40 Days, One Love

40 Days, One Love
Cara Kembali



Setelah hari yang panjang, Yucil tertidur pulas di kamar Joe. Biasanya Yucil tidur bersama Yua tapi untuk hari ini saja Ia tidur bersama Joe.


Pagi pun tiba. Yua ingin membuatkan sarapan untuk Yucil dan Joe. Meski skill memasaknya masih rendah, tapi ia sudah berlajar memasak nasi goreng dari Arga. Bukan Yua namanya kalau tidak membuat kehebohan. Ia memang memasak tapi juga membuat dapur seperti kapal pecah. Joe yang baru saja bangun mendengar suara bising dari dapur.


"Duugggg"


Terdengar suara orang terjatuh. Ternyata Joe terpeleset dan terjatuh di lantai. Ia menginjak sebuah cangkang yang masih ada putih telurnya. Yua lalu bergegas menolong Joe yang ada didepan matanya. Namun, Ia ikut terjatuh karena menginjak cangkang yang sama ketika hendak mengulurkan tangannya.


"Hahaha"


Joe lantas tertawa terbahak-bahak. Yua yang kesal mendorong bahu Joe dengan keras.


"Mmm... sebelum aku lupa, aku mau minta maaf soal kemarin. Sifat Yucil semakin mirip denganku, aku memberikan pengaruh negatif padanya" ucap Yua sambil menundukkan kepalanya.


Joe lalu berdiri dan mengambil tangan Yua dan menariknya keatas.


"Tidak perlu! awalnya aku memang kesal melihat sifatnya yang keras kepala, tapi dia masih anak-anak wajar saja. Akulah yang bersalah tidak menahan emosiku pada anak!" jawab Joe.


Tiba-tiba mereka mencium bau gosong. Karena terlalu lama bicara Yua tak sadar masakannya menjadi sedikit gosong. Yua lalu segera mematikan kompor dan Joe membersihkan dapur.


"Bukankah Yucil adalah dirimu! besarnya nanti pun akan seperti kamu yang keras kepala dan sukanya malas-malasan" goda Joe.


Yua tak terima dirinya dijadikan bahan olok-olokan Joe. Ia lalu membalas Joe dengan menyuapinya dengan bagian nasi goreng yang gosong.


"Uhuk uhuk.. pahiiiittttt" keluh Joe yang tersedak.


Yua yang melihat Joe seperti itu malah tertawa. "Hahaha"


"Setidaknya aku senang mengetahui sifat anakku di masa depan nanti bukan sifat yang akan menjerumuskannya ke arah yang salah" ucap Joe yang membuat Yua terharu.


Yua lalu membangunkan Yucil dan mereka sarapan dengan nasi goreng buatannya yang sedikit gosong.


Yua meminta izin pada Joe untuk mengajak Yucil ke cafe. Ia beralasan ingin mencoba menu baru disana. Joe lalu membuka dompetnya dan memberikan mereka uang jajan Rp. 50.000. Setelah Joe pergi baru mereka berangkat.


...***...


Yua dan Yucil akhirnya sampai di cafe. Seperti biasa mereka disambut oleh pelayan. Tidak seperti biasanya, hari ini cafe tampak ramai. Seorang pelayan menghampiri mereka lalu membisikan ke telinga Yua untuk naik ke lantai dua. Di sana sudah ada Alex yang menunggu mereka.


"Selamat Datang" sapa Alex.


Alex lalu mempersilahkan mereka duduk.


"Maaf dua hari yang lalu aku janji datang besok tapi ada sedikit masalah. Oh iya Ini diriku yang masih kecil, panggil saja Yucil" jelas Yua sambil memperkenalkan Yucil.


Mereka lalu duduk di sebuah meja panjang ditengah ruangan itu.


"Wahhh besar juga di sini.. Apa kamu tinggal di sini?" tanya Yua sambil memperhatikan setiap sudut ruangan.


"Iya... Aku tinggal disini. Ini adalah ruangan kerjaku sekaligus kamarku" jelas Alex.


