40 Days, One Love

40 Days, One Love
Truth or Dare (1)



Jam sudah menunjukkan pukul 5 sore saatnya untuk menutup cafe sesuai jadwal.


"Kemarin juga buka sampe jam 5, padahal lagi rame-ramenya. Kok ngak sampai malam aja, kan lebih untung!" tanya Yua penasaran.


Memang lebih untung jika cafe dibuka hingga malam, apalagi kehidupan di kota juga masih ada hingga jam 9 malam. Tapi, ada alasan kenapa Alex harus menutup cafenya jam 5 sore.


"Untung banyak juga buat apa? Uang-uang ini juga tidak bisa mengeluarkanku dari sini!" jawab Alex.


Bagi Alex membuka cafe pada awalnya hanya untuk bertemu Gayatri, namun kini dia tidak ada lagi. Sebenarnya pun tak ada gunanya Alex meneruskan cafe ini karena ia bisa hidup tanpa makan dan minum.


Alex melanjutkan usaha cafenya itupun hanya agar tidak stress dan membunuh rasa bosannya sebagai tahanan waktu. Jadi, tak ada alasan untuknya membuka cafe ini lebih dari jam 5 sore jika hanya demi keuntungan semata.


"Maaf, aku salah ngomong!" ucap Yua dengan menyesal karena merasa sudah mempertanyakan hal sensitif pada Alex.


Mereka kembali melanjutkan pekerjaannya masing-masing. Setelah lantai selesai disapu, meja dan kursi sudah dirapikan, jendela sudah dikunci dan display cake sudah dibersihkan, maka kini Yua hanya perlu membalik lagi tanda open menjadi close yang menandakan bahwa cafe sudah tutup.


Seperti yang dibayangkan Yua tadi, kini hanya ada Alex dan Yua di lantai atas. Alex yang berbaring di atas sofa seperti pagi tadi, sedangkan Yua hanya duduk di kursi menghadap Alex yang sedang berbaring itu.


Kini, semua terasa canggung. Apalagi sejak pagi tadi, Yua yang diam-diam memandangi Alex, lalu ketika matanya tak sengaja bertemu mata Alex saat di teras. Bahkan jauh sebelum itu, sejak kemarin jantung Yua selalu berdegup kencang saat melihat Alex yang begitu mirip dengan pria yang ada di mimpinya.


"Lex, kamu biasanya abis cafe tutup ngapain aja?" tanya Yua.


"tidur" jawab Alex singkat. Alex lalu bangun dari tidurnya itu dan menatap kearah Yua.


"Aku ganggu ya?" tanya Yua lagi.


"tidak.. kalau kamu ganggu, sejak kemarin udah aku usir kamu dari sini" jawab Alex dengan senyuman mautnya yang membuat bulu kuduk Yua sedikit berdiri.


Alex kembali berbaring seperti tadi sehingga tak ada lagi ruang bagi Yua untuk bertanya. Masih ada tiga jam lagi sebelum Joe menjemputnya. Yua pun meniru Alex berbaring, meski harus merelakan punggungnya berbaring di kursi kayu yang keras.


"Kamu mau ngapain?" tanya Alex.


"Ya, tidurlah! mau ngapain lagi?" jawab Yua.


Yua melupakan satu hal yang penting, bahwa dia adalah wanita dan Alex adalah pria.


"Kamu gak ada khawatir apa?" Tanya Alex.


"Khawatir apa? lagian kamu juga tidur!" keluh Yua lagi.


Setelah menyudahi keluhnya itu, ia baru sadar maksud Alex. Jika ia tidur sembarangan maka mungkin tidak mungkin Alex akan berbuat sesuatu padanya.


Sambil memeluk dirinya sendiri, Yua menggeser badannya menjauhi Alex. Ia berpikir bahwa Alex saat ini berpikir kotor padanya.


