
"Celamat ciyang" suara lucu Yucil mampu memikat setiap pelanggan yang baru saja masuk ke dalam cafe. Tak sekali pelanggan yang mencubit pipinya yang tembemnya itu. Sebentar lagi Arga juga akan pulang sekolah, Yucil bisa istirahat dan bermain bersama Arga.
"Lucu banget...mbak pasti mamanya ya?, soalnya mirip banget!" seorang pelanggan mengatakan itu pada Yua. "iya... ini mama aku" sambar Yucil sambil memeluk kaki Yua. Yua akhirnya tak bisa menyanggah pernyataan para pelanggan karena tak ingin membuat Yucil kepikiran.
...***...
"Miss Yu, aku datang" sapa seseorang yang kedatangannya sudah ditunggu sejak tadi. Ya... Arga baru saja pulang dari sekolahnya dan langsung menuju cafe.
"Dia siapa?" tanya Arga sambil menunjuk ke arah Alex yang sedang membersihkan meja.
"Kamu ngak ingat dia? ngak pernah lihat?" tanya Yua memastikan apakah benar orang-orang yang keluar dari cafe ini akan langsung melupakan keberadaan Alex.
"Tidak" jawab Arga singkat.
"mmm, kalau begitu panggil saja dia Alex! Sekarang kamu makan tiramisu ini dulu dan ajak Yucil main di atas" minta Yua pada Arga sambil memberikannya sepiring tiramisu dan milkshake coklat. Yua lalu meminta Yucil untuk istirahat dan tugas magangnya hari ini sudah selesai.
"Terimakasih sudah menyambut pelanggan hari ini, pasti kamu capek! sekarang main bareng sama Arga di lantai atas ya!" Yua dan Yucil lalu saling menepuk tangannya satu sama lain menandakan tugas Yucil hari ini sudah berakhir meskipun baru sebentar.
***
Setelah dirasa tidak ada pelanggan yang datang, Yua lalu menghampiri Alex sambil membawa surat yang diduga sebagai pemicu itu. Jika semua lancar besok ia akan bisa kembali ke masa depan.
"Lex.. ini suratnya, terus apa yang harus aku lakukan?" Alex lalu mengambil surat itu dan melihat kondisinya.
"Biasanya di setiap pemicu akan ada petunjuknya. Beberapa kasus dari pemicu itu keluar sebuah cahaya yang akan membawa kita melewati waktu dan sampai di tahun tujuan, ada juga kasus dimana para peloncat waktu mereka adegan saat mereka kembali ke masa lalu" jelas Alex yang ia ketahui dari beberapa jurnal ilmiah.
"Berarti aku harus nunggu ada cahaya yang keluar dari surat ini, lalu kapan cahaya itu muncul? atau kalau mau lebih cepat aku reka adegan gitu?" tanya Yua penasaran.
"Aku tidak tau.. kalau aku tau aku tidak akan menjadi tahanan waktu" jawabnya yang membuat Yua tercengang.
Alex dari awal memang tidak ingin kembali ke masanya dan sudah bertekad menjadi tahanan waktu, wajar saja dia tidak tau cara kerja pemicu. Yang ia tahu hanya cara berdasarkan jurnal ilmiah yang belum tentu kebenarannya. Yua juga adalah peloncat waktu pertama yang ia temui, hingga ia tak punya pengalaman sendiri melihat peloncat waktu pulang dengan pemicunya.
"Astaga aku kira kamu paham makanya kamu desak aku suruh pulang ke masa depan terus. Ya sudahlah!!! ayo coba segala cara! kalau tidak di coba tidak akan tahu!!!" Yua yang kesal lalu mengambil surat itu dari tangan Alex.
Yua meminta izin Alex untuk tidak bekerja selama dua jam dan juga mina tolong untuk menjaga Yucil dan Arga selama ia mencari petunjuk dari surat itu. Surat itu ia letakkan di atas meja kosong dan ia akan mrmandanya hingga cahaya yang dikatakan Alex muncul.
Namun dua jam berlalu tak ada satupun cahaya yang muncul.
