh.


·       •  (NFO) The Lost Warrior


Kau serius!


·       •  (NFO) Black Mage of Disaster


Waduh, itu orang pasti habis macam-macam sama orang yang salah


·       •  (NFO) The Famous Shaman


Benar itu, dengar-dengar pak Robert sering di datangi preman yang minta doi untuk tutup toko.


·       •  (NFO) Shady Merchant


Aku juga mendengar hal yang sama.


Hah, kayaknya musuhnya pak Robert sudah capek ngancem nggak di dengerin dan langsung pakai cara terakhir.


·       •  (NFO) The Lost Warrior


Kau pasti bercanda!?


Apakah pihak penjaga sudah mulai membuat tindakan?


·       •  (NFO) Black Mage of Disaster


Kau itu anak baru yah?


Kita itu di Shoddy City, kota para kriminal, benteng pertama dari fraksi bayangan.


Yang namanya penjaga itu tidak lebih dari pengangguran yang makan uang pajak!


Eira kini merasa lega karena tindakannya tidak akan diselidiki oleh pihak berwajib yang akan berakhir dengan dirinya yang menjadi buronan.


Melihat sudah waktunya untuk makan siang, Eira pun segera beranjak menuju ruang makan.


...


Pada malam harinya Winter kembali Log In.


Karena tidak ada kerjaan, Winter berniat untuk pergi ke Guild Petualang untuk mendapatkan Quest.


Baru berjalan sebentar, sudah ada halangan yang membuatnya menghentikan langkah kakinya. Dari dalam gang, muncul seorang anak kecil dengan tubuh kurus dan hanya mengenakan selembar kain usang sebagai pakaiannya.


Menjulurkan kedua tangannya, anak kecil itu meminta sumbangan kepada Winter.


Jika saja anak kecil itu hanya berdiri di pinggir jalan, maka Winter hanya akan melewatinya begitu saja. Tapi anak kecil itu dengan sengaja berdiri menghalangi jalannya.


Mencoba berjalan ke kanan, anak itu mengikutinya. Mencoba berjalan ke kiri, anak itu kembali mengikutinya.


“Minggir!”


Walau sudah ditegur, anak itu tetap keras kepala dan tidak mau membukakan jalan sebelum Winter memberikannya sesuatu.


Kesal, Winter pun menggunakan tongkatnya untuk memukul kepala anak kecil itu.


Sontak saja anak itu meringis kesakitan sambil berguling di atas tanah yang kotor. Terlihat darah merah mengalir di kepalanya.


Melihat anak itu menggeliat di atas tanah dengan mata dingin, Winter pun melangkahi anak itu dan berjalan menjauh tanpa menoleh kebelakang.


Sampai di Guild Petualang, Winter langsung menuju papan bulletin untuk memilih Quest yang tersedia.


Setelah memilih dengan seksama, terpilihlah sebuah Quest yang menarik perhatian Winter.



Difficulty : Copper


Client : Madame Clothing Store


Madam Madame dari toko baju Madame meminta pertolongan untuk menjadi pekerja sambilan di tokonya.


Prize : 10.000 G


Time Limit : 1 hari.


Ini adalah Quest dengan bayaran termahal yang sedang di pajang. Meski begitu, tidak ada seorangpun yang mau mengambil Quest ini.


Bahkan kertas Quest ini sengaja di pasang di pojok atas dari papan bulletin seolah Quest ini sengaja ingin dihindari atau mungkin karena Quest ini tidaklah populer.


Yang membuat Winter penasaran adalah siapa sebenarnya Madam Madame ini hingga orang-orang tidak mau menerima Quest darinya.


Saat membawa kertas Quest ini ke meja resepsionis, resepsionis yang berjaga sampai melihat dua kali kertas yang diserahkan kepadanya.


“Apakah kau yakin ingin menerima ini?”


Mendapati bahkan pegawai Guild tidak menyukai Quest ini, sebuah senyuman tercipta di wajah Winter. Sayang masker yang dia kenakan membuat senyumannya itu tidak terlihat.


“Memangnya Madame ini orangnya seperti apa?” tanya Winter bagaikan seorang anak kecil yang tidak tahu apa-apa.


Menengok ke kanan dan ke kiri, si resepsionis mencondongkan tubuhnya di atas meja dan membisikkan sesuatu di telinga Winter.


Mendengar bisikan dari si resepsionis, bukannya mundur Winter malah menjadi semakin bersemangat. “Aku ingin Quest ini” ucapnya dengan lantang hingga membuat si resepsionis geleng-geleng kepala.


...


Sesampainya di alamat yang diberikan, terlihat sebuah ruko dua lantai dengan lantai pertama yang adalah toko pakian dan lantai kedua berfungsi sebagai tempat tinggal.


