
Hujan akhirnya berhenti ketika jarum di jam dinding itu tepat menunjukkan pukul 20.15. Yua harus segera pulang, ia hanya meminta izin Joe untuk keluar rumah untuk beberapa jam saja tapi sekarang sudah hampir 12 jam ia berada di cafe ini.
Yua juga khawatir jika Joe dan Yucil akan panik karena dirinya yang tidak ada kabar. "Susah banget gak pengang hp...., kalau ada LIME ato WA pasti ngak bakal jadi khawatir" keluh Yua pada zaman ini.
Alex sebenarnya ingin mengantar Yua pulang, namun apa daya. Sejengkal pun ia tak bisa keluar dari cafe ini. Untung saja Alex memiliki nomor provider taksi lalu memesankannya untuk Yua.
"Aku sudah pesankan taksi!" ucap Alex yang tidak ingin Yua pulang sendirian di malam hari.
"Mmm.... tapi biar aku yang bayar!!!, kan aku sudah mendapat upahku hari ini jadi kamu tidak perlu repot-repot" terima Yua.
Alex semula memang ingin memberikan tumpangan secara percuma, tapi Yua bersikeras tetap ingin membayarnya sendiri. Tarif taksi yang sedikit mahal membuat Yua sadar jika ia akan membuat Alex kerepotan lagi. Lagian dirinya juga sudah mendapat upah untuk hari ini, ditambah besok ia juga akan mendapatkan ponsel dan gaji dari Alex. Yua tidak mau membuat Alex repot lebih dari ini.
...***...
Mendengar suara berisik dari mobil yang berhenti di depan rumah, Joe dan Yucil langsung bergegas membukakan pintu rumah jika saja yang datang itu adalah Yua.
Benar.. itu adalah taksi Yua. Melihat Yua yang turun dari dalam taxi, Yucil langsung berlari kearahnya dan memeluknya dengan sangat erat, seperti biasanya. Yucil tampaknya sangat merindukan Yua, karena seharian ini ia berada dirumah Arga.
Di depannya kini juga ada Joe yang tadinya mengiringi Yucil yang lari mengejarnya.
"Maaf aku terlambat dan membuat semua khawatir lagi" maaf Yua.
Dengan muka yang sedikit masam, Joe lalu masuk dahulu ke dalam rumah. Yua yang melihat muka masamnya itu langsung mengejar Joe dan mengajaknya bicara di ruang tengah.
...***...
"Maaf... Aku seharian di cafe itu, dan tadi hujan jadi aku ngak bisa pulang. Pemilik cafe itu baik, dia juga memesan taxi untukku pulang" bela Yua.
Namun, Joe hanya terdiam.
Masih membekas dalam ingatan Joe, ketika Yua dan Yucil yang pergi ke sungai untuk melihat kucing beberapa waktu lalu.Joe sangat khawatir dan panik hingga harus berlarian tanpa arah mencari mereka.
Kini, Yua kembali membuat Joe khawatir. Tentu saja Joe takut kejadian buruk akan menimpa Yua dan juga akan berdampak pada Yucil. Bagaimanapun juga Yua adalah putrinya dari masa depan.
Joe tahu bahwa Yua yang saat ini sudah dewasa namun tahun 2000 berbeda dengan 2021, meskipun ia tak tahu seperti apa tahun 2021. Tapi yang ia tahu, di tahun 2000 kejahatan di malam hari itu masih tinggi.
Tak tahan didiamkan oleh Joe, Yua kembali meminta maaf dan berjanji tidak akan mengulanginya. "Maaf...Aku tahu aku salah, tapi aku tidak akan mengulanginya" janji Yua dengan menundukkan kepalanya.
Ada yang ingin Yua tanyakan pada Joe, tapi ia tahu sekarang suasananya sedang canggung. Tapi... coba saja dulu, pikirnya.
"itu.. Apa kamu punya hp?" tanya Yua terbata sambil mengangkat kepalanya.
"Maksudnya? Hp?" tanya balik Joe.
"Iya...Aku seharian di luar itu karena aku masih berusaha mencari cara agar bisa kembali ke tahun 2021. Aku butuh hp untuk mencari informasi atau jika terjadi apa-apa aku bisa cepat menghubungi kamu" jelas Yua.
Mendengar Yua yang ternyata sedang berusaha mencari cara untuk kembali ke masa depan membuat Joe sedikit melunak dan menerima permintaan maaf Yua itu.
"Jadi apa kamu punya hp?" tanya Yua sekali lagi penasaran.
"Punya" jawab Joe yang lalu menunjukkan ponselnya itu pada Yua.
Ponsel miliknya adalah keluaran terbaru ditahun itu, berbeda dengan yang dimiliki Alex. Ponsel Joe memiliki kamera 1 megapixel dan layar yang cukup besar, tetap saja smartphone di masa depan jauh lebih unggul. Yua bahkan tidak iri melihat ponsel joe itu.
