
"Risma.. kamu punya nomor telepon Joe, aku boleh minta?" minta Yua pada Risma.
Karena hari ini Yua akan mendapatkan ponselnya sendiri, Ia ingin segera menghubungi Joe dan menanyakan keberadaan surat yang selalu ingin ia tanya tanyakan selama ini tapi selalu lupa. Risma lalu mengeluarkan selembar kertas dari tasnya dan menulis nomor telepon Joe di atasnya.
"cring cring"
Bunyi gemerincing dari bel pintu yang menandakan ada pelanggan baru yang masuk kedalam cafe. Yua lalu meninggalkan meja Risma itu dan menitipkan Yucil padanya yang masih menikmati tiramisunya karena ia harus kembali bekerja, sedangkan Alex sudah siap menyambut pelanggan di depan pintu cafe.
Pelanggan cafe datang silih berganti meski tidak ramai. Setelah satu jam berada di cafe, Risma lalu berpamitan pulang bersama Yucil. Tak lupa Yua mengantar mereka hingga ke teras. Perlahan tampak punggung mereka mulai menjauh, namun lambaian tangan Yucil masih dapat dilihat meski dari kejauhan.
...***...
"Huft"
Yua terlihat letih setelah melayani pelanggan yang datang hari ini dan untunglah jam makan siangpun sudah dekat. Karena sudah tak ada pelanggan yang datang, Yua lalu menghampiri Alex di dapur.
"mmm.. Apa aku boleh meminta upahku sekarang? aku mau nelpon Joe.. Boleh?" Pinta Yua tanpa basa basi.
"Apa begitu cara kamu minta upah sama bos sendiri?" tegur Alex. "Kalau minta upah itu sebut nama bos kamu, jangan kamu-kamu terus" sambungnya.
"Perasaan itu dialog aku deh!!" pikir Yua dalam hati sambil menepuk jidatnya karena ingat pernah mengatakannya di awal pertemuan mereka.
Meskipun Yua pernah bilang pada Alex untuk tidak memanggilnya dengan kamu tapi malah dirinya yang memanggil Alex dengan sebutan kamu, kamu dan kamu setiap saat. Yua bahkan lupa kapan pertama dan terakhir ia memanggil bosnya itu dengan sebutan Alex.
"Maaf Lex, aku kaku kalau ngomong sama orang baru dikenal hehe~" alasan Yua. "Tapi aku yakin, kamu bahkan belum pernah panggil aku dengan nama aku, ya kan~?" celetuk Yua lagi.
"Lily" tiba-tiba Alex memanggil nama keduanya itu dengan tiba-ti a.
"Deg..Deg.."
Lagi-lagi jantung Yua berdegup kencang hanya karena Alex memanggil namanya meskipun bukan nama aslinya. Tidak boleh terbawa suasana, takut hanya dirinya sendiri yang kegeeran karena namanya dipanggil oleh seorang pria. Sebelum suara detak jantungnya itu terdengar oleh orang lain, sebelum suasana semakim cangung, lebih baik ia fokus pada tujuan utamanua itu.
"A... Alex.. Boleh aku minta upahku sekarang?" dengan suara bergetar, Yua mengalihkan pembicaraan mereka.
"Kenapa gak nelpon pakai telepon umum dulu!" suruh Alex.
"Ribet.. aku ngak ngerti pakai gituan, harus masukin koin ribet lah" jawab Yua yang sebenarnya hanya malas jalan dan ngantri saja.
"Aku juga gak biasa pakai telepon kabel, lagian tarif nelpon dari telepon kabel ke hp itu bisa beli makanan enak" sambungnya.
Agar Yua tak lagi berisik meminta upahnya setiap saat, Alex lalu mengambil sebuah paperbag yang berisi box ponsel baru yang masih disegel dan amplop upahnya yang sudah disiapkannya di laci bagian bawah meja kasir.
Alex kembali berpesan jika Yua harus menepati janjinya untuk segera kembali ke masa depan. Tapi mendengar Alex memintanya untuk segera pergi membuat hatinya sedikit sedih. Ia baru saja bekerja tapi bosnya sudah memintanya berhenti secara halus.
"Terimakasih wahai bos yang baik hati, hamba akan mengingat pesan yang mulia~" ucap Yua dengan membungkukkan badannya tiga kali. Alex hanya menggeleng-gelengkan kepalanya mendengar ucapan terimakasih Yua yang seperti mengejek dirinya itu.
...***...
Akhirnya jam istirahat masuk, Yua langsung membalik tanda di depan pintu masuk yang semula bertulis open menjadi close. Ia segera pergi ke ruangan istirahat dan langsung menghubungi Joe dengan ponsel barunya itu berbekal nomor yang diberikan Risma tadi.
π"tut..tut...tut.. Hallo__" Joe mengangkat telepon Yua.
