40 Days, One Love

40 Days, One Love
Kenyataannya



Selagi Yua dan Arga masih di jalan, Bu Risma sudah siap-siap di meja makan. Meletakkan piring, sendok, gelas, air minum, jus jeruk dan tentunya menu utama sarapan pagi ini, bubur ayam.


Bu Risma sangat menyayangi Yua bahkan sudah menganggapnya anaknya sendiri, apalagi ia sudah mengasuh Yua sejak kecil. Tapi setelah ia kembali dari Inggris, Yua sangat jarang menemuinya atau membicarakan masa lalu. Bahkan Bu Risma dan Yua baru bertemu beberapa kali saja selama 4 tahun ini.


"Beep.. Beep.."


Sepertinya Arga dan Yua telah sampai di depan rumah. Bu Risma yang berada di dapur bergegas berlari menuju pintu depan rumah, sekaligus menyambut Yua.


"Pagi, Bu..." sapa Yua.


Yua lalu mengambil tangan Bu Risma dan menciumnya. Meski Yua tak menyukai Pak Roy, tapi ia sangat menghormati calon ibu mertuanya itu .


"Sudah sampai nak... Ayo masuk ke dalam" ajak Bu Risma sambil membelai lembut rambut Yua.


...***...


"Yua.. kamu jarang lho ke sini jengukin ibu. Ibu kangen sama kamu" ucap Bu Risma.


Bukannya Yua tak ingin menemui Risma, tapi Yua dulu malas saja berhubungan dengan keluarga Arga, apalagi jika ada Pak Roy di rumah. Demi tidak membuat Bu Risma bersedih, Yua sedikit berkilah.


"Maaf bu.. kemarin-kemarin aku sibuk kuliah dan skripsian" jawab Yua.


Bu Risma pun memaklumi Yua yang sibuk kuliah tak bisa menemuinya. Pernah sekali ia mendengar dari Arga yang juga dosen di jurusan Yua, bahwa Yua termasuk mahasiswa yang butuh bimbingan ekstra karena mengulang beberapa matakuliah.


"Gimana? enak buburnya?" tanya Bu Risma lagi pada Yua yang menikmati sarapannya.


"Iya bu... enak!" jawab Yua singkat.


"Nanti ibu ajarin resep rahasianya kalau kamu sudah menikah besok" goda bu Risma lagi.


"Uhuk"


Mendengar kata menikah setelah baru saja ia diancam oleh suami bu Risma sendiri, membuatnya tersedak. Bu Risma yang ada disamping pun langsung memberi Yua segelas air agar makanannya cepat turun.


"Maaf bu.. aku keselek daging ayam" kilah Yua lagi.


"Hahaha"


Sontak kilah Yua yang aneh itu membuat seisi ruang makan menjadi meriah oleh gelak tawa, termasuk Yua yang juga ikut tertawa.


...***...


Setelah selesai makan, Yua juga membantu Bu Risma mencuci piring karena tidak ada pembantu di rumah sebesar ini. Di sela-sela mereka mencuci piring, Bu Risma terlihat seperti ingin membicarakan sesuatu tapi sepertinya ia tahan,


"Mmm.. Nak, Ibu..." ucapan Bu Risma terhenti.


"Ada apa bu?" tanya Yua penasaran.


Bu Risma yang sempat bingung, lalu menyudahi cuciannya itu dan mengeringkan tangannya. Begitupula dengan Yua yang kemudian mengikuti Bu Risma duduk di meja makan kecil yang ada di dapur.


"Kamu ingat waktu kamu masih kecil?" tanya Risma.


"Waktu kecil?? waktu SD?" jawab Yua bingung.


Kenapa Bu Risma menanyakan ingatan Yua tentang masa kecil? Apa hubungannya dengan hari ini? Apa bu Risma ingin bernostalgia?, pikir Yua dalam hati.


"Bukan... maksud Ibu, waktu umur kamu tiga tahun?" tanya bu Risma yang kini memperjelas pertanyaannya.


Jujur saja, Yua tidak ingat apa-apa saat umurnya tiga tahun. Hanya saja Arga pernah memberitahunya bahwa mereka tinggal di satu komplek yang sama, pernah bermain bersama, bahkan pernah mengganti popoknya.


"Aku kurang ingat bu... Arga pernah cerita sedikit" jawab Yua.


"Ah!"


