
Di depan pintu pagar rumahnya, Zhafira sudah berdiri menunggu. Sudah dari tadi dia berdiri di situ. Berharap Dafa datang menjemputnya, tapi pemuda itu belum juga muncul.
"Sebaiknya, Mama antar kamu saja. Sepertinya, Dafa tidak akan datang menjemputmu," ucap Riska sambil membukakan pintu mobil untuknya.
Dengan wajah yang terlihat sedih, Zhafira mengiyakan dan masuk ke dalam mobil. Pak Diman yang sedari tadi menunggu, akhirnya melajukan mobilnya. Walau masih ingin menunggu, tapi dia tidak bisa karena dia pasti akan terlambat sampai di sekolah.
"Minta maaflah pada Dafa. Bagaimanapun juga, dia itu sahabatmu dari kecil. Jangan hanya karena masalah sepele, persahabatan kalian jadi hancur." Pesan ibunya saat Zhafira turun dari mobil. Dia menganggukan kepalanya dan mencium punggung tangan ibunya itu.
Zhafira memasuki koridor kelasnya dengan perasaan was-was. Dia takut kalau Dafa akan menghindar darinya. Setibanya di dalam kelas, Dafa tidak ada di sana. Hanya tasnya yang sudah tergantung di sisi meja.
"Kenapa? Apa kamu mencari Dafa?" tanya Refa yang membuat Zhafira terkejut. Refa sudah berdiri di belakangnya dengan wajah yang tak seperti biasanya.
"Mana Dafa?"
"Kenapa tanya padaku? Bukannya kamu yang lebih tahu?" jawab Refa datar hingga membuat Zhafira mengernyitkan keningnya.
"Maksud kamu apa? Dan kenapa sikapmu seperti ini padaku?"
Kheyla yang baru datang lantas menengahi mereka. "Kalian berdua kenapa, sih? Refa, sudahlah. Jangan kamu tambah lagi masalah ini," ucap Kheyla yang membuat Refa marah.
"Kenapa? Apa kamu senang melihat Zhafira bertengkar dengan Dafa hanya gara-gara Kevan? Kamu juga, apa benar kamu suka sama Kevan hingga sahabatmu saja tidak kamu pedulikan?" tanya Refa marah karena Zhafira lebih membela Kevan daripada sahabatnya sendiri.
Zhafira terdiam. Dia tidak menyangka persoalan kemarin bisa serumit ini. Zhafira memandangi seisi kelas yang menatapnya dengan rasa jijik. Rupanya, pertengkaran kemarin telah menjadi topik hangat di sekolah.
Bukan hanya anak-anak di dalam kelasnya saja, bahkan anak-anak dari kelas lain juga datang dan menyaksikan pertengkarannya dengan Refa.
Bukan itu saja, dari pertengkaran kemarin muncul rumor yang mulai menyudutkannya. Katanya, dia sangat terobsesi dengan Kevan hingga membuat dia tidak peduli lagi pada Dafa. Dan juga, dia ditolak oleh Kevan hingga membuat dia marah karena Dafa lah penyebab dia ditolak. Entah siapa yang sudah membuat rumor menjijikan itu.
Zhafira tersenyum walau terlihat dipaksakan. Tanpa peduli pandangan orang, dia memilih duduk di tempat duduknya dan mengeluarkan buku-buku untuk mata pelajaran di jam pertama. Dia tidak peduli dengan tatapan sinis yang masih melihat ke arahnya.
Zhafira menarik nafas panjang dan mengelus dadanya. Walau sakit, dia harus bisa bertahan. Mereka hanya berbicara tentang apa yang mereka lihat, tapi mereka tidak tahu dengan apa yang dia rasakan.
Lonceng tanda masuk berbunyi. Zhafira sudah duduk di tempat duduknya sambil membaca buku. Dia mencoba untuk terlihat tenang, walau sebenarnya hatinya merasa tersiksa. Anak-anak yang semula memenuhi depan kelasnya pun sudah bubar.
