
Setelah bekerja seharian, Joe akhirnya bisa pulang meski sedikit lewat dari jam 8 malam. Sesuai janjinya dengan Yua, Ia akan menjemput Yua di cafe tempatnya bekerja.
Selain itu, Joe juga penasaran dengan rupa pemilik cafe. Untungnya hari ini Joe membawa mobilnya ke pabrik, Ia jadi bisa dengan cepat menjemput Yua dan bertemu pemilik cafe bernama Alex itu.
Saat ini Alex dan Yua masih berada di atap. Tiba-tiba.... semua lampu yang ada di kota padam membuat suasana mendadak hening. Tak ada yang terlihat, semuanya pun menjadi gelap sejauh mata memandang, kecuali hanya langit malam yang menjadi lebih terang.
"Mati lampu ya?" tanya Yua.
"Sepertinya iya.. Kita lebih baik turun!" jawab Alex. "Lagian sudah 2 jam kita di sini, besok kamu harus kerja!" sambungnya.
Benar juga, sudah dua jam mereka di atap ini. Yua jadi teringat jika ia memiliki janji dengan Joe yang akan menjemputnya jam 8 ini.
"Oh iya, hp aku di mana?" gumam Yua yang teringat Joe akan menjemputnya pulang. "Ohhh...Aku ingat!!! tadi aku letak di dalam tas!" jawabnya sendiri sambil menepuk jidatnya itu.
...***...
Karena lampu mati maka untuk turun ke bawah mereka harus berhati-hati. Anak tangga yang mereka lewati juga sangat sempit dan kecil memaksa mereka harus turun satu persatu. Agar tidak terjatuh atau tersandung, Alex pun menuntun Yua dari depan sambil memengangi tangannya.
"Hati-hati! turunnya lambat-lambat aja!" Alex sedang mengarahi Yua yang sedang ragu-ragu melangkah itu.
Kejadian yang tak bisa dihindari saat mati lampupun akhirnya terjadi. "Awww" pekik Alex yang kakinya baru saja diinjak Yua.
Tapi bukannya minta maaf, Yua malah mengomel karena pekikan Alex menganggu konsentrasinya."Ih.. jangan berisik! aku jadi ragu!, gak ada senter atau apa gitu?" celetuk Yua tanpa memperdulikan kaki Alex yang diinjaknya itu.
Sayang sekali, saat ini Alex tidak punya senter maupun lilin. Satu-satunya cahaya yang ada hanya yang berasal dari layar ponsel miliki Alex dan itupun tidak terlalu terang. Mau tidak mau Yua harus turun dengan arahan dan bantuan Alex. Setelah menuruni tangga yang menegangkan itu, Yua akhirnya berhasil sampai di bawah dengan selamat meski Alex harus mengorbankan kakinya diinjak berkali-kali.
Segera Yua mencari ponselnya di ruangan ganti setibanya di lantai satu. Tapi karena tak ada lampu ia hampir tersandung di setiap sudut saat melangkah ke sana. Sedangkan Alex mencoba mencari sesuatu yang bisa menghasilkan cahaya dengan bantuan sinar dari layar ponselnya yang temaram itu.
...***...
Kini posisi Joe sudah di depan cafe.Dari dalam mobil Joe mencoba menghubungi Yua namun ia tidak mengangkatnya Sekali dua kali Joe coba namun tetap dengan hasil yang sama. Ia juga mencoba untuk membuka pintu yang ada di depannya, namun tidak bisa karena sudah dikunci dari dalam. Untuk terakhir kalinya Joe mencoba menelpon Yua kembali, jika kali ini ia juga tidak menjawab, maka Joe berniat untuk membuka pintu cafe itu secara paksa.
"kring kring kring"
terdengar bunyi ponsel dari dalam tas Yua yang terdengar hingga ke tempat Yua berdiri saat ini.
Berkat bunyi ponsel yang keras dan cahaya dari layar ponsel, akhirnya Yua bisa menemukan ponsel yang ia cari-cari sejak tadi.
📞"Hallo! Lily.. kenapa baru di angkat! aku sudah di depan pintu cafe tapi tidak bisa di buka!" ucap Joe.
