40 Days, One Love

40 Days, One Love
Butterfly Effect (2)



"Intan... kok kamu ada di sini?" tanya Yua yang tak menyangka akan bertemu dengan sahabatnya ketika SMP itu.


"Iya.. kebetulan gue tadi lagi abis ngirim masukin CV di beberapa kantor dekat sini dan liat elo duduk di sini jadi gue masuk deh... Di luar panas jadi ngadem lah sebentar" jawab Intan yang sepertinya sedang mencari kerja. Pantas saja Intan begitu rapi dengan baju formalnya hitam putih yang dipadukan dengan blazer hitam itu.


Seingat Yua, ia bahkan tak lagi saling kontak sejak kejadian Intan dirundung 10 tahun yang lalu itu, saat mereka masih kelas 3 SMP. Tapi... tiba-tiba saja Intan ada dihadapannya berlagak seperti sahabat yang baru berpisah satu minggu yang lalu. Ada apa ini?.


"Kamu bukannya benci sama aku?" ucap Yua memastikan apakah Intan yang ada di depannya adalah Intan yang sama dalam ingatannya.


"Lo demam ya?? hahaha" tawa Intan mendengar pertanyaan Yua yang terdengar aneh baginya itu.


"Hahaha" Yua ikut tertawa tapi tawa keheranan.


"Mana mungkin gue benci sama lo, lo kan sahabat sejati gue. Lo selalu nolong gue kalau ada masalah!" tukas Intan.


"Masalah? dibully?" tanya Yua.


"Hahaha" tawa intan kembali pecah mendengar ia pernah dibully. " Ya siapa sih mau bully gue, kan teman gue gorilla kayak lo!. Masalah gue ya... paling orang tua gue yang suka ribut dan lo tempat curhat gue" sambungnya.


Beda....


Benar-benar beda dari yang pernah Yua ingat. Yua tidak pernah ingat jadi teman curhatnya Intan, apalagi Intan bilang dirinya seperti gorilla yang ditakuti semua orang. Yang Yua ingat mereka bersahabat tapi tidak sampai saling curhat dan tidak mungkin sifatnya seperti gorilla, punya sifat seperti kucing saja sudah bersyukur.


"Lo amnesia? perlu gue telepon Pak Arga?" ujar Intan yang khawatir dengan ingatan Yua itu sambil mengambil ponselnya dari dalam tas.


Melihat Intan panik dan hendak menelepon Arga dengan cepat Yua menghentikan tangan Intan dan memintanya untuk tenang. Takut Intan menganggapnya aneh lagi, Yua memustukan untuk mengakrabkan dirinya dengan Intan dan mengikuti alur pembicaraan Intan saja dan mengatakan bahwa dirinya hanya pura-pura lupa karena ingin mengerjai sahabatnya itu. "Eh jangan... aku cuma pura-pura lupa kok, buat ngerjain kamu aja. Aku ingat kok! hehe" kilah Yua.


...***...


Satu jam berlalu dan mereka membahas hal-hal sederhana dari yang Yua tak bisa ingat hingga yang ia bisa ingat, termasuk rencana pernikahan Yua dan Arga.


"Gimana persiapan nikahan lo, tinggal beberapa minggu lagi kan?" tanya Intan.


"mmm... ya lancar aja, Ayah Arga yang ngurus semua" jawab Yua.


"Oh baguslah gak perlu repot-repit.. tapi gue jadi kepikiran ayah Pak Arga. Sampe sekarang gue ngak bisa bayangin kalo dia jadi ayah mertua lo, abis lo dimakan ama tu om-om" celetuk Intan yang membuat kaget Yua. Bahkan Intan tahu betapa ganasnya Pak Roy.


"zrtt zrtt"


Intan lalu mengambil ponselnya yang bergetar sambil menghabiskan minumannya yang sudah tersisa sedikit itu.


"Ua.. udah jam segini kantor-kantor dah mau buka, gue masih harus nyebar CV" ucap Intan sekaligus berpamitan pada Yua. "Gue pergi dulu, doain gue dapet kerjaan baru!" sambungnya.


"I..ya.. Good luck" jawab Yua.


Intan lalu pergi meninggalkan Yua yang sedang tampak stress itu. Beberapa jam harus tetap tersenyum ramah hingga akhirnya ia lepaskan semua kebingungannya setelah Intan pergi.


