
"Hei.. kamu kok sejak tadi melamun terus" tegur Arga pada Yua yang tampak melamun itu.
"Hah? aku??? Ngak kok... A..Aku gak ngelamun. Aku cuma masih kepikiran mimpi kemaren, cuma aku ngak ingat" ujar Yua yang sesekali mengusap wajahnya untuk menyadarkan dirinya dari lamunannya itu.
"mbak.. silahkan dicoba gaunnya!" seru si pemilik butik sambil membawa sebuah gaun pengantin berwarna putih.
Yua lalu mencoba gaun itu dibantu oleh seorang assisten butik. Tak ketinggalan Arga yang juga mencoba setelan jas dengan warna serupa di bilik yang bersebelahan dengan Yua. Mereka lalu keluar bersamaan dari bilik itu setelah gaun dan jas yang mereka pakai telah terpasang sempurna.
"Wahh.. serasi sekali" sahut bangga si pemilik butik melihat betapa indah dan pasnya baju rancangan miliknya saat mereka kenakan. "Apa ada yang harus diperbaiki?" tanya pemilik butik memastikan rancangannya sesuai dengan permintaan pelanggan.
"Kalau jas saya sepertinya tidak perlu perbaikan, saya rasa semua pas" jawabnya.
Arga lalu melirik kearah Yua yang ada disampingnya. Arga terpesona dengan keanggunan Yua memakai gaun pengantinnya. Memang matanya tak bisa ditipu, gaun itu memang sangat cocok di tubuh Yua dan membuatnya terlihat lebih dewasa.
"Kalau kamu?" tanya Arga pada Yua yang lagi-lagi terlihat melamun. "Mmmm.. apa? maaf aku ngak dengar?" jawabnya.
Arga lalu memberi sebuah kode dengan tangan kanannya yang langsung dipahami pemilik butik dan asistennya. Kode itu adalah permintaan Arga agar mereka bisa berdua saja di ruangan itu. Untuk sementara waktu ia ingin tak ada orang lain di sana, karena ada hal yang tak ingin orang lain dengar. Ia malu jika ada yang mendengar pujiannya pada Yua. Pemilik butik bersama asistennya lalu meninggalkan ruangan dan meminta Arga untuk memanggilnya kembali jika ada yang bisa ia bantu.
Kini hanya ada Arga dan Yua yang saling berhadap-hadapan. Yua dengan gaunnya serta Arga dengan Jasnya tampak sangat serasi. Suasana pun berubah menjadi intim.
"Kamu sangat cantik dengan gaun itu, semua orang pasti akan memperhatikanmu saat pernikahan kita nanti" puji Arga sambil menatap mata pujaan hatinya itu.
"Terimakasih.... Pak" jawab Yua, tapi ia langsung memalingkan wajahnya karena tersipu malu.
"Pak?... kamu bukan mahasiswa lagi, mulai sekarang panggil namaku saja, Arga!" minta Arga yang tak mau lagi Yua memandangnya hanya sebagai dosen, karena ia dan Yua akan segera menikah.
"Arga..." ucap Yua berlatih memanggil nama mantan dosennya itu yang langsung dibalas senyuman oleh Arga.
Yua tahu bahwa Arga adalah orang yang baik, tapi Yua terlalu merendahkan dirinya hingga berpikir Arga terlalu baik untuknya. Masih ada perasaan yang mengganjal di hatinya yang masih tak ia ketahui alasannya. Yua bahkan memikirkan itu sejak kemarin. Tapi mau tak mau ia harus menerima Arga dan mencoba membuka hatinya. Tak ada orang lain selain Arga yang ada di sisinya saat ini.
"Om Joe pasti akan senang melihat putrinya beberapa minggu lagi akan menjadi pengantin!" ujar Arga. "Aku janji, aku akan mencintai kamu dan menjaga kamu selamanya" tambahnya sambil mengenggam kedua tangan Yua.
...***...
Setelah selesai fitting baju, Yua dan Arga bertolak langsung ke tempat selanjutnya yaitu veneu resepsi mereka di salah satu hotel mewah di ibukota. Awalnya venue resepsi mereka akan menggunakan convention hall namun karena kondisi saat ini yang tidak memungkinkan maka venue dipindahkan ke tempat yang lebih aman.
Sebelum Arga melajukan mobilnya ia tak lupa memasangkan sabuk pengaman untuk Yua, karena Yua tak pernah bisa memasang sabuk pengamannya sendiri. Mobil kemudian dilajukan lalu mereka meninggalkan butik. Arga memang harus ekstra sabar menghadapi Yua. Yua memang tak banyak bicara sehingga Arga lah yang harus selalu membuka pembicaraan.
"Ua.. kamu kok sejak tadi aku perhatiin kamu ngak seperti biasanya??... biasanya kamu cuek trus kata-kata kamu tu biasanya pedas kayak orang marah tapi sekarang kamu kok kalem, diem sama suka ngelamun" tanya Arga terheran dengan perubahan sikap Yua dalam semalam.
