40 Days, One Love

40 Days, One Love
Jalan Pulang



"Sebenarnya masih banyak yang ingin aku tahu. Besok... apa aku boleh kesini lagi? tanya Yua.


Dalam kepala Yua sekarang menumpuk pertanyaan-pertanyaan yang masih belum ia temukan jawabannya. Meski begitu Alex terus-terusan menyuruhnya untuk segera kembali ke tahun 2021, tapi apa daya Ia tak tahu caranya. Untuk itu ia butuh informasi dari Alex agar bisa membawanya kembali ke tahun asalnya itu.


"Ya...Silahkan datang kesini, Waktumu masih ada 32 hari lagi" jawab Alex dengan tersenyum ramah.


Ternyata Alex tak sekaku yang Yua kira. Meski sibuk menyuruhnya pulang entah bagaimana caranya tapi Alex sebenarnya orang yang baik. Alex dengan senang hati mau membantu Yua hingga waktunya ia kembali. Setidaknya hari ini Alex sudah membantu Yua memecahkan misteri yang belum ia temukan jawabannya kemarin.


...***...


Saat hendak keluar dari cafe, Yua melihat punggung Joe yang sedang menunggu lampu merah di ujung seberang jalan. Tak mau ketinggalan Joe, Yua pun bergegas keluar dari cafe dan mengejarnya.


Dengan cepat Yua menaiki jembatan penyeberangan yang jaraknya cukup jauh dari tempatnya saat ini lalu berjalan menghampiri Joe dari belakang. Terpikir satu kejahilan yang ingin ia lakukan selagi jantung Joe saat ini masih sehat dan berfungsi dengan baik.


"Joe!!!" teriak Yua sambil menepuk punggung Joe dengan kedua telapak tanganya dari belakang.


"Astaga" kaget Joe sambil mengelus dadanya. Ia tak menyangka bakal dikejutkan dari belakang seperti ini apalagi ia hendak menyeberangi jalan. Bukannya marah, Joe malah menanyai kabar Yua. "Kamu habis dari mana?" tanya Joe.


Tanpa merasa bersalah sama sekali dan tanpa minta maaf Yua lalu berjalan di depan Joe. Tak lupa Yua menunjuk cafe di belakang mereka dan paper bag yang ia pegang atas pertanyaan Joe tadi. "Aku ada urusan sebentar. Tadi sebelum pulang aku juga beli tiramisu untuk Arga dan Yucil. Mereka menggantikanku menjaga rumah hari ini" ujarnya.


...***...


Satu momen yang akan Yua kenang selamanya. Hari ini mereka bersama pulang dengan berjalan kaki. Tidak seperti di masa depan, mereka jarang pulang bersama. Apalagi jika ingin pergi kemana saja akan ada sopir yang mengantarkan mereka.


Ada hal lain juga yang Yua sadari. Kehidupan orang-orang di masa lalu sepertinya tidak semanja di masa depan. Dulu, dua atau tiga kilometer sepertinya masih tergolong dekat, tapi di masa depan itu sudah dianggap jauh. Sebisa mungkin orang-orang akan menggunakan kendaraan pribadi maupun umum kemana saja meskipun dekat.


"Mmm.. Kamu tahu??...aku senang bisa merasakan berjalan kaki sejauh ini. Ya... walaupun cuacanya terik tapi karena masih banyak pohon pelindung di tepi jalan jadinya tidak terlalu panas" ucap Yua dengan bangga.


"Memang masa depan seperti apa? di masa depan tidak ada pohon?" tanya Joe penasaran.


"Hahahaha" Yua malah tertawa geli mendengar pertanyaan Joe yang terdengar polos itu.


...***...


Sambil berjalan santai, Yua sedikit menggambarkan masa depan 20 tahun dari sekarang.


"Di masa depan kebutuhan manusia jadi semakin meningkat. Agar semua terpenuhi, pemerintah meningkatkan pembangunan. Investasi juga semakin besar dan semakin banyak perusahaan yang menyerap tenaga kerja serta menghasilkan pajak untuk negara. Alhasil, angka kemiskinan juga sedikit berkurang, kalangan menengah keatas juga semakin meningkat" ujar Yua.


"Lalu hubungannya dengan pohon?" tanya Joe.


"Ya.. Karena manusia jadi serakah. Pohon bukannya tidak ada, tapi banyak pohon yang ditebang untuk kebutuhan pembangunan seperti fasilitas umum -Jalan, bandara, jalur kereta api, tol, dll- atau sekedar pemenuhan kebutuhan dasar kita kaya kertas dan tisu" jawab Yua. "Intinya, pohon di jalan kota bisa dihitung pakai jari, kalau jalan di trotoar bisa bikin keringatan" keluhnya.


