
Di teras rumah Dafa, Zhafira duduk sendiri. Dia masih menunggu ibunya yang belum juga datang menjemputnya.
"Ibumu baru saja menelepon. Katanya, sebentar lagi dia sampai dan akan datang menjemputmu," ucap Dafa yang baru datang sambil membawakan segelas teh hangat di tangannya.
"Minumlah. Mamaku sudah membuatkan teh ini untukmu," ucapnya sambil meletakkan gelas itu di atas meja.
Zhafira tersenyum. Gelas yang baru saja ditaruh, langsung diambilnya dan mulai menyeruput teh itu. "Terima kasih," ucapnya setelah meneguk teh itu beberapa kali.
Mereka kembali terdiam. Mereka tidak bersuara. Hanya tatapan kosong yang membuat Zhafira menatap lurus ke depan. Entah apa yang dilihatnya.
"Apakah aku salah jika aku membenci ayahku?" Tiba-tiba Zhafira melontarkan pertanyaan yang membuat Dafa menatapnya.
Dafa sangat paham dengan situasi Zhafira saat ini. Dia tidak ingin menjawab pertanyaannya karena apapun jawaban yang akan dia berikan, pasti akan dibantah oleh sahabatnya itu. "Untuk saat ini, kamu jangan pikirkan masalah itu dulu. Aku tahu kamu marah, tapi emosimu sekarang masih labil. Karena itu, singkirkan dulu amarahmu agar bisa berpikir dengan jernih," jawab Dafa yang membuat Zhafira menunduk.
"Jangan menangis lagi. Bersabarlah, cobaan ini pasti akan berakhir," ucap Dafa sambil membelai lembut rambut gadis itu.
Sebagai sahabat yang sudah hafal dengan sifat Zhafira, Dafa tahu apa yang saat ini membuat sahabatnya itu bersedih, tapi dia tidak bisa melakukan apa-apa karena masalah itu adalah masalah orang dewasa yang harus mereka selesaikan sendiri.
Zhafira menghapus air matanya. Dia mencoba untuk menenangkan hatinya dan mencoba mengikuti saran sahabatnya itu. "Apa yang akan kamu lakukan jika kamu berada di posisiku? Apakah kamu akan marah dan menentang ayahmu, ataukah kamu akan menerima keputusan ayahmu dan membiarkannya menikahi wanita lain?"
Mendengar pertanyaan Zhafira membuat Dafa tersenyum. "Kalau jawabanku tidak sesuai dengan apa yang kamu harapkan, apakah kamu akan marah padaku?"
"Katakanlah. Aku janji tidak akan marah."
Dafa menatap lurus ke arahnya. Di wajah itu, terlihat kesedihan dan kekecewaan yang teramat dalam. Dia tahu, Zhafira belum sanggup menerima kenyataan kalau ayahnya ingin menikah lagi.
"Apa kamu ingin ayahmu bahagia?" tanya Dafa pada sahabatnya itu.
Zhafira mengangguk.
"Kalau begitu, terimalah keputusan ayahmu karena itu bisa membuatnya bahagia."
Mendengar jawaban Dafa membuat Zhafira kecewa. Ekspresi wajahnya mulai berubah.
"Zha, aku tahu kamu sulit menerima keputusan ayahmu, tapi berpikirlah secara dewasa. Bagaimanapun juga, ayahmu adalah lelaki normal yang ingin mencintai dan juga dicintai."
Zhafira menunduk. Dia tidak bisa pungkiri itu. "Aku paham, tapi kenapa harus dengan perempuan itu? Dia itu lebih pantas menjadi kakakku daripada ibuku."
"Aku tahu kamu marah, tapi itu semua sudah terjadi dan tidak bisa kamu hindari. Yang bisa kamu lakukan saat ini adalah menerima dan menghadapinya. Kamu tidak bisa selamanya menghindar karena ayahmu tetap akan melakukannya. Dia harus bertanggung jawab atas perbuatan yang sudah dia lakukan. Tugasmu sebagai anak, hanya berbakti padanya walau dia sudah melukaimu dan juga ibumu. Soal dia bahagia dan tidaknya, biar Tuhan yang akan menentukan."
Zhafira kembali tertunduk. Dia mulai menangis karena mengingat semua kenangan saat bersama ayahnya dulu. Dan kini, dia harus merelakan ayahnya bersama wanita lain. Hatinya hancur. Hatinya terluka.
