40 Days, One Love

40 Days, One Love
Kembali



"Apa benar aku ada di sini untuk menyelamatkan ayah?" Yua masih ragu pada apa yang terjadi. Ia tak menyangka selama ini terlena dengan kebahagiaan semu seperti yang dikatakan Alex. Otaknya terlalu jarang diajak berpikir makanya ia lambat mencerna apa yang terjadi, pikirnya dalam hati.


Jika memang keberadaannya di tahun 2000 adalah untuk menyelamatkan ayahnya 20 tahun yang akan datang, lalu apa yang ia harus lakukan?, Apa ia harus menangkap pengutit itu? atau ia butuh bantuan Alex?.


Yua kembali ingin memastikan apakah yang Alex ceritakan selama ini benar atau tidak. Tidak ada jaminan bahwa Alex bukan orang yang pantas dipercaya.


"Hallo.... Alex, Ini aku Lily!"


📱"Iya.. aku tahu!"


"Aku.. dalam 40 hari harus kembali ke masa depan atau harus menyelamatkan ayah?"


📱".............."


Yua sadar setelah menelepon Alex, memang ada yang ia sembunyikan dari dirinya. Saat ia bertanya tentang 40 hari itu, Alex tidak menjawab pertanyaannya sama sekali dan hanya terdiam.


"Kenapa kamu selalu menyuruh aku untuk segera kembali ke masa depan, padahal kamu tau aku harus menyelamatkan ayah yang dibunuh bukan karena kecelakaan" tanya Yua yang tak percaya Alex menyembunyikan hal itu darinya.


Keraguannya kini berubah menjadi hal yang pasti. Alex mungkin tahu bahwa ayah Yua, Joe, meninggal karena dibunuh karena itulah Yua berada di masa lalu untuk mencegah kecelakaan itu terjadi lagi. Namun, karena beberapa alasan membuat Alex menyembunyikan fakta kematian ayahnya dan selalu menuntut Yua untuk kembali ke masa depan. Agar Yua percaya, Alex juga menggiring opini bahwa keberadaannya di masa lalu hanya kebetulan semata akibat emosi yang berlebihan, dan keberadaannya di masa lalu tidak akan terlalu berdampak pada masa depan.


"Apapun yang kamu lakukan tidak akan mengubah masa depan! semua sudah ada jalan dan takdirnya masing-masing!!" jawab Alex. Apa yang dikatakan Alex tidak ada salahnya, Gayatri tetap meninggal dalam wabah malaria meski mereka sudah menikah 2 tahun dari tahun aslinya.


"Aku akan menyelamatkan ayah!!" Tak peduli apa yang dikatakan Alex, mulai hari ini Yua akan mengikuti kata hatinya yaitu menyelematkan ayahnya dengan sisa hari yang ia punya.


"Meski kamu harus berakhir sebagai tahanan waktu?" Alex kembali meyakinkan Yua.


"Aku akan berusaha agar tidak berakhir sebagai tahanan waktu meski harus menahan efek penolakan waktu" tegas Yua yang membuat Alex terdiam. Konsekuensi jalan yang dipilih Yua terlalu bahaya. Jika ia tak berhasil menyelamatkan Joe dan masa 40 harinya berakhir maka ia berakhir sebagai tahanan waktu.


...***...


Joe pulang ke rumah setelah mendapat panggilan dan Yua yang merasa sedang diikuti. Sebelum ia masuk ke dalam rumah, Joe memastikan sekeliling komplek bahwa tidak ada orang mencurigakan di sekitar sana. Saat masuk ke ruang tengah ia melihat Yua yang sedang menundukkan kepala pada meja seperti sedang memikirkan hal berat.


"Apa yang terjadi? kenapa wajahmu seperti itu?"


Yua lalu menatap muka Joe dan kembali menundukkan kepalanya.


"Otakku bekerja terlalu keras dan aku merasa mendadak pintar. Aku pun sekarang harus melawan takdir" keluhnya.


Yua tidak bisa menceritakan pada Joe apa yang menjadi keputusannya itu karena Joe pasti tidak akan menyetujuinya. Jika Yua melewati waktu 40 harinya tentu saja Yucil akan menghilang dan Joe akan melupakannya.


"Orang yang mengikutimu tadi apa kamu mengenalnya?" tanya Joe sambil menuangkan air minum untuk Yua.


"gluk gluk gluk" Yua begitu haus dan menghabiskan segelas air itu hanya dalam tiga kali tegukan. "Aku tidak tau siapa mereka!" jawab Yua.


Joe lalu membiarkan Yua sendirian agar ia dapat berpikir dengan tenang dan Joe kembali memastikan tak ada pintu dan jendela yang terbuka, khawatir penguntit itu akan kembali dan masuk ke dalam rumah.


...***...


"Jika aku tidak ke sini mungkin aku akan membiarkan kematian ayah sebagai kematian yang wajar saja" gumam Yua di kamarnya sambil memikirkan kemungkinan yang terjadi.


