
"Tanya apa? kok serius banget?" tanya Arga yang tak biasanya Yua bertanya pada dirinya.
Sebenarnya ia tak berani menanyakan hal ini pada Arga namun kecurigaannya selama ini semakin kuat bahwa Arga terpaksa menikahinya karena tuntunan sang Ayah dan demi menyelamatkan perusahaan milik keluarganya. Setelah melihat bekas luka yang ada di punggung Arga ia yakin semua itu adalah ulah Pak Roy dan membuat Arga mau tak mau selalu menurut apa yang ia perintahkan.
"Sakit??... Apa bekas luka ini gara-gara Ayah kamu ?" tanya Yua.
"Ah.. kamu liat?? itu...cuma bekas udah ngak sakit lagi" balas Arga lagi-lagi dengan nada yang santai. Arga hendak berbalik badan namun Yua tak sanggup melihat muka Arga saat ini, Yua pun menahannya agar ia tidak berbalik badan.
Yua tak ingin ada yang terluka karena perjodohan ini, ia pun ingin menyelesaikan semuanya sebelum pernikahan dimulai, sebelum nasi menjadi bubur.
"Apa kamu terpaksa menerima pertunangan ini?"
"Apa ayah kamu juga mengancam kamu agar mau menikah sama aku?"
"Apa kamu benci sama aku karena pertunangan ini merebut kebebasan kamu??"
Arga tak menyangka Yua akan menanyakan hal seperti itu padanya. Selama ini Arga beranggapan bahwa Yua lah yang terpaksa menerima pertunangan ini karena membenci dirinya entah karena alasan apa, selalu memasang muka masam dan bicara ketus saat bertemu dimanapun dan kapanpun.
Arga ingin berbalik badan namun Yua selalu menahannya. Tapi, kali ini Arga memang harus membalikkan badannya dan menjawab semua pertanyaan Yua dengan menatap matanya agar Yua percaya dengan apa yang akan ia sampaikan.
"Kan aku bilang jangan balik badan!!!" keluh Yua. Yua sepertinya tidak berhasil menahan Arga untuk tidak berbalik. Kini mata mereka saling bertemu.
"Ssssttt" Arga lalu menempelkan jari telunjuknya di bibir Yua mengisyaratkan agar Yua tak lagi mengucapkan kata apapun.
Arga tahu jika ada kompleksifitas wanita yang rumit dan tidak ia tahu alasan dan kenapa seorang perempuan tidak ingin menatap mata atau wajah lawan bicaranya. Tapi Arga juga tak mau jika Yua terus-terusan salah paham mengenai dirinya.
...***...
Sebelum menjawab pertanyaan Yua, Arga mengambil handuk dan memakai baju yang Yua bawa tadi demi mengurangi rasa canggung diantara mereka. Tak lupa Arga mengambil nafas panjang lalu sedikit menundukkan badannya beberapa centi agar bisa menatap lurus mata Yua. Arga juga memegangi kedua pundak Yua yang mengisyaratkan apa yang akan ia katakan nanti benar adanya.
"Kamu pasti berpikir kalau aku tidak menginginkan pernikahan ini, tapi ayah memaksaku dan aku harus menuruti permintaannya. Jadi aku terpaksa menerima perjodohan kita dan akhirnya aku benci sama kamu, begitu?" Arga bertanya balik pada Yua dengan menatap matanya serius.
Harapan Yua mendengar jawaban dari pertanyaannya malah membuatnya semakin bingung dengan Arga bertanya balik padanya. Arga seolah ingin mengatakan apa yang ia pikirkan adalah keliru.
Namun sebuah kecupan manis mengenai kening Yua. Ya... Arga mencium kening Yua menandakan apa yang Yua pikirkan selama ini tidak benar. Waktu seolah berhenti selama 5 detik saat Arga mencium kening Yua. Bahkan Yua mendadak membatu tak berkutik.
"Ci...ciummm!!!!" spontan Yua mengeraskan suaranya meski sedikit bergetar karena malu. Ini pertama kalinya seorang pria mencium keningnya.
Polos dan lugu seperti anak kecil. Yua yang selama ini jarang bergaul tentu saja tak mengerti dan tak tahu rasanya mendapat sebuah ciuman. Pipinya memerah dan kedua tangannya tak bisa diam menutupi keningnnya itu. Di sisi lain sepertinya Arga menikmati ekspresi dan kelucuan Yua yang salah tingkah itu.
