Zhafira

Zhafira
Part 7



Dengan menahan air mata, Zhafira kemudian berlari menuju toilet dan bersembunyi di sana. Di depan cermin, dia melihat wajahnya yang memerah karena menahan marah. "Apa salahku? Kenapa aku harus melihat dia walau aku tidak ingin melihatnya? Aku benci sama dia, tapi kenapa mataku ini ingin selalu melihatnya?" Zhafira menutupi wajahnya dengan kedua tangannya.


Di luar toilet, Dafa sudah menunggunya dengan perasaan cemas. Dia khawatir dengan gadis itu. Sejak kecelakaan yang dialami Zhafira, Dafa ingin melindungi gadis itu. Dia tidak ingin gadis itu terluka.


"Zha, kasihan Dafa. Dia sudah menunggumu di luar," ucap seorang siswi yang baru saja masuk.


Zhafira lantas mencuci wajahnya dan merapikan rambutnya. Di depan cermin, dia berusaha tersenyum walau sebenarnya dia enggan untuk melakukannya, tapi demi sahabatnya itu dia harus terlihat tegar.


"Kamu tidak apa-apa, kan?" tanya Dafa ketika melihat Zhafira keluar dari toilet.


"Kenapa kamu ada di sini? Apa kamu tidak malu berdiri di depan toilet cewek?"


"Kenapa harus malu. Toh, aku tidak melakukan apapun. Aku hanya ingin menunggumu."


"Jangan khawatir. Aku baik-baik saja. Lagipula, aku tidak akan tersinggung dengan ucapan temanmu itu," ucapnya sambil tersenyum.


Dafa sangat mengenali tabiat Zhafira yang selalu berpura-pura kalau semua baik-baik saja, tapi sebenarnya tidak. Dia tahu, Zhafira tidak ingin membuatnya khawatir. Persahabatan yang terjalin sejak masih kecil sudah membuat Dafa hafal dengan semua tabiatnya itu.


Kedekatan kedua sahabat itu sudah seperti kakak dan adik. Dafa, cowok tampan yang selalu bisa membuat setiap cewek terpikat padanya dengan sikap yang penuh perhatian dan tentu saja dengan pesona wajahnya. Tak jarang, Zhafira merasa canggung dengan sikap Dafa yang terlalu perhatian padanya, hingga membuat cewek-cewek di sekolahnya tidak menyukainya.


*****


"Fa, jangan terlalu baik padaku. Sampai kapan kamu akan selalu melindungiku, aku baik-baik saja," ucap Zhafira saat Dafa datang ke rumahnya untuk membuat tugas bersama.


Dafa tersenyum sambil mengelus lembut rambut gadis itu. "Bagaimana mungkin aku akan berhenti melindungi adikku sendiri? Jangan khawatir, kalau ada lelaki baik yang bisa menjagamu, aku pasti akan pergi, kok," jawabnya dengan senyum.


Kebersamaan mereka sejak kecil sudah membuat Dafa menganggapnya seperti adiknya sendiri. Dafa adalah anak bungsu dari tiga bersaudara yang kesemuanya laki-laki. Karena itu, dia sangat menyayangi Zhafira seperti adiknya sendiri.


Sejak kecil, Dafa selalu menjaga gadis itu. Hingga kecelakaan itu terjadi hingga membuat Dafa merasa bersalah karena tidak bisa melindunginya dan kini, dia telah bertekad untuk menjaga gadis itu.


"Nih, aku sudah mencatat semua mata pelajaran yang belum sempat kamu catat dan jangan lupa belajar. Kunci pintunya yang rapat, sebentar lagi ibumu sudah pulang. Aku pulang dulu. Kalau ada apa-apa, segera hubungi aku, mengerti?" ucap Dafa sambil memeriksa setiap jendela.


"Iya, aku mengerti," jawab Zhafira mengangguk sambil mengantar pemuda itu di depan pintu.


