
"Sudah sampai mbak" ucap pak sopir. "Mbak....!" sambungnya membangunkan Yua yang tertidur itu.
"Ah.." sintak Yua.
Saat Yua lihat keluar kaca mobil, ternyata ia sudah sampai di depan rumahnya. Jam ditangannya pun sudah menunjukkan pukul 22.00. Ia harus segera masuk kedalam rumah.
"Pak, ini uangnya!" ucap Yua sambil memberikan pak sopir itu biaya ongkosnya.
"Ngak usah mbak... tadikan sudah!" tolak pak sopir.
Yua merasa tak enak jika pak sopir tidak menerima uangnya kali ini karena ia sudah memberikan uang ganti rugi atas pembatalan pesanan taksi onlinenya tadi.
"Bapak anggap tip aja ya pak... Besok-besok kalau ketemu bapak lagi saya bisa minta potongan harga~" canda Yua.
Meski tetap menolaknya, pak sopir akhirnya menerima uang Yua dan berterimakasih karena sudah baik padanya. Pak sopir juga tak keberatan jika suatu saat dirinya memberikan potongan harga pada Yua meskipun tadi Yua hanya bercanda saja.
"Selamat malam mbak" sapa pak sopir sebelum akhirnya meninggalkan Yua dan melanjutkan perjalanannya.
...***...
Ssrrttt
Saat Yua membuka pintu rumahnya, hanya ada kehampaan yang menantinya. Cukup lama untuk Yua berdiri menatap sekeliling ruangan yang sepi itu. Sepi yang ia rasakan kali ini bahkan lebih sakit saat ia mengetahui ayahnya meninggal.
Hu... Ha...
Dengan menarik nafas panjang dan menghelanya, Yua melangkahkan kakinya dengan yakin memasuki rumah satu-satunya itu.
Zrrtt zrrtt zrrtt
Ponsel Yua tiba-tiba bergetar, seseorang mengirimkan pesan padanya. Saat Yua lihat siapa yang mengirimkan pesan padanya, ia cukup terkejut melihat nama Intan terpampang jelas sebagai pengirim pesan.
"Intan?" gumam Yua.
Pesan itu berisi keinginan Intan untuk menginap di rumah Yua, karena sudah lama tak bertemu dengannya. Ketika hendak membalas pesan Intan itu, sebuah motor matic parkir di depan gerbang rumahnya. Tak lain dan tak bukan itu adalah Intan yang menggunakan ojek online. Yua lalu kembali ke depan gerbang dan membukakan pintu untuk Intan.
"Hai.. Ua" sapa Intan. "Ini gue bawa martabak!" sambungnya sambil memberikan makanan manis itu pada Yua.
"Hai.. Intan" sapa balik Yua.
Intan lalu berjalan dahulu memasuki rumah Yua sedangkan Yua menutup gerbang. Rencana Yua untuk menenangkan dirinya dan berpikir jernih sepertinya harus ia tunda, mengingat tak baik untuk mengacuhkan tamu yang datang.
...***...
Mungkin setelah Yua melompati waktu, banyak hal yang berubah. Termasuk hubungannya dengan Intan. Memang Yua tidak tahu apa saja yang berubah tapi jika itu membawa perubahan yang baik, bagi Yua itu termasuk anugerah untuknya.
"Intan..." ucap Yua hendak menanyakan sesuatu padanya.
"Mmm.." balas Intan yang masih mengunyah martabaknya itu.
"I..tu, kok kamu udah lama gak kesini?" tanya Yua dengan hati-hati agar Intan tak sadar bahwa dirinya tidak mengingat apa yang terjadi setelah dirinya kembali dari masa lali.
"Iyaa..." jawab Intan.
Syukurlah pertanyaan Yua itu adalah pertanyaan yang tepat untuk Intan. Jika saja Yua bertanya Kenapa Intan ke rumahnya?, bisa-bisa Intan akan menganggapnya sakit atau amnesia lagi.
"Gue takut loe masih sedih jadi gue pikir satu atau dua minggu baru kesini lagi" tukas Intan. "Gue jadi kangen nginap disini... Apalagi bokap lo baik banget ama gue. Gue aja dianggap anak, apalagi lo yang anak kandungnya. Gue jadi ikut sedih waktu dapat kabar Om Joe pergi!" sambungnya.
Namun saat Intan hendak menyambung ceritanya lagi, ia mendadak diam dan menatap sedih pada Yua.
"Eh sorry Ua.. gue bikin lo keinget lagi" ucap Intan yang sadar kembali membahas ayah Yua dan takut membuatnya sedih.
