
Tak terasa sudah setengah jam permainan mereka berjalan. Kini mereka masuk ke ronde 4.
Ronde 4
Kini Alex kembali memulai permainan dengan mengambil kartu untuk pertama kali. Alex mendapat sekop 6 begitu juga Yua yang mendapat hati 6. Mereka mendapatkan kartu bernomor sama, maka mereka harus mengambil kartu kembali agar permainan bisa dilanjutkan
"Lex.. kocok lagi aja!" seru Yua.
Tumpukan kartu remi yang tersisa itu akhirnya dikocok kembali seperti yang Yua minta dan setelah dirasa cukup, Alex kembali mengambil kartunya dan Yua mengambil setelahnya.
Kini Alex mendapat wajik 4 dan Yua mendapat....
"Yesss... Lucky dapet sekop 7" sorak Yua.
Lagi-lagi Yua yang berhak mengajukan truth or dare.
"Truth or dare?" tanya Yua. "Truth" jawab Alex.
Satu pertanyaan yang terlintas dalam benak Yua, Ia ingin mengetahui apakah Alex mempunyai suatu harapan?.
"Kalau punya satu permohonan yang bisa dikabulin, kamu mau minta apa?" tanya Yua.
Pertanyaan sederhana yang pasti bisa dijawab oleh siapapun termasuk Alex, begitulah yang dipikir Yua. Tapi lagi-lagi Yua menginjak ranjau yang jelas terlihat.
"mmmmm..." Alex masih memikirkan jawaban dari pertanyaan Yua.
Melihat Alex yang belum menjawab pertanyaannya ia menjadi tak berani melihat wajah Alex dan hanya menundukkan wajahnya. "Apa Alex marah?" pikir Yua dalam hati.
"Tidak usah tegang, aku tidak masalah kamu bertanya apapun!" ujar Alex
"Maaf Aku bukan maksud begitu" pinta Yua dari lubuk hatinya yang paling dalam.
Alex lantas menegapkan bahunya dan meluruskan badannya. Kedua tangannya pun ditepukkan pada pahanya. Sambil mengarahkan pandangan matanya pada Yua yang sedang menundukkan mukanya, Alex akhirnya akan menjawab pertanyaan Yua.
"Kalau kamu bisa kembali ke tahun asalmu, aku harap bisa bertemu kamu disana" jawab Alex yang membuat kepala tertunduk Yua kembali tegak dan melihat wajah Alex yang tersenyum itu.
Jawaban sederhana yang siapapun mendengarnya akan tersentuh, merasa bahwa ia di masa depan bisa menjadi pribadi yang bisa dirindukan oleh orang lain.
"sungguh? syukurlah... aku pikir kamu bakal jawab 'mati'! ungkap Yua yang lega ketika mengetahui Alex yang tidak berpikir untum mati.
"Mati...?" tanya Alex.
Ya, Yua berpikir satu-satunya hal yang diinginkan Alex adalah menutup mata untuk selamanya karena ia sudah hidup lebih dari 100 tahun. Pasti banyak hal yang sudah terjadi, dan fakta bahwa Alex pernah mencoba membunuh dirinya sendiri maka "mati" adalah satu-satunya yang diinginkan Alex saat ini.
"Aku sudah menyerah untuk mati. Jadi jangan anggap aku selemah itu, bukankah hidup lebih baik dibanding mati?" tanya balik Alex.
Yua hanya termenung mendengar pertanyaan Alex yang menpertanyakan mana yang lebih baik hidup atau mati. Bagaimana ia akan mengetahuinya, ia saja baru hidup 25 tahun dengan sedikit drama yang terjadi, berbeda dengan Alex yang sudah hidup lebih dari seabad itu.
Ronde 4 berakhir akhirnya berakhir dengan Alex yang berhasil mendapat tambahan poin karena berhasil menjawab pertanyaan Yua, dan kini skor mereka seimbang yaitu 2-2.
Akhirnya, karena posisi skor saat ini seimbang, maka ronde 5 adalah ronde penentu. Ronde penentuan siapa yang kalah dan siapa yang menang, dan keinginan siapa akan diwujudkan oleh yang kalah
"Ingat loh ya, kalau aku menang kamu bakal lakuin apa yang aku mau!" peringatan Yua untuk Alex yang ia yakin bahwa dirinya akan memenangkan permainan ini.
"Iyaaa.." jawab Alex. Alex lau mengambil sebuah kartu pertanda ronde 5 sudah dimulai.
Ronde 5
Alex menunjukkan kartu yang ia ambil. Alex mendapat kartu As hati, kartu yang lumayan kesempatan menangnya.
Meski Alex sering mengambil kartu untuk pertama kali di setiap ronde, tidak ada jaminan ia akan memenangkan permainan ini. Itu, karena Yua sering mendapat kartu yang lebih bagus dari Alex.
"hehehehe" Yua tertawa menyeramkan setelah melihat kartu yang ia ambil. Tawa yang mencurigakan bisa dipahami bahwa sebenarnya ia mendapat kartu bagus dan kesempatan menangnya sangat tinggi. Dengan penuh kebanggan ia menunjukkan kartu terbaik yang pernah ia dapat.
"KINGGGGG!!!!" sorak Yua yang menggelegarkan seisi cafe. Alex yang berada didepannya pun menutup kuat kedua telinganya.
"Truth or Dare" tanya Yua.