Dafa yang dari tadi tidak terlihat, kini sudah datang dan duduk di bangkunya. Tanpa suara, tanpa ekspresi. Dafa melewatinya begitu saja tanpa melihat kearahnya sama sekali.
Perasaan Zhafira begitu tertekan. Rasanya dia ingin waktu segera berhenti atau setidaknya, biarkan dia kembali ke masa lalu. Masa-masa di mana dia begitu bahagia dengan keluarganya, dengan sahabatnya yang selalu membuat dia tertawa.
Zhafira tersenyum kecut dan menghapus air matanya yang perlahan jatuh. Sekuat apapun dia mencoba untuk bertahan, tapi air mata itu selalu mencari celah agar bisa keluar.
Saat jam istirahat, Zhafira lebih memilih duduk di dalam kelasnya. Refa yang terlihat masih kesal, hanya bisa pergi meninggalkannya dan mengacuhkannya. Dafa sudah keluar dari kelas, entah pergi ke mana. Kheyla yang mencoba untuk membujuknya pun tak berhasil, yang ada hanya kata maaf yang terucap dari bibirnya.
"Refa, kenapa kamu harus marah seperti itu? Kasihan Zhafira," ucap Kheyla yang mencoba membujuk sahabatnya itu.
"Aku hanya tidak suka. Hanya karena seorang cowok, Zhafira tega menyakiti perasaan Dafa. Dafa hanya ingin membantunya, tapi kenapa dia yang harus marah sama Dafa," ucap Refa kesal.
Refa sangat marah karena Zhafira memperlakukan Dafa seperti itu. Dia marah karena dia sudah mengorbankan perasaannya yang diam-diam menyukai Dafa. Dia sadar, tidak mungkin dia bisa hadir di hati pemuda itu karena dia tahu, Dafa sangat menyayangi Zhafira.
Zhafira masih duduk di tempat duduknya sambil meletakkan kepalanya di atas meja. Rasanya begitu nyaman hingga membuat dia enggan mengangkat kepalanya. Namun, kenyamanan itu hanya sementara karena Kevan tiba-tiba datang dan menarik tangannya. "Lepaskan tanganku!!" pekik Zhafira sambil berusaha melepaskan tangannya dari cengkraman pemuda itu.
Kevan tidak peduli. Dia masih menarik tangan Zhafira hingga membuat gadis itu terpaksa mengikutinya.
"Apa maksudmu membawaku kemari? Kamu sudah membuat tanganku sakit," ucap Zhafira kesal sambil berusaha melepaskan tangannya.
"Kamu lihat perbuatanmu itu. Gara-gara kamu, aku harus mendengar rumor yang sama sekali tidak benar. Apa kamu masih bisa tenang dengan rumor yang beredar itu?" tanya Kevan yang membuat Zhafira tersenyum kecut.
"Kalau itu tidak benar, ya sudah, tutup telingamu, gampang, kan?"
"Zhafira, kamu sadar tidak, sih? Kamu sudah membuat situasi yang sulit buat aku dan Dafa."
"Baiklah, aku minta maaf. Mulai sekarang, aku tidak akan mengganggumu lagi. Aku akan menghindar jika bertemu denganmu agar kamu tidak bisa melihatku, puas?" ucap Zhafira tegas.
"Satu hal lagi. Asal kamu tahu, aku tidak pernah sengaja ingin melihatmu atau duduk di bangku pacar kamu itu. Benar katamu kalau aku ingin ikut campur, tapi itu bukan mauku. Aku tidak pernah menyukaimu, tapi mataku ini yang sudah menuntunku untuk datang ke kelasmu dan duduk di bangku itu. Ah, sudahlah. Mungkin bagimu, semua ucapanku ini hanyalah omong kosong," ucap Zhafira yang terlihat tegas, tapi air matanya tiba-tiba jatuh. Zhafira kemudian pergi meninggalkan Kevan yang masih berdiri memandanginya.
