40 Days, One Love

40 Days, One Love
Menyelinap



Memesan makanan serta minuman hanyalah kedok Yua saja. Saat pelayan menyiapkan pesanan di dapur, maka saat itulah Yua beraksi. Ia bermaksud untuk menyelinap keruangan--ruangan yang ada di cafe ini, berharap bisa bertemu dengan sang pemilik atau menemukan data pegawai yang ada disini.


Pelayan yang masih sibuk di dapur serta suasana cafe yang sepi menjadi kesempatan Yua untuk memulai aksinya. Ia mulai mengitari area dekat kasir. Di sana seperti ada ruangan yang biasa digunakan pegawai. Namun, saat dirinya masuk kedalam ruangan tersebut tidak ada apa-apa di dalamnya.


Karena tidak mungkin memeriksa area dapur, maka dengan kemampuan mengendap-ngendap dan menghilangkan hawa keberadaanya Yua mencoba memeriksa area di lantai dua. Kini, Yua berpacu dengan waktu. Pelayan itu akan curiga jika ia tidak kembali ke mejanya saat dia datang membawa pesanan.


"Mungkin lewat sini" gumam Yua dalam hatinya saat hendak mengambil jalan menuju lantai dua melewati anak tangga yang terbuat dari kayu ini.


Saat Yua hendak menapakkan kakinya ke anak tangga yang pertama, bayangan dua orang anak, laki-laki dan perempuan, lewat di depan matanya menaiki dan menuruni anak tangga ini, dan berlari-lari memutari area cafe dengan gembira.


"Aaaww" kepalanya terasa nyeri sebelah. Sakit kepala yang Yua alami buka seperti migrain tapi karena beberapa berkas ingatannya muncul kembali. Bayangan yang Yua lihat tadi adalah dirinya dan Arga saat masih kecil yang tiba-tiba muncul. Namun, hanya sebatas itu saja yang Yua ingat tidak ada yang lain. "Apa aku dan Arga dulu sering ke sini ya?" gumam Yua.


...***...


Sambil menahan rasa nyeri di kepala, Yua akhirnya berhasil mencapai lantai dua. Berhati-hati agar suara langkahnya tak terdengar, Yua memastikan bahwa ia tak menginjak sesuatu yang akan menyebabkannya ketahuan. Tujuan utamanya adalah menemui pemilik cafe atau mencari arsip data pegawai.


Saat Yua melangkahkan kakinya lebih jauh lagi ke salah satu ruangan di lantai dua, Yua melihat seorang pria sedang tertidur dengan posisi terlentang di atas sofa.


Selagi pria itu tertidur, ini kesempatan Yua untuk mencari informasi yang ia butuhkan. Ada sebuah ruangan kecil di sana yang sedikit terbuka dan menarik perhatian Yua. Ruangan yang dipenuhi debu dan sarang laba-laba.


"H... Hmm. hmm ss.." hampir saja Yua mengerluarkan suara bersinnya. Ruangan ini seperti tak tersentuh bertahun-tahun. Karena tak ada lampu, Yua menghidupkan lampu senter yang ada di ponselnya. Tumpukan buku dan berkas-berkas menjadi sumber kenapa bayak debu dan sarang laba-laba.


Mata Yua lalu tertuju pada sebuah buku usang yang terletak paling atas tumpukan itu. Debu tebal itu bahkan menutupi seluruh cover buku itu.


"Hussshh" Yua pun harus meniup debu itu agar bisa melihat cover buku itu.


TimeTravel on Physic Dimensional adalah judul bukju itu. Judulnya yang sangat unik membuat Yua tertarik membacanya dan membuka halaman buku itu secara acak. Ada satu halaman yang terlipat dan memiliki batas tanda yang menunjukkan ada bagian penting dalam halaman itu.


"Ada periode waktu yang terbatas bagi para pe........"


"Kenapa bisa ada orang di sini?" seseorang ternyata memergoki Yua memasuki ruangan ityu.


Tidak ada kucing yang tidak sadar ada tikus di dekatnya, itulah yang menggambarkan kondisi Yua saat ini. Pria yang ia lihat tertidur tadi mendapati dirinya berada di tempat yang tak seharusnya ia masuki.


Yua langsung membalikkan badannya dan menghadap pada pria itu. Tak lupa buku yang ia pegang itu ia sembunyikan dibalik baju bagian belakangnya.


"Aaa.. itu.. Aku bukan mau mencuri... Aku cuma ingin bertemu dengan pemilik cafe ini. Tadi aku liat pintunya terbuka, aku pikir pemilik cafe ada di dalam, tapi ternyata ruangan ini hanya gudang" ucap Yua panik.


"Kamu ingin bertemu pemilik cafe ini? ada urusan apa?" tanya pria itu.


"tap tap tap" terdengar suara tapak kali orang yang berlari menaiki tangga menuju lantai dua itu.


"Huh huh huh" nafasnya terengah-engah. "Maaf Bos... Saya sudah bilang kalau bos sedang tidak bisa ditemui, tapi......" ucap pelayan itu sambil mengatur napasnya.


