Zhafira

Zhafira
Part 24



Gadis yang sedang bersama Kevan adalah Aurelle. Selama ini, Aurelle sangat mengidolakan Kevan hingga membuatnya tidak bisa melupakan pemuda itu. Dulu, saat dia tahu kalau Rani adalah kekasih Kevan, diam-diam dia mulai mengintimidasi Rani dengan segala ucapan dan hinaan untuk menjatuhkan gadis itu. Namun, Rani selalu mencoba untuk tidak mempedulikannya hingga membuat Aurelle semakin membencinya.


Dan kini, Aurelle kembali ingin mendapatkan perhatian dari Kevan. Perlahan, dia ingin mendekati Kevan dan mengungkapkan perasaannya pada pemuda itu. "Van, aku suka sama kamu, masa selama ini kamu tidak menyadari itu?" ucap Aurelle mencoba mendekati Kevan saat pemuda itu baru saja selesai bermain basket.


"Aku hargai itu, tapi aku tidak bisa," ucap Kevan menolak.


"Kenapa? Aku tahu sekarang kamu masih sendiri dan kamu tahu aku juga masih tetap mengharapkanmu, tapi mengapa kamu tidak bisa menerimaku?" tanya Aurelle yang perlahan mulai menitikkan air mata.


"Karena aku sudah mencintai orang lain," jawab Kevan yang membuat gadis itu terdiam.


"Siapa gadis itu? Siapa gadis yang sudah merebutmu dariku?"


Kevan melihat ke arah Zhafira yang tengah berlari mengejar Ardi dan tiba-tiba berhenti di depan mereka. Zhafira yang melihat mereka berdua, lantas memalingkan wajahnya dan berniat pergi dari tempat itu.


"Tunggu!! Jangan pergi," panggil Kevan yang membuat Zhafira menghentikan langkahnya.


"Aku rasa kamu sudah paham, siapa gadis yang aku maksud. Jangan ganggu aku lagi karena aku tidak akan pernah tertarik denganmu," ucap KevanĀ  pada Aurelle. Kevan kemudian pergi menemui Zhafira yang masih berdiri di depannya. Kevan lantas meraih tangan Zhafira dan menggenggamnya.


"Aku mohon jangan dilepaskan, sekali ini saja tolong bantu aku karena gadis itu terus saja mengejarku," ucap Kevan memohon sambil menggenggam tangan Zhafira.


Mendengar ucapan Kevan, Zhafira tidak bisa berbuat apa-apa. Dia pasrah saat Kevan menggenggam tangannya. Dia menurut saja saat Kevan mengeratkan genggaman tangannya.


Sementara Aurelle, menatap kepergian mereka dengan perasaan marah dan cemburu karena gadis yang paling dia benci telah merebut orang yang dia sayangi. "Aku benci sama kamu Zhafira!! Aku tidak akan membiarkanmu memiliki Kevan. Lihat saja, suatu saat nanti kamu pasti akan menyesal karena sudah merebut Kevan dariku," ucap Aurelle dengan air mata kebencian yang mulai jatuh di sudut matanya.


Kevan masih menggenggam tangan Zhafira hingga dia lepaskan saat mereka sudah menjauh dari Aurelle. "Aku minta maaf, karena sudah membuatmu berbohong di depan gadis itu," ucap Kevan yang terlihat salah tingkah.


"Tidak masalah, kok. Aku senang bisa membantumu menghindar dari gadis itu. Kamu tahu kan kalau aku juga tidak menyukainya," ucap Zhafira sambil tersenyum.


"Ya sudah, kita kembali saja ke kelas. Kak Ardi pasti sedang menungguku," ajak Zhafira.


Mereka berdua kemudian pergi menuju ke kelas mereka, di mana Ardi sudah menunggunya di depan pintu kelas. "Kamu bawa kemana adikku sampai jam segini baru balik ke kelas?" tanya Ardi seakan sedang menginterogasi Kevan.


"Tidak kemana-mana Kakakku sayang. Ayo, duduk." Zhafira lantas menarik tangan Ardi dan membawanya ke tempat duduknya.