"Paaakkk" pukulan keras mendarat lagi di kepala Yua, kali ini Alex menggunakan majalah yang sudah digulungnya. Ia tahu bahwa Yua kini berpikir buruk padanya. Padahal ia hanya ingin memberi nasehat tapi malah disangka memiliki niat buruk.


"Kamu jangan berpikir aneh-aneh!, kamu jadi perempuan harusnya sadar situasi dan kondisi" pinta Alex. "Begini saja, kita main kartu saja!" seru Alex.


Ya, Lebih baik mereka menghabiskan waktu dengan bermain kartu dari pada hanya mendiamkan satu sama lain.


"Aku mau main UNO!" Pinta Yua. "UNO?" tanya Alex.


Lagi-lagi Yua lupa jika ia ada di masa lalu. Kartu UNO sangat populer di masa depan tapi tentu saja kartu UNO belum ada atau belum populer di masa ini.


Akhirnya, dengan kartu yang ada, mereka hanya bisa memainkan kartu remi dengan game sederhana. Alex pun mengocok tumpukan kartu remi itu, setelah dirasa semua sudah tercampur rata barulah dibagikan masing-masing 13 kartu karena mereka akan memaikan Big 2.


Ronde pertama dimenangkan Alex, Ronde kedua hinggga ronde ketiga juga dimenangkan Alex, membuat Yua tidak mau memaikannya lagi dan sudah merasa bosan.


"Ngak menantang banget, Kaku!" celetuk Yua.


Tiba-tiba ia teringat akan permainan yang juga populer di masa depan. Meski di masa depan dia tidak pernah memaikannya karena jarang keluar rumah dan tidak ada yang mau bermain dengannya, tapi kali ini kenapa tidak?, Ada Alex yang akan menjadi lawannya.


"Aku ngak tau kalau game ini udah populer atau gak di tahun 2000 tapi gimana kalau kita coba?" Ajak Yua. Yuapun menjelaskan cara main game itu.


"Nama gamenya Truth or Dare. Jadi kalau kamu dapat kartu yang angkanya kecil berarti kamu kalah, yang menang bakal ajuin pilih Truth atau Dare."


"Kalau pilih truth berati yang kalah harus jawab pertanyaan yang menang dengan jujur, tapi kalau gak mau jawab harus mau lakuin apa yang pemenang suruh alias Dare. Pihak yang kalah juga boleh langsung memilih dare jika tidak ingin menjawab pertanyaan"


" Dan yang paling penting tujuan dari game ini adalah siapa yang mengumpulkan poin terbanyak maka yang kalah harus memenuhi 1 permintaan yang menang" jelas Yua dengan panjang lebar.


"berarti cuma liat angka?" tanya Alex.


"jadi gimana? setuju?" tanya Yua meyakinkan Alex. "Baiklah.. setuju" jawab Alex yang sebenarnya hanya ingin menghabiskan waktu saja.


Setelah semua paham dengan cara main truth or dare ini, maka untuk menentukan siapa yang akan memulai permainan, mereka melalukan suit.


Ronde 1


"Batu.. gunting..kertas" sorak mereka.


Alex mengeluarkan batu sedangkan Yua mengeluarkan gunting. Maka Alex berhak untuk memulai permainan dengan mengambil kartu paling atas.


Alex mendapatkan kartu wajik dengan angka 4, agar menjadi pemenang maka Yua harus mendapat angka yang lebih kecil. Yua lalu mengambil kartunya dan segera membalikknya.


"ahh..cuma dapat 2" umpat Yua.


Yua hanya mendapat angka 2 dan pemenangnya sudah jelas yang mendapat angka 4 yaitu Alex.


"Truth or Dare?" tanya Alex. "Truth" jawab Yua dengan sigap.


Tentu saja Yua akan memilih truth terlebih dahulu, karena itu adalah pilihan yang paling umum bagi yang kalah, dan apapun pertanyaannya ia yakin bisa menjawabnya dengan benar.