Melihat Zhafira menangis membuat Dafa ikut bersedih. Rasanya, dia ingin memeluk gadis itu. Dia ingin membuat gadis itu tersenyum lagi. "Zha, apapun yang terjadi, aku akan selalu ada untukmu. Kalau kamu sedih, bagi kesedihanmu padaku. Kalau kamu butuh seseorang untuk melampiaskan kemarahanmu, datang dan marahi aku. Mulai saat ini, aku akan berusaha menjadi sahabat yang baik untukmu," ucap Dafa lembut.
Zhafira tersenyum mendengar perkataan sahabatnya itu. Dia sangat tersentuh hingga membuatnya kembali menangis.
"Sudahlah, jangan menangis. Tidak enak kalau dilihat orang," ucap Dafa sambil memberikannya sekotak tisu.
Zhafira mengambil tisu itu dan mulai menghapus air matanya. Sejenak, dia melihat ke arah Dafa dan tersenyum padanya. "Terima kasih. Aku beruntung punya sahabat sepertimu. Maafkan aku kalau selama ini sudah membuatmu kecewa padaku."
"Jangan dibahas, itu sudah berlalu. Aku tidak ingin mengingatnya lagi."
Zhafira tersenyum. Di saat dia membutuhkan seseorang, Dafa selalu ada untuknya. Dia saat dia sendiri, Dafa selalu menemaninya. "Terima kasih," ucap Zhafira tulus.
Suara mobil terdengar di depan pintu pagar. Dari balik pagar, Zhafira melihat ibunya yang baru datang. Tanpa menunggu lama, dia kemudian berlari dan segera memeluk wanita itu.
"Kenapa? Kamu itu seperti anak kecil saja," ucap ibunya sambil tersenyum. Dafa yang ada di tempat itu ikut tersenyum.
"Dia pasti sudah membuatmu repot, iya, kan?" tanya Riska pada Dafa yang sementara berdiri menatap Zhafira.
"Tidak kok, Tante. Zhafira seharian ini menjadi anak yang baik, kok," jawab Dafa sambil tersenyum.
Riska tersenyum. Sebelum pulang, Riska menemui ibunya Dafa yang sementara ada di dapur. Mereka terlihat sangat akrab. Maya adalah kakak kelas Riska saat di sekolah dulu.
"Dua hari lagi tim kita akan bertanding. Aku harap, kamu akan datang memberiku semangat," ucap Dafa.
"Tenang saja, aku pasti akan datang. Aku pasti akan menyemangatimu," ucap Zhafira tersenyum.
*****
Suasana terlihat sangat ramai. Sekolah yang terbilang elite itu dipenuhi dengan para penonton yang datang untuk menyaksikan pertandingan final.
Zhafira berjalan menyusuri halaman sekolah itu. Di setiap sisi koridor, berdiri stan-stan yang menjual pernak-pernik dan aneka makanan dan minuman.
Di depan salah satu stan, Zhafira berdiri dan melihat sesuatu benda yang menurutnya menarik. Sebuah gelang anyaman dari tali kur berwarna hitam.
"Aku beli ini." Tiba-tiba seseorang datang dan mengambil gelang itu.
"Ardi?" Rupanya, dari tadi Ardi sudah mengikutinya dari belakang.
"Ini buat kamu," ucap Ardi sambil memakaikan gelang itu di tangan kiri Zhafira.
"Yang ini, buat aku," lanjutnya sambil memakai gelang itu di tangan kirinya.
"Wah, kita berdua seperti pasangan couple. Iya, kan?" tanya Ardi sambil mendekatkan tangannya ke tangan Zhafira.
"Couple dari mana? Dari Hong Kong?" jawab Zhafira cuek.
Zhafira melihat lagi ke arah gelang-gelang itu dan membeli sebuah gelang yang dari tadi sudah dilihatnya.
"Buat aku?" tanya Ardi.
"Dasar maruk," ucap Zhafira sambil menurunkan tangan pemuda itu.
"Kalau bukan untukku, apa itu untuk pacarmu?"
"Sok tahu," jawab Zhafira cuek.
Ardi menatap Zhafira dengan senyum walau sebenarnya, dia penasaran kepada siapa Zhafira akan memberikan gelang itu.
"Hari ini, aku akan bertanding. Jangan khawatir tentang tempat duduk, karena aku sudah menyiapkan tempat duduk untukmu," ucap Ardi.
