40 Days, One Love

40 Days, One Love
Jawaban



Alex yang kini salah tingkah itu segera menuju ovennya dan membuka pintu oven. Tanpa sadar ia malah memegang loyang panas itu dengan tangan kosong.


"Awww"


Panasnya loyang membuat ujung-ujung jari Alex melepuh. Untung saja tidak terlalu parah, cukup dengan merendamnya di air dingin akan segera pulih.


Namun, saat itu ada Yua yang masih berasa diposisi sebelumnya. Hanya saja Yua duduk menjongkok dengan memeluk kedua lututnya. Kepalanya pun tak lupa ia benamkan di atas pahanya.


Alex yang melihat Yua yang seperti itu menjadi bingung harus berbuat seperti apa. Ia juga sadar, sudah salah mengambil keuntungan dari sisi lemahnya Yua. Tapi setelah kejadian tadi tak ada gunanya mereka saling mendiamkan satu sama lain, pikir Alex.


Mencoba menjelaskan apa yang terjadi, Alex lalu menghampiri dan duduk diatas lantai menghadap Yua. Tapi, ia masih bingung harus mengatakan apa. Alex hanya menunggu hingga Yua mengangkat kepalanya.


...***...


Setelah beberapa lama, akhirnya Yua mengangkat kepalanya. Namun, Alex malah tertidur karena menunggu Yua mengangkat kepalanya itu. Alex tertidur seperti orang yang sedang meditasi namun kepalanya ia tekuk ke bawah.


"Pembohong!" gumam Yua.


Tak mau membiarkan airmatanya jatuh sekali lagi, Yua dengan cepat menghapusnya. Ia juga berniat untuk pulang dan tak ingin membangunkan Alex.


Namun, suara hidungnya yang ia tarik karena ingusnya yang mengalir itu membangunkan Alex. Rencananya untuk pulang sepertinya takkan terjadi, melihat Alex yang terbangun itu membuat rencananya buyar.


Yua lalu meraih tangan Alex dan hendak membawanya ke suatu tempat. Mereka berjalan melewati dapur dan menuju ruang utama cafe, mereka terus berjalan hingga akhirnya mereka sampai di depan pintu masuk cafe.


Yua melangkahkan kaki kanannya terlebih dahulu lalu menarik kaki kirinya hingga tubuhnya kini berada di depan cafe dan berdiri menghadap Alex yang masih berasa di dalam cafe. Yua lalu meraih tangan Alex dan menariknya keluar. Namun, usahanya sia-sia. Alex tak mau bergerak selangkahpun meski sudah ia tarik sekuat tenaga.


Tak berhenti dengan satu cara. Yua kembali masuk dalam cafe lalu mendorong Alex keluar dari dalam cafe. Namun, tenaga wanita tak sebanding dengan tenang pria. Bukannya Alex yang terdorong, malah dirinya yang terpental.


Yua lalu kembali ke luar cafe dan menyeret Alex dengan paksa.


Melihat betapa kerasnya Yua ingin membawanya keluar dari cafe ini, Alex pun menduga jika Yua kini mengingat sesuatu tentang dirinya.


Jika itu benar tak ada gunanya lagi Alex mengacuhkan Yua lagi. Dengan begitu Alex menurunkan egonya dan menuruti kehendak Yua.


Tok


Meski Alex sudah melemaskan tenaganya dan menggerakkan kakinya menuju ke luar cafe, langkah Alex seperti terhalang dinding kaca tepat di pintu cafe. Sadar Alex tetap tak bisa keluar dari cafe ini bagaimanapun cara yang dirinya gunakan, Yua akhirnya menyerah dan mengakui apa yang ia lihat adalah kenyataan yang sebenarnya.


"Ternyata benar...." gumam Yua.


Tak hanya itu, kenyataan Alex tak bisa keluar dari cafe itu juga menjadi pembenaran untuk memorinya yang tiba-tiba muncul. Ingatannya yang ia lupakan saat kembali ke masa depan, ingatan saat melompati waktu.


...***...


"Kamu...." ucap Alex namun tak ia lanjutkan.


"Bukan kamu... aku Yua!" balas Yua. "Tapi aku juga Lily!" sambungnya.


Sesuai dugaannya, Ingatan Yua telah kembali. Tapi untuk meyakinkan dugaanya itu, beberapa pertanyaan untuk Yua pun muncul dalam benak Alex.


"Siapa Lily?" tanya Alex dengan memasang wajah polos.