"Diam saja di situ, tidak usah sok-sok galak di depanku," ucap Zhafira yang membuat Ardi memanyunkan bibirnya. Sementara Kevan hanya bisa tersenyum melihat tingkah kakak beradik itu.


"Kamu itu Zha, awas ya kalau kamu berani simpan rahasia dariku, akan aku bongkar rahasiamu kalau kamu itu penak ... " Belum juga Ardi menyelesaikan ucapannya, Zhafira sudah membungkam mulutnya dengan tangannya.


"Apa? Kak Ardi mau bilang aku apa? Aku tidak dengar," ucapnya sambil menutup mulut kakaknya itu. Ardi memukul meja tanda menyerah. Wajahnya terlihat memerah hingga membuat Zhafira menahan tawa.


"Kamu mau bunuh kakakmu ini, ya!! Tega kamu Zha, hanya gara-gara cowok itu kamu mau bunuh aku?" tanya Ardi sambil menunjuk ke arah Kevan.


"Maaf, aku hanya pinjam Zhafira sebentar saja, kok," elak Kevan membela diri.


"Kenapa hanya sebentar? Kalau bisa, bawa dia selamanya agar aku tidak diganggu lagi olehnya. Kamu tahu tidak kalau Zhafira itu tidurnya mendengkur?" ucap Ardi sambil duduk di dekat Kevan dan membuat Zhafira melotot ke arahnya.


"Iya, iya, aku diam." Ardi kemudian bangkit dari tempat duduknya dan bergegas menuju bangkunya. Kevan tersenyum melihat kekonyolan Ardi yang selalu menggoda Zhafira.


"Jangan dengarkan dia, aku tidak mendengkur, kok," ucap Zhafira yang mencoba meralat ucapan kakaknya itu.


Kevan hanya mengangguk dan mencoba menahan tawa. Untuk kali ini, dia begitu terhibur dengan kekonyolan kakak beradik yang membuatnya bisa tersenyum sesumringah itu.


Di hatinya, dia sudah memantapkan niatnya untuk segera mengungkapkan perasaannya pada Zhafira. Apapun yang terjadi, dia harus bisa mendapatkan cinta Zhafira.


Jam istirahat berbunyi. Zhafira buru-buru keluar kelas dan berjalan menuju perpustakaan untuk mengembalikan buku yang sudah hampir seminggu dipinjamnya.


"Kenapa aku bisa lupa, sih. Telingaku bisa tuli seminggu nih kalau dimarahi sama Bu Tia," keluhnya sambil berjalan menyusuri koridor kelas.


Dan benar saja, telinganya hampir tuli karena disemprot dengan ocehan Bu Tia yang tak henti-hentinya menceramahinya. Kalau saja Pak Deni tidak datang, mungkin saja dia bisa tuli betulan.


Zhafira berjalan sambil mengucek kedua telinganya, seakan dia masih mendengar ocehan Bu Tia yang samar-samar terdengar di telinganya. "Terbuat dari apa sih mulutnya Bu Tia itu? Pantas saja dia masih jomlo, laki-laki mana coba yang mau sama perempuan cerewet seperti itu?" celoteh Zhafira yang tidak sadar kalau di depannya sudah berdiri seseorang yang membuat dia menghentikan langkahnya.


"Apa seperti ini cewek yang sudah merebut Kevan dariku?" ucap Aurelle yang ternyata sudah berdiri di depannya. Bukan hanya dia, tapi dua temannya juga sudah berdiri di sampingnya seakan ingin menghadang Zhafira.


"Minggir," ucap Zhafira yang tidak peduli dengan celoteh gadis itu.


"Kenapa? Kamu takut padaku? Ah, benar juga, kamu sekarang kan tidak ada apa-apanya. Apa kamu pikir karena mata yang kamu pakai itu adalah mata si Rani lantas kamu bisa sesukanya membuat Kevan suka padamu, iya?"