Tanpa basa-basi lagi, Yua lmenanyakan hal yang ingin tanyakan sedari dulu namun selalu lupa entah kenapa dan baru teringat karena insiden pagi tadi.
π"Iya, ini aku. Ada apa?" jawab Joe.
"Joe, tadi pagi aku diikuti seseorang sejak dari rumah. Jadi aku harus cepat-cepat cari tau apa pemicu yang bikin kenapa aku bisa tiba di sini... biar aku bisa kembali ke masa depan" jelas Yua.
π"Apa kamu baik-baik saja? Apa yang bisa aku lakukan?" tanya Joe yang khawatir pada Yua. Tentu saja, Ia berharap bisa membantu Yua kembali ke masa depan.
"Aku baik-baik aja kok. Ada yang ingin aku tanyakan, Waktu pertama kamu lihat aku di rumah, apa kamu lihat ada surat di dekatku?" tanya Yua.
Yua menutup matanya dan berharap bahwa Joe memberikan jawaban yang ia cari selama ini. Jika surat itu ada pada Joe maka selangkah lagi ia bisa kembali ke masa depan.
Meskipun menurut beberapa penelitian di masa depan, ada pemicu yang berhasil mengembalikan si peloncat waktu, namun ada juga yang tidak berhasil kembali ke masanya. Tapi apapun caranya tetap harus dicoba, urusan berhasil atau tidak nanti saja dipikir.
π"Surat..?? Ya...ada surat yang sudah menguning di dekatmu ketika itu" Jawab Joe yang seakan memberi angin segar pada Yua. Syukurlah surat itu ada pada Joe, kini Yua hanya perlu mencari tau bagaimana ia menggunakan surat itu untuk kembali ke masa depan.
"Joe nanti jemput aku pulang bisa?.. soalnya aku takut orang itu masih mengikutiku" pinta Yua.
π"Aku ingin menjemputmu pulang tapi, aku tidak bisa pulang sebelum jam 7" jawab Joe.
Joe yang sedang merintis usahanya itu saat ini butuh banyak waktu di pabrik dan kantor. Dulu, Joe bahkan selalu pulang larut malam dan sering menitipkan Yucil pada Risma, jadi wajar saja saat ini Joe tidak bisa menjemput Yua pulang di jam 7 malam.
π"Tapi untuk kali ini saja! aku akan menjemputmu jam 8, sampai jam itu kamu tunggu saja di cafe itu" pinta Joe.
Hal yang ingin ia temukan dan jawaban yang ia ingin dengar sudah ia dapatkan. Karena tidak ada lagi yang harus ia bicarakan, Yua lalu mengakhiri pembicaraannya dengan Joe.
"Baiklah, sampai jum_____"
π"tuuutttt_____" Yua tak sempat menyelesaikan ucapannya itu secara paksa harus terputus karena pulsanya tidak lagi mencukupi untuk meneruskan panggilan yang baru saja berjalan 4 menit 15 detik itu.
Berbeda dengan di masa depan, menelpon berjam-jam pun tidak akan menghabiskan banyak biaya bahkan bisa gratis. Beda dengan tahun ini, untuk mengirim sebuah pesan atau SMS saja harus diakali dengan menyingkat kata karena tarif yang dipasang adalah berdasarkan jumlah huruf yang ada per-SMS.
Yua lalu menyakukan ponselnya dan hendak menemani Alex sampai Joe menjemputnya jam 8, itu artinya ia bisa meminta lembur pada Alex. Meski namanya lembur ia tidak akan meminta tambahan upah sepeser pun karena upahnya yang diberikan Alex tadi sudah lebih dari cukup.
"Alex.. Joe bilang dia tau suratnya dimana, dia jemput aku nanti jam 8. Jadi aku bisa dong lembur sampai jam 8, Gratissssss ngak perlu kasih upah!" bujuk Yua meyakinkan Alex.
"Boleh saja.. tapi cafe tutup jam 5. Tunggu saja di lantai atas" jawab Alex.
Sambil menepuk jidatnya yang lebar itu, Yua ingat bahwa cafe ini aneh. Tutup saat jam makan siang lalu hanya buka sampai jam 5 sore saja. Eh..Tapi... Itu artinya Yua akan berdua saja bersama Alex kurang lebih selama 3 jam di bangunan kecil ini.
Hatinya menjadi tak tenang saat ia menyadari bahwa dirinya akan berdua saja dengan Alex selama 3 jam apalagi di malam hari. Ia jadi teringat sebuah pepatah yang mengatakan bahwa "tidak baik jika berduaan saja karena yang ketiga adalah setan". Ungkapan yang berkonotasi negatif, dimana saat hanya ada seorang pria dan wanita berdua saja maka ditakutkan akan terjadi hal yang tidak diinginkan yang biasanya setan selalu dijadikan kambing hitamnya.
__________________
Terimakasihπ
Jangan lupa like, comment, favorite-nyaπ