
Huh
Hari-harinya yang melelahkan setelah mengajar seharian dan letihnya membimbing mahasiswanya, membuat Arga menghela nafas panjangnya. Tak bertemu kekasihnya beberapa jam saja sudah membuatnya menderita. Meski sudah bertemu Yua tadi pagi, tetap saja Arga kesepian.
"Sudah pukul 17.30" ucap Arga sambil melihat jam tangannya. "Apa udah tutup?" sambungnya lagi.
Sepertinya Arga hendak menuju suatu tempat, namun ia ragu apakah tempat itu sudah tutup atau belum. Untung saja jalanan tidak terlalu macet. Arga pun menaikkan kecepatannya hingga 100 km/jam berharap dapat menuju tempat itu sebelum tempat itu benar-benar tutup.
Lalu kemana tujuan Arga itu?
Setelah beberapa kali lampu merah, beberapa kali persimpangan, tempat yang dituju Arga mulai terlihat. Ia lalu memarkirkan mobilnya di bawah pohon yang ada di bahu jalan sana.
...***...
Huh
Arga kembali menghela nafas karena setelah perjalanan yang panjang akhirnya ia sampai di tempat tujuannya. Sambil sedikit ia renggangkan badan dan kedua tangannya keatas. Tak sengaja Arga menoleh keluar jendela dan melihat pemandangan yang tak biasa. Hal itu membuat hatinya tidak senang.
Ya... tempat yang hendak dituju Arga adalah Ever Cafe. Ia ingin membeli tiramisu dari cafe itu dan membawakannya untuk Yua. Tapi ia tak akan menyangka Yua berada di sana bersama pria lain.
Tentu saja menyakitkan bagi Arga melihat Yua bersama seorang pria yang tak dikenalnya tertawa lepas. Jujur saja... sudah lama Arga tak melihat Yua tertawa selepas itu. Entah antara marah atau sedih, Arga lalu keluar dari mobilnya dan hendak membawa Yua pulang saat itu juga.
...***...
klek
Ternyata pintu cafe masih belum terkunci hingga siapa saja bisa masuk kedalamnya, termasuk Arga.
Yua dan Alex pun kaget dan mendadak terdiam melihat siapa yang masuk kedalam cafe. Mereka sama-sama heran kenapa Arga datang ke cafe ini padahal semua orang tahu bahwa cafe ini tutup jam 5 sore.
"Arga... kenapa ada disi-"
Belum sempat Yua menyelesaikan kalimatnya Arga meraih tangannya dan menyembunyikannya di balik punggung Arga.
Tak hanya itu, Arga juga mengenggam tangan Yua dengan erat hingga tak sadar Yua sedikit merasa kesakitan meski tetap ia tahan. Melihat betapa erat genggaman Arga dan tak ingin Yua merasakan sakit, Alex pun tak tinggal diam.
"Lepaskan!" perintah Alex.
Namun Arga tak mengindahkan kata-kata Alex itu. Arga baru melepaskan genggamannya setelah Yua sendiri yang mengatakannya.
"Arga!" imbau Yua. "Tangan aku..." ucap Yua dengan sedikit rintih.
Benar saja... Setelah Arga melepaskan tangan Yua tampak pergelangan tangan Yua memerah berbekas genggaman tangan Arga.
"Maaf Yua.. aku ngak sengaja" ucap Arga yang lalu mengambil tangan Yua dan memeriksa pergelangan tangannya. "Kenapa ujung jari kamu diperban?" tanya Arga ketika melihat salah satu jari Yua itu diperban.
Tak enak dilihat Alex, Yua pun melepaskan dan menyembunyikan tangannya kembali dari Arga. Yua juga memutuskan untuk segera membawa Arga keluar dari cafe ini. Toh, Arga akan melupakan apa yang terjadi di dalam cafe selangkah setelah meninggalkan cafe.
"Iya.. ngak apa, Ayo kita pulang!" pinta Yua.
Tapi, Yua baru teringat jika tas dan barang bawaannya masih tertinggal di ruangan Alex. Mau tidak mau ia harus mengambilnya sebelum pulang dan mau tidak mau juga ia harus meninggalkan Arga dan Alex selagi ia mengambil bawaannya.
"Tunggu disini...aku ambil barangku dulu dan jangan buat keributan!!" peringat Yua pada dua pria itu.
Yua lalu mengambil barang bawaannya dan meminta Arga menunggunya sebentar. Walaupun ragu meninggalkan Arga bersama Alex sendirian, Yua yakin dirinya pasti bisa mengambil bawaannya kurang dari satu menit.
sssttttt
Dengan secepat kilat Yua berlari menuju lantai dua dan mengambil bawaannya. Tapi... tampaknya Yua butuh lebih dari satu menit untuk membereskan semua kekacauan yang ia buat di ruangan Alex itu.
...***...
Sementara Yua membereskan kekacauan yang ia buat diruangan Alex, kini hanya ada Alex dan Arga di ruangan utama cafe. Suasana diantara mereka semakin terasa berat. Tatap-tatapan tajam diantara mereka berdua pun tidak terelakkan, sudah seperti Macan vs Harimau.
Tak mau terseret dalam drama aneh, Alex pun menghentikan sikapnya yang terlihat seperti anak-anak itu. Ia kembali duduk di meja kasirnya, membereskan alat tulis yang berserakan lalu membaca sebuah buku. Namun, Arga kembali mengusik ketenangan Alex.
