40 Days, One Love

40 Days, One Love
Mimpi



Syukurlah, Setelah semalam menginap tidak terjadi apa-apa di rumah Risma. Risma juga sudah menyampaikan keputusannya pada Ayah Arga. Mereka masih belum tau kapan akan berangkat ke Inggris, tapi mereka akan pergi dalam waktu dekat ini.


Joe, Yua dan Yucil lalu berpamitan pulang. Untuk beberapa hari ke depan Arga diminta untuk tidak usah dulu ke rumah mereka. Joe juga meminta Arga untuk istirahat dan menemani ibunya saja.


Yua yang baru sampai di rumah langsung merebahkan badannya di kasur. Ia sangat letih, setelah di cafe alex seharian ia lalu berjaga di rumah Risma.


"Argggg.. kenapa aku tiba di tahun yang primitif ini, andai aku bawa handphone" keluh Yua sambil berguling-guling di atas kasur.


Yua lalu berhitung menggunakan tangannya.


"30... ,1....,2...,3...,4...,5..,6,7,8,9,10, berarti sudah 11 hari aku ada disini" ucapnya. Ini berarti sudah sebelas hari kedatangannya di sini.


Yua lalu teringat kata-kata Alex jika dirinya harus kembali ke 2021 dalam 40 hari. Menjelang 40 hari tubuhnya akan merasakan sakit yang luar biasa. Ia juga teringat alasan Alex tidak mau kembali adalah karena ia tidak ingin berpisah dengan Gayatri dan kedua orang tuanya dan Ia berakhir sebagai Tahanan waktu.


"Apakah kebahagiaan aku bertemu Ayah di sini adalah kebahagian semu belaka? atau aku hanya lega karena ayah tidak meninggal disini? Apa aku ingin kembali di masa depan yang jelas-jelas aku akan sendiri di sana?" pikir Yua dalam hatinya.


Perlahan matanya mulai mengantuk, Yua pun tertidur sambil memikirkan apakah ia ingin kembali ke masanya atau tidak.


...***...


Perlahan Yua membuka matanya dari tidurnya yang nyenyak itu. Sama seperti sebelumnya, setiap bangun ia selalu melihat atap yang selama ini ia lihat setiap bangun tidur.


"Tok..tok..tok"


Seorang wanita datang membuka pintu kamarnya.


"Mama bawain bubur ayam favorit kamu!" ujar wanita yang mirip dengannya tapi tampak jauh lebih tua.


"mama???" tanya Yua kebingungan. Tapi wanita itu tidak menjawab pertanyaannya.


Yua lalu memakan bubur itu dengan lahap. Wanita itu lalu meletakkan tangannya di kening Yua untuk mengcek suhu tubuhnya. Wanita itu juga meminta Yua untuk istirahat di kamar saja.


Setelah beberapa jam isirahat di kamar, Yua lalu turun ke bawah. Ia melihat Ayahnya. Yua lalu memeluk sang ayah dengan erat.


"Kamu kenapa? kok nangis?" tanya ayahnya.


Yua tak tahu kenapa ia menangis. Ia merasa jika pernah kehilangan sang ayah dalam mimpinya.


"Syukurlah... Ayah baik-baik saja" ucap Yua.


Yua lalu mengantarkan ayahnya yang akan pergi ke kantor. Entah kenapa perasaannya menjadi ringan seperti tak ada beban. Ia juga teringat dengan drama yang belum ia tonton dan kembali ke kamarnya. Saking rindunya menonton drama ia membuka semua file drama yang ada di laptop dan menontonnya hingga berjam-jam.


"ding dong"


Bel di depan rumah pun berbunyi. Seketika itu handphonenya juga berbunyi.


"Beep Beep"


Itu adalah panggilan dari Arga. Arga sedang berada di depan gerbang. Yua langsung bersiap-siap, tak lupa memakai lipstik agar tampak segar.


Wanita tua tadi lalu membukakan pintu untuk Arga.


Saat Yua hendak turun ke bawah, sudah ada Arga yang duduk manis di ruang tamu menantinya. Arga tak lupa membawakan oleh-oleh dari Inggris. Arga yang melihat Yua di lantai atas langsung berdiri. Mereka berdua saling berlari kearah masing-masing dan berpelukan dengan mesra.


