40 Days, One Love

40 Days, One Love
Terbawa Suasana



Tik Tik Tik


Tak ada pembicaraan yang terjadi selama beberapa menit ini, baik Yua maupun Alex sama-sama diam bahkan suara detak jam dinding pun terdengar. Alex sibuk dengan bukunya sedangkan Yua hanya menatap Alex sejak tadi.


"Hmm..." deham Alex. "Kamu sejak tadi ngeliatin apa? Saya risih. Masih untung saya biarin kamu menginap disini" ucap Alex yang sangat ketus itu.


Yua tetap masih kekeuh dengan pendiriannya itu. Itu semua ia lakukan untuk mengetahui apa yang terjadi sebenarnya, kaitan cafe ini dengan perjalanan waktunya dan seberapa benar surat dari Ayahnya itu.


"Ya... sesuai kesepakatan kita tadi, Kamu bantu aku dan aku pasti akan pulang!" nego Yua sekali lagi.


"Saya bilang tidak tahu!" gertak Alex.


"Ngak usah nge-gas ngapa? trus jangan pakai bahasa formal dong, santai aja!" tegur Yua.


Tap


Alex yang sedang membaca buku merasa terganggu oleh kata-kata Yua itu pun menutup bukunya dan meninggalkan Yua. Alex menghindari pertanyaan-pertanyaan dan memilih melanjutkan pekerjaannya di dapur. Namun tetap saja Yua mengekor Alex kemana pun ia pergi, termasuk dapur.


...***...


Tak Tak Tak


Demi membuat kue yang lembut dan tentunya enak, Alex mengolah bahan-bahan kue dengan hati-hati terutama saat ia mengocok telur lalu saat memasukkan bahan lainnya seperti gula, tepung dan pengembang harus sesuai takarannya. Yua yang sejak tadi memperhatikan Alex membuat adonan merasa takjub dengan skill milik Alex itu.


"Aku suka loh tiramisu dari cafe ini!" ucap Yua.


Tentu saja tiramisu adalah kue andalan cafe ini, membuatnya saja sudah sehati-hati itu. Aroma kopi juga begitu sopan masuk kedalam hidung dan rasa mouse-nya (krim di tiramisu) yang begitu gurih. Mendapat pujian dari Yua membuat Alex menjadi besar kepala, mungkin karena senang dipuji.


"Karena kamu memuju tiramisu buatanku, aku akan membuatkan yang special untukmu malam ini" ucap Alex dengan senyuman khasnya itu.


"Serius?" ucap Yua tak percaya ada orang yang mau memberikan makanan pada orang asing seperti dirinya hanya karena sebuah pujian.


"Tentu saja!" jawab Alex.


Melihat Alex menawarkannya tiramisu special untuknya setelah upayanya hari ini yang tak membuahkan hasil, Yua sadar bahwa Alex hanya tidak ingin membicarakan masalah itu namun terbuka akan hal lain.


...***...


Bahan adonan akhirnya selesai dan waktunya untuk memanggang kue dalam oven. Adonan mouse dan kopi untuk olesannya juga sudah selesai. Hanya tinggal menunggu kue matang dan menghiasnya saja. Setting waktu, api atas-bawah, dan temperatur dan selesai. Butuh waktu 45 menit hingga pemanggangan selesai.


Pok Pok Pok


Yua bertepuk tangan meriah karena step pertama tiramisu spesialnya selesai. Hanya tingga beberapa step lagi hingga tiramisunya itu siapa dinikmatinya. Sambil menunggu Yua mencicipi mouse yang masih belum digunakan itu, tak lupa dengan polosnya Yua memberikan pertanyaan yang membabi buta pada Alex hingga Alex kewalahan dengan nyinyiran Yua itu.


...***...


"Ahh.." ucap Yua yang seperti baru mengingat sesuatu.


"Beberapa hari yang lalu saat aku mau pulang dari cafe ini dan lagi nunggu seseorang. Aku lihat ada seseorang di lantai dua. Itu kamu?" tanya Yua.


"........"


Alex hanya diam tanpa menjawab maupun menyanggah pertanyaan Yua.


"Lagi-lagi diam..." keluh Yua. "Aku yakin pasti itu kamu... yang aku tahu dan amati sejak pagi ngak ada staff lain di cafe ini kecuali kamu sama pelayan itu" jelas Yua.


"Kalau itu saya, lalu kenapa?"


"Awalnya aku lupa tapi tiba-tiba ingat aja....kenapa kamu ngucapin hal aneh kayak kita pernah ketemu sebelumnya?" tanya yang Yua lalu mengucapkan apa yang Alex ucapkan ketika itu, "Jangan kembali dam berbahagialah!!".


"Kamu pasti salah liat!" kilah Alex.


Lagi-lagi Alex berkilah. Bosan mendengar yang terus-terusan berkilah membuat Yua menjadi tak sabaran. Yua lalu berjalan mendekati Alex dan berdiri tegap dihadapannya.


...***...


Suasanya menjadi tegang. Aroma adonan yang setengah matang, aroma manisnya mouse dan aroma pahitnya kopi pun mulai beradu. Alex kini tak bisa menghindari Yua yang menatap matanya dengan tajam itu. Tentu saja Alex tidak akan takut, namun Yua lah yang harusnya waspada akan tindakannya sendiri.