Yua lalu menghentikan ocehannya tentang berkurangnya pohon yang lebih terdengar seperti materi kuliah ekonomi pembangunan itu. Yua jadi teringat Arga dewasa yang juga mengajarkan materi kuliah itu.


Kesal, Yua lalu mengalihkan pembicaraan tentang pohon, Yua sedikit memberitahu Joe tentang kemajuan yang paling dielu-elukan dan ia rindukan saat ini.


"Kamu tahu Joe.... Di masa depan juga sangat identik dengan kemajuan teknologinya. Ada namanya smartphone, hp yang bisa apa aja plus ada juga internet. Bisa pakai untuk telepon, ngirim pesan, bahkan kita telepon sambil liat lawan bicara langsung, main game, streaming konser atau nonton drama, bahkan belanja online tanpa keluar rumah" jelas Yua. "Anak-anak di masa depan pasti ngak bisa hidup tanpa smartphone, termasuk aku" sambungnya dengan nada lemas.


Joe menggeleng-gelengkan kepalanya tak percaya bahwa dunia akan berubah seperti itu dalam sekejap. Jika smartphone bisa mempengaruhi seluruh aspek kehidupan orang-orang di masa depan, "Lalu apakah hubungan sesama manusia masih terjalin?" tanya Joe.


Pertanyaan Joe terdengar susah bagi Yua. Ia tak tahu arus menjawab apa. Di satu sisi teknologi mampu meningkatkan kualitas hubungan antar sesama, tapi.. ya ada beberapa yang sepertinya hubungan antar sesama tidak dipengaruhi teknologi.


"Entahlah.." jawab Yua. "Banyak yang masih terjaga hubungannya, tapi mungkin ngak berlaku buat beberapa orang, aku contohnya" jawab Yua.


Joe pun mendadak berhenti berjalan setelah mendengar kata-kata Yua itu. Joe seperti menemukan makna tersirat dalam ucapan Yua. "Yua adalah salah satu orang yang tidak bisa menjaga hubungan antar sesama" itulah makna tersirat yang Joe tangkap. Seolah terdengar meski teknologi saat itu sangat maju tapi Yua hidup dengan menutup dirinya dari orang lain.


" Lalu aku di masa depan seperti apa?" tanya Joe penasaran dengan nasibnya.


"Kepo.. atau kepo banget?" goda Yua sambil tertawa.


"Bukannya lebih baik tidak tahu dengan masa depan?, Kita bisa memilih jalan yang kita pilih dengan tenang. Ya... meskipun akan bawa kita ke jalan yang sama seperti sebelumnya" jawab Yua dengan bijak. "Tapi aku yakin, kamu akan jadi orang yang hebat di masa depan. Sekarang kamu cuma perlu sabar dan suatu saat usaha kamu membuahkan hasil" sambung Yua sambil mendoakan Joe.


Yua lalu mempercepat langkahnya dengan meloncat-loncat kecil mendahului Joe karena tak ada hal lagi yang ingin ia bicarakan. Sesekali ia berbalik melihat Joe dengan tersenyum. Namun, Joe merasa ada yang disembunyikan Yua. Jika memang kehidupannya di masa depan akan lebih baik, lalu kenapa Yua tampak sangat menyedihkan saat pertama muncul di depan matanya?


...***...


Arga dan Yucil sudah berdiri di depan rumah untuk menyambut mereka, Seolah sudah tahu bahwa mereka akan tiba di jam ini. Ketika sosok Yua mulai terlihat, Yucil pun langsung berlari ke arah Yua.


Puas memeluk Yua dengan erat, sebuah aroma manis tercium dan menarik perhatian Yucil. Aroma itu tak lain dan tak bukan berasal dari Paper bag yang Yua pegang. "Apwa ini ma..?" tanya Yucil.


"Ma? maksudnya mama?" tanya Joe yang terkejut mendengar Yucil memanggil Yua dengan sebutan mama untuk pertama kali. Seminggu ini ia tak pernah mendengar dengan jelas Yucil memanggil Yua seperti itu.


Yucil pun mengangguk dan menjawab dengan terbata jika Yua adalah Ibunya. "Tantwe Ris..ma bilang ini mamanya Yu..waa~~" jawab Yucil dengan gemesnya.