"Lalu... bagaimana dengan Hp kamu?" tanya Joe penasaran.
"Mulai besok aku akan bekerja di cafe itu sebagai pelayan dan upahnya juga akan dibayarkan diawal dengan sebuah ponsel dan uang Rp.1,5 juta, jadi boleh ya?" Yua langsung meminta izin dari Joe yang dikemudian disusul rengekannya..
"Pleassseee"
Kedua telapak tangannya ia rapatkan, sesekali ia menggosokkan kedua telapak tangannya itu dan mengajukannya pada Joe. Agar izinnya turun, Yua memintanya dengan muka memelasnya andalannya dan tak lupa berjanji akan menghubungi Joe dengan calon ponsel miliknya itu.
Akhirnya...Setelah perdebatan yang panjang, Joe mengizinkan Yua untuk bekerja dengan syarat sebelum jam 6 ia harus sudah ada di rumah.
Setelah berterimakasih pada Joe, Yua lalu kembali ke kamarnya dan mendapati Yucil sudah tertidur pulas. Entah kenapa perasaannya menajdi sedikit tenang. Ia lalu mengelus rambut Yucil dan mencium keningnya dengan lembut.
"Selamat tidur, diriku..." ucap Yua
...***...
Pagi hari selasa yang ditunggu telah tiba. Ini adalah hari pertamanya bekerja. Meskipun sebelumnya ia tidak pernah bekerja tapi ia ingin memanfaatkan kesempatan ini untuk mempelajari hal baru.
Yua bangun lebih cepat dari biasanya karena semangatnya yang menggebu-gebu itu. Saking semangatnya ia juga membuat sarapan untuk Joe dan Yucil. Kali ini ia berhasil membuat nasi goreng tanpa gosong dan membuat dapur berantakan. Bahkan Ia juga sudah mencuci dan menjemur kain serta menyelesaikan pekerjaan rumah semuanya sebelum jam 7 pagi. Prestasi yang luar biasa.
"Kamu udah bangun duluan? tumben.." ledek Joe yang baru bangun melihat Yua yang sudah membersihkan rumah dan sudah siap-siap berangkat kerja.
"Ih, memangnya gak boleh?... Aku kalau ada kerjaan pasti bakal bangun pagi kok!! Ya... kemarin-kemarin itu aku nolep aja karena gak tau mau ngapain pagi-pagi, soalnya kalau bisa siang kenapa pagi?" balas Yua.
"nolep?" tanya Joe.
"Ingat harus pulang sebelum jam 6" Seru Joe mengingatkan Yua agar menepati janjinya tadi malam.
...***...
Yua memulai harinya dengan penuh semangat. Ia berjalan kaki dari rumah ke tempat kerjanya yang baru, Cafe Alex.
"Mmm itu cafe punya nama gak sih? Kok aku gak sadar?" gumam Yua.
Saat Yua memikirkan apa nama cafe milik Alex itu, ada seseorang yang berjalan di belakangnya. Yua tak sadar sedang dibuntuti seseorang yang tak dikenal sejak meninggalkan rumahnya. Pria itu memakai jubah hitam, masker dan topi.
Yua lalu berhenti tiba-tiba. Ia terpikir akan satu nama yang cocok untuk cafe Alex. Tapi.... perasaannya mulai tidak enak, seperti ada orang yang berada di belakangnya.
Saat Yua berbalik badan kebelakang, dilihatnya tak ada seorangpun yang disana kecuali dirinya. Bulu kuduknya pun berdiri dan sedikit merinding, tanpa disadari tangannya refleks memegangi dan memiringkan lehernya. Segera ia berbalik badan dan mempercepat langkah kakinya menuju cafe.
Semakin cepat Yua berjalan semakin sadar ia bahwa memang ada yang mengikutinya saat ini. Perasaannya mengatakan bahwa yang mengikutinya adalah pria bertubuh tinggi dan besar. Suara jejak langkah pria itu semakin terdengar kuat di telinga Yua. Takut orang itu akan menculiknya atau mencelakainya, Yua pun kini berlari dengan kecepatan penuh tanpa perlu lagi melihat kebelakang.
...***...
"hosh hosh"
Nafas Yua yang terengah-engah. Tanpa sadar ia sudah berlari jauh dan kini berada tepat di depan pintu cafe dengan badannya sedikit membungkuk serta kedua tangannya yang menompang di atas paha.
Sambil menghapus keringat yang masih bercucuran dari kepalanya itu, Ia membuka pintu masuk cafe dengan memasang senyuman terbaiknya. Ia harus profesional, tidak boleh menunjukkan kecemasannya saat akan mulai bekerja di hari pertamanya.
"Selamat Pagi" ucap Yua.
"huzzzz"
Angin tiba-tiba bertiup lembut membawa sehelai daun. Tak ada seorangpun di dalam cafe menyambut kedatangannya.
...***...