"Aku bilang minggir dan jangan pernah menggangguku," ucap Zhafira yang masih tidak menggubris ucapan gadis itu.


"Kenapa? Kamu mau lewat? Ya sudah, lewat saja," ucap Aurelle sambil membuka jalan untuk Zhafira. Baru saja Zhafira melangkah, tiba-tiba rambutnya ditarik oleh Aurelle hingga membuat Zhafira termundur ke belakang.


Mendengar ucapan gadis itu membuat Zhafira meradang. Dari tadi dia berusaha untuk tidak terprovokasi dengan ucapan gadis itu, tapi mendengar hinaannya kepada Rani membuat Zhafira tidak tahan.


Zhafira lantas membalikkan tubuhnya dan meraih rambut Aurelle dan mulai menariknya hingga membuat gadis itu berteriak. Melihat temannya kesakitan, kedua gadis itu berusaha melepas tangan Zhafira dari rambut Aurelle, tapi percuma.


Walau menahan sakit, tapi Zhafira terus menjambak rambut Aurelle. Tak hanya itu, dengan sekuat tenaga Zhafira mulai melepaskan tamparan ke arah wajah gadis itu hingga membuat dia melepaskan tangannya dari rambut Zhafira. Orang-orang mulai berdatangan melihat perkelahian mereka.


"Jangan pernah kamu menyebut nama Rani dengan mulut kotormu itu karena aku tidak akan segan-segan merobek mulutmu itu!!" teriak Zhafira yang membuat semua orang di tempat itu melihat ke arahnya.


"Kamu boleh menghina dan melakukan apa saja padaku, tapi sekali saja kamu menghina Rani, aku sendiri yang akan membunuhmu, paham!!" ancam Zhafira.


Aurelle terdiam. Dia tidak menyangka kalau Zhafira bisa sekuat itu. Ardi yang sudah berdiri di belakang Zhafira lantas mendekatinya dan segera memeluknya. Dia sangat terharu mendengar semua ucapan Zhafira yang membuat dia semakin menyayangi gadis itu. Dia begitu terharu karena Zhafira yang begitu membela Rani.


"Kalau saja kamu itu laki-laki, aku sendiri yang akan menghabisimu," ucap Ardi pada Aurelle.


"Ayo kita pergi," ajak Ardi sambil meraih tangan Zhafira.


"Kamu tahu apa? Kamu pikir, siapa yang memulai semua ini? Ini semua karena Rani yang sudah merebut Kevan dariku," teriak Aurelle yang membuat Zhafira kembali menatap ke arahnya.


"Siapa bilang itu karena Rani? Bukankah, kita memang tidak punya hubungan apa-apa sejak dulu? Kamu hanya mencari-cari kesalahannya untuk menutupi ketidakmampuanmu karena tidak berhasil mendapatkan cintaku. Iya, kan?" Tiba-tiba Kevan datang dan berdiri di samping Zhafira.


"Dari dulu aku hanya menganggapmu sebagai teman, tidak lebih," lanjut Kevan.


"Kamu keterlaluan!! Apa selama ini kebaikanku padamu hanya kamu anggap sebatas teman? Aku tidak ingin menjadi temanmu, tapi aku ingin menjadi seseorang yang spesial di hatimu," ucap Aurelle yang mulai menitikkan air mata.


"Aku tidak bisa melakukan semua itu dan aku sudah berterus terang padamu, tapi mengapa kamu tidak bisa menerima keputusanku itu?"


"Apa karena dia kamu menolakku?" ucap Aurelle sambil menunjuk ke arah Zhafira.


"Ya, karena Zhafira aku tidak bisa menerimamu. Karena Zhafira aku bisa tersenyum lagi. Karena Zhafira sudah membuatku merasakan jatuh cinta lagi," ucap Kevan yang membuat Zhafira melihat ke arahnya. Tak hanya Zhafira, semua orang yang ada di tempat itu terperangah kaget bercampur kagum dengan pengakuan Kevan.


"Kevan memang keren," bisik seorang gadis pada temannya.


