40 Days, One Love

40 Days, One Love
Butterfly Effect



"Kalau begitu aku pamit, bu" pamit Yua pada bu Risma.


Butuh waktu bagi Yua untuk menenangkan dirinya dan memahami apa yang Bu Risma katakan padanya. Bu Risma yang juga sadar bahwa Yua tak percaya ucapannya itu lebih memilih untuk pulang dibanding harus berlama-lama bersama dengan dirinya.


"Baiklah... hati-hati di jalan" ucap Risma. "Arga kamu antar Yua pulang" serunya lagi pada Arga.


Meski suasana diantara mereka sedikit canggung tapi Yua tak lupa mencium tangan bu Risma saat berpamitan pulang.


"Aku jalan dulu, bu" pamit Yua untuk terakhir kalinya sambil meraih tangan kanan bu Risma.


"Ah"


Saat Yua mencium tangan bu Risma, Yua terkejut melihat bekas lebam di lengan kanan bu Risma. Tapi sepertinya bu Risma sadar bahwa Yua melihat lebamnya itu dan ia berusaha menutupinya dengan ujung lengan bajunya.


"Cepatlah.. nanti macet dijalan" ucap Bu Risma mempersilahkan Yua dan Arga untuk segera pergi dan tidak memperdulikan dirinya.


Macet hanya alasan bu Risma saja agar Yua tak mempertanyakan lebam itu dan segera membaca surat Joe itu. Yua yang tahu maksud bu Risma itu, lalu meminta Arga untuk mengantarnya ke cafe.


...***...


Untung saja jalanan tidak macet seperti yang bu Risma takutkan. Jam 10 mereka sudah sampai di depan cafe tujuan Yua. Tapi, Arga hanya bisa mengantarnya sampai di depan cafe saja karena ada jadwal mengajar sebentar lagi.


"Klek"


Meskipun terburu-buru, Arga masih sempat membukakan pintu mobil untuk Yua.


"Aku ada jadwal ngajar sebentar lagi, jadi aku bisa antar cuma sampai di sini " ucap Arga meminta perhatian Yua.


"Mmm.. ya ngak apa-apa" balas Yua singkat.


Sebenarnya Yua malah merasa senang jika Arga tidak menemaninya. Yua hanya ingin menyelesaikan masalahnya sendiri. Apalagi setelah mendengar pernyataan mengejutkan dari bu Risma. Sebelum mereka berpisah sebagai tanda sayangnya pada Yua, Arga menepuk kepala Yua lalu mengacak-ngacak rambutnya dan tertawa,


"Haha"


"Apaan sih.. jadi kusut kan!" celetuk Yua sambil merapikan rambutnya kembali.


Namun... Yua merasa seperti sedang diperhatikan. Tanpa berpikir apapun, Yua memeriksa sekelilingnya tapi tak ada orang yang mencurigakan disekitar sana.


"Ada apa?" tanya Arga.


"Ah.. ngak.. ngak ada apa-apa!" jawab Yua terbata. "Oh iya.. tapi kamu harus ngajar. Ayo cepat nanti telat!" serunya lagi.


Meski sedikit sedih mendengar Yua yang tak sabar menyuruhnya pergi itu, Arga tetap memasang senyum di wajahnya dan pamit kembali pada Yua. Arga lalu masuk kedalam mobilnya dan melajukan mobilnya menuju kampus.


...***...


"huft"


Yua kembali menghela nafasnya. Baru jam 10 pagi tapi energinya sudah kembali terkuras.


Saat Yua berbalik badan dan hendak membuka pintu cafe,


"Aaaahhh"


Yua terkejut bukan main saat ia melihat seseorang sudah ada di depan dinding cafe yang terbuat dari kaca itu. Ternyata perasaannya tadi itu benar, ada seseorang yang mengawasinya dan orang itu ada di dalam cafe ini.


"Siapa sih?" celetuk Yua sambil mengelus dadanya. "Warna rambutnya pirang.. apa dia pemilik cafe ini?" pikir Yua dengan keras.


Dengan kesal Yua membuka pintu cafe itu. Anehnya bukan orang yang berada di depan kaca tadi yang menyambutnya, tapi pelayan yang lain.


Suasana cafe pun masih sepi, jadi jelas bahwa orang tadi bukanlah pelanggan melainkan pelayan atau staff cafe atau memang benar bahwa orang itu adalah pemilik cafe ini.


"Selamat datang, silahkan du.." ucapan pelayan itu tiba-tiba berhenti.


"Mbak, mau bikin heboh lagi ya?" tanya pelayan itu.


Ternyata pelayan itu ingat kejadian kemarin yang membuat dirinya kewalahan oleh kelakuan Yua yang menyelinap sembarangan keruangan bosnya itu.


"Iya... maaf" ucap Yua. "Saya sekarang ngak mau bikin ulah lagi kok" sambung Yua meyakinkan pelayan itu.


Meski sudah meminta maaf dan berjanji tidak akan membuat ulah, tapi gerak-gerik Yua terlalu mencurigakan. Bahkan pelayan cafe ini terus memperhatikan Yua.


Sambil menunggu pemilik cafe ini yang keluar entah kapan, kali ini Yua benar-benar memesan tiramisu dan hot chocolate untuk mengembalikan energinya yang terkuras itu.


...***...


Awalnya Yua berniat menemui langsung pemilik cafe itu, tapi surat dari ayahnya itu lebih menarik perhatiannya saat ini.


