
"Ua... gue pamit pulang dulu ya... besok-besok gue nginap lagi" ucap Intan berpamitan pada Yua dan juga Arga. "Pak, saya pulang dulu!" sambung Intan. Intan lalu berangkat pulang bersama ojek online pesanannya yang sudah menunggunya sejak tadi.
Setelah Intan pergi, Kini hanya ada Yua dan Arga.
"Kamu ngak balik atau ke kampus?" tanya Yua sebelum menutup pintunya kembali.
"Nanti siang..." jawabnya singkat.
"trus sekarang?" tanya Yua lagi.
Arga hanya tersenyum lalu menepuk-nepuk kepala Yua. "Kamu ingin aku pergi?" tanya Arga.
Sebenarnya Yua ingin menjawabnya dengan jawaban Iya karena kejadian kemarin masih terbayang dalam benaknya, tapi sepertinya tidak sopan mengusir calon suami sendiri.
...***...
Arga lalu duduk di sofa dan meminta Yua untuk duduk disebelahnya. Namun, Yua lebih memilih duduk di sofa kecil di samping Arga. Tapi Arga tak mempermasalahkannya.
"Jadi gimana kemarin? urusan kamu di cafe itu udah selesai?" tanya Arga.
Deg
Timing yang tidak tepat bagi Arga menanyakan urusan Yua di cafe itu kemarin. Yua serasa ditampar Arga secara tidak langsung, mengingat ia melakukan hal yang tidak seharusnya dilakukan terlebih ia akan segera menikah.
"A..aku udh inget tentang mama, tentang Lily" kilah Yua.
"Syukurlah... Jadi kamu juga ingat kita pernah bersama-sama waktu kecil?" tanya Arga lagi.
"Te..tentu saja..." balas Yua.
Daripada disebut mengingat, kata yang lebih cocok untuk Yua adalah Dia melihat sendiri dirinya dan Arga bermain bersama. Itulah dirinya yang disebut Arga sebagai Miss Yu atau Lily.
"Aku pikir kami tidak akan bisa mengingat masa lalu, dan selamanya akan menganggapku sebagai orang asing" ucap Arga yang kini menatap lembut mata Yua. "Aku ingat pesan mama kamu sebelum aku pindah ke Inggris. Beliau bilang di masa depan semua orang akan mudah terhubung dimana pun kita berada. Seperti yang beliau bilang, kemajuan komunikasi berkembang tapi aku terlalu pengecut untuk menghubungimu. Akhirnya aku menjadi orang asing bagi kamu" sambung Arga.
Deg
Kata-kata Arga kembali menusuk hatinya. Bagaimana Arga bisa tahu cara dirinya memandang Arga sebagai orang asing?. Selama ini Yua memang menganggap Arga sebagai orang asing, tapi itu semua sebelum lompatan waktunya. Beberapa hari yang lalu pun Yua masih memperlakukan Arga seperti orang asing itupun karena memorinya saat melompati waktu hilang.
"Maaf... Aku terlalu muda untuk ingat semua hal yang terjadi ketika itu. Kamu pasti tahu anak-anak dibawah umur 5 tahun belum terlalu bisa mengingat masa kecilnya dan melupakannya seiring bertambah usia" ucap Yua menghibur Arga.
Berbeda dengan Yua, Arga ketika itu sudah berumur 7 tahun. Otaknya sudah berkembang dan bisa mengingat apa saja. Meskipun sedikit sedih dan merasa kesepian, Arga memaklumi kenapa Yua bisa melupakannya. Tentunya Arga menganggap ada andil dirinya hal itu terjadi, karena dirinya sendiri tidak segera menghubungi Yua.
"Jadi sekarang kamu janji kita ngak bakal berpisah atau ngelupain satu sama lain lagi?" tanya Arga.
Deg
Memang Yua memutuskan untuk tetap melanjutkan pertunangan ini dan menikah dengan Arga, tapi keputusannya itu sebelum ingatannya kembali. Apa yang ia rasakan saat ini tiba-tiba berubah 360°. Ingatannya yang telah kembali, menggoyahkan hatinya.
