40 Days, One Love

40 Days, One Love
Ancaman



"Ding Dong"


Pagi - pagi sudah ada saja yang datang ke rumah Yua. Padahal Yua bangun saja belum. Ia masih terlelap tidur karena membaca hingga subuh.


"Ding Dong"


Kesadarannya mulai kembali setelah mendengar suara bel yang kedua ini. Dengan matanya yang masih berat, Yua meraba-raba kasur dan sekitarnya mencari ponsel miliknya.


"Jam 7?? masih jam 7 sudah ada yang datang" celetuknya dengan suara yang masih serak.


"Ding Dong"


Sepertinya orang yang sedanh membunyikan bel itu sedang terburu-buru dan tak sabaran hingga membunyikan bel berkali-kali.


"Iya.. sabar... ngak sabaran banget sih!!" sahut Yua dari balik pintu rumahnya.


"Klek"


Saat Yua membuka pintunya, seseorang berbadan tambun sudah berdiri dihadapannya. Tak lain dan tak bukan adalah Pak Roy, ayah Arga dan calon mertuanya.


"Gluk"


Kerongkongan Yua terasa kering dan membuatnya sulit menelan air ludahnya sendiri. Rambutnya yang acak-acakan dan masih memakai piyama terlihat tidak pantas untuk dilihat calon mertuanya itu. Namun, Yua heran tak biasanya Pak Roy datang kerumahnya sepagu ini. Biasanya ia selalu menyuruh bawahannya atau Arga datang ke sini.


Sambil merapikan rambut dan bajunya, Yua yang sudah sepenuhnya sadar mempersilahkan Pak Roy masuk kedalam rumahnya


"Ahh.. maaf Pak. Silahkan masuk" ajak Yua.


"Kamu baru bangun?" tanya Pak Roy.


Mimpi apa Yua semalam, tak menyangka paginya akan sedramatis ini. Pak Roy memang hanya bertanya, tapi Yua merasa tertekan dan juga hawa Pak Roy tampak seperti hendak memerkamnya.


"I...iya" jawab Yua sambil menunduk malu.


Yua lalu mempersilahkan Pak Roy untuk duduk dan pamit sebentar ke dapur untuk membuatkan kopi.


...***...


"Silahkan minum Pak" suguh Yua.


"Tumben kamu bikin kopi, biasanya air putih saja tidak pernah, hahaha" ujar Pak Roy dengan tertawa sarkasnya.


Benar juga.. Tak biasanya Yua menyuguhkan minuman untuk tamu, tapi entah kenapa instingnya langsung menyuruhnya untuk membuat kopi. "Kenapa ya" pikirnya dalam hati.


Tak perlu khawatir masalah menyuguhkan minuman atau tidak, yang palinh penting adalah orang di depannya itu. Ada keperluan apa Pak Roy datang ke rumah Yua sepagi ini?


"Sruppp"


Pak Roy tanpa sungkan meminum kopi buatan calon menantunya itu. Yua memperhatikan betapa santainya Pak Roy kini. Mengangkat kakinya sebelah dan memangkukannya ke pahanya yang lain. Seperti pemilik rumah ini saja.


"Enakk.. kamu pasti akan jadi Istri yang baik untuk Arga" puji Pak Roy.


Meski dipuji calon mertua tampaknya Yua tak senang. Pujiannya terdengar palsu. Tiba-tiba saja Pak Roy baik padanya, padahal beberapa hari yang lalu ia menampar anaknya sendiri di depan semua orang.


"Terimakasih Pak" balas Yua. "Mmm.. ada apa ya pak, pagi-pagi sudah kesini?" tanyanya.


"Hahahaha" tawa Pak Roy.


Bukannya menjawab pertanyaan Yua, Pak Roy malah tertawa. Yua semakin yakin ada maksud dan tujuan lain beliau datang ke rumahnya.


Tapi, setelah Pak Roy puas dengan tawanya itu. Ia menurunkan kakinya dan menatap mata Yua dengan tajam.


"Sebaiknya kamu jangan berbuat yang aneh-aneh sebelum hari pernikahanmu. Saya tidak akan membiarkan kamu menggagalkan semua yang sudah saya persiapkan. Kalau kamu ingin berbakti pada ayah kamu, jangan coba-coba kamu melawan saya!" ancam Pak Roy.


Sebenarnya Yua tak paham apa yang dimaksud Pak Roy, dan mengapa pak Roy begitu takut jika dirinya mencoba untuk menggagalkan apa yang ia persiapkan. Persiapkan apa? pernikahannya dengan Arga?, apa ada sesuatu dibalik pernikahannya yang tidak diketahuinya dan Arga?, atau ada maksud lain?, Apa Pak Roy masih marah ketika Yua meminta untuk menukar dekorasi venue resepsinya itu?.


"Bapak ngancam saya?" tanya Yua.


