
Yua lalu membawa paket yang diduga tiramisu itu langsung ke dapur. Saat paper bag itu ia buka, ada sebuah box kue berwarna putih di dalamnya. Isi box itu sesuai dengan apa yang ia kira. Satu slice tiramisu berbentuk segitiga.
"Kenapa Alex bisa tau alamat rumah?" gumam Yua. "Ya sudahlah mungkin aku pernah mengatakan di masa lalu" sambungnya.
Meski beberapa saat lalu Yua baru saja sarapan, tapi masih ada ruang di lambungnya untuk tiramisu spesial dari Alex itu. Tiramisu itu pun diletakkan diatas wadah kecil berwarna putih polos. Tak lupa juga Yua menyeduh cappucino instan, minuman selingan saat ia menyantap tiramisunya nanti. Agar tak terlalu merasa sepi, Yua membawa kudapannya itu ke ruang tengah sambil menonton televisi.
Sebenarnya dilubuk hatinya yang paling dalam, Yua merasa tak enak pada Alex yang masih saja baik padanya dengan mengirimkan tiramisu ini. Padahal malam itu, ia sempat sedikit emosi pada Alex dan pergi begitu saja.
Bukan salah Alex jika ingatan Yua muncul dimalam itu, dan bukan salahnya juga jika ia sedikit emosi malam itu. Hari ini pun, Yua merasa dirinya tak menyalahkan Alex karena menutup-nutupi sesuatu darinya baik dimasa lalu maupun saat ini. Tapi, aroma manis dan pahit dari sepotong tiramisu ini membuatnya yakin bahwa Alex memaklumi kondisinya saat ini.
munch munch
Saat sendok berisi potongan tiramisu itu mendarat di lidahnya, perasaanya seketika menjadi jauh lebih ringan, namun tetap ada yang mengganjal. Sama seperti rasanya tiramsu itu manis, pahit, dan gurih yang menjadi satu.
"Kenapa dia membuat rasa seperti ini?" celetuk Yua. "Bukannya dia mau membuat yang special? Aku benci rasa ini" sambung celetuknya itu.
Bukan berarti Yua tidak suka tiramisu buatan Alex karena rasanya yang buruk, namun karena rasa tiramisu itu membangkitkan kenangannya. Rasa bencinya karena ia mengira tak akan bisa kembali melompati waktu.Alasan lain Yua membenci rasa tiramisu itu karena rasanya yang sama persis dengan rasa tiramisu pertamanya dilompatan waktunya itu.
Air mata Yua pun ikut terbit manakala ia menyuapkan sendok keduanya, lalu sendok ketiga, sendok keempat hingga sendokan yang terakhir. Bukan karena bersedih melainkan karena bahagia mengingat kenangan-kenangannya itu. Yua juga merindukan kelucuan Yucil, padahal Yucil itu adalah dirinya sendiri. Tak hanya itu Yua juga yang gemes mengingat dirinya yang ketika itu tidak dapat diandalkan.
Tapi, Yua bersyukur ia masih bisa merasakan tiramisu buatan Alex di masa ini. Ia juga tak menyangka akan kembali ke masa depan lebih cepat dari yang ia bayangkan. Meski begitu, masih ada hal yang harus ia lakukan.
"Seseorang menjadi kuat saat orang yang berharga baginya tak ada lagi" gumam Yua sambil menghapus airmatanya itu.
"No more cry! No more regret! (Tidak ada lagi air mata! tidak ada lagi penyesalan!)" ucap Yua memotivasi dirinya sendiri dengan menepuk-nepuk pipi dan pahanya.
Televisi yang ia hidupkan pun menjadi tak ada gunanya.
...***...
Siang ini, Yua pergi ke sebuah toko buku terbesar di kotanya. Yua langsung menuju stationary departmen untuk membeli beberapa barang untuk mappingnya itu. Ada kertas karton, spidol, penggaris dan pin.
Setelah mendapat barang yang ia butuhkan, Yua juga berkeliling di book departmen melihat novel dan komik terbitan terbaru. Sesekali Yua juga membaca sample novel dan komik yang tersedia. Hitung-hitung menjadi hiburan dan menghilang penat dalam hatinya.
