
Zhafira perlahan membuka matanya dan mendapati ibunya yang sudah duduk di sampingnya sambil menggenggam tangannya. "Ma," ucap Zhafira pelan.
"Kamu sudah sadar, Nak? Kamu tidak apa-apa, kan?" tanya Riska terlihat panik.
"Aku tidak apa-apa, Ma. Aku baik-baik saja," ucap Zhafira sambil berusaha untuk duduk.
"Benar kamu tidak apa-apa?" tanya Riska yang belum benar-benar yakin dengan kondisi anaknya itu.
"Benar, Ma. Aku tidak apa-apa, percaya deh sama Zhafira," ucap Zhafira yang berusaha meyakinkan ibunya. "Teman-temanku mana, Ma? Apa mereka sudah pulang?"
"Belum, mereka semua masih ada di luar. Apa kamu ingin bertemu dengan mereka?" Zhafira mengangguk pelan.
"Baiklah, Mama akan memanggil mereka."
Mendengar Zhafira telah sadar dan ingin bertemu dengan mereka, membuat mereka segera masuk dan menemui gadis itu. "Kamu tidak apa-apa, kan?" tanya Dafa yang langsung duduk di sampingnya.
Zhafira mengangguk sambil memandangi sahabat-sahabatnya itu.
"Kamu tenang saja, papa sekarang sedang mengurus masalah ini di kantor polisi. Kakak akan pastikan kalau keempat gadis itu akan menerima hukuman mereka," ucap Ardi yang juga sudah duduk di sampingnya.
Zhafira tersenyum melihat teman-temannya yang masih setia menunggunya. Dilihatnya wajah mereka satu persatu yang sedang menatapnya dengan rasa khawatir yang terpancar dari wajah mereka. "Kenapa kalian menatapku seperti itu? Aku baik-baik saja," ucap Zhafira yang berusaha menyakinkan mereka. Dia tahu, saat ini mereka sangat mengkhawatirkan dirinya, hingga tiba-tiba saja Kheyla memeluknya dan menangis dalam pelukannya.
"Kenapa kamu menangis?"
"Aku minta maaf, karena tidak menemanimu tadi. Kalau tadi kami menemanimu, mungkin saja kejadian ini tidak akan terjadi," ucap Kheyla sambil menangis.
"Sudahlah, Khey. Semuanya sudah terjadi dan aku tidak menyalahkan kalian." Zhafira mengelus punggung sahabatnya itu.
"Semua ini gara-gara gadis brengsek itu!! Rasanya aku belum puas menampar wajahnya," ucap Refa kesal.
"Sudahlah, lupakan saja kejadian tadi. Aku sudah memaafkannya," ucap Zhafira yang membuat teman-temannya menatapnya dengan heran.
"Memaafkan dia? Kamu sadar, kan, Zha? Coba lihat bibirmu itu yang berdarah karena tamparan gadis brengsek itu dan lihat rambutmu yang berantakan karena tangan lancangnya yang sudah mengguntingnya. Setelah semua perlakuan jahatnya padamu, kamu masih mau memaafkannya?" tanya Refa seakan tidak percaya dengan ucapan sahabatnya itu.
"Aku tahu semua perbuatannya itu salah, tapi itu semua karena dia tidak suka melihatku bersama Kevan karena dia sangat menyukai Kevan. Aku tidak bisa melarangnya untuk menyukai Kevan, yang bisa aku lakukan hanya berusaha untuk menghindar darinya, tapi ternyata takdir buruk masih mempertemukan kami berdua dan harus berakhir seperti ini," ucap Zhafira.
"Sudahlah, jangan dibahas lagi. Sebaiknya kita pulang, aku tidak ingin berlama-lama di sini," lanjutnya sambil berusaha untuk berdiri.
"Maafkan aku," ucap Kevan yang sedari tadi hanya terdiam. Hatinya menahan amarah karena melihat perlakuan Aurelle yang cemburu pada Zhafira karena dirinya. "Maafkan aku karena tidak bisa melindungimu," lanjut Kevan yang membuat Zhafira tersenyum padanya.
"Kamu tidak salah dan tidak ada yang salah, karena ini semua sudah takdirNya. Aku mohon pada kalian untuk tidak lagi menyalahkan diri kalian karena kejadian ini. Sudahlah, jangan kalian menatapku seperti itu, aku merasa tidak nyaman." Zhafira kemudian turun dari tempat tidurnya dan merapikan rambutnya yang sudah tidak beraturan. "Aku harus apakan rambutku ini?" tanya Zhafira sambil memegang rambutnya itu.