Pria berambut pirang itu lalu mengangkat tangan kanannya dan mengayunkannya tiga kali mengisyaratkan agar pelayan itu kembali ketempatnya dan meninggalkan dia dan Yua berdua saja. Pelayan itu lalu membungkukkan badannya dan pergi meninggalkan mereka di sana.


...***...


"Bos? Jadi kamu pemilik cafe ini?" tanya Yua dengan semangat.


"Ada perlu apa?" Pria itu berbalik tanya sambil berjalan ke arah sofa tempat ia tidur tadi.


"Kebetulan!!! Aku Yua... Sebenarnya aku hanya ingin mencari tahu tentang suatu hal dan aku tiba-tiba ingat pernah ke sini waktu kecil, sekalian saja aku ingin tanya-tanya" ujar Yua yang berharap pemilik cafe ini menerima kunjungannya saat ini dengan senang hati.


"Ada hal yang sebaiknya kamu ketahui dan sebaliknya, ada juga yang tidak perlu kamu ketahui" ujar pemilik cafe itu dengan serius.


"Maksudnya?" tanya Yua tak paham maksud pemilik cafe ini.


"Sebaiknya kamu pulang!!!! jika kamu melangkah lebih jauh lagi aku tidak tahu harus berbuat apa" ucap pemilik cafe sambil mendorong Yua keluar dari ruangan itu.


"Klek"


Pemilik cafe itu pun mengunci pintu ruangannya agar Yua tak bisa lagi masuk. Namun, Yua tidak langsung meninggalkan tempat itu. Ia berdiri di sana hingga pemilik cafe membukakan pintu kembali untuknya.


Berjam-jam Yua lewatkan menunggu sang pemilik cafe keluar dari ruangan itu. Bahkan Yua rela menahan rasa laparnya dan sepertinya sebentar lagi malam akan datang. Mau tak mau Yua harus menurunkan egonya dan harus pulang sebelum langit menghitam.


"Aku akan ke sini lagi besok!!... tapi sebelum itu aku akan meninggalkan photo ini di bawah pintu. Aku sedang mencari tahu tentang mamaku. Tolong bantu aku mencarinya!!!" ungkap Yua pada pemilik cafe dari balik pintu.


Yua pun meninggalkan photo dirinya dan yang ia anggap sebagai mamanya itu berharap besok sang pemilik mau berbicara dengannya dan memberitahu apa yang ia tahu.


...***...


"Tet.. tet.." seseorang membunyikan klakson mobilnya pada Yua setelah beberapa langkah ia keluar dari cafe.


"Arga?" gumam Yua.


Arga tak sengaja melihat Yua keluar dari dalam cafe dan berjalan sendirian saja. Syukurlah ia datang saat Yua belum jauh berjalan pikirnya dalam hati. Arga dengan cepat keluar dari mobil dan membukakan pintu untuk Yua.


"Kamu dari mana?" tanya Yua sambil mengeluarkan buku yang ia sembunyikan dari balik punggungnya.


"Aku dari rumah ayah..." jawab Arga. "itu buku apa?" sambungnya


"Ini aku pinjam dari pemilik cafe itu, besok aku balikin" jawab Yua. Meski tak benar-benar meminjamnya dengan benar, Yua sama sekali tak berniat untuk mencuri buku itu. Yua tadi tak sempat saja membacanya dan tak sempat pula mengembalikannya karena langsung ia sembunyikan saat pemilik cafe memergokinya.


"Kamu ada perlu apa disana? bukannya kalau sore-sore seperti ini cafe itu tutup?" tanya Arga.


"Bukan apa-apa.. aku hanya ingin bertemu pemilik cafe itu, aku penasaran apa benar mama aku itu kerja di sana?" jawab Yua. "Oh iya.. aku tadi tiba-tiba ingat sesuatu, kayak liat banyangan dulu kita pernah main-main di cafe itu. memangnya pernah?" tanya Yua lagi.


"Iya kita sering ke sana" jawab Arga dengan tertawa kecil mengingat hari-hari itu. "Kamu jadi ketemu sama pemiliknya? laki-laki?" tanya Arga lagi.


"Iya... kenapa? kamu cemburu?" goda Yua.


"Kalau aku bilang 'iya' kenapa?" jawab Arga serius yang membuat Yua sedikit terdiam. Yua tak menyangkan Arga akan serius menjawab candaannya.


"Tapi... Anehnya sejak kecil aku tidak tahu siapa pemilik cafe itu. Rasanya aku pernah melihat wajahnya saat bermain di sana, tapi sekarang dalam ingatanku hanya ada wajah yang samar-samar" ungkap Arga yang kemudian menyadarkan Yua bahwa ia juga tak mengingat jelas wajah pemilik cafe itu, padahal baru saja beberapa menit ia baru keluar dari cafe itu


"Aku juga.. aku baru bertemu dengannya tadi, tapi sekarang aku tidak bisa mengingatnya" ungkap Yua dengan nada tak percaya.


___________


Terimakasih sudah membaca😊


Akhir-akhir ini rame yang baca, aku jadi semangat. Terimakasih🙏


Tunggu Up selanjutnya😁