"Setelah bertemu Ayah kamu, apa kamu masih membencinya?" tanya Alex.


"ih gampang banget.." ledek Yua. "Sekarang sih aku ngak benci Ayah, aku juga liat pengorbanan beliau buat aku yang masih kecil. Tapi aku penasaran aja kenapa Ayah di masa depan kurang peduli sama aku?" jawab Yua.


Yua berhasil menjawab pertanyaan Alex dengan baik. Bagi yang bisa menjawab atau menaklukan tantangan, maka ia berhak mendapat skor 1. Maka skor saat ini Yua 1 dan Alex 0


Ronde 2


Karena Yua yang menang, maka Yua berhak mengambil kartu untuk pertama kali. Kali ini Yua mendapat angka 9. Angka yang lumayan besar dan kesempatan menangnya pun tinggi. Eittss.. tapi Alex kali ini lebih beruntung. Ia mendapat Joker yang berarti ia lah pemenangnya dan Yua harus kembali yang menerima tantangan.


"Truth or Dare?" tanya Alex.


"Truth" jawab Yua dengan sigap. Yua sepertinya merasa sanggup menjawab pertanyaan dari Alex, karena Alex pasti akan memberikan pertanyaan yang gampang dan tidak memiliki ambisi untuk menang.


"Apa kamu cinta sama Arga?" tanya Alex.


"Wow..." pertanyaan yang Out of the Box pikir Yua dalam hati. Pertama kalinya Alex menanyakan privasi atau cerita cintanya. Padahal selama ini hanya Yua yang penasaran dengan kisah Gayatri.


"Arga mana? minion atau Pak Arga? eh jawab ajalah ya. Kalau minion aku kagum aja karena ternyata dia tu udah mandiri sejak kecil, tapi kalau Pak Arga aku ngak tau. Aku ngak ingat dulu waktu kecil pernah main bareng dia, jadi waktu udah dewasa trus Ayah jodohin aku sama dia tuh malah buat aku ngak suka sama Pak Arga. dah gitu aja!" jawab Yua.


"ih.. penasaran ya??" goda Yua yang tak digubris Alex sama sekali. Yua sedikit salah tingkah karena Alex yang menanyakan privasinya itu. Meski ia tau bahwa Alex hanya penasaran dengan peristiwa siang tadi.


Yua berhasil menjawab pertanyaan Alex maka Bingo, Kali ini Yua masih memimpin skor dengan 2-0.


Ronde 3


"Tunggu tunggu... Mau sampai berapa ronde nih?" tanya Alex.


"5 ronde aja... berarti sisa 3 ronde lagi biar hasilnya gak ada yang seri" jawab Yua.


Permainan kembali dilanjutkan. Karena skor Yua masih memimpin maka ia masih berhak menjadi yang pertama mengambil kartu.


Kali ini Yua bernasib baik, Ia mendapat Kartu Queen, sedangkan Alex harus puas mendapat kartu berangka 3 saja.


"Truth or dare?" tanya Yua. "Truth" jawab Alex dengan cepat.


"mmm.. aku bingung mau nanya apa" Yua sedikit bingung. "Kalau tanggal ulang tahun kamu?, makanan kesukaan kamu? trus hewan yang kamu suka apa?" tanya Yua bertubi-tubi.


"30 Mei, Eclair, Ikan" jawab Alex dengan singkat, padat dan jelas.


Yua menepukkan keduatangannya yang kagum mendengar Alex yang mau menjawab pertanyaan sederhana miliknya itu.


"Wahh.. kita lahir cuma beda 28 hari tapi jarak tahunnya seabad" ledek Yua.


Ronde 3 menjadi Ronde tercepat dan termudah. Alex berhasil menjawab pertanyaan Yua, maka Kini skor sementara Yua dan Alex adalah 2 - 1.


Halo! selamat membaca😊


Jangan lupa like, comment, dan favorite-nya❤