"Kamu siapa?" tanya Arga.
Sama seperti Alex, Arga juga terlihat mengkontrol emosinya dan kata-katanya. Meski tak saling menatap tajam lagi, tetap saja hawa diantara mereka masih berat saja.
"Saya? Saya Alex pemiliki cafe ini" jawab Alex sambil tersenyum tipis.
Meski tampak tenang di luar, namun di dalam hatinya Arga malah semakin kesal melihat Alex tersenyum padanya.
"Kurang dari dua minggu lagi, kami akan menikah. Jadi jangan dekat-dekat dengan Yua" peringat Arga.
Mendengar kata peringatan yang terdengar seperti sebuah ancaman itu membuat Alex geleng-geleng kepala namun sedikit tergelitik.
"*H*ahaha"
"Kenapa tertawa? apa ada yang lucu?" tanya Arga.
"Tidak... saya cuma keingat dengan seseorang" kilah Alex. "Silahkan duduk, terserah mau duduk dimana saja" sambung Alex mempersilahkan Arga untuk duduk.
Arga pun akhirnya duduk di sebuah kursi yang ada di dekat pintu cafe dan menanti Yua disana. Meski sudah duduk tenang, Arga tetap saja masih memandangi Alex dengan penuh kecurigaan. Tak heran jika Alex kembali merasa terganggu.
Tap
Alex yang khusuk membaca pun terganggu dan menutup bukunya.
"Asal kamu tahu, saya risih dengan tatapan aneh kamu itu. Jadi tolong berhenti!" pinta Alex.
Arga pun sebenarnya tak mau menatap Alex selama itu, tapi ia sedang mencoba mengingat siapa pria yang ada didepannya itu. Bagi Arga ini pertama kalinya ia melihat pria itu ada di cafe ini, anehnya lagi kenapa ia bisa begitu akrab dengan Yua.
"Kenapa saya ngak pernah liat kamu disini sebelumnya?" tanya Arga lalu melipat kedua tangannya pertanda ia serius menanyakan siapa Alex.
"Apa setiap kali kamu datang ke sini, saya harus menyapa kamu?" tanya balik Alex pada Arga.
"......."
Arga hanya terdiam mendengar ucapan Alex. Tentu saja apa yang Alex katakan itu benar. Pemilik cafe tidak selalu harus berada di cafe, pikirnya.
"Tapi... kenapa kamu begitu akrab dengan Yua?" tanya Arga kembali.
"Entahlah... tanyakan pada takdir" ucap Alex dengan singkat.
"Takdir?" gumam Arga.
Sengaja atau tidak sengaja, kata-kata Alex itu malah membuat Arga makin tak senang. Arga pun menjadi overthingking, ia berpikir seolah takdir sedang mencoba menyatukan mereka berdua dan takdir sedang mencoba memisahkan Yua dari dirinya.
Arga bangkit dari kursinya dan berjalan menuju tempat Alex berada.
Brak
Kursi yang Alex duduki terjatuh. Alex juga terpaksa harus berdiri sebab Arga menarik dan menggenggam kerah bajunya dengan erat sedikit mencekik lehernya. Kini, tangan kiri Arga memegang kerah Alex sedangkan tangan kanannya ia kepal erat-erat seperti ingin memukul orang yang ada di depannya itu.
Melihat Arga yang begitu agresif tak membuat Alex ikut-ikutan emosian. Ia tetap terlihat santai dan tak lupa tersenyum. Dan,
Bam
Akhirnya, Arga kehilangan kontrol atas dirinya. Kepalan tangan kanannya pun mendarat di pipi Alex. Alhasil pipi dan ujung bibir Alex pun memar.
...***...
Mendengar suara ribut-ribut dari bawah membuat Yua yang baru saja membereskan barang-barangnya bergegas menuruni tangga. Saat Yua sampai di bawah, ia malah disambut pemandangan yang tidak mengenakkan. Kedua pria itu sudah menggenggam kerah lawannya masing-masing. Apalagi Yua melihat pipi dan ujung bibir Alex sudah membiru.
"Stop" sorak Yua.
Baik Arga maupun Alex langsung melepaskan lawannya masing-masing.
"Apa-apan sih... Baru ditinggal lima menit udah baku hantam aja" celetuk Yua.
Yua yang melihat memar di bibir Alex, langsung menghampirinya dan memeriksa keadaan Alex. Namun, Arga malah menarik tangan Yua dan mengambil barang bawaannya.
"Ayo kita pulang!" seru Arga.
"Eh tapi..." ucap Yua yang masih ingin mengobati memar Alex.
Tapi, Arga tetap memaksa Yua untuk pulang.
"Lex.. Aku pulang dulu!" pamit Yua sambil berjalan keluar menuju pintu cafe.
"Tunggu!" cegah Alex sebelum Yua benar-benar meninggalkan cafe.
Yua lalu meminta Arga untuk menunggunya di mobil dan akan segera kembali. Mungkin suasana hati Arga masih tak enak, Arga langsung melepaskan tangannya dari tangan Yua dan masuk kedalam mobilnya
"Simpan ini!" ucap Alex yang memberikan secarik kertas kecil pada Yua.
"Apa ini?" tanya Yua.
Alex meminta Yua untuk melihatnya jika ia sudah sampai di rumah saja, karena tak enak membuat Arga menunggu terlalu lama didalam mobil.
______________________
Terimakasih sudah membaca😊