
"Aku..." Yua yang baru akan memulai cerita, mendadak berhenti.
"Deg... deg... deg"
Jantung Yua berdegup lebih kencang dari biasanya. Ia jadi merasa aneh. Kenapa ia merasakannya lagi? Kenapa saat Alex bercerita tadi dirinya tidak merasakan apa-apa?. Tapi... ketika gilirannya bercerita, Ia malah berdebar seperti ini, huft.
Saat ingin kembali melanjutkan cerita, Yua malah tak sengaja menatap mata Alex yang juga sedang menatap wajahnya. Pipinya tiba-tiba memerah bahkan terasa panas. Mungkin karena Ia tidak biasa dilihat ketika bercerita makanya jantungnya terus berdebar.
"Jangan lihat aku seperti itu" celetuk Yua.
Yua ingin Alex melihat ke arah lain saat ia bercerita. Alex lalu tertawa mendengar permintaan konyolnya itu. "Bagaimana seseorang akan mengerti apa yang disampaikan lawan bicara jika tidak melihat lawan bicara langsung" protes Alex.
Apa yang dikatakan Alex memang ada benarnya. Yua lalu meminta waktu lima menit untuk menenangkan hati dan pikirannya. Saat ia ingin hatinya berhenti berdebar, Ia malah teringat sebuah mimpi. Mimpi itu terlihat samar.
Yua hanya mengingat ia berada di sebuah ruangan hitam dan gelap. Yang paling ia ingat adalah seseorang yang berkata "Sadarlah" padanya. Lalu ingatannya akan mimpi itu semakin jelas. Yua melihat seorang pria menghancurkan ruangan gelap itu dan menolongnya. Ia merasa pernah melihat pria itu di suatu tempat. Perlahan wajah pria dalam mimpinya itu semakin jelas. Bertubuh tinggi, putih, berambut pirang dan memiliki tahi lalat di mata kirinya.
Yua lalu membalikkan badannya. Pria itu tampak seperti Alex. Yua yang tadinya ada di jarak 3 meter perlahan mendekat ke arah Alex. Ia menajamkam matanya memperhatikan Alex dari ubun-ubun hingga kakinya.
"Mirip banget!" curiganya. "Sebelum aku mulai, kamu jawab pertanyaan aku dulu!" pinta Yua. Alex lalu mengiyakan permintaan Yua itu.
Sambil mengerutkan dahinya Yua lalu melempar satu pertanyaan.
"Kamu bisa masuk kedalam mimpi orang gak?" tanya Yua penasaran.
Jawaban Alex Simpel, "Tidak".
Yua lalu memperhatikan raut muka Alex dengan seksama, tidak ada tanda-tanda ia berbohong. Mukanya tenanh dan sikapnya biasa saja seperti bayi tanpa dosa. Okelah... sepertinya itu hanya bunga tidur Yua saja.
"Baiklah... aku akan mulai ceritanya, tapi jangan senyam-senyum gitu" Ingat Yua melihat Alex yang di depannya itu terus tersenyum.
...***...
Yua memulai kisahnya ketika Ia duduk di kelas 3 SMP.
Ketika itu Yua memiliki seorang sahabat yang sudah menemaninya satu tahun belakangan ini, namanya Intan. Meskipun mereka bersahabat tapi mereka tidak sering menghabiskan waktu bersama. Mereka sama-sama suka menyendiri. Meluangkan waktu untuk diri sendiri adalah cara terbaik membahagiakan teman. Saat di sekolah mereka juga sering mendiamkan satu sama lain, tapi yang paling penting adalah mereka saling ada dan saling membantu jika salah satu dari mereka kesusahan.
Saat itu adalah hari ulang tahun Yua. Ia mengajak Intan berkunjung ke rumahnya. Rencananya akan ada perayaan kecil-kecilan bersama sang Ayah. Tanpa ragu, Intan menerima ajakan Yua.
Awal putusnya persahabatan mereka bermulai saat mereka sampai di depan rumah Yua. Intan terkejut melihat betapa megahnya rumah Yua. Yua lalu menjelaskan dengan bangga bahwa rumahnya Itu adalah hasil kerja keras sang Ayah yang berhasil mengembangkan bisnis properti dengan baik. Namun saat pesta ulang tahun dimulai, raut muka Intan sedikit berubah dan tampak murung.
Keesokan harinya, Intan malah menjauhi Yua. Intan berubah hanya dalam satu malam. Ia tidak lagi membutuhkan Yua saat dirinya menjadi sasaran rundung teman sekelasnya.
Ya.. Intan menjadi target rundung. Entah apa yang menyebabkan Ia menjadi target rundung. Apa karena Intan berasal dari keluarga sederhana?.
Hubungan diantara mereka semakin parah saat kabar Yua adalah putri pengusaha kaya tersebar di seluruh sekolah. Alhasil, banyak teman-teman disekolahnya yang mulai mendekatinya dan menjadikannya sasaran empuk untuk menaikkan status sosial mereka.