...***...


"Arrrrgg"


Belum sudah satu kebingungannya, sudah bertambah satu lagi hal yang membuatnya bingung.


"Butterfly Effect?" gumam Yua.


Berdasarkan hasil pencariannya dari laman internet, Yua mendapatkan defenisi butterfly effect yang juga disebut-sebut sebagai teori kekacauan itu.


"Butterfly Effect adalah Perubahan yang hanya sedikit pada kondisi awal, dapat mengubah secara drastis kelakuan sistem pada jangka panjang"


Terdengar sangat ilmiah untuk sebuah penelitian matematis atau ilmu lainnya. Tapi jika dikaitkan dengan perjalanan waktu bisa saja butterfly effect memiliki makna serupa.


"Apa maksudnya seperti ini?" gumam Yua. "Perubahan yang hanya sedikit pada masa lalu, dapat mengubah secara drastis sistem di masa depan" sambungnya.


Jika surat Joe itu menceritakan hal sebenarnya, maka satu hal yang Yua tangkap adalah dirinya pergi ke masa lalu dan tindakannya selama disana sudah membuat perubahan di masa depan. Salah satunya, Intan yang selama ini tidak pernah ia hubungi lagi tiba-tiba muncul didepannya seperti biasa dengan perubahan sikap yanh drastis. Tak hanya itu, bekas luka di kakinya yang tak pernah ia sadari juga bisa menjadi bukti bahwa butterfly effect dan perjalanan waktu itu ada.


"Apa aku benar-benar pernah melompati waktu?" gundah Yua dalam hatinya.


"Tik.. tik.. tik.."


Dentuman suara hujan satu persatu mulai terdengar dan semakin lama hujan semakin lebat. Pengunjung cafe pun mulai berdatangan satu persatu.


"Oh cafe ini penuhnya cuman pas hujan aja" remeh Yua.


Yua memandangi tetes-tetes air hujan itu sambil memikirkan kembali apa yang telah terjadi sejauh ini dan kemungkinan-kemungkinannya. Semakin lama ia melihat hujan itu semakin dalam rasa kantuknya dan akhirnya tanpa Yua sadari ia tertidur di cafe itu dan tak ada yang membangunkannya.


Yua sepertinya memang suka tidur, haha.


...***...


Selama Yua tertidur, ternyata seseorang menjaganya dari banyaknya pengunjung cafe ini. Dia duduk didepan Yua, di meja yang sama dengan Yua. Semula wajah Yua yang tertidur itu menghadap lalu lalangnya pengunjung cafe, tapi pria itu memindahkan arah kepala Yua dengan lembut dan kini pipi sebelah kirinya menjadi bantal untuk kepalanya.


Satu jam... Dua jam... Tiga jam.. Tak terasa cafe akan segera tutup dan jam sudah menunjukkan pukul lima sore. Pria itu bahkan menunggu di sana hingga Yua terbangun.


"Klik"


Lampu cafe satu persatu dihidupkan karena hari sudah semakin gelap. Silaunya cahaya lampu tampaknya membuat Yua terbangun dari tidurnya.


"Awww" ucap Yua yang sedang menghalau cahaya lampu menimpa matanya dengan kedua tangannya itu. Matanya pun Yua kucek berkali-kali dan sesekali ia memicingkannya karena tahi mata yang membuat kabur pandangannya.


Perlahan pandangannya kembali normal dan bersih. Pria yang bersama dengannya tadi pun kembali menghilang dan meninggalkan sebuah photo. Photo yang pernah Yua berikan pada pemilik cafe ini.


"Photo ini..." gumam Yua.


Tiba-tiba seorang pelayan menghampiri Yua.


"Mbak.. sudah bangun. Maaf cafe ini sudah tutup" sapa pelayan cafe.


Benar saja, semua pengunjung tadi sudah pergi dan langit tampaknya sudah gelap. Yua tak menyangka akan tertidur selama itu. Melihat pelayan cafe masih berdiri disampingnya membuat Yua sedikit risih. Yua lalu bergegas mengambil tasnya dan pergi meninggalkan cafe itu.


_____________


Terimakasih sudah membaca😊


Jangan lupa Like, Comment dan Favoritenya✌