Tak lagi memperdulikan ayahnya, Yucil lalu mengambil paperbag itu dan menunjukkannya pada Arga. Mereka lalu berloncat-loncat kegirangan manakala tau isinya adalah tiramisu favorit mereka. Tanpa basa basi lagi, mereka pun langsung masuk ke dalam rumah.


...***...


Kini, hanya ada Joe dan Yua yang masih berada di depan rumah. Yua menjelaskan pada Joe kenapa Yucil memanggilnya mama. Itu karena Joe sendiri yang menyebut dirinya adalah ibunya Yucil pada Arga. Arga lalu memberi tahu Bu Risma dan Bu Risma tak sengaja menyebut dirinya adalah "Mama Yua" didepan Yucil. Setelah pulang dari rumah Arga, Yucil pun menangis menanyakan keberadaan mamanya. Yua jadi tak tega sehingga dia berpura-pura menjadi ibunya, ia juga menggunakan nama Lily.


Mengetahui Yucil menangis karena merindukan ibunya membuat Joe terdiam. "Maafkan aku karena selalu menutupi keberadaan ibumu" pinta Joe dengan nada sedih dan kepala yang tertunduk.


Yua lalu menggelengkan kepalanya. Ia tak ingin Joe meminta maaf lagi. Mungkin dulu dirinya seperti Yua yang selalu menangis karena merindukan ibunya tapi kini dia sudah dewasa, ia tak perlu menangis pada orang yang tidak memperdulikannya. "Aku bersyukur mempunyai Ayah yang baik seperti kamu" ujar Yua. Yuapun tiba-tiba meneteskan airmatanya.


"hahahha Harusnya aku mengatakannya pada kamu yang di masa depan tapi aku terlambat mengatakannya.... dan dia sudah meninggal" celetuk Yua yang menangis sambil tertawa.


Joe lalu mengusap airmata Yua dan memeluknya. Hangatnya pelukan Joe mengingatkannya saat-saat ia masih kecil hingga remaja, dimana Joe selalu memeluknya ketika ia menangis. Ia juga teringat momen ulang tahunnya beberapa hari yang lalu.


Yua lalu melepaskan dirinya dari pelukan Joe. "dah.. malu di depan rumah, nanti diliat orang nanti salah paham. Mulut tetangga pedih soalnya" gumam Yua. Menyadari mereka melakukan hal konyol membuat mereka lalu tertawa geli dan saling menatap wajah masing-masing didepan rumah.


"Aku baru sadar.... kamu ngak lagi pakai bahasa formal kalau lagi bicara. Biasanya kamu memakai kata 'saya', seperti bapak-bapak" goda Yua yang tersadar jika Joe tidak lagi memanggil dirinya dengan sebutan saya.


"kami baru sadar??!... Sejak kita piknik aku sudah mencoba mengubah cara bicaraku" bela Joe yang tidak diterima disebut bapak-bapak.


...***...


Saat Joe dan Yua sedang bermelankolis di depan rumah, ada Yucil dan Arga yanh sedang menyiapkan piring untuk dua tiramisu itu. Sadar Ayah dan mamanya itu tak kunjung masuk, Yucil pun meminta Arga untuk memanggil mereka dan menyuruhnya segera masuk.


"Om, Miss Yu.. Ayo masuk" seru Arga. Mereka pun masuk ke dalam rumah setelah Arga memintanya.


Arga dan Yucil menuntun mereka ke ruang makan dan duduk di kursi masing-masing. Namun anehnya di meja hanya ada 2 piring tiramisu tapi ada 4 gelas jus jeruk. Satu piring tiramisu ada di antara Joe dan Yua sedangkan satu piring tiramisu lainnya ada di antara Yucil dan Arga.


"Mama tadi belinya cuma untuk kamu dan Arga, Ini untuk kamu saja" kata Yua sambil mendorong piring tiramisu ke arah Yucil.


Namun, Yucil malah membalikkan piring itu lagi ke arah Joe dan Yua. "Uncuuk Ma..ma sama Ayah aja" kata Yucil sambil tertawa.


Joe lalu mengambil sendok dan memotong tiramisu itu. "Makan saja.. Mereka sudah menyiapkannya, jangan buat mereka sedih" pinta Joe.


Tak mau membuat Yucil sedih seperti kata Joe, Yua lalu menerima tiramisu itu dan berbagi dengan Joe, begitu juga dengan Yucil yang berbagi tiramisu dengan Arga. Suasana di meja makan pun terasa hangat dan dipenuhi canda tawa.


_____________


Terimakasih...


Jangan Lupa Like, Comment, dan Favorite-nya.


Selamat Membaca❤