Satu orang yang membuat Yua pikir ada hubungannya dengan kematian ayahnya itu yaitu Ayah Arga, Pak Roy. Hal yang membuat Yua curiga padanya adalah di tahun ini Pak Roy sangat tidak menyukai Joe bahkan ia menatap tajam Yucil saat di cafe kemarin. Lalu apa yang membuat hubungan mereka berdua kembali membaik hingga mereka menjadi partner bisnis dan saling menjodohkan anak-anak mereka demi menyelamatkan perusahaan pak Roy dengan iming-iming keuntungan untuk perusahaan Joe.


Pikirannya saat ini seperti benang kusut. Banyak kemungkinan yang terjadi tapi ia tak bisa menemukan benang merahnya.


...***...


Saat ia hendak menutup matanya untuk tidur dan mengistirahatkan badannya, entah kenapa sekujur badannya tiba-tiba berkeringat. Padahal suhu malam itu tidak panas, Yucil yang tertidur di sampingnya pun juga ikut berkeringat. Kepalanya mendadak pusing dan matanya berkunang-kunang. Yua yang mencoba untuk tetap tersadar pergi ke ruang tengah untuk menghampiri Joe.


Badannya yang sudah sempoyongan itu tak sengaja menabrak gantungan tas dan bajunya sehingga isi tas Yua berserakan di lantai termasuk surat itu. Namun, ketika ia memungut surat itu keluar seberkas cahaya yang menarik perhatiannya. Cahaya itu muncul lalu hilang kembali.


"Apa ini cahaya yang di maksud Alex?"


Jika cahaya ini membuat dia kembali ke masa depan, maka sebaiknya ia tak menyentuh surat ini dulu karena ia tak bisa kembali ke masa depan saat ini. Masih banyak hal yang ingin ia lakukan demi menyelamatkan ayahnya.


Yua hendak menyimpan surat itu di dalam laci samping tempat tidurnya sebelum cahaya itu muncul lagi. Namun, Joe yang tiba-tiba datang ke kamarnya membuat Yua lupa untuk segera menyimpan surat itu.


Saat tersadar ia harus segera menyimpan surat itu cahaya itu muncul kembali. Cahaya putih terang yang membuat mata siapa yang melihatnya menjadi silau termasuk Yua.


Saat ia membuka matanya, Joe yang berada di depannya tidak bergerak sama sekali. Yucil yang tertidur di kasur juga tak bergerak. Hanya ia seorang yang bergerak di ruangan itu.


"Aku harus telepon Alex!" gumamnya sambil mencari ponselnya yang berada di antara barang yang tercecer di lantai. Sialnya saat Yua mencoba menghubungi Alex ponselnya tidak berfungsi.


"Mungkin aku harus pergi ke cafe!" satu-satunya cara agar bisa bertemu dengan Alex adalah menemuinya langsung di cafe. Menggunakan baju tidur seadanya dan memakai sendal jepit ia berlari menuju cafe.


...***...


"dor dor dor" tak terhitung beberapa kali Yua menggedor pintu cafe ini hingga akhirnya Alex membukakan pintu.


"Lamaaaaa" teriak Yua yang tak dapat menahan dingin malam diluar cafe. "Kenapa semua tidak bergerak? Yucil, Joe dan semua orang yang ada di jalan? kenapa aku dan kamu saja yang tidak?" tanya Yua dengan panik dan penuh keringat karena berlari tadi.


"Tampaknya pemicu sudah berkerja dan sudah waktunya kamu harus kembali! Waktu orang-orang yang ada di tahun ini berhenti agar kamu bisa kembali" jawab Alex dengan tegas.


"Ngakkk" Yua menggelengkan kepalanya tak mau menerima pernyataan Alex itu. Ia tak bisa kembali begitu saja setelah mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.


Namun, pemicu sudah bekerja tak ada yang bisa menghentikannya.


Kepala Yua semakin terasa berat, pandangan matanya bergoyang, keringat juga mengalir deras di sekujur tubuh, sensasi tertarik seperti yang ia rasakan saat meloncati waktu pertama kali tiba-tiba muncul hingga akhirnya ia pingsan karena tak dapat menahan rasa sakit lebih lama lagi.


...***...


"Bip Bip Bip" bunyi alarm membangunkan Yua yang tengah tertidur lelap itu.


"Masih jam 10 pagi" ucap Yua yang setengah tertidur itu. Badannya pegal, kepalanya sakit, dan matanya yang masih sembab karena menangis melihat album foto dia dan ayahnya sebemum tertidur.


"Ping" sebuah pesan masuk di chat Line milik Yua.


📱 "Hari ini aku jemput jam 1 siang, nanti kita ke butik fitting gaun dan liat venue resepsi kita"


Pesan itu tak lain dan tak bukan dari Arga, tunangan Yua. Mereka sudah berjanji hari ini pergi ke butik dan melihat venue resepsi mereka. Kedua keluarga sudah sepakat untuk melangsungkan pernikahan mereka berdua satu bulan setelah Yua wisuda. Jadi tak banyak waktu tersisa mempersiapkan segalanya. Yua yang awalnya tak berniat menikah dengan Arga pun mau tak mau harus menerima pernikahan ini. Karena tak ada lagi tempat ia bergantung setelah kepergian ayahnya.


"Aku sepertinya bermimpi indah" gumam Yua yang kini kesadarannya telah kembali sepenuhnya.