Yua lalu mencoba mencari Alex ke lantai atas. Sesampainya di lantai atas, dilihatnya ada seseorang sedang tertidur pulas di atas sofa. Mukanya pun ditutupi sehelai koran agar cahaya matahari tidak jatuh mengenai wajahnya.
Tanpa diberitahu, Yua tahu bahwa orang itu adalah Alex. Ya...siapa lagi kalau bukan Alex, pikirnya. Ia lalu mendekat ke arah sofa dan mengamati Alex yang sedang tertidur itu sambil duduk menjongkok dan memeluk kedua lututnya.
Perlahan Yua memindahkan helai koran yang menutupi wajah Alex itu ke meja disampingnya, dan menyisakan wajahnya yang putih berseri. Yua pun tenggelam dalam perasaannya sendiri. Ia begitu asyik melihat wajah damai Alex yang sedang tertidur lelap itu, seolah rasa letihnya setelah berlarian tadi sirna begitu saja. Yua bahkan menyentuh wajah Alex dengan jari kecilnya itu berkali kali, tapi tetap saja Alex tidak mau bangun.
"Dug..Dug.."
Detak jantung Yua yang mulai terdengar keras. Yua pun kembali tersadar sudah memandangi wajah Alex begitu lama.
"Duh.. kok tiap liat muka dia, deg-degkan terus sih?, jangan-jangan aku suka sama dia? tapi aku ngak tau gimana rasanya suka sama cowok?? atau jangan-jangan aku mau mati karena sakit jantung???" gumam Yua dengan sedikit keras tanpa memperdulikan apakah Alex mendengarnya atau tidak.
Tak tega membangunkan Alex, Yua berinisiatif untuk menyapu daun-daun kering di teras saja. Setidaknya ia sedikit berguna sebelum perintah turun lansung dari bos, pikirnya dalam hati. Yua pun mengambil sekop dan sapu lidi, Ia lalu turun dan meninggalkan Alex yang masih tertidur.
Suara langkah kaki Yua perlahan mulai samar, itu berarti kini Ia sudah berada di lantai bawah dan mungkin saja sudah berada di teras. Alex yang semula tertidur perlahan bangkit dari sofa dan memulihkan pandangan matanya yang sedikit buram karena terlalu lama memejamkan mata. Ia tak menyangka Yua akan menatapnya seperti itu. Alex dapat merasakan tatapan mata Yua meski matanya terpejam.
Aex ternyata sudah bangun sejak Yua datang. Awalnya ia berniat untuk mengerjai Yua, namun Alex tak bisa bangun karena Yua sudah memandanginya terlebih dahulu. Akan jadi sangat canggung jika ia harus bangun dan mengagetkan Yua.
Wajah Alex pun memerah layaknya tomat. Ia sudah lama tidak di pandang oleh wanita seperti itu, bahkan pelayannya saja tidak pernah menatap matanya lebih dari 3 detik. Sambil menampar kedua pipinya ia meminta dirinya sendiri untuk sadar dan tidak perlu memikirkan hal yang aneh-aneh.
...***...
Alex lalu menghampiri Yua ke lantai bawah sambil membawa apron baru untuknya. Yua ternyata berada di teras, hendak menyapu daun daun kering yang berserakan, namun Alex melihat Yua sedang mengarahkan pandangannya ke arah kejauhan.
Untuk memanggil Yua yang berada di teras, Alex mengetuk kaca jendela cafe yang berada tepat di depan Yua. Yua pun terkejut dengan bunyi ketukan kaca itu dan seketika mengalihkan pandangannya tadi ke arah Alex.
"Dummm"
Kejadian yang seolah membangkitkan rasa yang terpendam pun terjadi. Mata Alex dan Yua saling bertemu dan adegan tatap menatap tak terhindarkan. Pipi mereka sama-sama memerah, baik Alex maupun Yua langsung mengalihkan pandangan mereka ke atap dan lantai setelah menyadari bahwa mereka tadi saling bertatapan.
Yua lalu masuk ke dalam cafe dan menghampiri Alex yang ada di balik kaca itu.
"Pagi.. udah bangun?" ucap Yua.
"Mm.. Pagi... Ini apron untuk kamu, mulai sekarang kamu adalah pelayan di cafe ini" jawab Alex mengalihkan pembicaraan. Ia tak ingin membicarakan kejadian tadi karena akan ketahuan jika dirinya tidak tertidur dan pastinya mereka akan canggung.
Yua lalu mengambil apron itu dengan senyuman tipisnya. Namun seketika perasaan Yua kembali tidak enak dan lagi-lagi mengalihkan pandangannya dari Alex sambil melihat keluar cafe. Yua pun tiba-tiba memasang muka waspada.
"Aku rasa ada orang yang mengikutiku sejak aku berangkat dari rumah" ungkap Yua yang membuat Alex terkejut.
____________
Terimakasih❤
Jangan lupa Like, Comment dan Favorite-nya😊