40 Days, One Love

40 Days, One Love
Pesan



"Maaf.. aku tadi ngelamun lagi. aku baik-baik aja kok" ucap Yua.


"iya ngak apa-apa. Ayo lanjut makan" ujar Arga yang lanjut menyantap tiramisu dan hot coffe nya. Arga juga sudah memesankan tiramisu dan minuman favorite Yua, milkshake strawberry.


Namun perasaan bingung Yua tak mampu dirinya hilangkan meski sedang makan sekalipun. setiap potong tiramisu ia sendokkan ke dalam mulutnya setiap kali itu pula ia melihat sekitarnya berharap ia bertemu dengan pelayan pria itu lagi. Ia ingin menjawab rasa penasarannya dengam mata kepalanya sendiri.


"Gimana... enak?" tanya Arga.


"Mmm.. iya enak kok" jawab Yua sambil menganggukkan kepalanya dengan nada yang tidak semangat. Meskipun begitu Arga tetap membalasnya dengan senyuman.


Butuh waktu satu jam bagi Yua menghabiskan sepiring tiramisu. Ia sengaja mengulur waktu supaya bisa berlama-lama di cafe itu. Namun, harapannya bertemu pelayan itu harus ditunda, karena mereka harus segera ke venue resepsi sekarang juga.


"Ua... Kita lanjut ke venue aja, WO-nya (Wedding Organizer) sudah sampai.. ngak enak kalau mereka nunggu lama"


"Oh iya... iya ki.. kita ke sana aja sekarang..." jawab Yua sambil menyandang tasnya kembali.


"Aku bayar ke kasir dulu, kamu langusng ke mobil aja"


Arga pun langsung menuju kasir dan Yua berjalan keluar menuju mobil yang terparkir di bahu jalan.


...***...


Yua yang sudah sampai dahulu di parkiran mobil tidak langsung masuk dan menunggu Arga di dalam saja, ia malah menunggu di luar meskipun cuaca sangat terik. Ternyata di depan Arga ada dua pengunjung yang juga sedang mengantri untuk membayar tagihan, jadi Yua harus sedikit menunggu Arga lebih lama lagi.


Cuaca memang terik tapi sesekali ada hembusan angin yang mengarah padanya dan memberikan rasa sejuk. Sambil menunggu Arga ia menyenderkan badannya ke badan mobil dan melihat sekitaran cafe. Tak sengaja matanya tertuju ke arah lantai dua cafe.


Yua melihat seorang pria yang berdiri di depan jendela lantai dua itu. Badannya yang tadinya bensender pada badan mobil kini memberi jarak, ia bangkit dan berdiri tegak lurus menatap kearah pria itu. Pria yang tak salah lagi adalah pelayan yang menghidangkan tiramisu dan milkshake tadi. Yua mengenalinya karena ia ingat betul warna rambut si pelayan yang juga berwarna pirang seperti pria itu.


Matahari semakin terik membuat cahayanya terpantul tepat di samping pria itu hingga hanya sebagian wajahnya saja yang kini terlihat. Pria itu menggerakkan bibirnya seolah hendak berbicara pada Yua. Namun, butuh 3 kali pria itu mengulangginya hingga Yua memahami maksudnya. "Jangan kembali lagi... Berbahagialah!!!"


"klek"


Seketika pandangan Yua beralih kepada Arga yang sedang menutup pintu cafe. Namun, saat ia hendak melihat kearah jendela itu lagi, lagi-lagi pria berambut pirang itu menghilang.


"Kamu liatin apa?" tanya Arga sambil melihat kearah yang sama dengan Yua.


"ngak apa-apa, cuma aku liat sesuatu tapi aku lupa." jawabnya bingung.


Perjalanan pun mereka lanjutkan. Saat ban mobil itu bergerak saat itu juga sebagian ingatan mereka tentang cafe itu menghilang terutama ingatan Yua akan pria berambut pirang.


...***...


"kring kring"


Sebuah panggilan masuk di ponsel Arga. Panggilan yang tak lain dan tak bukan berasal dari ayahnya, Pak Roy. Arga lalu memangsang airbudnya karena masih menyetir lalu ia menerima panggilan sang ayah.


"Ga... kamu dimana? Ayah sudah di venue! kamu jangan sampai terlambat!!" ucapnya yang sedikit terdengar marah.


"bai..." belum sempat Arga menjawab, Pak Roy sudah mengakhiri panggilan. "tet....."


"Ayah kamu?" tanya Yua.


"Itu.. tadi ayah aku nelpon, beliau cuma ingatin kita agar ngak terlambat sampai di sana" Arga lalu meminta izin Yua untuk sedikit menaikkan kecepatan agar mereka bisa sampai di sana tepat waktu.


...***...


Akhirnya setelah melalui perjalanan yang panjang mereka sampai di venue untuk resepsi mereka. Yua dan Arga lalu bergegas langsung menuju ballroom hotel itu sesampainya mereka di depan hotel.


Ayah Arga, Pak Roy, sudah menunggu mereka di depan pintu venue dengan berkacak pinggang seakan hendak mencengkram orang yang akan ditemuinya. Seperti yang diduga, saat mereka sampai dan memberi salam pada Ayah Arga, sebuah tamparan mendarat di pipi kanan Arga.


"Plakkk"


Bunyi tamparan yang keras itu mengagetkan Yua dan juga orang-orang yang berada di sana. Detik-detik itu pun membuat semua orang yang berada di sana berhenti beberapa detik menyaksikan betapa pedihnya tamparan itu mengenai pipi Arga.


"Kamu ngak apa-apa?" tanya Yua sambil memeriksa pipi Arga.


Pak Roy lalu mendekati Yua, menepuk kepalanya dan tersenyum. Arga dengan sigap menghalau tangan ayahnya dan menarik Yua menjauhi sang ayah.


"Yah.. maaf kami terlambat. Ayah pasti sibuk jadi kita langsung liat venuenya di dalam" ucap Arga yang tengah menggandeng Yua. mereka lalu berjalan mendahului sang Ayah.


Pak Roy terlihat kesal melihat anak dan calon menantunya itu mengabaikannya dan berjalan di depannya. Namun Pak Roy kembali memperlihatkan senyumannya dan berkata "Semua kembali pada rel-nya masing-masing".