40 Days, One Love

40 Days, One Love
Interview Kerja



Tanpa sadar hujan turun dengan sangat deras disertai dengan kuatnya hembusan angin. Sangat berbahaya jika ingin pulang sekarang. Jalanan akan sedikit licin, dibeberapa tempat juga akan becek, dan bisa saja akan ada pohon tumbang. Alex menyarankan Yua untuk tetap berada di cafe sampai hujan benar-benar reda.


Namun, hujan tidak seburuk itu. Ada rezeki yang diselipkan sang pencipta untuk orang-orang yang sedang berusaha seperti Alex. Ya, cafe Alex akan sangat ramai saat hujan tiba. Alex lalu memakai apron berwarna hitam dan membawa kain lap, sudah seperti pelayan yang hendak menyapa pelanggan saja.


"Bukankah kehadiranmu itu susah dirasakan?" tanya Yua yang heran karena Alex hendak turun langsung melayani pelanggan.


"Memang keberadaanku itu samar tapi aku bisa membuat orang merasakan kehadiranku, seperti saat ini" jelas Alex.


"Apa setelah keluar dari cafe ini mereka ingat wajahmu seperti apa?" tanya Yua lagi.


"Tergantung, kebanyakan mereka tidak akan ingat, wajah aku yang mereka ingat akan diganti dengan wajah pelayan disini, tapi ada beberapa yang bisa mengingatnya" jelas Alex.


Umumnya keberadaan tahanan waktu akan susah dirasakan, seperti hantu. Tapi mereka bisa menampakkan diri mereka kapan saja kepada orang-orang pilihan mereka. Untuk hari ini Alex membiarkan para pelanggan cafe melihat dirinya secara utuh.


"Kamu sendirian? Pelayan yang kemarin mana? Disini gak ada koki?" tanya Yua.


"Hari ini hingga tiga minggu kedepan ia cuti karena ada urusan di kampung" jelas Alex sambil melap meja-meja kosong itu. "Disini juga tidak ada koki, semua aku yang buat di pagi hari" sambungnya.


Tak perlu menunggu. Beberapa menit setelah hujan turun para pelanggan datang satu persatu.


"Selamat Datang"


Sambut Alex dengan ramah sambil mempersilahkan pelanggan duduk di meja yang telah disiapkan. Alex lalu memberikan segelas air putih hangat gratis pada masing-masing pelanggan, pelayanan yang ramah.


Yua memperhatikan cara Alex melayani pelanggannya, tapi ia sedikit kesal ketika sadar senyuman Alex padanya itu sama dengan senyuman yang ia tujukan pada pelanggannya. Ia pun merasa dianggap sebagai salah satu dari banyak pelanggannya saja.


...***...


Semakin lama hujan semakin deras, saatnya untuk menyalakan seluruh lampu karena langit mulai gelap seperti layaknya malam. Cafe pun menjadi terang dan lebih terasa ramai.


Tak disangka, pelanggan semakin berdatangan. Cafe yang berkapasitas 20 orang itu hampir penuh. Yua yang sedang duduk di meja pelanggan itu pun harus rela digusur. Ia lalu pindah ke meja kasir.


Seorang pelanggan datang menemui Yua di tempat kasir. Pelanggan ith mengira Yua adalah salah satu karyawan di cafe ini. Ia meminta untuk membawakannya handuk. Ia bingung karena tak tahu letak handuk ada dimana. Untung saja Alex datang menghampiri mereka tepat waktu.


Yua lalu melihat Alex sibuk lalu lalang, kadang-kadang dilihatnya sedang melap meja lalu ditinggal begitu saja karena ada pelanggan yang meminta kopi, lalu kemudian sambil mengantarkan kopi ia kembali melap meja.


Ada juga ketika Alex sedang mencatat pesanan pelanggan, ada pelanggan yang lain menanyakan pesanan yang belum datang, Alex lalu mengantarkan pesanannya dan kembali lagi mencatat pesanan pelanggan sebelumnya. Membuat Yua pusing melihatnya.


...***...