Zhafira berjalan sambil menghapus air matanya yang jatuh di pelupuk matanya. Entah mengapa, dia ingin menangis walau sebenarnya dia tidak ingin. Entah mengapa, hatinya merasa sedih ketika kata-kata itu dia ucapkan pada Kevan.
"Kenapa aku seperti ini? Kenapa aku harus menghadapi situasi seperti ini?" batinnya sambil menghapus air matanya.
Zhafira yang merasa bersalah kemudian berjalan mendekatinya dan berdiri di depannya. "Aku minta maaf, karena aku salah. Kalau memang salahku tidak bisa kamu maafkan, baiklah, aku akan terima. Bagiku, kamu tetap sahabatku walau aku tahu, aku bukanlah sahabat yang baik buatmu," ucap Zhafira yang berusaha menahan air matanya agar tidak jatuh.
Zhafira kembali duduk di bangkunya dan meletakkan kepalanya di atas meja. Entah sudah ke berapa kalinya dia melakukan hal yang sama. Baginya, meja adalah tempat yang paling aman buatnya menangis. Dengan meletakkan kepalanya di atas meja, setidaknya mereka tidak akan melihat dia menangis. Ya, seperti sekarang ini. Dia tidak bisa menahan air matanya ketika mengucapkan kata-kata itu pada Dafa. Rasanya, dia ingin kembali buta agar peristiwa ini tidak dialaminya. Baginya, lebih baik dia kehilangan matanya dari pada harus kehilangan sahabat-sahabatnya.
Di atas meja, air mata Zhafira jatuh. Suara tangisnya coba dia tahan. Ah, sudah berapa banyak dia mengalami cobaan hidup. Dari perpisahan kedua orang tuanya dan kecelakaan yang membuat dia buta, itu semua bisa dia hadapi dengan tersenyum, tapi rasanya kali ini tidak mungkin. Perpisahan dengan sahabatnya, rasanya sangat menyakitkan.
"Zha, jangan terlalu memikirkan masalah ini. Aku yakin semuanya akan kembali seperti dulu," ucap Kheyla yang mencoba menenangkan sahabatnya itu.
Zhafira tersenyum. Hanya Kheyla yang masih mengajaknya bicara. Sementara Refa, masih memilih untuk menghindar darinya.
"Terima kasih, Khey. Setidaknya masih ada kamu yang menganggapku sebagai teman," jawabnya dengan senyum yang dipaksakan.
*****
Sudah hampir seminggu Dafa tidak bertegur sapa dengannya. Begitupun dengan Kevan yang berusaha untuk dia hindari. Dia tidak ingin lagi terlibat dengan kedua pemuda itu. Sudah cukup hatinya terluka.
Ujian akhir semester baru saja selesai. Untunglah Zhafira bisa menyelesaikan semua pertanyaan dengan baik. Dia ingin agar ujian cepat selesai dan segera libur agar dia bisa menghabiskan waktunya di rumah tanpa harus bertemu dengan mereka yang membuat dia semakin sedih.
Dua hari setelah ujian selesai, Dafa dan tim basketnya mengikuti kejuaraan basket tingkat sekolah. Kejuaraan yang diadakan di salah satu sekolah ternama, dihadiri seluruh peserta dan tentu saja dengan para suporter dari masing-masing sekolah yang membuat sekolah itu menjadi ramai.
Awalnya, Zhafira tidak ingin pergi ke sana, tapi dia teringat kembali akan janjinya pada Dafa waktu itu. Walau hubungan mereka kini tidak sedang baik-baik saja, tapi janji tetaplah janji dan janji haruslah dia tepati.
Di depan pintu pagar sekolah itu, Zhafira melangkahkan kaki dan berjalan bersama orang-orang yang mulai memadati area sekolah itu. Sekolah yang luasnya dua kali lipat dari sekolahnya ternyata menjadi daya tarik tersendiri baginya dan orang-orang di tempat itu. Mereka begitu kagum dengan semua fasilitas yang ada di sekolah itu.
