
Sambil menunggu taksi onlinenya tiba, Yua memandangi photo miliknya yang tiba-tiba saja ada di mejanya itu. Photo yang kemarin ia berikan pada pemilik cafe itu.
"Apa benar ini aku? Kalau sekali liat sih pasti semua orang akan bilang Iya" ucap Yua yang masih memperhatikan wanita yang ada di photo itu.
Photo itu menjadi bukti kuat bahwa dirinya memang pernah ke masa lalu. Meskipun tidak bisa mengingat saat dimasa lalu, surat dari Ayahnya cukup menjadi penguat bahwa photo itu asli dan apa yang dirinya alami itu adalah nyata.
"Aku ke masa lalu, lalu kembali ke masa depan dan akhirnya melupakan semua ingatan saat berada disana... hahaha" gumamnya dengan sedikit bersendung. "Kenapa?" sambungnya.
Sebelum pesanan taksi online-nya datang, meski hanya sebentar Yua sempatkan melihat keadaan cafe dari dinding kaca cafe itu. Tampak pelayan cafe tadi hendak keluar, mungkin akan pulang. Tak hanya pelayan cafe itu saja, muncul seseorang dari arah yang sama saat pelayan tadi muncul.
"Rambutnya pirang... mungkin dia pemilik cafe ini" gumam Yua.
Mungkin malam ini bisa jadi kesempatan Yua untuk bertemu dengan pemilik cafe itu.
"Tunggu sampai pelayan itu pergi dari cafe dan si pemiliknya mau ngunci pintu" Yua memikirkan strateginya untuk bertemu pemilik cafe itu lagi.
Tapi...
"Tet... tet"
Bunyi klakson dari taksi online pesannya yang baru tiba itu mengejutkan Yua. Meski sempat terkejut, Yua cepat-cepat masuk kedalam taksi karena takut ketahuan oleh si pemilik cafe karena dirinya masih di sana dan mengintip mereka.
"Duh Pak... Ngagetin aja" keluh Yua.
"Maaf mbak saya ngagetin mbak..." ucap sopir taksi online itu meminta maaf sudah membuat Yua terkejut. "Mbak, Tujuannya jalan Anggrek No. 11" sambungnya.
"Tunggu dulu pak..." cegah Yua agar pak sopir tidak melajukan mobilnya.
"Iya mbak, ada apa?" tanya pak sopir.
Bukannya menjawab pertanyaan pak sopir, Yua malah memperhatikan ke arah cafe itu.
Saat dilihatnya pelayan cafe itu keluar dari dalam cafe dan mulai berjalan meninggalkan cafe, Yua segera keluar dari dalam taksi online. Seperti tak ingin menyia-nyiakan kesempatan, akhirnya Yua memutuskan untuk tidak jadi pulang.
"Maaf Pak... Saya sepertinya ada urusan mendadak. Orderannya saya batalin, tapi... bapak terima ongkosnya ya pak. Sekali lagi maaf ya Pak" ucap Yua sambil mengeluarkan beberapa lembar uang dari dalam dompetnya dan memberikannya pada sopir taksi online itu.
...***...
Anehnya, setelah pelayan cafe keluar tak ada tanda-tanda pemilik cafe juga keluar. Dengan nekat Yua memutuskan untuk mendekat kearah pintu cafe yang masih sedikit terbuka itu. Namun, siapa sangka saat Yua hendak membuka pintu itu dari luar ternyata ada seseorang yang lebih dulu hendak menutup pintu dari dalam. Alhasil, insiden pun kecil terjadi.
"Awwww... sakit!" teriak Yua.
Jari Yua tak sengaja terjepit pintu cafe. Bukannya ganggang pintu yang dipegang untuk membuka pintu, Yua malah memegang tepian pintu hingga akhirnya membuat kuku jari telunjuknya berdarah.
"Astaga Maaf!" ucap pria yang tak lain tak bukan adalah pemilik cafe itu dengan kaget.
Melihat tetesan darah jatuh dari jari Yua, Pemilik cafe langsung membawa Yua masuk ke dalam untuk diberikan pertolongan pertama. Untung saja, kuku Yua masih bisa diselamatkan dan tidak perlu dicabut. Hanya sedikit membiru di tepi ujung kukunya saja dan harus diberi perban agar pemulihan kukunya cepat. Dengan hati-hati pemilik cafe membalut jari Yua dengan perban.