Alex lalu menajamkan perhatiannya pada Yucil dan dirinya. Ia takjub melihat mereka yang sangat mirip satu sama lain. Tentu saja karena mereka adalah orang yang sama. Meskipun dirinya sudah pernah mengalami hal yang sama dengan Yua namun itu sudah terjadi 100 tahun yang lalu, ia sudah melupakan perasaan itu.


Alex lalu meminta pelayan membawakan menu baru yang ia buat. Menu itu Parfait. Plattingnya sangat menggugah selera. Bagian luarannya chruncy, didalamnya ada cream, buah-buahan, sirup, coklat dan wafer yang diletakkan dalam sebuah gelas yang panjang. Sangat cocok untuk pencinta makanan manis. Alex juga menyiapkan Ice tea untuk mereka.


Karena tujuannya kesini bukan untuk bersantai-santai, Yua meminta Yucil untuk menikmati makanan dan minumannya dan mengajak Alex untuk sedikit bergeser ke bagian tepi meja, ada yang ingin ia bicarakan. Itu agar Yucil tidak mendengar pembicaraan mereka.


"Aku punya banyak pertanyaan, jadi aku bingung ingin bertanya yang mana" jelas Yua.


Wajar saja Yua memiliki banyak pertanyaan. Alex pun dulu sama seperti Yua. Para pelompat waktu melakukan perjalanan waktu tanpa persiapan apapun. Umumnya, mereka tidak tahu harus berbuat apa, mereka tak tahu cara kembali, mereka juga kadang-kadang frustasi dan berakhir sebagai tahanan waktu.


"Oh ya.. beberapa waktu lalu ada sedikit kejadian dirumah. Sebelum Yucil menangis dia sempat terdiam, tapi tiba-tiba aku merasakan sakit di dada seperti aku sendiri yang ngalamin kejadian itu, apa mungkin itu perasaan dia yang terhubung denganku?" tanya Yua.


Benar dugannya, apa yang dirasakan oleh Yua adalah sindrom Sharing Life. Itu adalah sindrom dimana pelompat waktu berbagi nyawa yang sama dengan dirinya dimasa itu yang berarti, nyawa Yua dan Yucil adalah satu.


Para pelompat waktu juga harus berhati-hati pada hal-hal yang mempengaruhi jiwa mereka. Fatalnya, mereka dapat tiada jika salah satu diantara mereka tiada. Makanya, setiap pelompat waktu disarankan agar tidak menghubungi dirinya yang lain.


Karena Yua sudah terlanjur bertemu dengan dirinya yang lain, meninggalkan tahun 2000 sesegera mungkin adalah cara terbaik Yua untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan.


"Tapi bagaimana cara agar aku bisa kembali ke tahun 2021?" tanya Yua.


Yua tak percaya Alex tidak tahu cara untuk kembali. Bukankah dia yang bilang waktu itu bahwa dirinya akan kembali ke kafe ini karena membutuhkan sesuatu.


"Tapi... bukannya kamu tahu apa yang aku butuhkan?" tanya Yua dengan bingung.


Alex lalu menjelaskan apa maksud perkataannya itu. Yua akan membutuhkan sesuatu. Sesuatu itu adalah jurnal-jurnal yang membahas tentang pemicu.


"Pemicu..." ucap Yua dengan bingung.


Tanpa banyak bicara lagi, Alex mengajak Yua melihat koleksi jurnal-jurnalnya. Di sudut kamarnya penuh dengan jurnal-jurnal dari masa depan. Ya... jurnal itu dibawa dari masa depan oleh pemilik pertama cafe ini, Si penjelajah waktu.


Yua lalu mengambil jurnal yang diberikan Alex dan membacanya satu persatu. Berdasarkan jurnal itu ada pemicu yang dapat membuat seorang melompati waktu dan pemicu itu juga yang akan membantu si pelompat waktu kembali ke asalnya.


