40 Days, One Love

40 Days, One Love
Perasaan Bersalah



Pagi-pagi yang cerah ini Yucil sudah merajuk minta dibelikan hewan peliharaan. Ia meminta dibelikan seekor anak kucing. Yucil merasa iri saat ia dan Bu Risma pergi ke taman dekat rumah kemarin. Yucil melihat anak-anak di taman itu bermain bersama hewan peliharaannya.


"Ayah aku mawu anak kuciiingggg" mintanya sambil menangis dan mengguling-gulingkan badannya di lantai.


Joe pusing bukan kepalang melihat tingkah Yucil yang semakin lama mirip dengan Yua. Ia menjadi keras kepala dan semua kemauannya harus dituruti. Usahanya untuk membuat Yua dan Yucil mandiri tampaknya kurang berhasil. Yua bahkan belum bangun setelah tangisan Yucil pecah.


"Pokoknya gak boleh!!" tegas Joe.


Bukannya reda tapi tangisan Yucil malah makin menjadi-jadi. Joe yang harus berangkat ke pabrik pun mulai panik. Hari ini ada kayu dan beberapa material lainnya yang akan datang.


Joe adalah tipe orang yang tak dapat dipaksa, Ia juga bahkan tak pernah marah dan selalu tersenyum. Namun, jangan pernah membangunkan harimau yang tertidur. Sekali harimau terbangun bekas cakarannya tak akan pernah hilang.


Melihat sang Ayah yang mengacuhkannya, ia pun melemparkan mainannya pada Joe.


"Pwaaaakk"


suara mainan itu mendarat di kening Joe. Keningnya pun terluka. Joe pun naik pitam. Ia lalu membanting kursi di dekatnya.


"Praaannkk" bunyi hantaman kursi itu dilantai.


Yua yang tertidur pulas pun terkejut dan langsung berlari keluar mendengar suara ribut-ribut dari ruang deoan. Dilihatnya ruangan yang berantakan, kepala Joe yang berdarah dan Yucil yang terdiam membisu. Anehnya, Yua tiba-tiba merasakan sakit di dada saat melihat Yucil yang terdiam itu..


Joe lalu pergi tanpa sepatah katapun dan tak lupa ia membanting pintu hingga membuat Yua dan Yucil terkejut.


Beberapa saat setelah Joe pergi.... Yucil yang awalnya terdiam mulai terdengar suaranya. Semakin lama suaranya itu berubah menjadi tangisan kecil dan akhirnya tangisnya pecah sejadi-jadinya.


Yua yang reflex langsung memeluk Yucil dan menenangkannya. Namun tetap saja Yucil tak mau berhenti menangis dan tak mau berbicara apapun padanya.


Hati anak-anak memang sensitif, mereka juga peka akan perasaan. Ketika hati mereka terluka biasanya akan membekas sepanjang hidupnya. Berbeda dengan orang dewasa, Orang dewasa cenderung melupakan apa yang tidak ingin mereka ingat, tapi anak kecil akan selalu mengingat apa yang membekas dihatinya.


"aku ngak ingat pernah ada kejadian ini, apa ini kejadian baru?" gumam Yua. Pasalnya ia tak pernah ingat pernah melakukan kejadian ini di masa lalu. Jika tidak, maka kemungkinannya ini adalah kejadian baru yang terjadi setelah intervensinya di tahun 2000.


...****...


Saat Arga tiba di siang hari, betapa paniknya ia melihat rumah yang sudah acak-acakan. Ia bahkan mengira ada pencuri yang masuk. Ia melihat Yucil yang menangis dengan mata merahnya dan Yua yang sedang menenangkannya.


"Apa yang terjadi? kenapa bisa berantakan seperti ini? lalu kenapa Yucil menangis?" tanya Arga yang panik.


"Aku tidak tahu pasti.. tapi sepertinya Joe tidak memberikan izin untuk memelihara kucing. Karena merasa tidak didengar jadinya Yucil melempar mainan ini ke kening Joe.... Joe jadi marah sampai ngebanting kursi dan pintu" cerita Yua.


Arga lalu merogoh sakunya. Ia meminta Yucil untuk mendekat dan mengulurkan tangannya.