Zhafira lantas mendekati Kevan dan berdiri di depan pemuda itu. "Apa kamu tidak keberatan kalau rambutku tidak sepanjang dulu lagi? Apa kamu akan suka jika rambutku ini aku potong pendek?" tanya Zhafira manja pada pemuda itu.
Melihat sikap Zhafira, Kevan tersenyum dan membelai lembut rambut gadis itu. "Aku tidak peduli walau rambutmu itu pendek atau panjang karena aku tulus sayang sama kamu. Apapun kondisimu, aku akan selalu menerimamu," ucap Kevan yang membuat Zhafira tersenyum dan merangkul lengan pemuda itu.
"Ayo kita pulang," ucap Zhafira yang bergegas keluar dari ruang rumah sakit yang membuat dia tidak ingin berlama-lama di tempat itu.
Walau terlihat tegar di depan teman-temannya, tapi Zhafira tidak bisa menyembunyikan rasa khawatirnya. Dia tidak menyangka kalau Aurelle begitu membencinya hanya karena hubungannya dengan Kevan. Walau dia bisa menerima perlakuan Aurelle yang membuatnya harus menanggung rasa sakit di bibir dan wajahnya, bahkan harus kehilangan sebagian rambutnya, dia takkan peduli. Baginya, rasa sakit karena kecemburuan Aurelle padanya masih bisa dia terima asalkan dia tidak dikhianati oleh Kevan. Cobaan apapun akan dia terima, asalkan dia tidak disakiti dengan perselingkuhan dan ketidaksetiaan, karena semua itu tidak akan pernah bisa dia maafkan.
*****
Zhafira manatap wajahnya di depan cermin kamarnya dan menata rambutnya yang sudah dirapikan. Zhafira tampak cantik dengan gaya rambut yang dipotong sebahu yang membuatnya terlihat lebih imut dan menggemaskan.
"Kamu tetap cantik, kok," ucap Riska yang baru saja masuk ke kamarnya. Zhafira tersenyum saat dipuji oleh wanita yang masih terlihat muda dan cantik itu.
"Mulai sekarang, kamu harus selalu berhati-hati. Kemanapun kamu pergi, kamu jangan sendiri, Mama takut kalau gadis itu akan menyakitimu lagi," ucap Riska sambil membelai lembut rambut anaknya itu.
"Iya, Ma. Zhafira akan selalu ingat pesan Mama," ucap Zhafira sambil memeluk wanita itu.
Zhafira lantas mencium kedua pipi ibunya itu dan bergegas menemui Ardi yang sudah menunggunya.
"Zha, ayo cepat, nanti kita terlambat," ucap Ardi sambil meraih tangannya dan menuju sang ayah yang sedang asyik membaca koran.
"Ardi, jaga adikmu itu, Papa tidak ingin kejadian kemarin terulang lagi," ucap ayahnya saat mereka pamit.
"Iya, Pa, Ardi akan menjaga Zhafira. Kami pamit dulu," ucap Ardi dan diikuti oleh Zhafira di belakangnya.
"Kamu dengarkan apa kata Papa tadi? Jadi, kemana-mana kamu harus ditemani, mengerti?"
"Iya, iya, aku mengerti," jawab Zhafira sambil bergegas naik di atas motor.
Setibanya di sekolah, mereka sudah ditunggu oleh Kevan yang sudah datang dari tadi. Melihat Zhafira, Kevan lantas bergegas mendekatinya.
"Tumben kamu pagi-pagi sudah ada di sekolah? Sudah datang dari jam berapa?" tanya Ardi saat melihat Kevan yang sudah berdiri di depan mereka.
"Sudah dari tadi, kalian saja yang datang terlambat," jawab Kevan sambil mengambil tas di punggung Zhafira dan meletakkan tas itu di atas pundak kirinya.
"Bagaimana dengan luka di bibirmu, apa masih sakit?" tanya Kevan sambil mengelus lembut sudut bibir Zhafira.
"Sudah sembuh, kok," jawab Zhafira yang terlihat malu.
Kevan lantas mengelus lembut kepala Zhafira dan merapikan sisa rambut yang terurai dan menyelipkannya di belakang telinga Zhafira. "Aku tidak akan membiarkanmu terluka lagi. Aku akan menjagamu, aku janji," ucap Kevan yang membuat Zhafira mengangguk dan tersenyum padanya.
"Woi, sampai kapan kalian akan seperti itu? Sana masuk," ucap Ardi yang membuat mereka berdua tersenyum geli.