"Iya... Maaf aku seenaknya mencium kening kamu tanpa bilang. Tapi aku hanya ingin meluruskan kesalahpahaman ini. Ayah memang mengatur perjodohan ini tapi aku tidak pernah terpaksa menerimanya. Ketika mendengar akan dijodohkan denganmu aku merasa senang. Aku senang akhirnya aku bisa bertemu kamu lagi. Sejujurnya aku sudah sejak lama suka kamu bahkan sejak kita masih kecil" jelas Arga meyakinkan Yua.
Mendengar penjelasan Arga itu sedikit banyaknya membuat Yua lega. Meski tak sepenuhnya yakin Arga jujur padanya tapi sedikit demi sedikit Yua mulai percaya pada orang lain selain dirinya sendiri.
"I.... iya.... tadi saja ayah kamu ngak segan-segan nampar kamu di depan banyak orang" jawab Yua ragu-ragu.
"Ini cuma bekas luka waktu aku masih kecil jadi kamu tidak perlu pikir yang aneh-aneh" pinta Arga sambil menepuk-nepuk kepala Yua dengan lembut.
...***...
Meskipun sampai saat ini Yua masih belum bisa mencintai Arga tetap saja ia merasa bodoh tidak menanyakan hal yang mengganjal hatinya itu pada Arga sejak pertemuannya 4 tahun lalu. Yua begitu takut pada kenyataan hingga ia tak berani mengatakan apa yang ada dipikirannya. Yua juga tak menyangka saja ada orang asing yang belum pernah saling bertemu mau menerima perjodohan seperti ini.
Namun Yua sepertinya mendengar hal yang aneh dari apa yang Arga katakan padanya tadi. Ya... Yua mendengar sebuah kalimat yang menurutnya itu tidak mungkin.
"Tapi... tadi kamu bilang kamu suka sama aku sejak kecil???, aku ngak salah dengar??" tanya Yua balik pada Arga.
"Iya sejak kita kecil... kamu ngak ingat? Bahkan dulu aku pernah masang popok buat kamu... hahaha" tawa Arga mengingat masa lalunya.
"memangnya iya??? bukannya kita pertama ketemu itu 4 tahun lalu?? kok kamu ngak pernah cerita??" tanya Yua sekali lagi meyakinkan Arga apakah dia tidak salah ingat.
Wajar jika muncul pertanyaan dalam kepala Yua. Ini sama sekali tidak seperti yang pernah dia ingat. Yang ia ingat Arga tidak pernah ada di masa kecilnya berbeda dengan pernyataan Arga bahwa ia dan Arga adalah teman masa kecil.
"Dulu kamu kalau ketemu aku selalu menghindar dan ngak mau bicara sama sekali, jadi aku ngak punya kesempatan untuk nostalgia" bela Arga. Bagaimana tidak, mendekati Yua 4 tahun yang lalu adalah cobaan terberat bagi Arga. Yua tak pernah mau berbicara dan tidak bisa diajak bercerita.
Mendengar sifatnya di masa lalu dari mulut Arga membuay Yua sadar bahwa dirinya selama ini bersikap buruk pada Arga. Yua pun kini tak segan untuk meminta maaf padanya. "Maaf aku dulu kasar" pinta Yua.
"Tapi.. aku tidak pernah ingat kita pernah ketemu waktu kecil!!" tegas Yua sekali lagi.
Arga lalu menceritakan bagaimana mereka berdua ketika masih kecil.
"Dulu kita tinggal di kompleks yang sama. Biasanya Ayah kamu nitipin kamu dirumah aku dan Ibu yang jagain kamu. Aku juga dulu ikut jagain kamu" ujar Arga membuka cerita.
"Terus...?" tanya Yua penasaran.
"Waktu kamu baru umur tiga tahun, aku dan ibu harus ke Inggris jadi karena itu kamu ngak ingat sama aku lagi" jawab Arga. "Tapi...." Arga lalu berhenti dan menatap Yua.
"Tapi....???" Yua mengulang apa yang di ucap Arga.
Arga berhenti sejenak mencoba mengingat kembali apa yang harus ia ingat. Sepeti ada memori yang muncuk setelah sekian lama terpendam. Memori yang muncul itu mengingatkan Arga pada sosok wanita yang juga beroengaruh besar dalam hidupnya. Saat Arga mengingat sosok wanita itu, ia melihat sosok itu ada pada diri Yua. Ya... wanita itu mirip sekali dengan Yua.
"Aku tiba-tiba teringat seseorang!" ucap Arga.
"Siapa?" tanya Yua.
"Mama kamu!!!" jawab Arga membuat hening satu ruangan.