Ada satu komik yang menarik perhatiannya, komik yang juga bertemakan perjalanan waktu. Meski dulu sering membaca genre yang sama, namun kali ini Yua lebih exited membacanya karena ia memiliki pengalaman akan hal itu. Setelah membayar semua barang yang ia beli di kasir, Yua bertolak ke suatu tempat.
...***...
Di dalam taksi online yang Yua pesan, Yua membaca komik yang ia beli tadi. Untung saja dalam bentuk komik one-shot (tamat dalam satu atau dua volume), ia jadi tak akan mengantuk karena membacanya.
Meski cara Yua dan tokoh pria itu kembali ke masa lalu berbeda, tapi yang Yua ingin tahu adalah bagaimana Pria itu menyelesaikan misinya dan apa saja yang harus ia lalui. Yua tahu jika komik hanyalah karya fiktif, tapi tak ada salahnya jika ia mengambil pelajaran dari komik itu.
"Hahahaha"
Yua tertawa membaca beberapa bab awal komik itu dimana tokoh Pria itu sama kikuknya dengan dirinya ketika tiba dimasa lalu. Mereka juga sama-sama harus beradaptasi, sama-sama menikmati hari-harinya dimasa lalu dan sama-sama membuat banyak kenangan.
Kini Yua tiba pada klimaks komik ini, membacanya pun menjadi tegang. Dimana tokoh Pria dihadapkan akan suatu pilihan, menyelamatkan kekasihnya atau menyelamatkan dirinya sendiri.
"Aku akan melakukan apapun, asalkan dia selamat bahkan tetap hidup dimasa depan" ucap Yua membaca dialog tokoh Pria itu.
Ada satu hal yang Yua pahami dari dialog itu. Tak peduli pilihan yang ada dihadapannya, asalkan orang yang berharga baginya selamat ia rela berkoban nyawa untuknya.
"Jika aku di posisi pria ini, apa aku akan seberani dirinya?" gumam Yua.
Yua jadi teringat kata-katanya pada Alex dimalam sebelum ia kembali ke masa depan bahwa dirinya akan melakukan apapun agar kecelakaan ayahnya tidak terjadi tanpa harus menjadi tahanan waktu.
"Tapi... bagaimana jika demi menyelamatkan ayah aku harus menjadi tahanan waktu?" gumam Yua memikirkan kemungkinan yang bisa saja akan menjadi pertimbangannya nanti.
Yua akhirnya sampai pada bagian akhir dari komik itu.
Meski Pria itu sudah menyiapkan banyak ramuan cadangan untuk dirinya dan sanh kekasih kembali ke masa depan, pada akhirnya hanya ada satu yang tersisa. Demi menyelamatkan sang kekasih yang hanya dapat diselamatkan dengan teknologi masa depan, Pria itu memberi ramuan terakhirnya pada sang kekasih.
Akhir dari komik itu adalah sang kekasih berhasil diselamatkan, namun pria itu harus puas dengan pilihannya. Tokoh pria harus rela keberadaanya di bumi ini hilang karena butterfly effect yang muncul setelah misinya berhasil. Sang kekasih juga melupakan semua kenangannya. Tapi harapan pria itu tetap ada dalam hati sang kekasih, harapan untuk terus hidup.
...***...
"Mbak, sudah sampai" ucap pak sopir yang menghentikan Yua dari membacanya itu.
Saat ia lihat ke luar jendela taksi Yua melihat ternyata memang benar ia sudah sampai. Taksinya berhenti sesuai dengan lokasi antar yang ia sematkan saat memesan taksi online itu.
"Ini pak ongkosnya, terimakasih" ucap Yua sambil menenteng barang bawaannya itu.
Siap tak siap Yua sudah memutuskan untuk berdamai dengan hati dan pikirannya. Dengan waktu yang tersisa sedikit ini, ia harus menentukan langkah apa yang harus ia ambil selanjutnya.
____________________________
Terimakasih sudah membaca😊