
Perih masih terasa di pipi Arga karena tamparan sang ayah, namun berkat Yua di sisisnya rasa sakit itu perlahan menghilang tanpa ia sadari. Memasuki ballroom mereka disambut oleh team Wedding Organizer terkenal dengan reputasi yang sangat tinggi karena keberhasilan mereka mewujudkan pernikahan yang diimpakan semua pengantin.
"Selamat siang..Pak Arga dan Bu Yua" ucap Bu Kartika, perwakilan marketing dari WO.
"Selamat siang" sapa bergilir Arga dan Yua pada Bu Kartika.
Setelah berkenalan mereka lalu berkeliling ballroom lalu menyimak presentasi dari Bu Kartika menyampaikan rencana dan bayangan seperti apa dekorasi, menu jamuan makanan, dan keperluan lain saat resepsi nanti.
"Saya ingin dekornya sederhana saja" ucap Yua yang menghentikan presentasi Bu Kartika.
"Sederhana?" tanya Bu Kartika pada Yua memastikan seperti apa maksud sederhana yang Yua inginkan.
Sambil menundukkan kepala, Yua mengutarakan apa yang ia inginkan. Ia ingin dekor pesta ini tak terlalu mewah meski banyak tamu yang akan datang. Satu-satunya alasan ia tak ingin pesta ini terlalu mewah adalah kepergian ayahnya yang belum genap satu bulan.
"Tapi... Pak Roy ingin pesta ini terlihat mewah dan menjadi pesta terbesar yang pernah WO kami selenggarakan" balas Bu Kartika yang sepertinya tak dapat menerima permintaan Yua.
"Apa tidak bisa dipertimbangkan, masih ada waktu 3 minggu sebelum hari resepsi" ujar Arga meyakinkan Bu kartika kembali bahwa masih ada waktu untuk mempersiapkan dekor kembali.
Bukan jawaban yang Arga terima tapi tatapan tajam sang Ayah yang kini berada di belakang Bu Kartika. Perlahan Pak Roy berjalan ke depan menghampiri mereka lagi dan menggantikan Bu Kartika berbicara. Sudah bisa ditebak apa yang akan diucapkan Pak Roy. Ketidaksetujuanya akan ide dan permintaan anak dan calon mantunya itu tampak jelas dari raut mukanya. Akhirnya Pak Roy dengan tegas menolak permintaan mereka.
"Tidak ada yang perlu diubah. Kalian sudah turuti saja apa yang sudah dirancang WO. Ayah sudah keluar uang banyak!!!" bentak Pak Roy.
Suasana saat ini pun mendadak tegang kembali. Tak bosan-bosannya kedua ayah dan anak membuat orang-orang disekitarnya menjadi takut. Saat di depan ballroom tadi Arga tidak bisa melawan namun kini amarahnya sudah mencapai ubun-ubun.
"Ini pernikahan kami, kenapa kami tidak boleh memberikan usul?? Kalau begitu Ayah saja yang menikah!!! aku tahu banyak wanita selingkuhan ayah. Nikahi saja mereka!!" Kalimat yang tak terduga akan keluar dari mulut seorang Arga yang terkenal akan kesopanan dan lemah lembutnya.
"Plaakk"
Tamparan kedua yang kembali mendarat di pipi Arga. Sudah pasti kata-katanya itu akan membuat sang Ayah murka tapi Arga dengan lantangnya mengatakan hal itu. Tak hanya tamparan, Pak Roy yang kesal itu juga menggenggam kerah baju Arga dan sedikit mengangkatnya. Sambil mendekatkan mukanya ia berpesan untuk menuruti semua perintahnya. "Kamu jangan main-main, turuti saja perintah ayah. Sekarang kalian pulang dan kembali lagi kesini di hari pernikahan. Tak ada gunanya kamu ada disini hanya merepotkan saja".
Tanpa berkata apapun Arga melepaskan genggaman ayahnya. Ia akan menuruti semua perintah ayahnya karena ia tak ingin membuat keributan yang lebih besar lagi di hadapan Yua. Ia mencoba untuk mengontrol emosinya kembali dan mengajak Yua untuk pergi dari hotel ini.
...***...
"Maaf gara-gara aku lagi kamu sampai dua kali ditampar ayah kamu sendiri" ucap Yua sambil mengkompres pipi Arga dengan air es setibanya mereka di rumah Yua.
Selesai mengkompres lebam di muka Arga, Yua beranjak ke dapur mengambil dua kaleng minuman dingin bersoda dari kulkas. Tak sengaja satu kaleng minuman itu terjatuh karena permukaan kaleng yang licin. Saat ingin mengambil kaleng minuman yang jatuh di dekat kakinya itu ia terkejut melihat bekas luka di bawah betisnya yang sebelumnya tidak ada sama sekali.