"Hu... Ha..."


Sambil memantapkan posisi, menguatkan hati dan meyakinkan diri, Yua pun mulai membaca surat dari ayahnya itu. Surat yang ayahnya tulis bahkan sejak 20 tahun yang lalu.


"Syukurlah... kamu baik-baik saja saat membaca surat ini.


Setelah kamu tiba di malam itu dan menceritakan berbagai hal, aku bersyukur kamu datang dan memberi warna di hari-hari berikutnya hingga kamu tiba-tiba menghilang, kembali ke masa depan.


Aku menulis surat ini untuk kamu yang ada di masa depan. Aku tidak mau menanggap Yua saat ini adalah dirimu yang sama, Lily.


Aku sadar bahwa kalian adalah dua orang yang berbeda. Setelah hari itu mungkin Yua saat ini akan menjadi Yua yang berbeda dengan kamu yang pernah datang ke masa lalu.


Tapi jika akhirnya sama, entah kenapa aku yakin datangnya kamu ke masa lalu akan terulang kembali.


Seperti yang kamu pernah bilang, kamu adalah seorang pelompat waktu, tapi konsep perjalanan waktu adalah sama. Mengubah masa lalu maka akan mengubah masa depan karena butterfly effect itu ada.


Hal yang tidak dapat dicegah adalah fenomena itu akan terus terulang hingga paradox-nya hancur " .


Sungguh surat yang sangat panjang dan penuh bahasa yang tak Yua mengerti. Membacanya saja tentu membuat Yua bingung akan maksud dan tujuan surat ini diberikan padanya.


"Aku dari masa depan datang ke masa lalu?"


"Aku seorang pelompat waktu? perjalanan waktu?"


"Yua saat ini berbeda dengan aku? jadi aku Yua yang menjadi lily karena datang dari masa depan?"


"Jika masa depan tidak berubah, ada kemungkinan aku kembali ke masa lalu sampai paradoxnya hancur?"


"Butterfly effect?"


Hampir seluruh kalimat dalam surat itu menjadi pertanyaan untuk Yua hingga ia bergumam sendirian.


Tapi kata-kata pelompat waktu dan perjalanan waktu seolah menjadi kunci bagi Yua untuk memahami maksud surat itu. Entah kebetulan atau takdir, semalam ia baru saja membaca sebuah buku bertemakan perjalanan waktu dan pagi ini ia sudah dibuat bingung tentang perjalanan waktu.


Yua lalu membuka memonya dan mencoba menghubungkan surat ini dengan kalimat-kalimat yang ia temukan dari buku Time Travel on Physic Dimensional semalam.


...***...


Setelah berpikir cukup keras dan berusaha menebak apa yang dimaksud surat dan buku ini, Yua mencoba menyimpulkannya dan mrnjawab keraguannya sendiri serta berharap apa yang ia simpulkan itu benar.


"Jadi.. aku seorang pelompat waktu dan pelompat waktu bergerak dalam periode waktu yang terbatas"


"Aku datang dari masa depan ke masa lalu, tepatnya tahun 2000"


"Aku datang di malam hari dan hanya beberapa hari disana lalu tiba-tiba menghilang"


"Di buku itu disebutkan kalau pelompat waktu yang berhasil kembali ke masanya maka ingatannya akan hilang"


"Lalu, Ayah menganggapku berbeda dengan aku yang masih kecil hingga memberiku nama Lily"


"Tapi jika akhirnya aku yang saat ini dan aku yang masih kecil itu sewaktu dewasanya nanti memiliki sifat yang sama, ada kemungkinan aku bisa kembali ke masa lalu lagi"


"Itu semua karena ada butterfly effect"


"Agar fenomena ini tidak terulang, maka paradoxnya harus dihancurkan"


Begitulah kira-kira kesimpulan yang bisa Yua simpulkan. Meski tak percaya dengan apa yang ia temukan, tapi dalam hatinya ingin mempercayai semua ini. Apalagi semuanya kini tampak masuk akal baginya.


"lalu butterfly effect, apa?" gumam Yua.


Tiba-tiba,


"tok tok tok"


Seorang wanita seumuran Yua tiba-tiba mengetuk dinding kaca itu seolah memanggil Yua. Lalu saat perhatian Yua tertuju padanya, wanita itu masuk ke dalam cafe dan duduk dimeja yang sama dengan Yua.


Yua segera menyembunyikan surat itu dan memasukkannya kedalam tasnya, ia takut jika wanita itu memiliki niat buruk padanya. Namun, sepertinya bukan seperti yang Yua kira.


"Hai.. Yua, seminggu ini kok lo ngak kasih kabar. Gue turut berduka cita atas meninggalnya Om Joe" ucap wanita itu yang tampaknya sangat akrab dengan Yua.


Siapa wanita itu?... Dia tampaknya mengenal dan akrab dengan Yua, terlihat dari cara bicaranya yang kasual. Namun, wajahnya juga familiar seperto pernah melihatnya disuatu tempat. Saat Yua perhatikan dengan seksama,


"Aa... mmm, I...Intan?" ucap Yua terbata saat mengenali siapa wanita yang ada di depannya itu.


"Iya.. gue, lo liat sahabat sendiri kayak liat setan aja, hahaha" ucap Intan sambil tertawa.


______________________________


Terimakasih Sudah Membaca😊