"Maaf... tadi aku sedang di atap jadi lupa bawa hp" jawab Yua yang sambil berjalan ke luar untuk membukakan Joe pintu.
Namun, karena tergesa-gesa Yua malah tersandung sebuah kursi yang ada di depannya.
"Aaaawwwww" teriak Yua.
Baik Joe dan Alex sama-sama kaget mendengar Yua yang berteriak itu. Alex yang sedang berada di dapur bergegas ke kamar ganti dan melihat Yua yang sudah terduduk di lantai sambil memegangi kakinya yang berdarah.
"Lex, Joe ada di luar, bisa tolong bukain dulu pintunya?" pinta Yua sambil menunjuk jari telunjukknya ke arah pintu cafe.
Bukannya membuka pintu untuk Joe, Alex malah merobek bajunya dan mengikatkannya di kaki Yua yang terluka agar pendarahannya berhenti.
"Duaaar"
Terdengar bunyi keras dari depan cafe dan disusul suara langkah kaki seseorang yang masuk kedalam cafe. "Itu pasti Joe!" ucap Yua.
Saat Alex hendak menghampiri Joe, ternyata Joe sudah ada di depan mereka dengan membawa senter. Namun, tanpa angin tanpa hujan Joe mendaratkan sebuah pukulan keras tepat di pipi Alex hingga Alexpun tersungkur.
"Kamu mau ngapain?" bentak Joe. Joe mengira bahwa Alex hendak menyakiti Yua makanya ia langsung mengentikan pergerakan Alex dengan kepalannya.
"Tik"
Semua lampu kemudian menyala menyebabkan siapapun yang berada disana kesilau-an hingga mereka reflex memejamkan matanya, karena cahaya lampu itu tiba-tiba masuk ke dalam retina mereka tanpa adanya aba-aba.
Saat semua kembali normal, Joe terkejut melihat kaki Yua yang terbalut kain dan Alex yang tersungkur di lantai.
"Joe..." panggil Yua.
"Kamu baik-baik saja?" tanya Joe yang segera menghampiri Yua.
...***...
Mereka bertiga lalu duduk dengan saling berhadapan di tengah cafe yang pintunya sudah rusak. Mereka hendak meluruskan apa yang sebenarnya terjadi. Sambil mengkompres pipi Alex yang memar itu, Yua menyuruh Joe untuk minta maaf.
"Tidak perlu.. saya harusnya yang minta maaf" ucap Alex. Alex merasa jika ia tadi mendengar permintaan Yua untuk segera membuka pintu semua ini pasti tidak akan terjadi.
"Itu tidak benar.... Maafkan saya!! Saya salah paham dan memukul anda, saya minta maaf juga merusak pintu cafe ini. Saya akan mengantinya besok dengan yang baru" ucap Joe yang tetap menyampaikan permohonan maafnya meski Alex melarangnya.
Kebetulan di pabrik Joe juga membuat pintu, Ia bisa memberikannya pada Alex dengan percuma. Untuk saat Joe menyarankan untuk membuat pintu darurat cafe dari terpal agar tidak ada yang masuk dan Joe yang akan mengurus semuanya.
Setelah semua kesalapahaman selesai dan pintu darurat selesai dibuat, Yua dan Joe pun pamit pulang dan masuk ke dalam mobil. Mereka juga harus segera menjemput Yucil karena sudah jam 10 malam, terlebih Risma juga sedang kerepotan saat ini.
...***...
"Aku minta maaf tadi sudah membuat kehebohan" ucap Joe yang sedang menyetir. Ia sekali lagi meminta maaf atas kejadian tadi, Ia tak sengaja merusak pintu karena khawatir setelah mendengar jeritan Yua dari ponselnya.
"Iya.. tidak apa, aku tau kamu pasti khawatir" jawab Yua.
"Ngomong-ngomong, jadi itu bos kamu, Alex?" tanya Joe.
"Iya" jawab Yua sedikit ragu. "Kamu ingat wajahnya?" tanya Yua penasaran, kenapa Joe mengingat Alex.