Melihat betapa hati-hatinya pemilik cafe membalut jarinya dengan perban, Yua menyadari bahwa pemilik cafe adalah orang yang baik. Yua juga dapat melihat jelas wajah pemilik cafe itu dengan jelas setelah melupakannya selama dua hari ini. Sambil menahan rasa sakitnya, Yua mencoba mencairkan suasana yang canggung itu.
"Kamu tuh orangnya baik ya!" ucap Yua pada pemilik cafe.
Namun setelah mendengar pujian dari Yua, si pemilik cafe malah berhenti menggulung perbannya dan mengembalikan tangan Yua.
"Maaf... Saya tidak tahu kamu sedang memegang pintu itu" ucap pemilik cafe lalu meninggalkan Yua.
"Bukan... bukan... bukan..." ucap Yua sambil menggelengkan kepalanya. "Aku yang salah!" sambungnya.
Perban yang masih belum sempurna dipasang itu pun lepas dan mengular kembali. Mau tak mau, Yua yang tak enak dengan si pemilik cafe itu memasangnya sendiri dihadapan pria itu. Namun karena tak tega melihat Yua yang kesusahan merekatkan lapisan terakhir perban itu, si pemilik cafe mengambil alih merekatkannya.
"Kan sudah malam, kok kamu belum pulang?" tanya Yua pada pria itu.
"Aku tinggal disini!" jawabnya singkat.
"Disini?" tanya Yua lagi.
Pemilik cafe itu lalu berjalan kearah pintu dan membukanya. "Sudah malam, pulanglah!" seru pemilik cafe pada Yua.
"Lagi?.... Hobi banget ngusir orang" celetuk Yua.
Tak mau disuruh pulang, Yua pun berpikir dengan keras agar tak diusir lagi.
...***...
Setelah berpikir kurang lebih dua menit, ide yang didambakan pun muncul.
"Kalau gitu aku punya kesepakatan. Aku akan pulang kalau kamu bantu aku!. Kalau ngak... aku akan menginap disini!" ujar Yua sambil mengamankan satu meja untuknya beristirahat seperti ayam yang sedang mengerami telurnya.
Belum sempat pemilik cafe menjawab permintaannya itu, Yua malah mengeluarkan beberapa benda dari dalam tasnya. Ada photo, buku dari cafe ini, dan surat dari ayahnya dan semuanya ia letakkan diatas mejanya itu.
"Sebelumnya aku minta maaf ngambil buku ini tanpa izin, tapi kenapa buku ini terbitnya tahun 2087?" tanya Yua. "Satu lagi... Kenapa wanita yang ada di photo ini mirip aku?, katanya dia pernah berkerja disini juga" sambungnya.
"Jadi.. kamu butuh bantuan apa?" tanya pemilik cafe.
"Aku butuh bantuan kamu untuk jelasin ini semua!. Siapa wanita itu dan ada apa dengan buku itu? trus anehnya lagi aku juga dapat surat dari ayahku sendiri yang ditulis 20 tahun lalu isinya tentang aku yang pergi ke masa lalu hahaha!" ucap Yua dalam satu tarikan nafas.
"Saya tidak tahu!" jawab pemilik cafe singkat.
Sepertinya pemilik cafe tidak mau bekerjasama dengan Yua dengan memberitahu apa yang Yua inginkan. Karena pemilik cafe menolak, maka sesuai dengan apa yang Yua sebutkan tadi, maka ia akan menginap disini.
"Ngak tau?... OK! berarti aku akan menginap disini!" celetuk Yua.
"Saya tidak pernah mengatakan iya" tukas pemilik cafe sambil mengambil buku miliknya itu.
Bukannya pulang, Yua malah berbuat nekat. Yua berlari ke lantai dua menuju ke tempat bertemu dengan pemilik cafe kemarin.
Pemilik cafe sudah berusaha mencegah Yua agar tidak menginap di sana, tapi Yua sangat keras kepala. Sebenarnya ia tak mau menjelaskan apapun yang berhubungan dengan masa lalu, tapi berkat keras kepala Yua memaksa pria itu membiarkan Yua bermalam di cafenya.
"Kamu...Nama kamu siapa?" sorak Yua dari tangga menuju lantai dua.
"Alex" jawab pria itu singkat.
"Alex.... Senang kenal sama kamu!" ucap Yua lalu kembali menaiki tangga itu meninggalkan Alex yang masih berada di ruang utama cafe.
___________________
Terimakasih sudah membaca😊