Tak tahan lagi melihat Alex yang kerepotan sendiri, Yua lalu menawarkan bantuan dengan tenaganya. Dengan kapasitas cafe yang hampir penuh tidak mungkin hanya Alex sendiri yang melayani semua pelanggan.


"Aku bantuin ya?" tanya Yua sambil mengikuti Alex yang lalu lalang mengantarkan kopi dan kue.


"Tidak perlu, duduk disana dan jadi anak baik saja" tolak Alex.


Tak peduli apa yang Alex katakan, Yua langsung merebut baki yang dibawa Alex itu. Segera Yua mengantarkannya ke meja pelanggan.


Yua yang memperhatikan bagaimana Alex melayani pelanggan, mampu meniru dan melakukannya dengan baik. Karena banyak pelanggan yang senang dengan keramahannya itu, pelanggan lain pun tak segan meminta bantuannya.


Yua tiba-tiba merasakan perasaan senang yang baru pertama kali ia rasakan. Perasaan ketika orang-orang membutuhkan bantuan dirinya, bisa dibilang seperti itu. Meski hanya sekedar diminta untuk menuangkan kopi.


Berkat bantuan Yua, kini Alex tidak kerepotan. Semua pelanggan sudah mendapatkan pesanannya masing-masing. Sesekali ada pelanggan yang menambah pesanan tapi semua sudah dapat ditangani Alex dengan baik.


"Terimakasih sudah membantu" ucap Alex dengan tersenyum.


Yua lalu membalas senyuman Alex dan mengatakan sesuatu yang membuat Alex sedikit kaget.


"Sama-sama... Tapi....., Aku tidak melakukan ini dengan percuma, jadi tolong keluarkan upahku!!" jawab Yua dengan sombong. "Eh.. canda doang" guraunya.


Meski Yua mengatakan bahwa dia hanya bercanda, tapi tampaknya Alex menganggap serius candaanya itu. Alex pun mengeluarkan sejumlah uang dari meja kasir.


"Ini anggap uang jajan untukmu" ucap Alex sambil mengambil tangan Yua dan meletakkan sejumlah uang di atas tangannya.


Tapi... Yua yang merasa tidak enak hati itu lalu menolak uang dari Alex, meski sebenarnya ia ingin, karena prinsip hidupnya "tak baik menolak rezeki". Tapi bagaimanapun juga Ia ikhlas membantu Alex.


Tapi imannya goyah...


...***...


Yua lalu meninggalkan Alex sambil berjalan mundur. Ia menajamkan matanya pada ponsel si pelanggan dan mendekatinya.


"Pak.. itu HP bapak ya?" tanya Yua tanpa malu-malu.


"Iya, baru saya beli kemarin" jawab Bapak itu.


Yua lalu meminta izin si Bapak untuk melihat ponselnya.


Yua senang bukan main saat melihat ponsel itu. Meskipun ia tahu ponsel seperti itu tidak lagi digunakan di masa depan tapi sekarang adalah masa lalu. Ponsel akan sangat berguna baginya untuk menghubungi Alex walaupun hanya sekedar berbagi informasi atau menghubungi Joe. Contohnya saja disaat seperti ini, dimana dirinya yang tidak bisa pulang karena hujan dan tidak bisa menghubungi Joe.


Yua kembali menghadap Alex, dengan malu-malu ia meminta upahnya tadi. Alex pun memberikan upah Yua tanpa pikir panjang. Lalu Yua bertanya pada Alex, apakah dirinya memiliki sebuah ponsel?.


"Kamu punya hp gak?" tanya Yua.


"Tentu saja!" jawab Alex dengan sombong.


Meskipun Alex berada di cafe itu selamanya, tetap saja ia butuh ponsel untuk menghubungi pelayan dan supplier bahan-bahan kue dan kopi walau nanti pelayanlah yang akan menerima bahannya.


"Harganya sedikit mahal sekitar 1 juta lebih, dan hp yang memiliki kamera akan jauh lebih mahal" sambung Alex sambil mengeluarkan ponsel dari saku celananya.


"Hah ...1 juta cuma dapat hp yang cuma bisa telpon sama sms doang? kameranya pun masih kresek" heran Yua tak percaya.