"Mana tanganmu.." pinta Arga. Yucil lalu mengulurkan tangannya. dan Arga meletakkan sesuatu diatas tangannya. Ternyata Arga memberikan sebungkus lolipop. Tapi... Yucil malah melemparnya ke lantai. Untung Arga tidak marah, Ia lalu memungut lolipop itu dan menyimpannya lagi


Namun, Yua meminta Arga memberikan lolipop itu padanya.


"Hei Yucil... Kamu ngak boleh seperti itu. Arga baik loh mau kasih lolipopnya untuk kamu" Yua menasehatinya.


Lagi-lagi Yucil tidak mengatakan sepatah katapun. Tampaknya suasana hati Yucil masih terguncang karena baru pertama kali melihat ayahnya begitu marah padanya.


"Arga, Maaf ya!! Yucil sepertinya tidak mau diajak bicara" ucap Yua meminta maaf pada Arga.


"Iya ngak apa-apa Miss" jawab Arga.


Yua lalu meminta Arga untuk pulang saja hari ini. Ia tak ingin Arga khawatir pada Yucil.


...***...


Setelah Arga pulang, Yua mengajak Yucil berjalan-jalan di tepi sungai. Ia ingat pernah melihat kucing liar bermain di sana. Ia lalu membeli beberapa makanan kucing untuk diberikannya pada kucing-kucing liar itu.


Sesampainya mereka di tepi sungai mereka, betaoa beruntungnya mereka melihat beberapa kucing ada disana. Yua lalu menurunkan Yucil yang sedang digendongnya itu.


"Meong~ meong~" Yua menirukan suara kucing agar kucing-kucing itu mau mendekati mereka. Butuh kekuatan ekstra agar kucing-kucing itu berjalan lebih cepat lagi ke arah mereka. Yua lalu membuka kaleng makanan kucing yang beraroma tuna. Baunya yang amis membuat kucing berlarian kearahnya dan langsung melahap makanan itu. Ia juga mengelus kepala kucing-kucing itu agar mereka tidak ketakutan.


Namun sepertinya suasana hati Yucil masih belum membaik. Ia hanya berdiri di samping Yua dengan muka cemberut dan melipat bibirnya kedalam serta sedikit menggoyangkan kakinya. "Ayo Yucil kesini!! liat deh mereka lucu-lucu" goda Yua.


Yucil masih saja merajuk. Yua harus memutar otak agar Yucil tak lagi merajuk. Lagi-lagi Yua terpikirkan akan satu ide aneh dan mencoba menawarkannya pada Yucil.


Akhirnya Yucil mengangkat kepalanya. Tapi....


"Janggaaann!!!" teriak Yucil. Ia tak setuju dengan rencana Yua yang ingin membuat ayahnya bersedih. Karena dalam hatinya ia tak pernah berniat membuat ayahnya terluka dan marah. Raut muka Yucil menjadi semakin masam.


"Maaf.. ide tadi sangat buruk" ucap Yua meminta maaf pada Yucil.


Yua lalu mengambil seekor anak kucing dan meletakkannya di tangan Yucil. Syukurlah...kali ini Yucil menggendong anak kucing itu dengan kuat.


"Kamu pasti marah karena Ayah melarang kamu memelihara kucing, tapi kamu juga merasa bersalah karena membuat kening Ayahmu terluka kan?" tanya Yua.


Yucil lalu mengganggukkan kepalanya. Anak kucing yang ia pegang itu lalu melompat kearah sungai meninggalkan Yucil.


"Kamu hanya perlu minta maaf pada Ayah dan Ayah akan memaafkanmu" saran Yua.


"Bwenaaaal?? ta... pi Ayah ben..cwi a..ku kalena aku na..kal..." jawab Yucil sesegukan tak percaya saran Yua. Yucil merasa dirinya sudah dibenci sang Ayah.


Yua lalu duduk menjongkok lalu memutar tubuh Yucil kehadapannya. Dengan hangat Yua memeluk Yucil sembari menepuk-nepuk punggungnya dengan lembut. "cup cup.. jangan nangis!! Yucil anak cantik, pintar, baik, tidak menangis" mantra Yua untuk menenangkan Yucil.