Baju-baju yang terpajang di etalase toko tampak mewah yang berbanding terbalik dengan suasana kota ini yang terbilang kumuh.


Masuk ke dalam, Winter segera menghampiri sosok ibu-ibu gendut yang berjaga di balik meja kasir. Sambil menghisap sebuah rokok yang menghasilkan asap yang tebal, ibu-ibu itu menatap dengan tajam sosok Winter dari atas ke bawah.


“Permisi, aku dari Guild”


“Hem, perlihatkan dulu wajahmu”


Merasa dirinya tidak punya pilihan lain, Winter segera menurunkan tudung serta maskernya. Setelah puas melihat wajah Winter, ibu-ibu itu segera bangkit dari kursi yang dia duduki dan berjalan ke belakang toko.


“Ikuti aku”


Mengikuti ibu-ibu itu dari belakang, Winter melewati sebuah lorong sempit sebelum akhirnya tiba di depan sebuah tangga yang mengarah ke basement rumah.


“Kau boleh menyembunyikan wajahmu kembali... Aku harap kau tidak masalah dengan tempat yang gelap”


Karena sudah mendapatkan izin, Winter dengan segera mengenakan kembali tudung dan maskernya. Setelah melihat ibu-ibu itu menyalakan sebuah lilin, mereka pun menuruni tangga dengan penuh hati-hati.


Setelah pintu basement terbuka, apa yang ada di balik pintu tersebut membuat Winter terkejut.


Apa yang dia lihat adalah sebuah ruangan gelap gulita dengan hanya diterangi oleh cahaya lilin yang redup. Dari dalam ruangan tersebut terdengar suara khas mesin jahit yang bergema tanpa henti.


Sumber dari suara tersebut jelas berasal dari para pekerja yang tanpa hentinya menjahit helaian kain menjadi berbagai model pakaian.


Wajah para pekerja itu tampak pucat seolah mereka tidak pernah istirahat bahkan sebentar saja. Berkat Skill passive "Eagle Eyes" miliknya, hanya butuh sekejap bagi Winter untuk menyesuaikan matanya di dalam kegelapan.


Sama seperti yang telah diperingatkan oleh si resepsionis, tempat ini memang adalah sebuah perusahaan gelap yang sebenarnya. Walau Winter sudah sering mendengar istilah itu, tapi ini adalah kali pertama dirinya melihatnya secara langsung.


Atas kedatangan si ibu-ibu, tidak ada seorangpun yang menghentikan pekerjaan mereka. Malahan mereka malah jadi bekerja semakin keras dengan ekspresi ketakutan di wajah mereka.


Memperhatikan mereka sejenak, ibu-ibu itu segera kembali berjalan dengan Winter yang mengikuti tidak jauh di belakangnya.


Melewati mereka semua, ibu-ibu itu menggiring Winter menuju sebuah pintu yang berada di ujung ruangan. Apa yang ada di balik pintu tersebut adalah tangga lainnya yang menuju semakin dalam ke bawah tanah.


Takjub karena toko ini ternyata tidaklah sesederhana yang terlihat, Winter mulai merasa takut dan secara bersamaan juga mulai merasa bersemangat.


Tiba di lantai terbawah, apa yang Winter lihat adalah sebuah pemandangan yang mengerikan.


Laki-laki, perempuan, orang tua, hingga anak-anak semuanya sedang duduk meringkuk di dalam ruangan yang gelap gulita tanpa ada penerangan sama sekali. Di terangi oleh cahaya lilin yang ibu-ibu itu bawa, malah membuat pemandangan ini tampak di ambil langsung dari sebuah film horror.


Pada leher orang-orang tersebut terdapat sebuah rantai tebal yang terhubung langsung ke dinding yang mencegah mereka untuk melarikan diri.


Tubuh mereka kurus dan penuh dengan luka tanda kalau bukan hanya tidak diberikan makan yang cukup tapi mereka juga mengalami sebuah penyiksaan. Pandangan mata mereka kosong seolah tidak ada lagi harapan untuk hidup di dalam diri mereka.


Melihat pemandangan ini, Winter pun jadi bertanya-tanya... “Apa yang Anda ingin aku lakukan?”.


Menatap langsung ke arah Winter, ibu-ibu itu pun berkata “Tugasmu itu mudah, kau hanya perlu menyingkirkan mereka. Jika kau masih belum paham, habisi mereka dan buang mayatnya jauh dari sini”.


Mendengar hal ini, Winter pun terkejut.


Bagaimana bisa Quest untuk membantu di sebuah toko pakaian bisa berakhir dengan menghabisi nyawa orang-orang malang ini. Namun sekarang Winter juga jadi tahu kenapa orang-orang Guild menghindari Quest ini.


Serta, dia akhirnya yakin benar kalau yang resepsionis itu maksud sebagai pekerjaan untuk ‘Membuang sampah’ adalah hal ini.


