40 Days, One Love

40 Days, One Love
Pertemuan



"Maaf buat kamu nunggu" ucap Yua setibanya ia di dalam mobil Arga.


Tapi, Arga malah mendiamkan Yua. Tapi...Bukannya setelah orang normal keluar dari cafe itu ingatannya akan memudar dan tidak akan ingat apa yang terjadi di dalam cafe?. Yua khawatir jika Arga akan mengingat kejadian didalam cafe tadi.


Tidak ada yang tidak mungkin. Bisa saja Arga bisa mengingat Alex seperti dirinya yang bisa kembali mengingat hari-harinya selama melompati waktu. Bukan khawatir Arga akan mengetahui lompatan waktunya itu tapi malas saja jika Arga memperpanjang kesalahpahamannya tadi.


"Ga... Arga?" panggil Yua. "Kamu kenapa diam aja?" sambungnya.


Brum


Arga pun menggas mobilnya dan melajukan mobilnya. Beberapa kali Yua berusaha memanggil Arga, tetap saja Arga fokus pada jalanan dan mengacuhkan Yua.


"Ya sudahlah" ucap Yua dengan sedikit menaikkan kedua bahunya.


Tak mau berspekulasi aneh-aneh dan juga tak mau ambil pusing dengan sikap Arga yang tiba-tiba dingin, Yua beralih membuka ponselnya dan memeriksa media sosial yang sudah lama tidak ia lihat.


...***...


Di lain tempat terlihat Pak Roy sedang mengadakan pertemuan dengan beberapa petinggi perusahannya dan perusahaan milik Ayah Yua di restoran hotel terkenal di kota ini.


"Secepatnya kita harus mengadakan rapat dengan pemegang saham untuk menentukan siapa yang akan memimpin perusahaan" ucap salah seorang yang ikut dalam pertemuan itu.


"Hahaha" tawa seorang pria yang duduk di kursi paling depan seperti sedang memimpin pertemuan itu, yang tak lain tak bukan adalah Pak Roy.


Tawa Pak Roy itu membuat semua peserta pertemuan kebingungan. Tak ada seorangpun disana yang berani menyela tawa Pak Roy hanya ada lirik lirikan kecil diantara mereka.


"Jangan khawatir, saya yakin di rapat pemegang saham saya akan dipilih memimpin perusahaan ini" ucap Pak Roy.


"Tapi, bagaimana dengan putri Pak Joe?, Saya dengar putri beliau sudah lulus kuliah, itu berarti putri beliau bisa langsung meneruskan perusahaan beliau" sela seorang pria.


Suasana semakin tegang saat Pak Roy menatap mata pria yang duduk berseberangan dengannya itu. Tampaknya Pak Roy terganggu dengan pertanyaan pria itu.


"Apa yang mau diharapkan dari putri pendiam itu. Berhadapan dengan orang banyak saja dia sudah gemetar" cemooh Pak Roy. "Perusahaan ini sudah membuat kontrak dengan perusahaan saya. Saat ini, pemegang saham terbesar selain mendiang dan putrinya adalah Saya. Bukankah saya juga berhak untuk menempati posisi pemimpin perusahaan?. Apalagi putrinya akan menikah dengan putra saya beberapa minggu lagi" sambung Pak Roy.


Pak Roy terlalu percaya diri bahwa dirinya akan menjadi pimpinan perusahaan Ayah Yua itu. Tentu saja itu akan menjadi kesempatan besar untuk Pak Roy. Perusahaannya saat ini adalah perusahaan mendiang mertua dari istri keduanya. Namun, sayang perusahaan itu hampir bangkrut meski produk yang dihasilkan sudah terkenal dipasaran.


Jika Pak Roy berhasil memimpin perusahaan Ayah Yua, usaha untuk menggabungkan kedua perusahaan hanya tinggal beberapa langkah saja. Hanya saja, banyak pihak yang mengkhawatirkan kinerja perusahaan jika Pak Roy yang mengambil alih. Buktinya, pendapatan perusahaan yang dipimpinnya menurun dan banyaknya masalah internal perusahaan yang terekspos di media.


Tak ada yang berani menentang keinginan Pak Roy itu termasuk Pak Joe sendiri. Entah apa yang menyebabkan kedua pimpinan perusahaan itu membuat kesepakatan yang jelas-jelas perusahaan Pak Roy sedang dalam keadaan tidak baik-baik saja. Sudah banyak petinggi perusahaan meminta untuk meninjau kesepakatan itu lagi, namun sayangnya Pak Joe berpulang sebelum kesepakatan itu bisa dibatalkan.


"Saya punya penawaran untuk bapak-bapak semua" ucap Pak Roy dengan sedikit menggunakan nada persuasif.


Semua orang yang awalnya keberatan dengan pertemuan ini mendadak antusias dengan penawaran yang akan disampaikan Pak Roy.


...***...


Pertemuan yang Pak Roy adakan berjalan dengan mulus sesuai dugaannya. Meski mendapat pertentangan dari berbagai pihak, baginya itu bukan suatu masalah.


Setelah pertemuan itu dibubarkan, dari arah rombongan pertemuan yang berjalan keluar, muncul seorang wanita muda yang berjalan menuju tempat Pak Roy saat ini. Wanita muda itu pun duduk berhadapan dengan Pak Roy hingga sulit untuk mengetahui siapa wanita itu sebenarnya. Meskipun sulit melihat rupanya, tapi dari dandanannya terlihat begitu elegan dan dewasa. Wanita itu juga terlihat begitu memahami kondisi Pak Roy saat ini.