Setelah kepergian Dafa, Zhafira langsung masuk ke kamarnya dan mengunci pintu. Di depan pemuda itu, dia bersikap berani, tapi nyatanya dia sangat takut jika sendirian dan Dafa menyadari itu. Dia masih duduk di teras rumah gadis itu sambil menunggu Riska pulang dari kantor.


"Maafkan, Tante. Kamu pasti menunggu lama. Tante ada rapat tadi di kantor, makanya pulang sedikit terlambat. Terima kasih karena kamu sudah menemani Zhafira," ucap wanita itu sambil tersenyum.


"Tidak masalah, Tante. Kalau begitu, Dafa pamit dulu."


"Salam ya buat mama kamu."


"Iya, Tante. Assalamualaikum," ucap Dafa yang kemudian pergi dengan motornya.


"Waalaikumsallam."


Mendengar ibunya sudah datang membuat Zhafira buru-buru keluar dari kamarnya. Dia bergegas berlari dan segera memeluk wanita itu.


"Kamu takut, ya?" Zhafira mengangguk dengan wajah cemberut.


"Maaf, tadi Mama ada rapat. Lagipula, buat apa kamu takut. Dafa dari tadi duduk di teras dan baru saja pulang begitu Mama sampai," ucap Riska sambil meletakkan tasnya di atas meja.


Itulah kebiasaan Dafa yang sulit untuk dia tinggalkan. Dia tidak bisa membiarkan Zhafira sendirian di rumah. Dia khawatir dengan gadis itu kalau-kalau sesuatu yang buruk menimpanya.


*****


Seperti biasa, Dafa selalu datang menjemputnya untuk bersama-sama berangkat ke sekolah. Itu bukan hal yang baru bagi mereka. Itu sudah kebiasaan yang hampir setiap hari dilakukan oleh pemuda itu. "Sebentar temani aku latihan basket, kamu mau, kan?" tanya Dafa ketika memberikan helm pada gadis itu.


Walau dia tidak ingin, tapi kepalanya mengangguk mengiyakan. Dengan senyum, Zhafira menerima helm pemberian sahabatnya itu dan segera memakainya.


Setibanya di halaman parkir sekolah, mereka sudah disambut dengan tatapan gadis-gadis yang memandangi Dafa dengan tatapan penuh kekaguman. Mereka terpesona dengan ketampanan Dafa yang membuat mata mereka enggan untuk berpaling.


"Zhafira," panggil Refa yang juga baru datang sambil berlari kecil ke arahnya.


"Wah, Dafa memang hebat. Kalau aku jadi kamu, aku tidak akan membiarkan gadis-gadis itu mendekatinya," ucap Refa sambil merangkulkan tangannya di bahu gadis itu.


"Memangnya aku ini siapa sampai harus melarang mereka suka sama Dafa? Itu kan hak mereka," jawab Zhafira datar.


"Iya, iya. Aku tahu kalian cuma sahabat, tapi Zha, apa benar kamu tidak punya perasaan sedikitpun pada Dafa?" tanya Refa penasaran hingga membuat Zhafira jengkel dan berjalan meninggalkannya.


Sudah ratusan kali sahabatnya itu melontarkan pertanyaan yang sama dan sudah ratusan kali pula Zhafira mengelak dan mengatakan kalau kedekatan mereka hanya sebatas sahabat.


"Sebentar pulang sekolah, temani aku, ya," ucap Zhafira pada kedua sahabatnya itu.


"Memangnya, kamu mau kemana?"


"Dafa memintaku temani dia latihan basket dan aku tidak bisa menolak."


"Oke, aku mau," jawab Refa spontan dengan senyum sumringah. Begitupun dengan Kheyla yang tidak kalah senangnya begitu tahu kalau mereka akan menemani cowok-cowok tampan itu latihan.


Benar saja, cowok-cowok itu memang menjadi magnet tersendiri untuk kaum hawa di sekolah mereka. Ketiga sahabat itu terkejut ketika melihat tempat duduk di lapangan basket hampir penuh dengan gadis-gadis yang histeris sambil melihat ke tengah lapangan.