Setelah beberapa lama akhirnya Yucil berhenti menangis. Yua lalu bertanya pada Yucil, Jika ada ayahnya disini apa yang ingin ia katakan?. Awalnya Yucil hanya terdiam namun ia mulai menggerakkan bibirnya.


"Kening awyah ber dalah, Maafwin yuuchilll" ucapnya sambil menangis.


Untuk kali ini Yua membiarkan Yucil menangis sepuasnya. Ia yakin Yucil sudah mengakui kesalahannya. Agar Yucil tak lagi bersedih Yua memberikan kepada Yucil lolipop yang ia buang tadi.


"Kamu juga harus minta maaf sama Arga besok" pinta Yua.


Yua dan Yucil menghabiskan waktu mereka hingga sore di sana. Setelah hati Yucil tenang, mereka memutuskan untuk pulang. Sambil menggendong Yucil yang mengantuk, Yua menyanyikan lagu tidur untuknya.


Langit semakin berwarnah merah. Senja akan segera berakhir dan malam akan datang. Jarak rumah dan tepi sungai itu lumayan jauh masih sekitar satu jam lagi mereka baru akan sampai di rumah.


...***...


Joe sengaja melambatkan jam pulangnya hingga pukul 7 malam. Namun, ketika ia sampai di rumah tak ada satupun orang disana. Kondisi rumah masih seperti ketika ia pergi. Perasaan Joe menjadi tak tenang. Ia pergi ke rumah Arga mencari Yua dan Yucil. Namun mereka tak ada di sana.


Akhirnya Joe memutuskan untuk berkeliling mencari mereka.Namun, sudah hampir satu jam berlalu, Joe belum juga menemukan mereka. Ia menyesal sudah membanting kursi dan pintu. Ia berjanji tak akan pernah mengulanginya lagi.


Setetes air hujan pun jatuh di pipi Joe. Langit tampak mendung. Ia harus segera menemukan mereka sebelum hujan turun. Joe lalu mencari mereka ke arah sungai. Nafasnya kini mulai tesendat-sendat. Untuk mengistirahatkan tubuhnya sementara waktu ia duduk di sebuah kursi. Tiba-tiba... seorang wanita menggendong anak kecil lewat tepat di depan matanya.


Ya.. mereka adalah anak-anaknya, Yua dan Yucil. Joe lalu mengejar mereka dan memeluknya dari belakang. Yua pun lalu membalikkan badannya.


Tetes-tetes air langit itu berubah menjadi hujan. Joe lalu membuka jaketnya demi melindungi anak-anaknya dari hujan. Sambil memengangi jaket diatas kepala anak-anaknya itu, mereka memari sebuah halte berniat untuk berteduh di sana.


"Maaf kita tersesat, seharusnya satu jam yang lalu kita sudah sampai di rumah. Tadi aku berniat menghibur Yucil dan membawanya melihat kucing di dekat sungai. Tapi... kita malah tersesat berjam-jam" jelas Yua sambil meminta maaf pada Joe karena membuatnya khawatir. Joe lalu mengambil Yucil dari pelukan Yua dan menggendongnya.


...***...


Langit mulai teduh, mereka memutuskan untuk kembali berjalan menuju rumah. Selama perjalanan Joe membisikkan kata maaf pada Yucil karena sudah bertindak keterlaluan dan tidak menahan emosinya.


"Kamu tahu.. ketika tadi pagi kamu membanting kursi dan pintu Yucil hanya diam saja. Dia tidak langsung menangis, Dia menahannya sampai kamu benar-benar sudah pergi" cerita Yua.


Joe yang mendengar cerita Yua pun semakin merasa bersalah.


"Entah kenapa ketika melihat Yucil terdiam tadi ada perasaan sakit yang tiba-tiba terasa didadaku. Aku pikir itu adalah perasaan Yucil yang terhubung denganku" sambung Yua sambil memegang dadanya dan sesekali menepuk dadanya itu.


Yucil tiba-tiba terbangun dari tidurnya. Ia menatap muka Joe dan meminta maaf sudah membuat keningnya terluka. Ia juga meniup luka di kening sang ayah dan menempelkan plester sebagai tanda permintaan maaf. "Yah.. a..ku.. min..ca ma.af" ucap Yucil.


______________


Terimakasih...


Jangan Lupa Like, Comment, dan Favorite-nya.


Selamat Membaca❤