Entah apa yang sedang dirasakan oleh Zhafira saat ini. Melihat sikap Kevan yang perhatian padanya, membuat jantungnya berdetak lebih cepat. Perasaan menyukai dan mencintai yang tak pernah dia rasakan pada orang lain selain pada Dafa, kini mulai bermain di lubuk hatinya.
Rasa yang dulu pernah dia rasakan untuk Dafa, kini telah mengganggu hatinya, tapi bukan lagi untuk pemuda itu melainkan untuk seseorang yang sudah membuat hatinya berdetak cepat. Kevan, pemuda yang awalnya tidak disukainya, kini telah membuatnya jatuh cinta karena perhatian pemuda itu yang sangat berlebihan untuknya.
Bagaimana tidak, sejak kejadian itu, Kevan tidak pernah membiarkan Zhafira luput dari pandangannya. Kemanapun Zhafira pergi, dia pasti akan selalu menemaninya.
"Van, aku tahu kamu khawatir, tapi tidak seperti ini juga. Masa Zhafira mau ke toilet saja harus kamu temani? Apa kamu tidak percaya pada kami?" tanya Kheyla pada pemuda itu yang sedang berdiri di depan pintu toilet.
"Kenapa? Apa aku tidak bisa menunggu pacarku sendiri?"
"Bukan begitu maksudku, tapi ... "
Zhafira tampak tersenyum melihat mereka. Dia begitu bahagia karena sahabat dan juga kekasihnya begitu perhatian kepadanya. "Kenapa kalian marahi pacarku? Aku senang kok kalau dia terus mengikutiku seperti sekarang ini, itu artinya dia tidak ingin aku kenapa-napa. Iya, kan?" tanya Zhafira manja pada Kevan yang kini tersenyum padanya.
Melihat Zhafira yang tidak keberatan dengan sikap pacarnya itu membuat teman-temannya akhirnya mengalah. Walau mereka merasa sedikit terganggu dengan sikap Kevan yang terlalu berlebihan pada Zhafira, tapi mereka paham kalau semua itu Kevan lakukan karena rasa sayangnya pada sahabat mereka itu.
"Kenapa kamu masih di sini? Katanya mau main basket sama-sama, tapi nyatanya kamu malah pacaran di sini. Apa tidak ada tempat lain untuk pacaran selain di depan toilet?" celoteh Vino yang membuat Kevan segera menutup mulut pemuda itu dengan tangannya.
"Khey, maaf, aku pinjam pacarmu ini sebentar, rasanya samsak di rumahku perlu diganti. Aku bawa pulang ya buat ganti samsak aku yang sudah bolong," canda Kevan sambil menarik Vino dengan tangan yang masih menempel di mulut pemuda itu.
"Tolong jaga pacarku, ya," lanjut Kevan yang kemudian pergi menemui teman-temannya yang sudah menunggunya di lapangan.
"Selama ini aku pikir Kevan itu pendiam, tapi nyatanya dia bisa tersenyum dan tertawa seperti itu. Zha, kamu sangat beruntung bisa mendapatkan kekasih seperti Kevan," ucap Refa yang masih terpaku melihat kepergian sahabatnya itu.
"Aku tahu sifat Kevan itu seperti apa. Kalau dia sudah menyayangi seseorang, maka dia akan tetap setia pada orang itu. Aku harap, Kevan akan selalu tersenyum seperti itu selamanya dan aku tahu kamulah yang sudah membuat dia bisa tertawa dan tersenyum seperti dulu lagi," ucap Refa yang menatap lurus ke arah Zhafira.
Semua ucapan Refa tentang Kevan telah membuat Zhafira tersenyum. Dia tidak menyangka, Kevan ternyata sosok lelaki yang penyayang dan penuh perhatian. Rasa sayangnya pada Zhafira telah menggoyahkan hati gadis itu yang membuatnya semakin bersyukur atas kehadiran Kevan dalam hidupnya, dan lagi-lagi itu semua karena Rani.
"Semoga kamu bahagia di sana, karena dirimu aku bisa merasakan kasih sayang dari seorang kakak dan seorang ayah yang begitu tulus menyayangiku. Terlalu banyak yang sudah kamu berikan untukku. Terima kasih karena kamu telah menghadirkan Kevan dalam kehidupanku. Aku berjanji akan membuat mereka bahagia, agar aku bisa mengangkat kepalaku saat kita bertemu nanti." Zhafira perlahan menghapus air matanya dan menatap Kevan yang melambaikan tangan padanya. Dengan senyum, Zhafira membalas lambain tangan kekasihnya itu dan berharap akan selalu melihat senyuman pemuda itu, senyuman yang telah membuatnya jatuh cinta. Kini dan mungkin untuk selamanya.