Alasan utama kenapa Winter menerima Quest ini adalah karena awalnya dia mengira kalau pekerjaan untuk ‘Membuang Sampah’ itu adalah membuang tubuh yang sudah tidak lagi bernyawa. Tidak di sangka kalau bukan


hanya ‘Membuang’ tapi dirinya juga harus ‘Menghasilkan’ sampah itu terlebih dahulu.


“Kalau boleh, bisakah aku bertanya?”


“Apa?”


“Apakah mereka ini pekerjamu?”


“Kalau iya memangnya kenapa? Mereka tidak memenuhi kuota yang diberikan. Mereka itu tidak berguna”


“Begitu... Aku bisa menghabisi mereka dengan cara apa pun kan?”


“Terserah kau saja... Pastikan untuk selesai membuang mayat mereka sebelum sore”


Setelah mengatakan itu, Ibu-ibu itupun segera pergi meninggalkan Winter sendirian di ruangan ini. Ibu-ibu itu bahkan tidak meninggalkan Winter dengan sumber penerangan apa pun sehingga ruangan kembali menjadi gelap gulita.


Sial bagi Winter karena"Eagle Eyes" miliknya hanya mampu untuk memberikan sebuah siluet samar.


“Sialan, sekarang apa?”


Winter yang mengambil Quest ini karena penasaran kini menjadi bingung sendiri akan apa yang harus dia lakukan.


Baru kemarin dia menerima sebuah Quest pembunuhan dan sekarang dia harus melakukannya lagi. Bahkan Quest yang sekarang jauh lebih buruk karena tugasnya adalah untuk menghabisi sekumpulan orang tidak berdaya. Tidak hanya itu, dia juga harus menghilangkan barang bukti dan itu adalah tugas yang paling menyusahkan.


Jika hanya satu atau dua seperti yang dia kira di awal, maka tidak akan ada masalah. Tapi kalau sebanyak ini, Winter malah jadi bingung sendiri.


“Tunggu sebentar, bukankah bayarannya terlalu murah?”


Terlambat untuk menyesalinya, mau tidak mau Winter pun menjalankan tugas yang telah diberikan kepadanya.


...


Semua pekerja yang bekerja di toko Madame pada awalnya bukanlah budak.


Mereka semua dulunya hanyalah gelandangan yang biasa di jumpai di dalam gang atau hanya sekedar pengangguran biasa yang sedang mencari pekerjaan demi bisa menyambung hidup.


Alasan kenapa mereka semua bisa berakhir dalam kondisi yang memprihatinkan ini, itu sangatlah mudah untuk di jawab.


Setiap dari mereka tergiur akan bayaran yang Madam Madame tawarkan kepada mereka hanya untuk bekerja kepadanya selama satu kali pekerjaan saja.


Berkat tidak adanya batasan usia ataupun pengecekkan latar belakang yang dilakukan membuat banyak sekali pendaftar yang mengantri hanya untuk diterima untuk bekerja di toko Madame.


Belum lagi mereka akan mendapatkan Job sebagai Tailor secara percuma.


Karena Job itu mahal, maka tidak aneh jika ada banyak orang yang menjadi tergiur dan segera bersaing demi bisa diterima bekerja di dalam toko Madame.


Malang, satu kali pekerjaan itu ternyata berlangsung selama sisa hidup mereka. Dan satu Job tersebut adalah satu-satunya yang membuat mereka tetap bisa hidup.


Tubuh mereka di rantai yang mana merenggut kebebasan mereka. Makan satu kali sehari adalah berkah bagi mereka. Bisa tertidur selama lebih dari 1 jam sehari adalah kenikmatan yang sulit untuk di dapatkan.


Di bawah pengawasan ketat dari Madame mereka di paksa untuk bekerja secara terus menerus tanpa henti demi bisa mendapatkan selembar pakaian dengan kualitas terbaik. Tidak pernah bahkan sedetikpun suara mesin jahit berhenti terdengar di ruangan ini.


Jika mereka berani untuk bermalas-malasan, maka hukuman akan datang kepada mereka.


Jika mereka berani untuk melawan, maka bersiaplah untuk sengsara lebih dari ini.


Terakhir, bagi mereka yang tidak mampu lagi untuk bekerja, maka itu akan menjadi akhir bagi mereka.


Mereka yang gagal memenuhi kuota harian akan di bawa ke basement di lantai paling bawah. Di sana, adalah sebuah hukuman yang jauh lebih mengerikan ketimbang sebuah hukuman mati.


Orang-orang yang masih bekerja sebagai Tailor tidak akan pernah tahu apa yang sebenarnya terjadi di bawah sana dan mereka juga tidak ingin tahu.