Mendengar harga sebuah ponsel jadul biasa menyentuh angka Rp.1 juta dan yang memakai kamera lebih mahal lagi membuat Yua gigit jari. Ia tak mungkin mendapatkan uang sebanyak itu dalam waktu dekat, bahkan Ia hanya punya sisa waktu 25 hari lagi.


Mau bagaimana lagi, pada saat itu ponsel termasuk barang mewah dan hanya dimiliki kalangan tertentu saja. Produksinya juga terbatas, selain itu biaya produksi yang masih tinggi membuat harga dipasaran menjadi mahal.


Alex yang melihat Yua dengan wajah yang ditekuk itu, tahu bahwa Yua juga menginginkan ponsel. Ia lalu menawarkan Yua untuk bekerja sebagai pelayan cafe agar Yua bisa mendapatkan ponselnya sendiri.


"Bagaimana kalau kamu kerja disini sampai kamu bisa menemukan cara kembali ke masa depan. Aku akan membayar upahmu dimuka dengan sebuah hp. Bagaimana?" tawar Alex dengan menaikan alis kirinya.


Yua dengan kecepatan cahaya menerima tawaran Joe itu.


Namun, Yua menambahkan satu kondisi lagi pada Alex karena teringat Joe. Apakah Joe juga sudah memiliki ponsel atau tidak. Lucu saja jika hanya dia yang punya sedangkan orang yang akan dihubunginya itu tidak memiliki handphone.


Agar kondisinya itu diterima Alex, Kali ini Yua menunjukkan posisi sikap tegap dan menyimpulkan kedua telapak tangannya bak pramugari atau pramusaji hotel.


"Maaf atas ketidaksopanan saya. Saya Lily winarto seorang freshgraduate dari Universitas Negeri, lulusan Ekonomi IPK 2,7. Saya fasih berbahasa Inggris dan memiliki keahlian dalam pembukuaan keuangan. Saya harap dengan diterimanya saya disini akan menambah efektifitas dalam peningkatan pendapatan cafe." Yua tiba-tiba memperkenalkan dirinya dengan bahasa formal ala-ala melamar kerja di perusahaan-perusahaan.


"Tapi saya berharap digaji dengan layak" sambungnya.


Alex pun mempertanyakan berapa gaji yang layak yang dimaksud Yua. Yua dengan tersenyum mengangkat tangannya dan menunjukkan 4 jarinya yang masih berdiri tegak. Maksud Yua adalah ia meminta gaji Rp. 4 juta.


Alex terkejut bukan main ketika Yua meminta gaji setinggi langit.


"Kamu mau bikin saya bangkrut atau mau ngerampok? tanya Alex.


"Abis UMP (Upah Minimum Provinsi) tempat aku tinggal itu 4 juta, tapi kalau keberatan turun dikitlah, eh 1,5 aja cukup kok" nego Yua yang tiba-tiba kembali bicara dengan bahasa informal seperti biasanya.


...***...


Akhirnya... tibalah mereka pada suatu kesepakatan setelah menjalani nego lalu musyawarah mufakat yang dimenangkan Yua, tentu saja. Hasil kesepakatan mereka adalah bahwa gaji Yua adalah 1 unit ponsel dan uang sebesar Rp. 1.500.000 dan mulai besok hingga Yua menemukan cara kembali ke masa depan ia akan bekerja sebagai pelayan di cafe Alex.


Saking sibuknya mereka berdua bernegosiasi, mereka lupa jika para pelanggan masih ada di sana. Alex dan Yua tak sadar selama 10 menit ini para pelanggan memperhatikan mereka yang sedang konyol memparodikan interview kerja itu.


Yua lalu melihat muka Alex yang meminta maaf pada pelanggan karena sudah membuat heboh.


"deg..deg..deg.."


Debaran jantung Yua kembali terdengar. Ia tak tahu apa penyebabnya. Tapi setiap ia melihat dan memikirkan tentang Alex dadanya terus berdebar.


_______________________________


Terimakasih sudah membaca😊


Like, Comment dan Favorite juga ya~