40 Days, One Love

40 Days, One Love
Terpuruk dalam Cinta



Yua lalu memasang posisi siap untuk mendengarkan kisah Alex. Sebelum bercerita dia menarik nafas sekuat-kuatnya dan menghembuskannya perlahan hingga tiga kali.


...***...


Alex adalah anak pertama dari Ayah berdarah Belanda dan Ibunya berdarah Jawa. Namun gen sang Ayah lebih kuat mengalir dalam tubuhnya. Ia menjadi sosok pria yang tampan, tinggi, putih, dan berambut pirang.


Saat itu adalah tahun 1893. Ia bertemu dengan seorang gadis lokal yang sangat cantik. Alex berkerja sebagai tentara belanda sedangkan gadis itu adalah perawat dan mereka bekerja di tempat yang sama.


Akhirnya mereka berkenalan. Gadis itu bernama Gayatri.


"Gayatri... orang yang seperti apa dia?" tanya Yua.


Gayatri adalah gadis berkulit sawo matang, rambutnya hitam lurus, matanya bulat dan mempunyai lesung pipit. Ia juga sangat sopan dan berbicara dengan bahasa yang halus. Ia juga ramah pada siapapun. Pernah suatu ketika Alex mengalami cedera, Gayatri tidak panik namun ia dengan sigap mengobatinya dengan ramah tanpa melihat latar belakang Alex, tanpa membedakan pribumi atau asing.


Alex lanjut menceritakan hubungan mereka berdua.


Awalnya Gayatri tidak mau berkenalan dengan Alex karena ia adalah seorang tentara. Gayatri khawatir orang tuanya tidak setuju dengan hubungan mereka. Pada saat itu berteman dengan tentara apalagi yang memiliki darah belanda adalah hal tabu. Mengingat betapa kejamnya perlakukan penjajah belanda ketika itu.


"Lalu kenapa kamu bisa bertunangan dengan Gayatri?" tanya Yua.


Alex lanjut menceritakan kisahnya.


Orang tua Gayatri adalah petani kopi yang miskin. Ketika itu banyak hasil panen petani yang dirampas oleh oknum yang berseragam tentara. Itulah mengapa orang tua Gayatri tidak menyukai tentara.


Namun, cinta mereka tidak goyah meski mereka harus menyembunyikan cintanya. Setelah beberapa bulan menjalin kasih, Alex berjanji pada Gayatri untuk melamarnya dan pergi menemui orang tuanya.


Tibalah hari yang dinanti. Alex berangkat menuju kediaman Gayatri. Sudah dekat dengan rumah Gayatri, Ia melihat sekelompok preman sedang menghajar bapak-bapak. Alex lalu menghampiri mereka. Preman yang melihat Alex sangat ketakutan karena mereka mengira Alex adalah utusan pemerintah Belanda.


Alex lalu membawa bapak itu kerumahnya. Tak disangka itu adalah rumah Gayatri. Bapak itu adalah Ayah Gayatri. Sang Ayah lalu meminta maaf karena selama ini ia sudah berburuk sangka padanya. Melihat kebaikan dan ketulusan Alex, Ayah Gayatri lalu merestui hubungan mereka.


Alex lalu mencari cincin untuk Gayatri. Karena mereka sama-sama sibuk maka acara pertunangan diadakan secara sederhana dan dihadiri orang tua masing-masing.


Awal kisah pilu itu dimulai..


Alex ditugaskan untuk pergi keluar kota karena ada pemberontakan di sana. Sedangkan Gayatri dibebastugaskan karena akan segera menikah. Alex berangkat bersama rombongan tentara lainnya menggunakan kereta api.


Mereka lalu bertemu di peron kereta. Masih ada 10 menit sebelum keberangkatan. Alex berpesan pada Gayatri untuk menunggunya dan Ia berjanji akan segera pulang sebelum hari pernikahan.


"Tut.. tut.."


kereta akan segera berangkat. Alex lalu mencium kening Gayatri dan menempelkan keningnya pada kening Gayatri. Gayatripun menangis. Tak sempat Alex menyeka air matanya, ia sudah dipanggil oleh teman tentaranya.


Bak adegan-adegan di film-film.


Kereta pun berangkat. Para penumpang lalu melambaikan-lambaikan tangannya sebagai salam perpisahan. Seketika perasaan haru menyelimuti semua orang yang ada di peron kereta itu, termasuk Gayatri.


Alex yang berada di medan perang tak pernah sekalipun berhenti memikirkan pujaan hatinya itu. Hingga akhirnya Ia bisa selamat dari pemberontakan itu.


Bahagia menyelimuti hati Alex karena sebentar lagi ia akan bertemu dengan pujaan hati. Alex lalu mengunjungi rumah orang tua Gayatri. Sebisa mungkin ia mempercepat langkahnya agar cepat sampai.


Namun, ia melihat tanda kuning di depan rumah Gayatri. Lantas ia langsung berlari menerobos kerumunan.


"Apa yang terjadi pada Gayatri?" tanya Yua penasaran.


