
"Selamat siang... Silahkan masuk~" sapa pelayan yang biasa bekerja di cafe ini. Ya... cafe milik Alex, Ever Cafe, tempat tujuannya itu.
"Sia..."
Saat Yua hendak membalas sapaan pelayaan itu, Yua tak sengaja melihat Alex yang turun dari tangga. Yua langsung mengejar Alex dan mengabaikan si pelayan.
"Alex!" sorak Yua.
"Ka..mu.." ucap Alex terbata.
"Bukan kamu, tapi Yua!" ucap Yua meningatkan pada Alex bahwa dirinya memiliki nama yaitu Yua dan bukan kamu.
Yua lalu meraih tangan Alex dan membawa Alex kembali ke lantai dua.
...***...
Tak
Yua meletekkan semua barangnya diatas meja. Satu persatu ia keluarkan dari plastik belanjaanya.
"Semua ini untuk apa?" tanya Alex yang heran melihat tumpukan kertas, pena dan alat-alat tulis lainnya.
"Aku ingin tahu alasan dibalik kecelakaan ayah!" jawab Yua dengan tegas.
"Tapi...i.." belum sempat Alex menyelesaikan kata-katanya itu, Yua memotong ucapan Alex,
"Ngak ada tapi, tapi! Aku tau kamu pasti mau bilang ini semua takdir!. Ok... Ini takdirku. Tapi... aku butuh penjelasan!" jelas Yua.
Susah jika Yua sudah keras kepala seperti ini. Alex juga tak bisa menghalangi Yua lagi dengan alasan takdirnya. Yua lalu menempelkan kertas karton di dinding ruangan Alex itu.
"Lho, kamu ngapain nempel kertas karton di dinding?" ucap Alex yang dibuat bingung oleh tingkah Yua itu.
Yua menempelkan kertas karton itu bermaksud menjadikan ruangan Alex sebagai markas rahasianya. Yua yakin tak akan ada yang menyusup ke ruangan Alex dan membocorkan informasinya itu. Karena Yua hendak membuat mapping yang mengarah pada kasus kecelakaan ayahnya dan lompatan waktunya.
"Aku mau bikin mapping dan kamu ngak bisa nolak! Jadi aku pinjam ruangan ini sampai semua masalah selesai" tegas Yua.
"Kenapa aku tidak bisa menolak?" tanya Alex.
"Karena kamu menciumku! Aku akan memaafkanmu kalau kamu pinjami aku ruangan ini~" jelas Yua dengan senyum jahatnya.
*G*luk
Alex tak bisa mengelak setelah Yua mengatakan alasannya. Salahnya juga terbawa suasana ketika itu. Meski kemarin sudah meminta maaf tetapo tak ada jawaban dari Yua. Tak enak jika belum mendengar dari mulut Yua langsung memaafkan dirinya, sekali lagi Alex kembali mencoba meminta maaf.
"Aku minta maaf atas kejadian kemarin" ucap Alex.
Yua tahu bahwa Alex tak sengaja, Ia juga sadar dirinya juga salah ketika itu. Tak ada alasan bagi dirinya tak memaafkan Alex. Tapi ini bisa ia manfaatkan agar ia mendapat izin memakai ruangan Alex.
"OK..Maaf diterima" ucap Yua yang telah memaafkan Alex itu. "Tapi, tolong bantu aku!" mintanya sambil menggosokkan kedua telapak tangannya sambil menundukkan kepalanya.
Tak mau melihat Yua terus menunduk padanya, Alex memegang pundak Yua dan mengangkatnya. "Baiklah, aku akan membantumu. Tapi hanya untuk kali ini saja" ucap Alex.
Yua yang tadinya memasang muka muram dan penuh harap, kini tersenyum lebar. Ia bisa bernapas lega karena izin menggunakan ruangan Alex itu sudah ia dapatkan.
...***...
Di dinding ruangan Alex pun kini sudah tertempel kertas karton polos sepanjang dua meter. Yua juga meminjam meja kerja Alex untuk menulis serta meletakkan alat-alat tulisnya dan barang-barang lain miliknya.
Berbeda dengan Yua yang sejak setengah jam Yua masih sibuk dengan dunianya sendiri, Alex duduk disudut ruangan sambil membaca komik yang Yua bawa tadi. Sesekali Alex memperhatikan Yua yang sedang sibuk menulis-nulis itu dan kembali membaca komiknya itu.
Hingga Alex menyelesaikan bacaannya itu, Yua masih duduk serius menuliskan sesuatu pada sticky note warna-warni. Alex yang penasaran dengan apa yang Yua tulis itu lalu menghampiri Yua.
Dengan santainya Yua menjawab dengan "Iya".
Dalam rencana mappingnya itu, Yua akan memasukkan semua orang yang ia kenal dan menurutnya berpengaruh pada hidupnya termasuk Alex.