"Nama keduaku yang diberi Ayah, maksudku Joe" jawab Yua.


"Kenapa kamu yakin?" tanya Alex.


Sepertinya tak perlu Alex tanya lebih jauh, ia sudah menemukan jawabannya. Ya... Yua sudah mengingat semua hal saat ia melompati waktu ke tahun 2000 itu.


"Pembohong!" gumam Yua lagi. "Dua hari ini aku susah payah mencari kebenaran dan kamu menutupinya" sambungnya dengan suara bergetar.


"Lebih baik kamu masuk dulu, kita bicara diatas!" ucap Alex meminta Yua untuk kembali masuk, apalagi udara saat malam sangatlah dingin.


Setelah jelas mengetahui Yua yang sudah mengingat semuanya itu, sifat dingin Alex pun luntur. Ia kembali menjadi Alex yang pernah Yua ingat.


...***...


Baru saja mereka sampai diatas, Alex langsung meminta maaf pada Yua karena ia menyembunyikan semua hal dari Yua.


"Aku minta maaf... Aku kira semua pelompat waktu tidak akan bisa mengingat apa yang mereka perbuat, tapi itu hanya hipotesis. Kamu termasuk orang yang bisa mengingatnya, saat-saat di masa lalu. Tapi aku lebih berharap kamu tidak mengingatnya" ucap Alex yang monohok itu.


"Masa lalu? Bagiku itu baru beberapa hari yang lalu" ucap Yua kesal. "Apa keberadaanku itu tidak berarti?" sambung Yua.


Namun, Yua mengatakan hal yang cukup ambigu bagi Alex. Apa yang Yua maksud?, keberadaannya ketika itu untuk siapa?, untuk dirinya atau untuk masa depan?. Alex pun lagi-lagi terdiam, bukan tak mau menjawab tapi tak tahu harus menjawab apa.


"Sekarang aku kembali ke masa depan tanpa sempat menyelamatkan ayah, aku bahkan kembali ke rumah kosong itu!. Sebentar lagi aku menikah dengan anak kecil yang aku jaga ketika itu!" ucap Yua


"Tapi itu takdirmu!" jawab Alex.


Mendengar Alex mengatakan dengan mudahhnya bahwa itu semua ini adalah takdir dirinya, Yua memukul kedua bahu Alex dengan tangannya berkali-kali.


"Takdirku?.... Tapi Tuhan memberiku kesempatan untuk mengubahnya!" tegas Yua. "Kenapa kamu tidak mau menolongku?" tanya Yua kembali dengan suara bergetar.


Melihat Yua yang terus-terusan menahan dirinya untuk tidak menangis itu membuat Alex ingin memeluknya. Alex berusaha untuk tidak terbawa suasana. Tapi Yua malah mendorong Alex dan menghindarinya.


"Sekarang lebih baik aku pulang, aku butuh waktu menjernihkan pikiranku" ucap Yua.


Tak ada lagi yang perlu Yua ketahui lagi dari Alex, karena dirinya sendiri sudah mengetahui jawabannya. Yua mengambil ponselnya dari dalam tasnya yang terletak di atas sofa dan segera memesan taksi online. Setelah pesanannya diterima tanpa berpamitan dengan Alex, Yua langsung menuju teras cafe dan menunggu taksinya meski harus menahan dinginnya angin malam.


...***...


Beep Beep


Tak perlu waktu lama, taksi online pesanan Yua pun tiba. Kali ini Yua memang berniat pulang, tidak seperti beberapa jam sebelumnya.


"Mbak yang tadi lagi kan ya?" tanya pak sopir.


"Oh.. iya pak" jawab Yua.


Ternyata yang menerima pesanan Yua adalah orang yang sama dengan pesanan taksi online sebelumnya. "Sekarang jadi pulang kan mbak?" tanya pak sopir lagi.


Sepertinya pak sopir takut kehilangan pelanggannya lagi hingga ia memastikan kali ini Yua tidak akan membatalkan pesanannya itu. GPS pun sudah terpasang dan taksi siap melaju ke alamat yang sudah di setting pada GPS itu.


"Iya pak... langsung jalan aja" balas Yua.


Saat taksi online yang membawa Yua mulai menjauh dari cafe dan tidak bisa Alex lihat lagi, saat itu juga ia sandarkan kepala pada dinding kaca cafe itu. Beberapa kali ia membenturkan kepalanya seperti sedang menyesali apa yang terjadi hari ini.


__________________


Terimakasih sudah membaca😊