"Bagaimana? Apa semua sesuai rencana?" ucap wanita itu.


"Tentu saja" jawab Pak Roy dengan tersenyum.


...***...


Akhirnya Yua dan Arga sampai di depan rumah Yua. Selama perjalanan Arga masih saja mendiamkan Yua. Yua yang tak peduli dengan merajuknya Arga, memilih segera keluar dari mobil dan masuk kedalam rumah. Namun, ternyata Arga mengekornya masuk kedalam rumah.


"Kamu maunya apa?" tanya Yua yang kesal.


"Siapa dia? Apa hubungannya dengan kamu?" tanya balik Arga.


Deg


"Hah" gumam Yua.


"Siapa dia?" tanya Arga sekali lagi.


"Dia siapa?" jawab Yua dengan pura-pura lupa. Yua ingin memastikan sekali lagi, apakah Arga benar-benar mengingat Alex.


"Orang yang di cafe tadi.. kamu terlihat senang disana" ujar Arga yang kemudian memalingkan pandangannya kesamping.


Namun, Melihat Arga memalingkan wajahnya, Yua tahu bahwa sebenarnya Arga sedang cemburu pada Alex.


"Dia... pemilik cafe. Kamu ingat?" tanya Yua.


"Kenapa? Apa aku tidak boleh ingat?" rajuk Arga lagi. "Namanya Alex, tapi kenapa aku baru melihatnya sekarang?" sambung Arga.


"Dari kecil juga kamu sering ketemu dia" gumam Yua dalam hatinya.


Fix... Arga ternyata bisa mengingat Alex 100%. Apa ada yang aneh dengan Arga, sampai ia bisa mematahkan teori yang ada. Tapi, takut terlalu berlebihan menanggapi Arga, Yua sebisa mungkin ingin terlihat natural.


"Kamu cemburu? Dia cuma teman kok!" kilah Yua.


"Pria itu terlalu misterius. Aku khawatir dia adalah orang jahat" ucap Arga.


"Jahat? Dia cuma pemilik cafe yang setiap hari sibuk bikin kue!" bela Yua.


Seperti yang Yua duga sebelumnya, Arga pasti akan memperpanjang kesalahpahamannya tadi. Untung saja Arga tidak curiga akan apa saja yang ia kerjakan selama disana. Belum tentu Arga akan percaya tentang lompatan waktunya itu.


"Yua... Aku senang melihat kamu tertawa tadi, tapi aku sedih kamu tertawa untuk orang lain" ucap Arga.


Ternyata biang dari merajuknya Arga adalah perkara Yua yang tadi sempat tertawa bersama Alex. Mereka tertawa bersama karena Yua yang mengejutkan Alex dari belakang dan tidak sengaja terlihat oleh Arga saat hendak membeli kue dari cafe Alex.


Yua jadi merasa salah dan tidak bersalah. Di satu sisi ia merasa bebas saat bersama Alex, di satu sisi ia juga salah tak pernah tertawa lepas saat bersama Arga. Jika Yua ingat-ingat hanya ada wajah masam yang ia perlihatkan pada Arga.


Mengingat hidup Arga yang juga sedikit keras, Yua pun harus menurunkan egonya dan tak boleh membiarkan percakapan ini berlarut-larut.


Huh


Yua menarik nafas dan meyakinkan dirinya.


"Liat aku sekarang!" minta Yua pada Arga yang sedang memalingkan wajahnya itu.


Arga perlahan mengalihkan pandangannya kembali kearah Yua seperti yang Yua inginkan.


"Mmmmm" terdengar suara kecil saat Yua tersenyum.


Yua sudah memasang senyum dibibirnya. Saat Arga mengarahkan wajahnya, ia akan melihat senyuman Yua itu.


"Kenapa kamu tiba-tiba senyum?" tanya Arga.


Tentu saja Arga mempertanyakannya. Tiba-tiba tersenyum bisa dicap gila. Mumpung Yua juga ingat saat-saat Yucil bermain dengan Arga kecil, ia berinisiatif untuk menggunakannya sebagai topik pembicaraan.


"Aku dulu ingat kamu seperti orang dewasa, tenang dan bisa diandalkan. Walaupun aku nakal, tapi kamu ngak pernah marah. Sekarang aku ngak mau nyusahin kamu lagi, jadi aku bakal tersenyum setiap hari" pungkas Yua.


Arga sebenarnya sadar, ia tak pantas merajuk karena permasalah sepele itu. Tapi, Arga tak tahu lagi cara agar Yua bisa tersenyum padanya. Untunglah hari ini akhirnya ia bisa melihat senyuman yang tulus dari Yua.


Melihat Yua yang tetap tersenyum padanya itu, mata Arga sedikit berkaca-kaca. Arga sudah lama merindukan senyuman Yua. Tanpa sadar Arga pun memeluk Yua dengan erat.


______________________


Terimakasih sudah membaca dan menunggu dengan sabar😊


Ngak sadar ceritanya makin panjang dengan sekelumit teori-teori memusingkan ini. Author harap semua memikmati ceritanya sambil menebak-nebak akan seperti alurnya nanti🤗.


Hope enjoy it!