Yang pasti karena dinding ruangan yang tidak di sangka sangatlah tipis, membuat mereka mau tidak mau mendengar suara rintihan yang terdengar setiap kali Madame membawa seseorang dari luar untuk turun ke bawah sana.


Suara jeritan akan segera terdengar, suara memohon ampun akan saling bersahutan, tak jarang suara ******* akan menggema dari dalam kegelapan.


Suara-suara tersebut terdengar jelas di telinga semua Tailor yang ada. Sontak mereka segera memberikan segala kemampuan mereka hanya agar menciptakan selembar pakaian yang pantas untuk dikenakan oleh seorang gadis


Bangsawan yang mana akan membuat toko Madame menjadi lebih populer.


Namun, suara yang terdengar kali ini jauh berbeda dari suara yang sebelum-sebelumnya.


Apa yang terdengar adalah suara jeritan, namun itu bukanlah suara jeritan yang biasa melainkan sebuah suara jeritan yang terdengar monoton namun mampu membuat bulu kuduk merinding. Yang paling buruk adalah suara jeritan itu yang perlahan menjadi bertambah banyak seolah semua penghuni di sana menjerit secara bersama-sama.


Mereka tidak terdengar seperti sedang di siksa ataupun mengalami pelecehan. Namun suara jeritan tersebut terdengar seolah mereka tidak lagi merasakan apa-apa dan menjerit adalah satu-satunya hal yang kini bisa keluar dari mulut mereka.


Mendengar ini membuat para Tailor yang ada secara tidak sadar menghentikan pekerjaan mereka. Tangan mereka gemetaran membuat mereka tidak mampu untuk melakukan pekerjaan mereka dengan benar.


Tidak lama kemudian suara jeritan tidak lagi terdengar.


Apa yang ada hanyalah keheningan yang mencekam.


Tap... Tap... Tap...


Terdengar suara tapak kaki yang menggema sedang mendaki naik dari bawah tangga. Setiap langkah yang di ambil seolah mencengkram jantung setiap orang yang mendengarnya.


Pada akhirnya sebuah sosok muncul dari ruang bawah.


Dia adalah orang bertudung yang sama yang di bawa oleh Madame untuk turun dan menyingkirkan para Tailor yang sudah tidak lagi berguna.


Orang tersebut mengenakan tudung dan masker yang membuat mustahil untuk melihat wajahnya. Namun matanya yang merah menyala di dalam kegelapan membawa teror bagi mereka yang melihatnya.


Saat orang tersebut mulai memandangi mereka, para Tailor secara refleks mengalihkan pandangan mereka. Takut untuk bertatap langsung dengan mata merahnya.


Tampak tidak mempedulikan mereka, orang tersebut melenggang pergi kembali menuju lantai atas.


...


Satu jam Winter berada di bawah sana, dia akhirnya menyelesaikan pekerjaan yang diberikan kepadanya.


Karena kerjanya yang cepat, terlebih dia tidak melihat Winter membawa satupun tubuh bersamanya untuk di buang, ibu-ibu tersebut jelas tidak percaya dan kembali ke bawah untuk memastikan.


Betapa terkejutnya ibu-ibu ketika mendapati apa yang ada di sana hanyalah sebuah ruang kosong melompong di mana sebelumnya terdapat lebih dari selusin orang yang di kurung di dalam sini.


Sudah tidak ada lagi orang yang terantai. Yang ada hanyalah setumpuk pakaian berdebu yang ditumpuk di sudut ruangan.


“Bagaimana caramu melakukannya?”


Terheran, ibu-ibu itu pun bertanya yang di jawab dengan satu kata “Rahasia”.


Walau dia penasaran, tapi ibu-ibu itu tahu kalau tidak baik untuk menggali terlalu dalam. Dengan tenang dia kembali ke atas untuk memberikan Winter hadiah atas keberhasilannya.


“Ini 10.000 G sesuai dengan perjanjiannya. Lalu ini bonus akan kinerjamu yang cepat”


Selain menerima uang, Winter juga menerima paket yang berisi baju yang cantik. Walau dirinya sekarang tahu bagaimana caranya baju ini bisa di buat, tapi yang namanya bonus jelas susah untuk di tolak.


“Kalau aku butuh bantuanmu lagi, bisakah aku memanggilmu?”


“Asal bayarannya setimpal”


Karena pekerjaannya telah selesai, Winter pun kembali ke Guild Petualang untuk melaporkannya. Walau menerima tatapan aneh dari resepsionis Guild, Winter tidak memedulikannya dan segera pergi meninggalkan Guild.


Merasa sudah cukup untuk hari ini, Winter pun memutuskan untuk Log Out dan beristirahat karena hari sudah larut malam.


Oh, sebelum lupa, Winter pergi ke sudut gang untuk membuang sekarung debu yang ada di penyimpanannya sebelum akhirnya benar-benar Log Out dari game ini.