Zhafira mulai memasuki area lapangan yang mulai dipadati penonton. Walau sempat bingung, tapi dia mencoba bersikap tenang. Untuk pertama kalinya, dia pergi sendiri tanpa ditemani teman-temannya dan itu cukup membuat dia sedih.
Karena masih bingung, Zhafira tidak memperhatikan langkahnya, hingga tiba-tiba dia menabrak seseorang. Tabrakan itu cukup membuat kepalanya berdenyut. Sambil meringis, dia memegang kepalanya dengan salah satu tangannya.
"Maafkan aku. Aku tidak sengaja menabrakmu. Maafkan aku," ucapnya sambil menunduk tanpa memperhatikan orang itu.
"Kamu tidak apa-apa, kan? Apa kepalamu sakit?" tanya orang itu sambil berjalan mendekatinya.
Zhafira mengangkat kepalanya dan menggeleng pelan. "Tidak apa-apa. Aku baik-baik saja," ucapnya sambil menatap ke arah orang itu.
Di depannya, kini berdiri seorang pemuda tampan dengan memakai kaos basket yang bertuliskan Ardi. Ya, pemuda itu bernama Khairun Mahardi. Pemuda tampan berkulit putih dengan alis tebal dan bulu matanya yang lentik, cukup untuk membuat gadis-gadis bertekuk lutut padanya.
Namun, itu tidak berlaku bagi Zhafira. Setelah meminta maaf, dia kemudian pergi meninggalkan pemuda itu yang menatap heran padanya.
"Gila tuh cewek, main pergi begitu saja. Apa dia tidak tahu sedang berhadapan dengan siapa?" ucap salah satu temannya Ardi yang kebetulan ada di tempat itu.
Ardi hanya tersenyum melihat sikap gadis itu padanya. Baru kali ini, dia diacuhkan oleh seorang gadis.
Benar saja, mereka telah dikelilingi para gadis yang hendak berfoto bersama. Ardi bagaikan seorang idol di sekolahnya. Bukan hanya di sekolahnya saja, tapi dia juga cukup terkenal di sekolah lain. Secara, dia adalah pemain basket yang cukup punya nama. Kemampuannya dalam bermain basket sudah setara dengan pemain basket tingkat nasional.
Wajah yang tampan, postur tubuh yang mendukung sudah cukup untuk membuat gadis-gadis tergila-gila padanya.
Zhafira masih mencari tempat duduk, tapi sayang bangku-bangku untuk penonton sudah penuh. Tidak ada lagi bangku kosong yang tersisa. Dengan perasaan kecewa, Zhafira berniat meninggalkan tempat itu hingga langkahnya terhenti karena Ardi kini sudah berdiri di depannya.
"Bukankah tadi aku sudah meminta maaf? Ah, sudahlah. Maafkan aku, karena sudah menabrakmu tadi," ucap Zhafira sambil menunduk dan berjalan pergi meninggalkannya.
"Apa kamu sudah mau pulang? Apa karena kamu tidak mendapat kursi?" tanya Ardi yang membuat Zhafira memandanginya.
"Kenapa? Apa kamu mau memberi salah satu kursi penonton untukku?" tanya Zhafira yang kemudian pergi.
"Kalau itu yang kamu mau, baiklah. Aku akan mengajakmu nonton di kursi khusus untuk pemain," ucap Ardi yang langsung saja membuat langkah Zhafira terhenti.
Zhafira menatap pemuda itu dengan heran. "Ah, paling-paling dia hanya ingin meledekku," pikir Zhafira.
Tiba-tiba, teman-teman pemuda itu datang dan mengajaknya untuk duduk di kursi pemain.."Ardi, ayo kita ke sana. Teman-teman yang lain sudah menunggu," panggil salah satu temannya yang juga mengenakan baju yang sama dengannya.
"Mau ikut?" tanya Ardi pada Zhafira.
"Apa tidak masalah?" Ardi mengangguk. Zhafira kemudian tersenyum dan berjalan di belakang pemuda itu. Dan tanpa sadar, dia sudah menjadi perhatian gadis-gadis yang ada di tempat itu.