"Kenapa?" tanya Alex, kenapa namanya harus diikutsertakan.
"Kamu yang kasih tau aku tentang lompatan waktu, kamu yang tau rahasia aku dan karena kamu ingin aku selalu ingat sama kamu!" jelas Yua yang kini malah cengingiran.
"Ingat?" tanya Alex lagi. Kini Alex bingung Yua menyebutnya ingin diingat oleh Yua.
"Iya.. kamu ngak ingin aku lupain kamu kan?!" ucap Yua yang begitu yakin dengan ucapannya.
Lalu, apa buktinya Alex sangat menginginkan Yua mengingatnya itu?. Tanpa ditanya alasannya, Yua langsung mengatakan poin-poin yang menurutnya Alex tak sadar dengan tindakannya itu.
"Aku ingat hari pertama aku kembali ke masa depan. Waktu itu aku dan Arga ke cafe ini. Kamu kan yang ngantarin pesanan aku dan Arga?" tanya Yua.
"mmm.. itu..." Alex terdiam saat ia tahu Yua mengingat hari itu.
"Plis, jangan jawab dulu. Masih banyak yang mau aku sampein" peringat Yua pada Alex yang hendak memotong penjelasannya itu.
Yua lalu melanjutkan penjelasannya.
"Aku juga ingat setelah aku selesai makan dan menunggu Arga, Aku liat seseorang dari jendela itu ngucapin sesuatu 'berbahagialah dan jangan kembali'. orang itu kamu kan?.
Terus, aku ingat juga waktu aku nyusup keruangan ini dan kasih kamu foto Lily. Kamu tau kan aku ngambil buku kamu? tapi kenapa kamu ngak cegat aku?.
Kemarin, waktu aku ketiduran disini, aku ngerasa ada orang yang duduk didepan aku dan jagain waktu cafe sedang rame sampai jam cafe tutup. orang itu kamu kan?"
Terakhir, Kamu bilang mau bikin tiramisu special nyatanya kamu cuma bikin tiramisu biasa. Specialnya karena kamu bikin rasa yang saka seperti yang aku makan dulu. Sampai kemarin pun aku masih belum betul-betul ingat lompatan waktuku, lalu apa tujuannya? jelas Yua panjang lebar.
Masih belum cukup bagi Yua untuk menjelaskan apa alasannya, Namun kalimat terakhirnya ini membuat Alex sadar, apa yang Yua katakan adalah benar adanya.
"Awalnya kamu pasti ngira, apa yang kamu lakuin itu agar aku menjauh dari paradox. Tapi, nyatanya semua yang kamu lakuin itu karena kamu ingin aku ingat lagi sama kamu!. Saat aku lupain kamu, kamu malah muncul dan buat aku ngerasa seperti De-Javu.
Kamu juga bilang berbahagialah dan jangan kembali, tapi kamu bikin aku perlahan masuk lagi ke dalam paradox dengan biarin aku ngambil buku kamu agar aku tau teori perjalanan waktu.
Kamu bahkan ngusir aku dan ngak mau ketemu aku waktu itu, tapi nyatanya kemarin kamu selalu disamping aku saat aku ketiduran
Kamu bikin tiramisu dengan rasa yang sama supaya aku bisa cepat ingat tentang lompatan waktu itu dan supaya aku ingat dimana dan kapan aku pernah memakannya" sambung Yua menjelaskan semua dugaannya itu.
Empat dugaan Yua itu menjadi cambuk bagi Alex akan perasaannya sendiri. Ia akhirnya sadar, bahwa jauh dari lubuk hatinya Ia ingin Yua tetap mengingatnya meski saat itu Yua kehilangan ingatannya. Bukannya mengakui benarnya dugaan Yua, Alex malah memalingkan mukanya.
"Kamu ngomong apa sih! Sudah lanjutin aja kerjaaanmu itu" ucap Alex yang mencoba mengganti topik pembicaraan yang ada.
"Ya udah... Jangan gengsi kalau memang benar~~" ledek Yua.
...***...
Tak terasa langit sudah mulai memerah, ini berarti cafe sudah tutup. Masih banyak yang harus ia tempel-tempel dan hubungkan, namun waktu menyuruhnya untuk beristirahat.
Saat Yua hendak pulang dan turun ke bawah, Yua melihat Alex duduk dimeja kasir sambil melihat keluar jendela dengan tatapan kosong.
"Waaaaa"
Yua mengejutkan Alex dan Alex pun terkejut. Namun setelah itu mereka sama-sama tak bisa menahan tawa lepasnya. Tapi, tawa mereka yang dapat dilihat jelas dari jalanan itu membuat seseorang yang baru saja memarkirkan mobilnya menjadi tak senang.
________________________
Terimakasih sudah membaca😊