Meskipun banyak orang yang kini mendekatinya, tapi dalam hati Yua intan tetaplah sahabatnya. Saat Yua mencoba menghentikan perbuatan jahat teman sekelasnya itu, teman-temannya itu malah menjilat Yua. Akhirnya, Intan menjadi salah paham. Ia mengira Yua lah yang menyuruh teman sekelasnya untuk merundung dirinya.
Yua berkali-kali menjelaskan bahwa dirinya tidak tahu kenapa semua orang mengetahui status ekonomi keluarganya. Yua juga bersumpah tak pernah menyuruh teman sekelas untuk merundungnya. Yua juga meminta Intan untuk segera melaporkan perundungan ini kepada guru. Namun niat baik Yua dianggapnya sebagai hinaan.
Kejadian ini berlarut hingga berbulan-bulan.
Puncaknya, saat Yua tak sengaja mendengar percakapan teman-temannya di toilet sekolah. Bahwa mereka ingin menjahili Intan di atap sekolah ketika semua siswa sudah pulang. Tak ingin Intan dalam bahaya, Yua lalu dengan nekatnya menghalangi mereka. Bukan memberitahu kepada guru, Ia dengan nekat ingin menyelesaikan masalah ini seorang diri.
"Teng Teng"
Bel pulang sekolah berbunyi. Yua dengan segera berlari ke atap sekolah lalu bersembunyi di balik tumpukan meja yang sudah usang.
Tak lama setelah Yua bersembunyi, ia melihat dan menyaksikan Intan dibawa oleh 5 orang teman kelasnya. Mereka satu persatu menjambak, menendang, menampar dan perbuatan tak manusiawi lainnya.
Dengan rasa percaya dirinya yang tinggi, Yua mengambil sebuah sapu yang ada di dekatnya dan muncul dihadapan mereka. Dengan berani Ia menggertak teman-temannya itu sambil menodongkan sapu.
"Braakk"
Tapi.. Intan malah mendorong Yua. Ia merasa tak pernah meminta bantuan Yua. Intan lalu mencoba melepaskan dirinya dari genggaman teman-temannya itu dan berlari ke arah pagar atap. Tanpa takut ia lali berdiri di atasnya. Mereka yang merundung Intan itu pun berjalan santai kearah Intan dan berlalu melewati Yua. Salah satu di antara mereka juga mengambil sapu yang Yua pegang tadi dan hendak menyerang Intan.
Yua yang panik tak punya cara selain melaporkan ke wali kelas. Ia bersama wali kelas langsung menuju atap sekolah. Sesampainya di atap Yua bisa bernapas lega, ternyata Intan sudah turun dari atas pagar itu. Wakil kesiswaan lalu menyuruh mereka bertujuh menghadap kepala sekolah di kantornya. Mereka diminta untuk jujur dan menjelaskan apa yang terjadi.
Sial tak dapat dicegah. Mereka semua termasuk Intan sepakat mengatakan bahwa orang yang menyuruh dan melakukan perundungan pada Intan adalah Yua.
Namun, suara enam orang akan lebih dipercaya daripada suara seorang.
Tapi, Yua tidak bersalah. Sekali pun ia tidak pernah takut, Ia juga tidak menangis. Ia percaya bahwa Intan sebenarnya dipaksa untuk berbohong. Tapi pihak sekolah tetap harus memproses kejadian Ini. Pihak sekolah langsung menghubungi Ayah Yua dan orangtua murid lainnya.
"tap... tap... tap"
Dengan berlari Ayah Yua menuju kantor kepala sekolah. Ia melihat para orang tua dan siswi yang terlibat sudah berkumpul. Ayah Yua sedikit terlambat karena ada masalah yang harus ia selesaikan di kantor. Tak perlu panjang lebar, pihak sekolah lalu menceritakan apa yang terjadi.
Yua percaya bahwa Ayahnya tak akan mudah percaya dengan apa yang mereka katakan dan akan membelanya, tapi...
"Paakk"
Sebuah tamparan mendarat di pipi Yua. Yua terkejut. Ayah yang ia percaya akan membelanya malah menamparnya. Yua lalu melihat di sekelilingnya, semua menertawakannya termasuk Intan. Meski sudah ditampar, Yua tidak sudi meneteskan airmatanya. Setelah meminta maaf, Sang ayah menyeret Yua dan kembali pulang ke rumah tanpa mendengar penjelasannya terlebih dahulu.
Setibanya di rumah, sang Ayah lalu menghukumnya berdiri seharian di ruang tamu. Yua kembali mencoba meyakinkan Ayahnya. Namun, Sang Ayah menolak untuk mendengarkannnya karena ibuk mempersiapkan pencatatan perdana saham perusahannya sehingga tak punya banyak waktu mendengar penjelasan Yua.
Setelah Ayahnya meninggalkan rumah, barulah Ia keluarkan isi hatinya. Ia ingin menangis tapi terus ia tahan, karena ia tidak bersalah. Tapi ia tak mampu menahan air matanya itu ketika mengingat sang ayah yang menampar dirinya di depan umum dan tak mau mendengar penjelasannya.