"Iya ngak papa..." balas Yua.
...***...
Ding dong
"Lagi!" ucap Yua yang lagi-lagi dibangun paksa oleh suara bel di pagi hari.
Yua yang masih memeramkan matanya lalu meraba-raba kasur mencari Intan yang tidur disampingnya. Yua hendak menyuruh Intan membukakan pintun. Namun, tak ada Intan disampingnya. Saat ia lihat jam di layar ponselnya, ternyata sudah jam 9 pagi.
Dirinya yang masih setengah sadar itu pun lalu keluar dari kamarnya dan hendak membukakan pintu depan. Tapi sudah ada Intan yang duluan membukakan pintu untuk Arga yang ternyata datang pagi-pagi kerumah Yua.
Yua yang setengah mengantuk itu pun mendadak segar melihat betapa akrabnya Intan dan Arga. Meski sudah tidak mengantuk lagi, Yua tak langsung menghampiri mereka. Ia mengamati gerak gerik mereka berdua dari balik tiang yang ada di lantai dua di dekat kamarnya yang menghadap langsung pintu depan rumahnya.
"Pak Arga ada apa pagi-pagi?" tanya Intan.
"Saya bawa sarapan untuk Yua" jawab Arga. "Kamu menginap di sini lagi?" tanya Arga.
"Iya pak... saya nginap di sini" jawab Intan sambil tersenyum, tak lupa Intan lalu mempersilahkan Arga masuk ke dalam rumah.
Selama yang Yua amati, memang tak ada yang mencurigakan diantara mereka. Bukan berarti Yua cemburu pada Arga, hanya saja ia merasa perlu mengamati mereka lebih jauh lagi. Apalagi saat ia melihat Intan tadi, tangan Intan yang disembunyikannya dibalik badannya terlihat tidak bisa diam.
...***...
Melihat Arga dan Intan beranjak menuju ruang makan, Yua langsung menuruni tangga dan menyusul mereka ke sana. Dengan memasang muka datar dan tak tahu apa-apa Yua menyapa mereka.
"Pagi..." sapa Yua pada Intan dan Arga.
"Pagi..." balas Intan dan Arga.
Yua lalu duduk di salah satu kursi yang kosong dan duduk disamping Intan, sedangkan Arga mengambil tiga buah piring sebagai wadah sarapan yang ia bawa tadi.
"Ayo dimakan..." seru Arga pada Yua dan Intan.
Sarapan kali ini sandwich dan salad sayur buatan bu Risma.
Berbeda dengan Yua yang sedikit malas-malasan memakan sarapannya, Intan justru melahapnya dengan cepat. Padahal semalam ia sudah makan martabak lebih banyak dari Yua.
"Sorry Ua... Gue laper. Maaf pak... saya lapar~" ucap Intan meminta maaf atas ketidaksopanannya itu.
"Iya... ayo lanjut makannya" balas Arga.
Meski ada tiga orang di meja makan, tapi hanya dua orang saja yang membuat suasana sarapan meriah. Hanya Intan dan Arga. Yua sejak tadi hanya memperhatikan dua orang itu bertukar kata. Satu hal yang Yua tangkap adalah ekspresi Intan berbicara dengan Arga berbeda ketika Intan berbicara dengannya.
"Kami sejak kapan kenal sama Arga?" tanya Yua yang masih mengunyah itu.
Mendadak satu ruangan menjadi hening karena pertanyaan Yua pada Intan itu. Ekspresi Intan pun sedikit bingung, termasuk Arga. Yua sepertinya lupa untuk mengontrol kata-katanya lagi. Mungkin ada sesuatu lagi yang berubah di masa depan yang Yua tidak ketahui.
"Ua.. kan kita sejurusan, Pak Arga kan dosen kita" jawab Intan dengan nada bingung.
"Uhuk"
Yua jadi tersedak mendengar dirinya dan Intan juga satu jurusan dan tentu saja Intan mengenal Arga sebagai dosen di jurusannya.
"Yua... kamu ngak apa-apa kan? Dari kemarin-kemarin aku lihat kamu rada-rada bingung!" ucap Arga yang tengah khawatir pada Yua.
Tak bisa menjawab pertanyaan tunangannya kenapa dirinya begitu bingung belakangan ini, Yua memilih tertawa tak jelas
"Hahaha" tawa Yua lalu meninggalkan Intan dan Arga di meja makan dan kembali ke kamarnya untuk mandi.
_________________________
Terimakasih sudah membaca😊