Tepuk tangan dan sorak sorai menghiasi keberhasilan Dafa dalam mencetak angka. Dengan tersenyum, Dafa melihat ke arah Zhafira yang tengah duduk dan melambaikan tangan padanya. Melihat gadis itu sudah cukup membuat Dafa kembali bersemangat.


Latihan yang berlangsung hampir dua jam itu ternyata cukup menguras tenaga. Tubuh mereka yang basah karena keringat, cukup menjadi pemandangan yang eksotis buat gadis-gadis itu. Terlihat, ada beberapa gadis dengan tingkah malu-malu berusaha memberikan minuman untuk mereka.


"Kak Kevan, ini buat Kakak," ucap salah seorang gadis dari kelas sepuluh sambil memberikan sebotol minuman dingin pada pemuda itu. Tanpa ekspresi, Kevan hanya memandanginya datar dan kemudian pergiĀ  tanpa mempedulikan gadis itu.


"Dasar, cowok sombong," ucap Zhafira kesal ketika melihat sikap Kevan pada gadis itu.


Kevan yang mendengar ucapan Zhafira lantas memandanginya dengan wajahnya yang terlihat datar. Wajah tampan tanpa ekspresi itu tidak mengurangi aura ketampanannya. Katanya, karena sikap dingin itulah yang membuat gadis-gadis menyukainya.


"Apa, lihat-lihat," ucap Zhafira kesal padanya sambil berjalan ke arah Dafa.


"Nih." Sebotol minuman dingin dan handuk kecil yang sedari tadi dipegangnya dia berikan kepada Dafa.


"Punya kita mana?" tanya Vino yang duduk di sebelah Dafa.


"Iya, nih. Kok, kalian hanya berikan minuman buat Dafa saja?" tanya Revan yang juga duduk di tempat itu dengan wajah memelas.


"Maaf, aku hanya bawa buat Dafa saja. Lain kali, aku pasti bawa buat kalian juga," ucap Zhafira sambil tersenyum.


"Ambil punyaku saja, kebetulan tadi ada yang memberikannya padaku," ucap Dafa sambil memberikan beberapa botol minuman dingin yang tadi diberikan oleh beberapa gadis padanya. Dengan senyum, kedua sahabatnya itu mengambilnya dan langsung meneguknya.


"Aku pikir kamu tidak akan datang," ucap Dafa sambil menyeka keringatnya.


"Kalau sahabatku yang meminta, pasti aku akan datang," jawabnya dengan senyum hingga membuat Dafa memandanginya dan membalas senyumannya itu.


"Akhir semester nanti, tim kita akan ikut pertandingan antar sekolah dan aku ingin kamu menyaksikan pertandingan itu, kamu mau, kan?" tanya Dafa dan dibalas dengan anggukan dan senyuman dari gadis itu.


Zhafira yang dulu terlihat acuh, kini perlahan memberikan perhatian pada sahabatnya itu. Dia sadar, sudah banyak perhatian dan kebaikan yang diberikan Dafa untuknya dan dia tidak ingin di kenang sebagai sahabat yang buruk.


"Sebaiknya, kalian menunggu di kelas saja. Kami harus ganti baju dan mendengar sedikit arahan dari pelatih. Setelah itu, kami akan menemui kalian di sana," jelas Dafa.


Ketiga gadis itu mengangguk dan melangkah pergi ke kelas mereka. Sudah dua puluh menit mereka menunggu, tapi Dafa belum juga muncul. Karena bosan, akhirnya mereka memutuskan pergi ke toilet untuk membersihkan wajah mereka yang sudah terlihat lelah.


"Kenapa mereka belum datang juga? Aku bosan kalau disuruh menunggu," gerutu Kheyla sambil membenarkan posisi rambutnya yang sudah mulai berantakkan.


"Sabar, sebentar lagi mereka sudah selesai," ucap Refa yang terlihat lebih santai.


"Maaf, kalau tahu begini, lebih baik tadi aku tidak usah mengajak kalian. Kalian pasti kesal, ya," ucap Zhafira terlihat menyesal.