"Pak.. Pak.. Pak.."


Pak Roy tiba-tiba berdiri, bertepuk tangan dan memutari kursi yang diduduki Yua. Dari raut mukanya siapa saja bisa melihat jika Pak Roy kesal dengan pertanyaan Yua tadi. Tak Pak Roy sanga, ternyata Yua bisa berani padanya. l


"Berani kamu ya?! sejak kapan kamu berani melawan saya!" gertak Pak Roy.


Dengan perasaan kesal, Pak Roy mendekatkan wajahnya pada Yua dan memperingatinya sekali lagi. Kali ini benar-benar dengan penuh hawa tekanan. "Sekali saja kamu coba menghalangi saya, kamu akan tahu akibatnya" ancamnya lagi.


Untungnya Yua dapat menahan emosinya saat ini. Jika tidak entah apa yang akan terjadi pada mereka berdua. Pak Roy juga sudah menjauhkan mukanya dari wajah Yua. Meski tak terdengar oleh Pak Roy, tapi jantung Yua bertedak kencang karena rasa takutnya pada calon mertuanya sendiri.


...***...


"Ding dong"


Lagi-lagi ada orang sepagi ini datang bertamu ke rumah Yua. Tapi, sebenarnya itu adalah penolong Yua. Yua seperti mendapat bantuan saat ia sebenarnya tak ingin lagi Pak Roy ada dirumahnya. Ia ingin sesegera mungkin mengirup udara segar.


"Maaf Pak, ada tamu. Saya mau buka pintu" ucap Yua.


"Sekalian saja... saya sepertinya harus kembali ke kantor. Terimakasih kopinya" ucap Pak Roy yang kini kembali bermanis mulut.


Yua dan Pak Roy pun sama-sama menuju pintu depan dan mendapati Arga yang ternyata adalah tamu kedua Yua.


"Arga!" ucap Yua.


"Iya.. Hai" jawab Arga. "Ayah pagi-pagi kenapa di sini?" tanya Arga yang melihat ada Ayahnya berdiri disamping Yua.


"Ayah cuma bicara sebentar, dan kopi buatan calon istri kamu ini ternyata enak" jawab Pak Roy dengan tersenyum.


Tapi... Arga mungkin tahu bahwa sebenarnya sang Ayah tidak benar-benar memuji Yua. Arga tahu betul bahwa sang Ayah tak pernah memuji orang lain. Pasti ada hal yang Ayahnya sembunyikan dari dirinya


"Ayah pasti terlambat jika masih disini, silahkan yah..." ucap Arga mengusir Ayahnya dengan halus.


Tanpa basa-basi lagi, Pak Roy pun meninggalkan rumah Yua. Namun, saat Arga sudah masuk kedalam dan Yua masih diluar, Pak Roy memberi kode dari dalam mobilnya untuk tidak memberitahu Arga dengan tatapannya yang tajam.


...***...


Meski perasaannya masih kesal karena ancaman Pak Roy masih tergiang-ngiang di telinganya, tapi ia tak boleh mengatakan apapun pada Arga. Bisa saja Pak Roy akan menemuinya lagi dan tanpa ragu mencelakainya.


Dari pada memikirkan perkataan Pak Roy itu, Yua penasaran ada apa gerangan Arga datang kerumahnya pagi-pagi. Padahal Yua kemarin bilang untuk pergi sendiri ke cafe itu lagi.


"Kamu pagi-pagi ngapain ke sini?" tanya Yua.


"Pasti kamu baru bangun kan?" goda Arga.


Yua heran... tadi ayahnya, sekarang anaknya yang menemuinya di waktu yang berdekatan. Padahal dirinya kurang tidur, masih mengantuk dan ingin menyambung tidurnya. Belum lagi tadi ayahnya mengancamnya dengan hal yang jelas ia tak mengerti. Bukannya menjawab pertanyaan Yua, Arga malah menggodanya pagi-pagi, Ah...


"Apaan sih" celetuk Yua.


Ya.. siapa saja akan bisa melihat jika Yua baru bangun. Tampilan kusut dan masih memakai piyama. Arga lalu menyuruh Yua untuk mandi dan bersiap-siap karena ibunya meminta Yua untuk berkunjung dan sarapan bersama.


"Kamu mandi gih... Ibu minta kamu datang ke rumah dan kita sarapan bareng!" ajak Arga.


"Ibu Arga?" pikir Yua dalam hati. Sudah lama rasanya ia tak bertemu Bu Risma. Sejak Ayahnya meninggal Yua juga jarang sarapan. Tak ada salahnya Yua menerima ajakan Arga, sekalian perbaikan gizi.


"Oh.. Oke, aku mandi dulu. Kamu tunggu di sini" balas Yua menerima ajakan Arga.


______________________________


Terimakasih sudah membaca😊


Jangan lupa tinggalin jejak😁