Besoknya Yua kembali ke sekolah, Ia masih melihat pemandangan yang sama. Intan tetap dirundung, tapi dirinya juga ikut dirundung namun tak sekejam perlakuan mereka pada Intan.
Setiap hari mereka meminta uang dari Yua. Meski sempat menolak, tapi pada akhirnya Yua harus menuruti permintaan mereka, karena mereka mengancam akan memberitahu Ayahnya jika anaknya itu kembali melakukan perundungan. Tentu saja itu kebohongan mereka. Tapi Yua benar-benar takut jika harus melihat sang ayah kembali marah padanya. Yua hanya dapat menurut tanpa berani melawan kembali hingga tanpa disadari perundungan padanya berlangsung hingga hari kelulusan SMP.
Namun, nasi sudah jadi bubur. Ayah Yua baru menyadari bahwa anaknya itu tak pernah berbohong. Ayah baru mengetahui kejadian sebenarnya setelah melihat Yua menangis dan bergumam sendirian di kamarnya di hari kelulusannya itu.
Ayah Yua pun merasa bersalah tapi caranya meminta maaf dan memperlakukan Yua salah. Ia memanjakan Yua secara berlebihan dengan hartanya yang melimpah itu. Ia membelikan apa saja yang ia rasa Yua ingin hingga semua kebutuhan Yua sudah tersedia dirumah.
Tapi bagi Yua, kejadian hari itu membuat rasa percaya diri Yua pelan-pelan menghilang. Rasa kagum dan hormatnya pada sang Ayah juga ikut memudar. Apapun yang sang ayah lakukan kini tak ada artinya. Melihat ayahnya memanjakannya dengan harta menjadikannya pribadi yang tertutup. Tak perlu keluar rumah!, Apapun bisa ia dapatkan dari sang ayah bahkan tanpa memintanya.
Bahkan saat SMA rumor dirinya seorang perundung tersebar dengan cepat. Di sekolah juga tidak ada yang mau berteman dengannya. Perlahan Yua menutup hatinya, tak hanya pada Joe tapi juga semua orang. Yua menjadi semakin penyendiri. Ia tak pernah keluar kamar selain untuk mengambil makanan dan pergi sekolah. Yua pun tumbuh menjadi seorang pemalas, keras kepala dan tak bisa apa-apa.
...***...
"Saat kuliah bahkan mereka berlari ketika aku berjalan ke arah mereka, padahal aku ngak ngigit" ucap Yua sambil tertawa terbahak-bahak.
"Kayaknya nasib kamu selalu sial" ledek Alex. Namun ledekan Alex malah membuat suasana menjadi meriah.
"Hahahaha"
Yua lalu menyudahi ceritanya yang membosankan itu. Ia tidak berminat melanjutkannya karena tak ada lagi yang menarik baginya. Syukurlah, tak ada air mata yang jatuh meski mengingat masa lalu yang kejam itu.
"Benarkan, ceritaku tidak sedramatis punya kamu! Anggap saja angin lalu!" seru Yua sambil tertawa.
Alex tak memberi satupun kata penyemangat karena ia tak iingin mengasihani Yua yang menceritakan masa lalunya itu dan sepertinya Yua pun tak ingin dikasihani. Jadinya Ia hanya tersenyum dan memasang muka yang hangat agar Yua kembali ceria.
Tapi... tampaknya itu semua tak baik bagi kesehatan jantung Yua. Yua sepertinya tak kuat menahan beban dari senyuman bak malaikat itu seorang diri. Saat ingin menghindari wajah Alex, Yua malah tak sengaja lagi melihat senyuman maut Alex itu.
"dug.. dug.. dug"
Alex yang melihat Yua memukul-mukul dadanya itu pun mendekat. Ia hendak memeriksa keadaan Yua, khawatir jika Yua mengalami kondisi penolakan waktu. Alex lalu menjongkokkan badannya dihadapan Yua yang sedang duduk di kursi panjang itu. Yua lalu memutar badannya kearah Alex. Ia tak sadar matanya bertemu dengan mata Alex.
Suasana berubah menjadi panas dan suara debaran jantungnya semakin keras berbunyi, Ia takut Alex mendengar detak jantungnya. Semakin lama dadanya juga semakin sesak. Yua tak tahu sedang berada dalam suasana seperti apa. Sebelum semua terlambat, Ia mendorong Alex dengan kedua tangannya sekuat tenaga hingga Alex tersungkur.
"braakk"
Ya, namanya saja Alex. Ia tidak marah, malah Ia langsung tertawa dengan terbahak-bahak.
"Hahaha"
Melihat Alex yang tidak dapat menahan tawanya itu membuat Yua juga ikut tertawa. Tanpa disadari hujan pun turun setelah mendung sejak pagi. Suasana kembali normal dan sedikit sejuk.
_______________________________
Terimakasih sudah membaca😊
Jangan Lupa Like, Comment, dan Favorite-nya.