Mendengar penuturan Zhafira membuat Kheyla tersenyum. "Aku kesal bukan karena aku marah. Kamu tahu kan, aku suka melihat cowok-cowok itu dan kamu tahu juga kan, siapa yang aku maksud?" tanya Kheyla sambil tersenyum. Rupanya, sahabatnya itu mulai menyukai Vino yang baginya terlihat sangat lucu.


Mendengar pengakuan sahabatnya itu membuat Zhafira tersenyum. Vino, cowok tampan berkulit hitam manis itu ternyata telah membuat Kheyla jatuh hati dengan senyum manisnya.


Setelah dari toilet, mereka kemudian kembali ke kelas. Suara tawa dan canda terdengar saat Refa mencoba menggoda Kheyla karena ketahuan menyukai Vino. Hingga mereka melintas di salah satu kelas yang membuat Zhafira tiba-tiba menghentikan langkahnya.


Zhafira yang sudah berdiri di depan kelas lantas melangkahkan kakinya dan masuk ke dalam kelas itu. Di salah satu bangku di baris paling belakang, Zhafira duduk. Melihat keanehan Zhafira, kedua gadis itu merasa heran.


"Zha, kenapa kamu duduk di situ? Ini bukan kelas kita," ucap Refa sambil menarik tangan temannya itu.


Zhafira hanya terdiam. Dia seperti tersihir dan berusaha melepaskan tangan Refa. Tiba-tiba saja, dia menitikkan air mata sambil menatap ke arah sebuah bangku yang berada di depannya.


"Zha, kamu kenapa?" tanya Kheyla yang mulai merasa takut.


Zhafira tidak menjawab. Dia masih melihat ke arah bangku itu dan kemudian mendudukinya sembari meletakan kepalanya di atas meja.


Melihat keanehan Zhafira membuat kedua temannya itu bergidik. Mereka sempat berpikir kalau sahabatnya itu mengalami kesurupan. Karena takut, mereka akhirnya memutuskan untuk keluar dari kelas dan menemui Dafa. Baru saja mereka ingin keluar, tiba-tiba Kevan sudah berdiri di depan pintu. "Kenapa kalian ada di kelasku?" tanya Kevan heran.


Mendengar suara Kevan, Zhafira yang sementara meletakkan kepalanya di atas meja langsung mengangkat kepalanya.


"Kenapa kamu duduk di situ? Itu bukan tempat dudukmu," ucap Kevan marah dan meraih tangan Zhafira untuk berdiri dari bangku itu.


Zhafira yang dipaksa untuk berdiri terpaksa harus berdiri dan meninggalkan bangku itu.


"Jangan pernah kamu duduk di bangku ini. Ini bukan tempat dudukmu. Sana, kembali ke kelas kalian!!" bentak Kevan marah sambil mendorong tubuh Zhafira yang masih berdiri terpaku, hingga tubuhnya terdorong dan mengenai sudut meja yang membuatnya meringis kesakitan.


Dafa yang baru saja datang terlihat sangat marah ketika melihat Kevan memperlakukan Zhafira seperti itu. Dengan emosi, Dafa berlari ke arah Kevan dan hendak menghajar pemuda itu.


"Hentikan!!" teriak Zhafira yang membuat Dafa menghentikan langkahnya.


Dengan tangan yang masih mengepal, Dafa mencoba untuk menahan emosinya. Semarah apapun, tapi dia tidak bisa mengabaikan permintaan gadis itu.


Zhafira yang terlihat menahan sakit, kemudian berjalan mendekati Kevan. "Aku minta maaf, karena sudah lancang masuk ke kelas ini dan duduk di bangku itu. Aku minta maaf," ucapnya sambil menunduk.


"Untuk apa minta maaf, kamu tidak salah," ucap Dafa kesal.


"Kamu juga. Kenapa kamu harus marah hanya karena Zhafira duduk di bangku itu?" tanya Dafa pada Kevan yang masih terlihat emosi.


Kevan hanya terdiam. Dia tidak menjawab, hingga Vino datang dan mencoba menjelaskan semuanya.