"emang iya?" tanya Yua balik pada Arga yang tak merasa ada perubahan pada dirinya. "iya... mungkin kamu masih sedih jadi pembawaannya jadi kalem" jawab Arga.
Baru satu minggu sejak kepergian sang Ayah tentu saja Yua masih merasa sedih dan syok kehilangan satu-satunya keluarga yang ia miliki. Kesedihannya itu lah yang membuat Arga berpikir kenapa sikap Yua yang melembut padanya. Arga merasa ada sedikit harapan Yua membuka hati untuknya.
"Kemarin aku mimpi, kayak nyata ada indahnya ada sedihnya, tapi aku ngak ingat sama sekali. Sejak bangun kemarin aku merasa ada yang hilang tapi aku ngak tau itu apa" ungkap Yua tiba-tiba.
Perlahan tapi pasti Yua mulai membuka hatinya, ia mencoba untuk mengutarakan apa yang ia rasakan saat ini pada Arga. Mendengar perasaan Yua membuat Arga senang, meski tak memahami perasaan yang dirasakan Yua setidaknya ia bisa memberi semangat padanya.
...***...
"grgrgrggr~~~"
Terdengar suara perut yang sedang kelaparan. Siapalagi kalau bukan Yua. Tadi pagi ia tak sempat membuat sarapan dan malam kemarin ia juga tak makan apapun.
"Ppftt.. Cacing-cacing diperutmu sepertinya sudah kelaparan. Gimana kalau kita mampir dulu di cafe langganan aku. Kita pesan makanan dan minuman disana" ajak Arga.
"Baiklah.. maaf aku merepotkan" ungkap Yua.
Arga lalu mengambil jalan berbelok yang berlawanan dengan arah tempat tujuan mereka. Mereka hendak ke cafe yang biasa Arga kunjungi. Setelah beberapa lampu merah dan persimpangan jalan, mereka sampai di cafe itu.
"Di sini???..." tanya Yua. "Aku pernah beberapa kali ke sini bikin tugas. Tapi entah kenapa rasanya seperti baru kemarin aku ke sini!" sambungnya.
"Ayo masuk" ajak Arga.
Saat pertama melihatnya semua orang akan berpikir cafe ini sangat unik. Selain menu yang mereka jual, banyak pelanggan yang datang karena keunikan dan kenyamanan yang disuguhkan cafe ini. Pertama, yang dapat dilihat dari keunikan cafe ini adalah papan nama cafe atau palang yang bertuliskan nama cafe ini "EVER Cafe". Kedua, pelayanannya yang ramah, para pelayan akan menyambut semua pelanggan yang baru datang.
"Selamat siang.... Silahkan duduk" sapa seorang pelayan dan langsung mengarahkan mereka ke meja yang masih kosong. Setelah menemukan meja yang kosong, Yua bukannya duduk malah berkeliling melihat-lihat pajangan dan rak buku yang ada di cafe itu. Sedangkan Arga bertugas menjaga meja dan memesan makanan dan minuman.
"Mau pesan sekarang atau nanti"
"Sekarang.. Saya pesan 2 tiramisu , 1 milksake stroberi dan 1 hot coffe"
"Baik, pesanan akan segera di antar"
Saat sedang asyik melihat pajangan demi panjangan di dinding, Yua merasa pernah mengalaminya tapi ia hanya menganggap itu sebagai Deja-vu semata. Yua lalu berpindah kebagian rak buku, ia melihat tumpukan buku ilmiah bertajuk waktu namun ia tak ada niatan untuk membacanya karena ia tak suka membaca. Karena tak ada lagi yang perlu ia lihat, Yua kembali ke mejanya dan bergabung bersama Arga.
"Terimakasih sudah menunggu, ini pesanannya. 2 tiramisu, 1 milkshake stroberi dan 1 hot coffe" ucap pelayan pria yang berbeda dengan pelayan yang menyambut mereka tadi. Pelayan itu meletakkan satu persatu pesanan dan memastikan apakah pesanan sudah sesuai atau tidak.
Namun, lagi-lagi Yua merasa deja-vu tapi kali ini ia merasa sangat kenal dengan suara pelayan itu. Dengan cepat Yua berbalik badan agar bisa melihat wajah si pelayan, namun si pelayan tadi sudah berjalan jauh meninggalkan mereka. Yua hanya bisa memandangi punggung dan rambut pelayan itu yang mencolok, pirang.
"Heiii.. Yua!! kamu kenapa? ada yang aneh???" , Suara Arga memecah hening dan kembali menyadarkannya dari lamun panjangnya itu.
______________
Pertama-tama Author mau minta maaf karena lebih dari 14 hari tidak Up🙏🙏🙏🙇♀️ huhu.
Beberapa minggu yang lalu sempat terjadi kesalahn teknis di laptop author yang bikin semua draft untuk bab selanjutnya hilang dan ngak bisa diselamatkan. Karena banyak yang hilang, Author jadi tidak bisa Up dan sempat kehilangan semangat. Tapi... sekarang author lagi coba mengumpulkan semangat dan bikin draft mulai dari awal.
Mohon tunggu Up selanjutnya😊
Terimakasih❤