"Mmmm... sepertinya aku sedikit lupa, mungkin efek mati lampu, jadi waktu lampunya hidup sedikit silau jadinya aku tisak begitu ingat" Jawab Joe yang berusaha keras mengingat wajah Alex.
Yua tidak bisa memberitahu Joe tentang indentitas Alex yang seorang tahanan waktu itu. Agar Joe tidak membahas tentang Alex lebih jauh lagi, Yua pun memutar otak memikirkan pertanyaan yang bisa mengalihkan perhatian Joe.
"Oh iya.. Kamu kenal sama Pak Roy, suami Risma?" tanya Yua.
"Iya... kenal!" jawab Alex. "Memangnya kenapa?" tanya Alex lagi.
"Dia tadi datang ke cafe dan menyuruh Risma dan Arga berangkat ke Inggris 3 hari lagi. Aku sih biasa aja, tapi ada yang aneh sama Pak Roy itu!..." cerita Yua. "Dia itu orang yang bagaimana?" tanya Yua penasaran.
Joe lalu mendeskripsikan Pak Roy sebagai seorang yang ambisius. Selain itu Yua juga mendapat fakta bahwa Joe adalah mantan pegawai sekaligus sahabat Pak Roy ketika bekerja di perusahaan mertua Pak Roy yang sekarang. Meski usia mereka berbeda jauh tapi saat itu mereka seperti saudara dan saling menyapa dengan nama panggilan masing-masing.
"Tapi kok aku takut liat dia.. bahkan tadi itu matanya melotot liat Yucil. Seramlah pokoknya!" ucap Yua yang merasa merinding mengingat tatapan mata Pak Roy itu.
"Mungkin Roy masih marah, karena beberapa tahun lalu aku pernah mendapat proyek besar dan meraih gelar pegawai of the year mengalahkan Roy yang notabenenya adalah seniorku" ujar Joe.
Joe saat itu memang masih muda dan baru saja lulus kuliah diusianya yang baru menginjak 21 tahun. Tapi ia adalah pegawai yang rajin, bertanggung jawab dan jujur hingga berhak mendapat gelar pegawai of the year.
Yua lalu menyimpulkan mungkin ada sesuatu yang terjadi antara Joe dan Pak Roy yang tidak disadari Joe, karena itu hingga hari ini Pak Roy bersikap dingin pada Joe sehingga tak heran Pak Roy menatap Yucil dengan tatapan tajam.
...***...
Setelah menempuh perjalan kurang lebih 15 menit akhirnya mereka sampai di depan rumah Arga dan hendak menjemput Yucil.
"Ding Dong"
Tak lama kemudian Risma membukakan pintu dan mempersilahkan mereka masuk.
"Yua sudah tidur.. tadi dia menangis gara-gara Arga dan sekarang mereka sudah baikan. Dia juga minta untuk hari ini tidur di kamar Arga" ceritaRisma sambil membawakan mereka teh hangat.
Karena itu permintaan Yucil, Joe pun mengizinkan Yucil menginap dan tidur di samping Arga. Ini juga akan menjadi kenangan bagi Yucil dan Arga karena sebentar lagi mereka akan berpisah.
Sebelum mereka pulang, Yua ingin melihat sebentar kondisi Yucil dan menyelimuti Yucil dengan benar. Yucil kalau tidur memang suka membuang selimutnya dan membiarkan nyamuk mengingitnya. Saat hendak menyelimuti Yucil, Yua melihat ada bekas luka di kaki Yucil persis di tempat kakinya terluka.
"Luka.. sama kayak luka ini" gumam Yua. Yua lalu cepat-cepaf memanggil Joe untuk melihat kaki Yucil.
Tidak salah lagi, ini adalah efek dari sharing life dimana jika Yua terluka maka Yucil juga akan terluka, meskipun yang terjadi pada Yucil hanya muncul bekas luka saja.
"Apakah seberbahaya ini jika aku masih ada di sini?" gumamnya dalam hati.
____________________
Selamat membaca❤
Jangan lupa like, comment dan favoritenya😉