Pertemuan singkat Yua dan Alex di masa lalu itulah penyebabnya. Meski belum memastikan perasaannya pada Alex, tapi setiap bersamanya baik dulu maupun sekarang selalu membuat Yua berdebar. Yua yang masih belum menjawab pertanyaan Arga itu, lalu memalingkan pandangannya. Saat ini Yua belum bisa menjawab pertanyaan Arga dan berjanji padanya.
zzzrrrttt
Ponsel Yua tiba-tiba bergetar dan membuatnya punya kesempatan untuk menghindari Arga. Sebuah panggilan dari nomor yang tidak dikenal itu menyelamatkannya.
zzzrrrttr
"Ada telepon, aku angkat dulu" ucap Yua pada Arga.
Ternyata itu hanya sebuah telepon dari perusahan asuransi yang tidak diketahui benar atau tidaknya. Bisa saja itu modus penipuan berkedok asuransi. Tapi karena ini cara untuk menghindarin Arga, mau tak mau Yua harus bersandiwara dan meminta Arga pulang.
"Oh Ratih... Apa kabar?" ucap Yua dengan nada sedikit tinggi demi meyakinkan Arga bahwa penelpon itu adalah teman Yua.
"Arga... teman waktu kuliah aku nelpon, kamu pulang dulu aja. Aku nelponnya lama" ucap Yua sambil meninggalkan Arga dan menuju kamarnya.
...***...
"Jadi gimana bu?" tanya si penelepon.
"Ngak jadi Pak" jawab Yua dan,
Tet
Yua menyudahi telepon masuk itu. Entah apa yang Yua katakan pada pelepon itu, ia hanya menjawabnya dengan asal sampai ia masuk kedalam kamarnya dan langsung mematikan panggilan itu.
Brmm brmm
Terdengar suara mobil yang sedang di gas di teras rumah. Itu adalah suara mobil Arga yang sepertinya akan segera pulang.
Yua juga sedikit tak enak meminta Arga pulang dengan cara seperti itu. Tapi mau bagaimana lagi, hanya itu cara agar ia tak berjanji pada Arga hal yang belum pasti bisa ia lakukan.
...***...
Kini, tak ada lagi Intan maupun Arga. Yua bisa sedikit menghirup udara segar dari jendela kamarnya yang ia buka. Masih belum terlalu siang untuk mendapatkan sisa udara pagi yang sejuk itu. Yua lalu mencoba menutup matanya dan mulai memikirkan apa yang harus ia lakukan.
Suasana yang hening membuat suara burung, desir angin, dan daun-daun yang berguguran terdengar jelas menjadikannya sebuah lagu alam di telinga Yua. Apalagi wangi dari rumput liar dan pepohonan seakan memberikan aroma teraphy untuk Yua.
Saat Yua membuka matanya, ia sudah tahu harus berbuat apa. Pertama, Ia harus membuat mapping (peta) hubungan perjalanan waktunya di masa lalu, kematian ayahnya dan keadaan di mas depan. Kedua, menemukan sebab kematian ayahnya dan siapa yang tega melakukannya. Jika semua masalah sudah selesai, maka hal ketiga yang harus ia lakukan adalah membatalkan pernikahannya dan mengutarakan apa yang ia rasakan pada Alex. Yua pun bertekad untuk menyelesaikan semuanya sebelum hari pernikahannya tiba.
...***...
Ding dong
Lagi-lagi ada orang yang bertamu ke rumah Yua.
Tapi saat Yua membukakan pintu ternyata yang datang kerumahnya hanyalah kurir makanan online. Ia mengantarkan sepaket makanan yang ditujukan pada alamat rumah Yua.
"Dengan mba Yua?" tanya kurir.
"Iya" jawab Yua.
"Ini ada paket makanan dari Ever Cafe untuk mbaknya" ucap kurir itu yang langsung menyerahkan paket tersebut.
"Dari Alex?" tanya Yua dalam hatinya.
Saat paket itu Yua terima, tercium aroma kopi khas tiramisu Jangan-jangan paket itu adalah tiramisu spesial yang hendak Alex buat kemarin malam. Namun karena insiden itu, Yua keburu pulang dan belum sempat mencobanya.
___________________
Terimakasih sudah membaca😊
Note: Author lagi sibuk daftar dan belajar untuk Ci pi en es, jadi UP nya agak terganggu. Jadi mohon maaf jika telat UP dan mohon kesabarannya😉