"Kenapa kamu lama sekali datang kesini, betah ya di Inggris" tanya Yua.


Arga membelai kepala Yua dengan lembut, tak lupa juga mencium kening Yua.


"Aku selalu memikirkanmu, hari ini aku pulang" jawab Arga.


"Selamat datang" sambut Yua.


...***...


Waktu berlalu begitu cepat. Suasana mendadak berubah menjadi berat. Sekeliling Yua dipenuhi oleh orang-orang berpakaian hitam seperti sedang melayat. Saat Yua melihat ke tengah kerumunan ia melihat ada sebuah peti mati yang tertutup rapat di tengah-tengah rumah. Namun, Ayah dan Arga ada disampingnya. Lalu siapa yang ada di dalam peti itu?.


Badannya tiba-tiba lemas dan tidak bisa berbicara. Arga yang disampingnya hanya menenangkannya dan berkata "Kamu harus sabar" sepanjang waktu.


Prosesi pemakaman berlangsung lancar tanpa hambatan. Proses terakhir adalah pemasangan batu nisan. Batu nisan lalu diletakkan di bagian atas kuburan. Terkejut bukan main saat Yua melihat nama yang ada di batu nisan itu. Di sana tertulis nama "Lily Winarto".


"Lily??" Yua jadi teringat akan nama itu. Ia merasa seseorang pernah memanggilnya dengan nama Lily.


"Yucil.. kamu ngak apa-apa?" tanya Arga.


"Yucil??" tanya Yua dengan bingung. Ia tak mengenal nama Yucil.


"Ia, kamu kok lupa.. nama kamu kan Yucil Winarto" jawab Arga. "Kamu harus selalu mendoakan ibumu supaya tenang di alamnya yang baru" sambung Arga.


"Ibu?... Lily winarto adalah Ibuku?" pikirnya dalam hati.


...***...


Pemakaman selesai, semua tamu sudah pulang dan mereka juga harus kembali ke rumah. Ayah Yua mengantarkanya ke kamar.


"Ayah.. nama aku siapa?" tanya Yua.


"Nak, kamu mungkin sedang syok. kamu sampai melupakan namamu" ucap Ayahnya dengan nada kasihan. Namamu Yucil Winarto" sambung sang Ayah sambil membelai kepalanya.


Yua lalu mendorong Ayahnya.


Arga yang mendengar keributan dari kamar Yua langsung berlari kesana. Ia melihat Yua sedang mengamuk.


"Aku bukan Yucil, namaku Yua! kenapa kalian tidak ingat" ucap Yua dengan nada marah.


Tiba-tiba sekeliling Yua menjadi gelap. Hanya ada Ia seorang di sana.


Yua frustasi dan bingung. Ia seperti terpenjara.


...***...


Waktu terus berlalu.


"Sudah berapa lama aku disini?, sekarang siang atau malam?" pikirnya dalam hati.


Airmatanya mengalir. Sungguh ia tak paham dengan kondisinya sendiri. Yua yang menangis kembali teringat akan sebuah mimpi yang telah ia lupakan.


Di mimpi itu ia bertemu dengan seorang pria yang membawa anak perempuannya berumur tiga tahun. Pria dan anak itu sangat mirip dengan dirinya dan sang ayah masih sangat muda. Yua lalu tinggal bersama mereka. Pria itu memberinya nama Lily.


"Lily.. sama dengan nama wanita itu?" pikir Yua dengan bingung. Yua lalu kembali mengingat mimpinya itu.


Disana ia juga bertemu dengan anak laki-laki yang mirip dengan Arga. Mereka sering bermain dan berkumpul bersama. Hari-hari dilalui dengan kebahagiaan.


Yua lalu menikah dengan Pria itu. Namun kesengsaraan mulai menerpanya. Ia tak bisa keluar dari rumah itu. Awalnya ia merasa tak masalah, Ia pikir sudah cukup dengan melihat Pria itu menua dan putrinya yang menjadi dewasa. Namun, ia frustasi. Pria dan anak itu tumbuh menjadi semakin mirip dengannya dan sang Ayah di dunia nyata. Ia akhirnya mengakhiri hidupnya sendiri.