"Terima kasih, tapi ... "
"Jangan khawatir. Aku tahu lawan timku adalah tim sekolahmu, jadi jangan terlalu merasa tertekan. Aku tahu kamu bingung, tapi santai saja," ucap Ardi seakan paham dengan kegundahan gadis itu.
Ardi paham dengan situasi Zhafira yang masih bingung. Di satu sisi, dia ingin menyemangati tim sekolahnya, tapi di sisi lain dia juga ingin menyemangati teman barunya. Dan Ardi tidak ingin membuatnya tertekan.
"Terima kasih, karena kamu mau mengerti. Pokoknya, kamu dan juga teman-temanku akan aku semangati, jadi bertanding saja tanpa beban. Siapapun pemenangnya, aku akan siap mendukung," ucap Zhafira sambil tersenyum.
"Baiklah, temuilah mereka aku akan menunggumu di tempat biasa," ucap Ardi yang kemudian pergi menemui teman-temannya yang sudah menunggunya.
Zhafira berjalan mendekati teman-temannya yang sedang berkumpul. Dafa yang melihat kedatangannya, langsung berlari ke arahnya dengan tersenyum. "Dari tadi aku sudah menunggumu. Aku pikir, kamu tidak akan datang," ucap Dafa sedikit lega.
Zhafira tersenyum. Dia melirik ke arah teman-temannya yang masih acuh padanya.
"Jangan khawatir. Setelah pertandingan ini selesai, kita akan kumpul bersama dan menyelesaikan masalah ini, jadi tersenyumlah."
Zhafira mengangguk. Dia merasa sangat bersyukur karena mempunyai sahabat yang sangat perhatian padanya. "Sini, tanganmu," ucap Zhafira sambil menengadahkan tangannya.
"Buat apa?"
Zhafira kemudian mengeluarkan gelang yang tadi dibelinya. Di tangan kiri Dafa, Zhafira memakaikan gelang itu. Dafa hanya tersenyum melihat tingkah sahabatnya itu.
"Buatku?" tanya Dafa sambil melihat gelang yang sudah melingkar di tangan kirinya.
"Maaf, aku hanya bisa memberikanmu gelang ini," ucapnya sambil menunduk.
Dafa tersenyum. Sejenak, dia merasa sangat bahagia dengan perhatian Zhafira padanya.
"Terima kasih. Aku akan selalu memakainya." Dafa masih memandangi gelang itu sambil tersenyum.
"Aku akan duduk di sana, jadi bersemangatlah, aku akan selalu mendukungmu," ucapnya sambil menunjuk ke tempat duduk khusus untuk pemain.
Karena ini adalah pertandingan final, maka panitia menyiapkan berbagai macam hiburan sebelum pertandingan dimulai. Dari menyanyi, menari, hingga pentas musik DJ yang membuat suasana semakin meriah.
Dari atas tempat duduknya, Zhafira bisa melihat ke arah mereka yang sedang melakukan pemanasan. Ketiga orang itu, tak bisa lepas dari pandangannya.
Ardi, sambil tersenyum dia melambaikan tangan ke arah Zhafira dan gadis itu membalas dengan melambaikan tangannya. Dafa yang melihat itu, menatap lurus ke arah Zhafira dan gadis itu tersenyum padanya. Sesaat, kedua pemuda itu saling memandang. Entah apa yang mereka rasakan. Sedangkan di sisi lain, Kevan juga sempat melirik ke arahnya.
"Bukankah, itu adalah gelang yang tadi dibeli oleh Zhafira? Apa mungkin gelang itu sengaja dia beli untuk pemuda itu?" batin Ardi sambil melihat ke pergelangan tangan Dafa.
Ardi berjalan mendekati Dafa yang sementara mengikat tali sepatunya. "Kamu teman Zhafira, kan?" tanya Ardi yang membuat Dafa memandanginya.
"Aku juga temannya," lanjut Ardi sambil memperlihatkan gelang di tangannya itu.
Dafa melihat Ardi dengan heran. Dia melihat lagi gelang di tangan pemuda itu yang ternyata sama dengan miliknya.
"Walau kita sama-sama berteman dengannya, tapi jangan ragu selama pertandingan. Bukankah, aku sudah bilang kalau aku tidak akan membiarkan kalian menang?" ucap Ardi yang terlihat serius.
Dafa hanya tersenyum padanya. "Baiklah, aku siap menghadapimu. Asal kamu tahu, Zhafira bukan temanku, tapi dia adalah sahabatku sejak kecil. Kalau kamu adalah temannya, maka bersikaplah seperti seorang teman dan jangan mengharapkan lebih," ucap Dafa yang kemudian pergi meninggalkannya.