"Aku ingin punya pacar seperti dia. Ah, Zhafira sangat beruntung," ucap gadis lainnya.


Mendengar pengakuan Kevan membuat Aurelle meradang. Hatinya panas mendengar ucapan Kevan yang baginya hanya omong kosong. "Kamu berbohong, kan? Sejak kapan kamu menyukai gadis sombong kayak dia? Kamu mengucapkan semua itu karena kamu ingin aku menjauh darimu. Iya, kan?" ucap Aurelle yang masih tidak percaya dengan pengakuan Kevan.


"Dia tidak berbohong, apa yang dia katakan itu memang benar," ucap Zhafira sambil berjalan mendekati Kevan dan meraih tangan pemuda itu.


"Kenapa? Apa kamu masih belum percaya?" tanya Kevan yang mendukung ucapan Zhafira.


"Baiklah." Sontak saja Kevan meraih tubuh Zhafira kearahnya dan mendaratkan sebuah ciuman ke bibir gadis itu hingga membuat semua orang yang ada di tempat itu terperangah. Zhafira terdiam dan tidak bisa melakukan apapun. Wajahnya memerah karena berusaha menahan rasa malu.


Suara riuh bergemuruh saat mereka melihat Kevan mencium Zhafira. Dafa yang sedari tadi ada di situ kemudian pergi dari tempat itu. "Ayo kita pergi, masalahnya sudah selesai," ucap Dafa sambil meraih tangan Dafena yang sedari tadi berdiri di sampingnya.


"Kevan, kamu akan aku bunuh," batin Ardi kesal saat melihat Kevan berbuat senekat itu pada adiknya. Walaupun begitu, dia cukup mengakui kehebatan Kevan yang berani mengungkapkan perasaannya itu.


Aurelle yang terlihat marah kemudian pergi meninggalkan tempat itu. Sementara Kevan masih berdiri terpaku memandangi Zhafira yang berdiri mematung di depannya.


"Maafkan aku," ucap Kevan pada Zhafira yang sontak saja membuat Ardi kesal.


"Enak saja minta maaf, kamu harus bertanggung jawab karena sudah merebut ciuman pertama adikku," ucap Ardi yang membuat Zharifa melotot ke arahnya.


"Iya, iya, Kakak tunggu kamu di kelas. Kevan, ingat tanggung jawab!!" ucap Ardi sambil mengarahkan jari telunjuknya ke arah pemuda itu dan kemudian pergi meninggalkan mereka.


"Aku minta maaf, karena sudah berbuat senekat itu padamu, tapi semua itu karena aku benar-benar ... "


"Sudahlah, jangan dibahas lagi. Aku tahu kamu melakukan itu karena kamu ingin Aurelle percaya kalau kita punya hubungan, tapi kamu sadar tidak kalau apa yang kamu lakukan itu sudah sangat keterlaluan. Sekarang, apa yang harus aku katakan pada teman-teman setelah mereka melihat kejadian tadi, apa yang harus aku katakan?" tanya Zhafira.


"Katakan saja kalau kita sekarang sudah berpacaran," ucap Kevan yang membuat Zhafira menatapnya heran.


"Apa maksud ucapanmu itu? Apa kamu masih ingin melanjutkan kepura-puraan ini?"


"Aku tidak mengatakan kalau itu pura-pura karena aku ingin kamu katakan pada mereka kalau kita benar-benar sudah berpacaran karena aku benar-benar mencintai kamu," ucap Kevan yang membuat Zhafira tersenyum kecut.


"Sudahlah Kevan, hentikan sandiwaramu itu. Ah, lebih baik aku pergi dari sini." Belum sempat Zhafira berpaling, Kevan lantas meraih tangannya. "Aku tidak pernah main-main dengan perasaanku padamu, aku serius, Zha," ucap Kevan sambil menggengam tangan Zhafira.


"Aku mohon, tolong percaya padaku kalau aku benar-benar mencintaimu," lanjut Kevan yang membuat Zhafira segera menatap wajahnya yang perlahan menitikkan air mata.