Yua menangis mengingat mimpinya itu. Mimpinya seperti nyata.


...***...


Suasana kembali berubah.


Tubuhnya seketika mengecil seperti saat berumur tiga tahun. lalu disampingnya datang sang ayah yang masih muda menggunakan jas rapi, lalu tangannya dipegang oleh anak laki yang mirip dengan Arga. Mereka berjalan kearah seorang wanita yang memakai gaun pengantin.


Wanita itu mengambil tangannya dan mencium keningnya. "Mulai hari ini, panggil aku Mama Lily, ya Yucil..." minta wanita itu.


Saat Ia melihat wajah wanita itu ternyata dia adalah dirinya versi dewasa dan semua orang memanggilnya dengan nama Yucil.


Yua akhirnya mengerti apa yang terjadi.


Lily dan Yucil adalah dirinya yang sama. Mereka adalah Yua. Hanya saja Yua kini berada di tubuh Yucil, sedangkan tubuhnya yang dewasa (Lily) bergerak dengan bebas. Ia juga paham jika yang dimakamkan itu adalah dirinya sendiri yang sudah menua.


Akal sehat Yua lalu kembali. Kini ia sedang bermimpi dan dalam mimpinya ia bermimpi. Mimpi yang tak akan pernah berhenti.


Yua ingin keluar dari mimpinya tapi ia tak bisa. Ia takut membuat Joe dan Yucil khawatir jika tidak bangun sekarang. Ia berharap ada orang yang bisa membantunya.


"SADARLAH..."


Seseorang berteriak dari tempat gelap itu. Yua terkejut. Ia merasa mengenal suara itu. Suara yang dapat menolongnya.


"Kumohon Sadarlah..." teriak pria itu sekali lagi.


Seorang pria bertubuh tinggi, putih dan berambut pirang tiba-tiba menghancurkan dunia gelap itu, berjalan ke arah Yua dan memeluknya. Pria itu meminta dirinya agar sadar. Pelukan pria itu terasa sangat hangat membuat Yua ia ingin cepat-cepat sadar dan menemuinya segera.


"Pejamkan matamu" minta pria itu.


Yua menuruti permintaan pria itu dan menutup matanya.


"Bukalah" pintanya lagi.


...***...


Yua lalu membuka matanya perlahan, tapi ia masoh takut jika ia masih berada di dalam mimpinya itu.


"Huaaa~"


Suara tangisan terdengar sangat kencang hingga memekikkan telinga Yua. Itu adalah suara Yucil. Yucil sedang menangis di sampingnya dan ada Joe yang duduk di kursi di pojok kamar.


"Kenapa nangis?" tanya Yua.


Yua lalu menyeka air mata Yucil yang masih mengalir. Sadar Yua sudah bangun, yucil memanggil ayahnya.


"Ayahhhhh... ma..ma cudah bangyunn!" teriak Yucil.


Joe lalu bangun dan langsung melihat kondisi Yua.


"Sayang.. kenapa kamu menangis? tanya Yua lagi pada Yucil.


Yucil lalu memeluknya. Joepun segera mengambil air putih.


Yua merasa jika dirinya baru tertidur 5 menit yang lalu, tapi wajah panik Joe dan Yucil tak seperti melihat seorang yang hanya tidur 5 menit. Joe lalu membantu Yua bangun dari kasur. Ia meninggikan bantal agar Yua bisa duduk dengan nyaman. Yucil lalu menyuruhnya untuk meminum air putih.


"Kenapa semua panik sih, aku ngak apa-apa kok" jelas Yua.


Joe terdiam dan menepukkan tangan di pahanya. "Kamu sudah tidur 3 hari" ungkapnya.


Yua terkejut.


Bagaimana mungkin?...Bahkan Yua merasa baru tidur lima menit yang lalu dan ternyata sudah tiga hari berlalu. Ia juga tak mengingat apa yang ia mimpikan hingga tertidur begitu lama. Merasa telah membuat semua orang khawatir akhirnya Yua meminta maaf.


"Aku minta maaf selalu membuat kalian khawatir dan repot" Yua pun meminta maaf pada Joe dan Yucil.


______________________________


Terimakasih Sudah Membaca❤


Jangan Lupa Like, Comment, dan Favorite-nya.