"Aku tahu kamu menyembunyikan sesuatu!" tegas Yua.


Semakin Alex berbohong semakin kuat rasa ingin tahu Yua. Ia tak tahu harus bagaimana lagi agar Alex berbicara padanya hingga timbul perasaan yang hendak meledak dari hatinya.


"Aku bingung... Ayahku tiba-tiba kecelakaan dan meninggal, Ayah tunanganku mengancamku, ibunya memberiku surat dari ayahku yang ditulisanya 20 tahun lalu, tunanganku memberi tahuku bahwa aku mempunyai ibu yang tak pernah aku ingat, dan Intan yang dulu membenciku sekarang muncul dan baik padaku!" ucap Yua yang kebingungan itu, meski sempat menahan airmatanya namun tetap saja ada setetes yang tak bisa ia tahan.


Namun... suasananya berubah menjadi lebih berat. Alex yang sejak tadi dingin pada Yua, tergerak hatinya menyeka tetes airmata yang jatuh di pipi Yua. Setelah menyeka airmata Yua menggunakan ibu jarinya itu, entah kenapa kedua tangan Alex kini memegangi kedua pipi Yua dan sedikit mengangkat kepala Yua keatas.


Dug


Kedua mata mereka pun bertemu. Baik Yua maupun Alex kini saling menatap saling tertuju satu sama lain. Sedetik pun mereka tak bisa mengalihkan padangan mereka.


...***...


Semakin lama, wajah Alex semakin mendekati wajah Yua.


Dag Dig Dug


Detak jantung Yua ikut merasakan ketegangan ini. Jantungnya kini berdetak lebih kencang dari biasanya. Semakin wajah Alex mendekati wajahnya semakin kencang detak jantungnya. Anehnya, Yua yang tahu kemana arah situasi ini berlanjut tidak mengelak atau melakukan perlawan. Yua bahkan menutup kedua matanya. Seolah lupa akan kerisauannya tadi, Yua kini tenggelam dalam perasaannya.


Begitupula dengan Alex, Ia yang sejak tadi menahan dirinya dihadapan Yua tadi malah terbawa suasana dan tidak dapat mengendalikannya. Mungkin karena nalurinya sebagai pria. Ia tidak dapat melihat seorang wanita bersedih dihadapannya, apalagi saat itu hanya ada mereka berdua saja di sana.


Tanpa sadar hanya tinggal satu centi lagi bibirnya bertemu dengan bibir Yua. Benar kata pepatah... Jangan berduaan saja di tempat sepi, karena yang ketiga adalah setan. Entah setan apa yang merasuki mereka berdua.


Kiss


Kini, bibir Alex tepat berada diatas bibir Yua. Tapi Yua tak merasa aneh dengan dirinya itu. Menerima sebuah ciuman dari orang yang belum kenal begitu lama bahkan belum satu minggu. Namun, perasaannya mengatakan bahwa ia senang menerima itu semua.


Singkat dan cepat.


Mereka kembali membuka mata dan kembali saling menatap. Tapi sepertinya belum berakhir, Perlahan Alex mendorong tubuh Yua hingga akhirnya sebuah dinding menghentikan langkah mereka.


Satu kecupan sepertinya tak cukup untuk mereka berdua. Yua kembali menutup matanya, begitupula Alex. Bibir Alex dengan lembutnya mengecup bibir Yua yang terlihat rapuh itu. Dari beberapa ciuman kecil hingga berubah menjadi ciuman yang passionate.


...***...


Perasaan Yua tiba-tiba menjadi campur aduk. Ia adalah tunangan orang lain dan akan segera menikah, tapi ia begitu teganya dengan menerima ciuman dari orang lain. Bahkan ia dan Arga tak pernah lebih dari sekedar kecupan di jidatnya saja.


Hatinya menerima, tapi tidak dengan pikirannya. Lagi-lagi airmatanya pun kembali terbit. Bukan karena pengkhiatannya itu tapi seperti ada alasan yang lain.


Tak hanya Yua yang terbit airmatanya itu, Di ujung pelupuk mata Alex yang masih menjelajahi bibir Yua itu pun terlihat sedikit basah, seperti ada kesedihan dalam hatinya.


Tik Tik Tik


Yua seperti dibawa kedalam suatu ruangan gelap. Satu persatu memorinya muncul. Memorinya yang berharga. Mulai saat dirinya masih kecil hingga ia dewasa.


Namun, ada satu memori baru yang tiba-tiba muncul dalam ingatannya. Ingatan dari masa lalu yang pernah ia kunjungi.


Tik Tik Tik


Tik Tik Tik Tik Tik


Tik Tik Tik Tik Tik Tik Tik


Bunyi jarum jam itu semakin cepat dan memekakkan telinga Yua. Lalu didepannya muncul sebuah jam yang menjadi sumber bunyi itu. Namun, jam itu malah retak dan semakin retak tanpa disentuh.


Krek Krek KREK


Jam itupun pecah dan hancur.


Seketika itu juga Yua membuka matanya dan membuat Alex menjauhkan bibirnya. Sesaat sesudah Yua membuka mata mereka dikagetkan dengan sebuah bunyi dari oven,


Ting


Akhirnya setelah 45 menit, adonan yang mereka panggang tadi pun telah matang.


____________________


Terimakasih sudah membaca😊