Alex sempat ragu ingin menceritakan kelanjutannya. Ia lalu menarik nafasnya dalam-dalam.


Gayatri meninggal.


"Kamu tahu, Aku bahkan tidak meneteskan air mata setetespun" beritahu Alex.


Yua yang mendengarnya hanya terdiam.


Ayah Gayatri lalu menepuk-nepuk pundak Alex. Mungkin airmatanya tidak menetes tapi hatinya benar hancur berkeping-keping. Ayah Gayatri memberitahu bahwa anaknya itu meninggal karena terkena demam Malaria. Saat itu memang musim penghujan, banyak nyamuk yang berkembangbiak. Tak hanya Gayatri banyak penduduk desa lainnya yang terkena wabah itu.


Alex pun mencoba menata hatinya. Tapi ia tak bisa melupakan Gayatri. Ia salah jalan. Alex mencoba menyembuhkan dirinya dengan cara-cara yang dilakukan oleh bangsawan Belanda. Memiliki darah Belanda memudahkan Alex mendapat akses minuman berakohol. Ia menjadi pecandu. Alex menyalahi dirinya sendiri karena tidak dapat menyelamatkan Gayatri.


Semakin hari Alex semakin terkubur dalam halusinasinya karena efek samping alkohol. Ia membayangkan bahwa Gayatri masih hidup dan berada di sisinya saat itu.


Alex juga mengabaikan tugas dan kewajibannya sebagai tentara. Ia juga ketahuan mengkomsumsi alkohol dan obat terlarang. Alex akhirnya dipecat dan dirumahkan. Setelah dipecat, Ia masih saja mengkomsumsi barang haram itu. Ayah Alex bahkan mengurungnya dikamar dan membuang semua barang haram itu.


Alex yang dikurung akhirnya sakit karena ia belum minum apapun. Ia berusaha membuka kamarnya. Pintu pun ia dobrak sekuat tenaga hingga akhirnya pintu itupun rusak. Ia berhasil keluar dari kamarnya. Badannya sempoyongan, kantung matanya berwarna hitam dan bibirnya pucat.


Orang tuanya yang mendengar kehebohan langsung berlari ke tempat Alex berada.


"Dimana Gayatri?" teriak Alex.


Ibu Alex langsung memeluk anaknya itu. Namun Alex malah mendorong Ibunya.


"Gayatri sudah senang di sana, Kamu tenanglah nak" kata Ayah Alex menenangkan anaknya.


Saat itu pikirannya tidak jernih. Mendengar sang Ayah mengatakan seolah-olah Gayatri sudah meninggal membuat Alex murka. Alex membanting barang yang ada disekitarnya, lalu menuju ke dapur. Ia mengambil sebilah pisau dan mengarahkannya pada kedua orang tuanya. Sambil mengarahkan pisaunya ia mencari minuman keras di seluruh dapur. Namun minuman itu tidak ada disana.


Alex semakin tidak dapat menahan emosinya. Ia melihat kepada ibunya namun yang ia lihat adalah wajah Gayatri. Alexpun berlari ke arah ibunya. Sadar bahwa itu bukanlah Gayatri, Alex lalu menusuk Ibunya. Ayahnya yang mencoba menghentikannya pun tak luput dari amarah Alex. Alex tak segan-segan menusuk sang Ayah.


...***...


"Seram bukan ceritaku.. Aku bahkan melenyapkan kedua orang tuaku" ucap Alex sambil tertawa.


Yua hanya menatap mata Alex dengan tatapan kosong. Ia tidak dapat membela Alex, karena apa yang Alex lakukan adalah salah.


"Menangislah.. Aku ngak bakal lihat" seru Yua.


Alex tertawa mendengar Yua memintanya menangis.


"Aku laki-laki dan aku tidak menangis" tolak Alex.


Yua tahu bagaimana perasaan ditinggalkan oleh orang yang dicintai. Ia juga bisa merasakan bagaimana perasaan Alex. Yua juga tau jika sebenarnya Alex ingin menangis. Namun semenjak kematian Gayatri, ia mengubur perasannya dalam-dalam.


Yua lalu memukul kepala Alex dengan sangat keras hingga Yucil terkejut. Ia mengambil Yucil dan mereka membelakangi Alex. Yua meminta Yucil untuk menutup telinganya juga. Yua menutup matanya dan telinganya dengan sangat kuat, sehingga ia dapat memastikan tidak melihat dan mendengar apapun.


...***...


Beberapa saat kemudian, Alex memegang pundak Yua dan tersenyum padanya.


"Sudahlah, Ayo kita turun dan memakan sesuatu" ajak Alex.


Yua lalu menghela nafasnya. Ia lega setelah melihat Alex. Meski ia tak melihat dan mendengar Alex menangis tapi Ia tahu bahwa Alex sudah menangis. Itu karena matanya merah dan basah, sedangkan suaranya sedikit serak.


______________________________


Terimakasih sudah membaca😊


Jangan Lupa Like, Comment, dan Favorite-nya.