"mmmm..." gumam Alex dan diseertai jeda yang panjang. "Ih... Ayo!" pinta Yua agar Alex cepat-cepat memberikan jawabannya.
Tidak disangka Alex akan langsung memilih dare. Mungkin Alex tau pertanyaan dari Yua akan membuatnya kalah.
"DARE" jawab Alex. Alex sepertinya bingung harus memilih yang mana. Ia tidak ingin mendapat pertanyaan aneh lagi dari Yua. Ia juga sebenarnya tidak mau memilih Dare karena pasti permintaan Yua akan jauh lebih aneh.
"Kalau gitu nari samba dong kan dari Belanda!" pinta Yua sambil cengingiran.
Benar saja... Permintaan Yua memang aneh. Ia meminta Alex untuk menari samba. Siapa yang tidak akan malu jika harus menari di depan orang yang baru dikenalnya itu. Tapi bukannya tari samba itu dari Brazil?.
"Yang benar saja, aku tidak bisa menari... Tapi.., Kamu itu sebenarnya bodoh atau ngak tau?, Tari Samba bukan berasal dari Belanda tapi berasal dari Brazil!!!" koreksi Alex.
"Yaudah bukan samba tapi terserah bebas mau nari apa aja!" pinta Yua lagi.
Yua keukeh meminya Alex untuk menari di depannya. Karena dengan memilih Dare, mau tidak mau Alex harus melakukan apapun yang Yua minta termasuk menari. Tapi, Alex masih menolaknya, meski bebas untuk menari apapun.
Yua tak mau tinggal diam. Setan dalam tubuhnya kembali membisikkan sesuatu yang sangat berbahaya. Yua pikir ini adalah kesempatannya untuk membuat Alex malu dan mengakui kekalahannya.
"Yaudah ganti deh.. gimana kalau kamu ngomong ke aku bilang 'KAMU CANTIK HARI INI.. LILY-KU SAYANG!' " pinta Yua sambil mempraktekkan bagaimana ekspresi yang harus Alex tiru.
"eh cand___" sambung Yua yang kemudian dipotong oleh Alex.
"Kamu cantik hari i___" sebut Alex meski tidak sesuai dengan arahan Yua, hingga akhirnya harus berhenti karena Yua menutup mulut Alex dengan kedua tanganya.
"STOOOOPP.....jangan dilanjutin" sorak Yua mencegah Alex mengatakannya lebih jauh lagi.
Ya.. sebenarnya Yua hanya bercanda, Ia tak benar-benar berniat menyuruh Alex mengatakan hal itu. Alex sangat kaku dan serius jadi dengan santainya ia menuruti dare yang Yua suruh tanpa pikir panjang.
"Besok-besok kalau aku becanda jangan ditanggepin dong" celetuk Yua.
"Ihh.... kok jadi orang serius banget, Lex. Kan canda doang!, Malu tau ah!" keluh Yua lagi dan lagi, kali ini sambil menutup muka dengan kedua tangannya yang baru saja menyentuh bibir Alex itu.
Sadar tangannya baru saja menyentuh bibir Alex, dengan tangan yang masih menutupi wajahnya itu, membuat telinga dan wajahnya terlihat memerah. Memerah entah karena malu atau karena kepanasan.
Yuapun dengan berat hati akhirnya mengakui kemenangan Alex atas skor 2-3. Yua juga berkewajiban mengabulkan keinginan Alex sesuai janji mereka di awal permainan.
"Aku kira aku yang bakal menang" gumam Yua sambil menangis.
Sambil menghapus airmata kekesalannya itu, Ia memandangi Alex san menanyakan apa yang Alex inginkan.
"Jadi kamu mau apa?" tanya Yua. "duh.. jangan bilang aku harus segera ke masa depan!, template banget" gumam Yua.
"Kamu simpan saja dulu, kalau waktunya sudah tepat, aku bakal bilang apa yang aku mau!" jawab Alex.
Berarti Alex memang mengharapkan sesuatu tapi bukan untyk dikabulkan sekarang. Yua tak masalah dengan permohonan Alex yang harus ditunda untuk saat ini, setidaknya sudah cukup sportif mengakui kekalahannya itu. dengan ini permainan truth or dare berakhir.
"huft" ternyata bermain truth or dare hanya menghabiskan waktu satu jam saja. Masih ada waktu dua jam lagi sebelum Joe menjemput Yua. Yua lalu melirik kearah jendela dan jam dinding. Diluar langir sudah mulai gelap dan jam sudah menunjukkan pukul 18.10.
Yua membukan jendela yang ada dilantai dua itu. Ia merasakan angin senja berhembus dingin, ia juga melihat langit yang mulai menggelap, suara burung gagak juga terdengar jelas, dan dari arah timur juga sudah terlihat satu bintang yang berkilau.
"Lily.. Ayo ikut aku lewat sini" Alex memanggil Yua yang sedang asik melihat keluar jendela itu. Alex mengajak Yua melewati anak tangga yang menuju keatas. Bukan menuju sebuah ruangan melainkan menuju atap.
Atap di atas cafe ini datar seperti atap sekolah atau atap kantor bertingkat. Atap yang berukuran 2mx2m itu tidak terlalu besar atau sempit hanya untuk mereka berdua.
"mau ngapain di sini?" tanya Yua.
Terimakasih sudah membacaā¤
Jangan lupa tinggalin jejak yaš
Jangan lupa buat like, comment, dan favoritenyaš