Ardi menatap kepergian Dafa dengan sorot mata yang tajam. Dia tidak menyangka kalau ternyata pemuda itu adalah sahabat Zhafira sejak kecil. "Apa bedanya seorang teman baru atau teman lama. Yang pasti, aku akan berada di sisi Zhafira dan tidak akan membiarkan siapapun menyakitinya," batin Ardi.
Pertandingan dimulai. Kedua pemuda itu saling menatap. Sorot mata keduanya terlihat tajam. Ardi yang terlihat lincah mulai menguasai bola. Dafa yang berusaha untuk merebut bola terus mengikutinya dan berhasil merebut bola. Suara riuh dan gemuruh terdengar saat mereka saling serang.
Di saat Dafa mulai menguasai bola, di saat itulah Ardi mulai menempel dan berusaha merebut bola. Pertandingan ini bagaikan pertandingan hidup mati bagi mereka berdua. Mereka ingin menunjukkan kelebihan dan kemampuan mereka.
Dari atas tribun, Zhafira melihat mereka berdua yang tidak pantang menyerah. Masing-masing ingin memperlihatkan kemampuannya.
"Aku harus memberi semangat kepada siapa?" Zhafira menjadi bingung. Dia tidak mungkin memberi semangat hanya kepada Dafa saja karena Ardi juga adalah temannya dan begitupun sebaliknya. Karena tidak ingin membuat mereka kecewa, Zhafira akhirnya memutuskan untuk diam saja.
Melihat kedua pemuda itu yang berusaha saling serang membuat para penonton bergemuruh. Ardi yang merasa selalu ditempeli oleh Dafa mulai memakai taktik baru. Saat bola di tangannya, Dafa selalu mencoba untuk merebut dan itu selalu berhasil. Dafa bagaikan tembok besar yang sulit untuk dilaluinya.
Kemampuan Dafa tidak bisa dianggap enteng. Kolaborasinya dengan Kevan sangat dinantikan para penggemarnya. Angka demi angka bisa dihasilkan dari kolaborasi mereka berdua, tapi kemampuan Ardi dan teman-temannya juga tidak bisa dianggap remeh. Mereka dengan mudah bisa menyamakan angka hingga membuat angka mereka menjadi sama.
Di menit-menit terakhir, mereka bertarung habis-habisan. Di masa penentuan, Dafa berusaha untuk tetap bertahan, tapi Ardi tidak menyerah begitu saja. Dengan taktik jitu, Ardi mulai melakukan serangan. Dafa berusaha bertahan mencoba untuk melawan, tapi karena tenaga yang sudah dari tadi dia paksakan membuat kaki kanannya mengalami kram hingga membuatnya tidak bisa menahan serangan dari Ardi yang akhirnya membuat mereka kalah.
Ardi berhasil menghasilkan angka di menit terakhir yang membuat tim mereka akhirnya menang. Hanya dengan selisih dua angka, tim Ardi akhirnya memenangkan lomba. Suara gemuruh memenuhi tempat itu. Dafa yang terlihat kesakitan, mulai dipapah oleh Kevan dan Vino ke sisi lapangan.
Zhafira berlari ketika melihat Dafa dipapah. Dia khawatir dengan keadaan sahabatnya itu. "Kamu tidak apa-apa, kan?" tanya Zhafira sambil duduk di depan Dafa. Wajahnya terlihat cemas. Rasa cemas dan khawatir tidak bisa dia sembunyikan. Dafa berusaha tersenyum walau rasa sakit merayap di kakinya.
"Maaf, aku tidak bisa membuat tim kita menang," ucap Dafa menunduk.
"Jangan pedulikan itu. Walau tidak menang, aku tetap bangga pada kalian karena sudah membuat penonton terhibur dengan permainan kalian. Bagiku, kalian tetaplah pemenang," ucap Zhafira tulus hingga membuat teman-temannya menatapnya.
Ardi yang berharap Zhafira berlari ke arahnya untuk memberi selamat, ternyata berlari ke arah Dafa. Sejenak, dia merasa kecewa. Di sisi lapangan, dia melihat Zhafira yang terlihat khawatir dengan keadaan pemuda itu.
"Apa benar hubungan mereka hanya sebatas sahabat?" batin Ardi yang kemudian pergi dengan rasa kecewa.