"Arrrggggggg" suara putus asa Yua yang tak percaya ia sudah menatap surat itu dua jam lamanya namun tidak ada hasil, matanya pun kering dan memerah. Mungkin Yua harus mencoba cara yang kedua dengan mereka adegan seperti saat sebelum ia tiba di tahun 2000.
"Lily, bagaimana?" tanya Alex. "Entahlah... mungkin cahaya itu muncul lain kali, mungkin saja muncul disaat yang tepat atau aku akan disini selamanya" jawab Yua putus asa.
...***...
"Maaf atas kejadian tadi malam! Pintu baru sudah saya siapkan dan juga ada papan nama pesanan Lily untuk bos Anda. Kalau boleh bisa panggilkan bos anda? karena kejadiannya malam, jadi saya sedikit lupa bagaimana mukanya hahaha..." ucap Joe yang tidak tau bahwa orang yang ada di depannya adalah orang yang sama ia temui kemarin malam.
"Joe...." sela Yua.
"Biar aku saja yang menerimanya. Kalau bisa pintu dan papan namanya langsung dipasang saja. Tapi, aku ada urusan sebentar" Yua lalu meninggalkan Joe dan karyawannya yang siap-siap bekerja. Ia menarik Alex ke dapur.
"Lex.. Maaf!! sepertinya Joe tidak ingat kamu!" ucap Yua.
"Tidak masalah, aku sudah terbiasa" jawab Alex.
"Oh.. iya!! aku sebenarnya punya hadiah buat kamu, tapi Joe malah kasih tau duluan. Aku tu bikin papan nama untuk cafe ini. Sebenarnya sih itu kenang-kenangan dari aku, karena aku kira bakal balik ke masa depan hari ini, eh ternyata gak jadi..." jawabnya dengan sedikit malu-malu. Yua jarang memberi sesuatu pada orang lain makanya ia sedikit malu takut hadiahnya tidak disukai Alex.
"Terimakasih" ucap Alex yang senang Yua memberinya sebuah hadiah meskipun tujuannya sebagai kenang-kenangan. Yua yang mendengarnya pun langsung tersipu malu. Ia jarang mendengar orang lain berterimakasih padanya.
...***...
Yucil dan Arga langsung turun kebawah ketika mendengar suara Joe yang sibuk mengarahkan karyawannya memasang pintu dan papan nama.
"Ayah...." sorak Yucil sambil menuruni lantai dua hingga sampai keteras cafe. "Om.." sapa Arga dari balik Yucil.
"Kalian hari ini jadi anak yang baikkan?" tanya Joe yang memastikan mereka tidak membuat repot Yua.
"aku tadiy nyambut cemua yang datang, seperti ini...." cerita Yucil sambil memperagakan caranya menyambut tamu "celamat siyang" , sapaan yang mengemaskan. Joe tersenyum lebar melihat putri kecilnya sudah begitu pintar, tak lupa ia belai kepalanya dengan lembut agar putrinya itu senang.
***
Yua yang sudah selesai berbicara dengan Alex kembali ke teras dan menemui Joe. Pintu cafe yang baru sudah di pasang, begitu juga dengan papan nama yang sudah terpajang di atas pintu.
"Joe.. udah semua?" tanya Yua.
"Sudah" jawabnya singkat. "Mukamu kok kurang semangat?" tanya Joe lagi.
"Biasalah... aku tadi coba pakai surat itu buat pulang, tapi masih belum bisa" Yua tak tau kenapa Joe tau ia sedang tak semangat, tapi setidaknya ia punya Joe tempatnya bercerita.
Joe merasa tidak perlu bertanya lebih pada Yua yang sedang tak semangat itu, jika sudah tiba di rumah mungkin ia bisa menanyakannya. Ia lalu berbalik badan dan duduk menjongkok menghadap Yucil dan Arga.
"Ayah.. balik ke kantor dulu, kalau ada apa-apa telepon ayah. Arga... Om titip Yucil ya" pesan Joe pada mereka berdua.
"Aku kan ada di sini, jadi tidak usah khawatir. Yucil dan Arga juga nurut anaknya" ucap Yua yang merasa Joe tak percaya dengan pengawasannya. "Jangan khawatir, jika terjadi apa-apa akan langsung aku kabari" sambungnya meyakinkan Joe.