"Apa Ibu tahu tentang ma... mama aku?" tanya Yua sedikit ragu.


Bingo!


Ternyata Bu Risma memikirkan hal yang sama dengan Yua. Hal yang ingin bu Risma tanyakan adalah ingatan Yua pada sosok mamanya itu.


Apa yang ingin bu Risma bicarakan sebenarnya?.


...***...


Bu Risma lalu mengajak Yua berbicara di kamarnya saja. Sepertinya bu Risma tak ingin ada orang lain yang mendengar pembicaraan mereka. Tak lupa bu Risma memperhatikan sekitar kamarnya, jika saja ada yang akan lewat baik Arga atau buruknya Pak Roy.


Bu Risma lalu memegang wajah Yua, melihat pipinya, matanya, hidungnya bahkan rambutnya. Yua yang heran dengan tingkah bu Risma langsung melepaskan kedua tangan bu Risma dari wajahnya itu.


"Maaf bu.. ada apa ya? ada yang aneh di wajah aku?" tanya Yua.


"Kamu... mirip sekali dengan Lily" ungkap bu Risma.


Lily?... nama yang sama seperti yang pernah Arga sebutkan, nama mamanya Yua. Seperti yang pernah Arga sebut juga bahwa Yua memang sangat mirip dengan mamanya itu ditambah lagi bukti beberapa foto, dan sekarang ada saksi hidup di depannya.


"Mama aku?" tanya Yua memastikan apakah dugaannya benar atau tidak.


Bukan jawaban iya yang Yua dapat, tapi sebuah gelengan kepala Bu Risma yang berarti menyanggah pertanyaan Yua bahsa Lily bukan mamanya Yua.


"Lalu siapa?" tanya Yua lagi.


Yua hanya mendapat sebuah jari telunjuk yang diarahkan padanya. Apakah yang bu Risma maksud adalah dirinya. lalu dirinya kenapa?.


"A..Aku?" ucap Yua yang bingung dengan tingkah bu Risma.


Dengan menarik nafas dalam-dalam, bu Risma lalu mengatakan apa yang harusnya ia katakan dengan jelas tanpa gerakan isyarat apapun.


"Lily itu kamu!" ungkap bu Risma singkat.


Satu kalimat yang mampu membuat Yua bingung hingga tak tahu harus berpikir apa. Ia ingin tertawa karena cerita yang tak masuk akal, tapi ia juga ingin marah karena perasaannya dua hari ini seperti dimainkan.


"Apa?... tapi bagaimana mungkin, aku adalah mamaku sendiri begitu? haha" tanya Yua pada Risma dengan sedikit menahan emosinya.


Tampak Yua sangat kesal dari nadanya bertanya pada bu Risma. matanya sedikit berair seperti akan menangis, dan kedua tangannya yang tak berhenti bergerak seperti ingin meremas sesuatu.


Risma lalu mengeluarkan sebuah surat dari dalam sebuah kotak yang ada di dalam lemarinya. Sebuah surat yang amplopnya sudah menguning dan bertuliskan tahun 2000. Tak lain dan tak bukan ditulis oleh ayah Yua, Joe.


"Ini surat dari Ayah kamu, Joe" ungkap Risma. "Joe minta untuk diberikan setelah ia meninggal" sambungnya sambil memberikan surat itu pada Yua.


Yua lalu mengambil surat itu dan memandanginya dengan tatapan kosong. Ayahnya membuat surat untuk dirinya sejak tahun 2000 tapi baru ia berikan sekarang?, pikir Yua.


"Kamu baca ditempat yang aman, dan kamu akan tahu maksud ibu bahwa kamu adalah Lily" pinta bu Risma.


"tok tok tok"


Suara ketukan pintu itu membuat bu Risma dan Yua sama-sama kaget. Dengan cepat bu Risma meminta Yua untuk segera menyimpan surat itu di dalam saku celananya dan memintanya agar tak seorang pun tahu tentang surat ini.


"klek"


"Bu... kenapa lama di dalam?" tanya Arga.


Orang yang mengetuk pintu tadi adalah Arga. Bu Risma dan Yua bisa sedikit bernapas lega karena bukan Pak Roy yang membuka pintu. Jika itu Pak Roy sudah pasti ketahuan bahwa mereka menyembunyikan sesuatu.


______________________________


Terimakasih Sudah Membaca😊