"Sejak kapan ada bekas luka di sini? " ucapnya sambil meraba bekas luka itu dan mencoba mengingat kapan ia terluka hingga lukanya membekas seperti itu. Namun, Yua sepertinya tak memusingkan jika bekas luka itu menganggu penampilannya. Kaleng yang terjatuh tadi langsung diambilnya dan kembali menuju ruang tamu.
...***...
Setibanya di ruang tamu, Yua melihat Arga tertidur di sofa. Mungkin Arga lelah dengan kejadian hari ini. Yua lalu duduk di samping Arga dan memperhatikan wajah Arga yang sedang tertidur itu. Muka lelah dan bekas lebam itu membuat Yua tertegun kembali memikirkan apakah keputusannya menikah sudah benar.
Terselip juga dalam benaknya pertanyaan lama yang ia simpan selama ini seperti apakah Arga hanya menuruti perintah ayahnya dan tidak bisa menolak untuk menikah dengannya?, jika tidak terpaksa lalu apa alasan Arga mau menikah dengannya dan apa yang membuat Arga betah berada disisinya yang selama ini dingin padanya?.
Tiba-tiba Arga terbangun dari tidurnya. Seolah Tuhan ingin memberikan jawaban akan rasa penasarannya itu. Yua berpikir mungkin ini saat yang tepat untuk menanyakannya pada Arga. Sebelum ia bertanya ia menyodorkan satu kaleng minuman yang hampir kehilangan rasa dinginnya itu pada Arga dan satu kaleng lagi untuk dirinya.
"klek" Arga membuka kaleng soda itu, namun hal yang tak terduga terjadi. "Sssstttt" soda dalam kaleng menyembur dan melimpah keluar hingga membuat baju Arga basah. "Waaaaaaaaaahh!!"
Tak salah lagi itu adalah kaleng minuman yang terjatuh di dapur tadi. Melihat baju Arga sudah kebasahan, Yua bergegas mengambil handuk dan pakaian ganti untuk Arga. Arga bisa menggunakan baju ayah Yua karena ukuran baju mereka yang sama.
"Aaaaaaaaa" teriak Yua saat ingin memberikan baju dan handuk pada Arga. Spontan Yua menutup kedua matanya dengan telapak tangannya membuat baju dan handuk itu jatuh ke lantai.
Pantas saja Yua berteriak kencang. Yua melihat pemandangan yang sama sekali belum pernah ia lihat. Seorang pria bertelanjang dada di depan matanya. Karena bajunya yang ketumpahan soda ith membuat Arga langsung membuka bajunya bukan bermaksud lain.
"Kamu kenapa???" tanya Arga menggoda Yua. "Duh... pake nanya segala" keluhnya. "ituu.. itu baju sama handuk. Cepat pake. Malu tauu" celetuk Yua sambil mengancungkan jari telunjukknya ke arah baju yang ia buang ke lantai menyuruh Arga segera mengenakan baju yang ia bawa.
Arga lalu berjalan kearah baju dan handuk yang dijatuhkan Yua namun ia tak hanya berniat mengambil baju dan handuk saja. Arga ingin menjahili Yua sedikit agar Yua membuka matanya yang ia tutup rapat-rapat. Perlahan sambil mengambil banju dan handuk itu Arga berteriak. "Itu ada tikus di dekat kaki kamu" ucap Arga dengan suara panik yang ia buat-buat.
Benar saja Yua melepaskan kedua telapak tangannya yang menutup matanya itu dan berteriak tak kalah keras dari Arga. Yua juga berlari dan akhirnya bersembunyi di belakang punggung Arga yang masih belum memakai baju.
"Hahahahahaha" gelak Arga terbahak-bahak yang sukses membuat Yua membuka matanya.
Mendengar tawa Arga yang begitu keras sontak membuat Yua sadar bahwa Arga sedang mengerjainya dan tak ada tikus di sana. Geram melihay Arga tertawa begitu puas Yua hendak mengepalkan tangannya dan memukul punggung yang ada di depannya itu.
Namun, niatnya itu ia urungkan setelah melihat dengan jelas apa yang ia tak ingin liat dari awal. Ia mengira punggung pria itu akan sangat halus dan begitu indah namun yang ia lihat adalah kebalikannya. Bekas pukulan dan beberapa bekas luka tergores di punggung Arga. Kini, Arga berhenti tertawa namun Yua tetap berdiri terdiam. Yua juga tak lagi memandangi punggung Arga melainkan melihat lurus ke lantai rumahnya.
"Aku mau tanya boleh?" tanya Yua. "Tapi kamu ngak boleh muter badan" pintanya lagi.