Namun, diartikel lain menyebutkan bahwa pemicu itu belum tentu sama dengan yang menyebabkan seseorang melompati waktu. Akan ada pemicu lainnya yang dapat mengembalikan pelompat waktu ke waktu asalnya.


"Arrrrggggg" keluh Yua.


Membaca semua jurnal itu membuat Yua semakin bingung. Ia tak pernah membaca jurnal serumit ini. Itu membuatnya sakit kepala. Yua menyingkarkan jurnal-jurnal itu dan kembali duduk didekat Yucil.


"Kamu tahu.. Cafe ini bahkan masih ada di 2021, dan ada Rumor yang bilang jika pemilik cafe ini jarang terlihat dan tidak pernah tua. Apa yang mereka maksud adalah kamu?" tanya Yua penasaran pada Alex yang di depannya..


"Mmm..Mungkin" jawab Alex singkat.


Jika cafe ini masih ada di tahun 2021 itu bisa saja masih Alex yang mengelolanya.


"Ya... mau bagaimana lagi. Aku adalah tahanan waktu. Keberadaanku samar-samar, hanya beberapa orang yang sadar akan fisikku. Selamanya aku akan ada disini dengan muka seperti ini sampai bumi kiamat" jawab Alex dengan tersenyum.


Yua lalu mendadak ingat hal yang paling ingin ia tanya.


"Kenapa kamu bisa tahu aku adalah pelompat waktu?" tanya Yua penasaran.


"Mudah saja..." jawab Alex.


Ada beberapa hal yang bisa membuatnya tahu bahwa Yua adalah pelompat waktu. Karena ia hidup hampir 110 tahun, ia hampir mengetahui seluruh orang-orang yang ada disana. Rata-rata orang akan lewat didepan tokonya yang memang berada dipusat keramaian.


Alasan lainnya karena Arga adalah pelanggannya. Dengan keberadaanya yang sulit disadari, Alex tahu siapa-siapa saja kerabat dan keluarga Arga termasuk Joe dan Yucil. Ia juga sadar ketika pertama kali melihat Yua yang sangat mirip dengan Yucil, ditambah Yua yang sangat tertarik pada rak buku di lantai bawah itu.


"Oh... jadi rak itu adalah umpan" umpat Yua. "Eh... tapi bisa jadikan aku kerabat mereka dari daerah yang kebetulan menyukai cerita fiksi?" sambungnya.


"Bau.." ucap Alex yang membuat Yua merasa ia sedang diledek.


Yua lalu mengendus tubuhnya karena dibilang bau oleh Alex. Tapi sepertinya Yua salah paham. Bau yang dimaksud Alex adalah bau waktu.


"Seorang tahanan waktu juga dapat mencium bau waktu yang berputar" jelas Alex.


"Bau waktu berputar emang ada?" tanya Yua. Suasana yang serius seketika buyar oleh pertanyaan Yua yang tak serius itu.


Alex lalu menyuruh Yua mengingat waktu pertama kali ia tiba. Saat ia melompat waktu apakah ia mencium sebuah bau?. Yua lalu mengingat dan membayangkan kejadian itu lagi, namun ia tak mengingat ada bau sama sekali.


"Sudah..Lupakan saja" ucap Yua agak kesal.


Kini rasa penasarannya kenapa Alex bisa mengenalinya pun terjawab. Tapi... Yua masih penasaran akan satu hal lagi. Ia meminta izin Alex untuk bertanya lagi.


"Mmm... sebelumnya aku minta maaf, tapi apa aku boleh mendengar kisahmu dari seorang pelompat waktu menjadi tahanan waktu?" tanya Yua.


Alex tersenyum melihat Yua yang mau mendengar kisahnya.


"Baiklah, Aku akan menceritakan kisahku.. Jadi tolong dengarkan!" ucap Alex.


"Benarkah?? tapi itukan privasi? kamu ngak marah?" tanya Yua.


"Tidak... Ambil hikmahnya saja!" jawab Alex.


___________________


Terimakasih Sudah Membaca❤


Jangan Lupa Like, Comment, dan Favorite-nya.