
Melihat kedekatan Zhafira dan Ardi membuat teman-temannya melihat mereka dengan heran. Mereka tidak menyangka kalau Zhafira ternyata mengenal pemuda tampan itu.
"Sepertinya, wajahnya tidak terlalu asing. Apa aku pernah melihat dia sebelumnya?" gumam seorang gadis pada salah satu temannya.
"Aku juga merasakan hal yang sama, aku pikir pernah melihatnya di suatu tempat," ucap gadis lain.
"Oh iya, aku ingat!! Bukankah, dia itu salah satu pemain basket dari SMA Kartika?" tanya gadis itu yang baru teringat dengan Ardi.
"Benar, dia itukan yang menerima piala saat memenangkan turnamen basket waktu itu?" jelas gadis lain membenarkan.
Sontak saja mereka mendekati Ardi dan Zhafira yang sementara duduk bersama. "Kamu Ardi, kan? Ketua tim basket dari SMA Kartika yang terkenal itu?" tanya seorang gadis saat mendekati mereka.
Ardi tersenyum sambil mengangguk hingga membuat mereka kemudian mendekati dan mengerubuninya sekedar untuk berkenalan. Melihat sikap mereka yang berusaha mendekati Ardi, membuat Zhafira terpaksa memilih mundur ke belakang. Zhafira hanya tersenyum hingga tanpa sadar membuat Kevan melirik ke arahnya.
Ardi tak hanya didekati oleh teman-teman di kelasnya saja, tapi anak-anak dari kelas lain juga mulai berdatangan sekedar untuk berkenalan dan melihat ketampanan wajahnya.
Mereka begitu penasaran hingga membuat kelasnya dipenuhi dengan gadis-gadis yang begitu mengidolakannya. Tak hanya mereka saja, tapi Dafa dan teman-temannya tak kalah penasaran ketika mendengar kalau Ardi, sang predator yang terkenal di dalam lapangan kini ada di sekolah mereka.
Melihat kedatangan Dafa membuat Ardi segera menghampirinya. Dengan senyum, Ardi mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan. "Senang bisa bertemu denganmu lagi," ucap Ardi sambil mengulurkan tangannya. Dafa kemudian menjabat tangannya dan tersenyum.
"Aku harap kamu betah di sekolah ini," jawab Dafa.
"Bagaimana dengan kakimu? Apa sudah sembuh?" tanya Ardi yang membuat Dafa mengangguk.
"Kalau begitu, kapan kita bisa berduel lagi?" tanya Ardi yang membuat Zhafira menatap tajam ke arah mereka.
"Duel apa? Apa kalian ingin bertanding diam-diam di belakangku?" tanya Zhafira yang membuat kedua pemuda itu menggaruk kepala dengan kompak.
"Tidak, kok," elak Ardi dan Dafa hampir bersamaan.
Zhafira tidak begitu saja percaya dengan ucapan kedua pemuda itu. Ditariknya kedua tangan pemuda itu dan mengajak mereka ke belakang kelas.
"Maksud kalian apa dengan berduel? Aku tidak ingin kalian melakukan hal buruk. Kalian berdua adalah temanku dan aku ingin kalian juga berteman. Kalau sampai aku melihat kalian berduel dan saling menyaingi, lihat saja, aku tidak akan menegur kalian berdua lagi," ancam Zhafira yang membuat kedua pemuda itu mengangguk.
"Baiklah, kami berdua tidak akan berduel, paling cuma latihan bersama. Iya, kan?" ucap Dafa sambil melirik ke arah Ardi.
"Iya, lagipula aku kan sudah sekolah di sini, jadi otomatis aku akan masuk ke tim kalian, boleh kan?" ucap Ardi yang mencoba meyakinkan Zhafira.
Ancaman Zhafira ternyata cukup ampuh. Kedua pemuda itu lebih memilih kehilangan kesempatan untuk berduel daripada harus kehilangan gadis itu. Mereka tidak berdaya saat dihadapkan dengan pilihan antara berduel atau dirinya. Nyatanya, Zhafira bisa membuat mereka berdua takluk.
Ketampanan dan kehebatan Ardi ternyata menjadi buah bibir di sekolah. Ketampanan wajahnya telah berhasil menyedot perhatian semua gadis di sekolah itu. Mereka begitu terpesona dengan penampilan Ardi yang katanya sangat maskulin. Belum lagi dengan kehebatannya saat bermain basket yang membuat mereka betah berlama-lama duduk di lapangan sambil menyaksikan kehebatannya itu.
Pesona Ardi ternyata telah mengganggu Dafa. Bukan karena iri, tapi sejenak dia merasa cemburu karena Ardi bisa sedekat itu dengan Zhafira. Dia tahu, dia tidak berhak melarang Zhafira untuk dekat dengan siapapun dan dia sadar dengan kedekatan mereka karena mereka berada di kelas yang sama.
"Apa aku pantas untuk cemburu?" batin Dafa sambil melihat ke arah Zhafira yang tengah bercanda dengan Ardi.
Walau dia cemburu, tapi Dafa berusaha menutupi rasa cemburunya itu. Dia tahu, Zhafira pantas untuk bahagia. Jika Ardi bisa membuat Zhafira bahagia, maka dia akan rela walau dia harus menanggung rasa kecewa.
Kehadiran Ardi di sekolah mereka cukup menarik perhatian hampir semua gadis di sekolah itu. Murid kelas sepuluh yang notabene anak-anak baru ternyata begitu mengidolakannya. Bukan hanya Ardi saja, tapi saat melihat semua anggota tim basket turun ke lapangan sekedar latihan bersama, sudah membuat gadis-gadis itu dengan setia duduk di sudut lapangan dan melihat mereka menunjukkan kehebatan mereka.
Melihat cowok-cowok tampan itu berkumpul dan bermain basket bersama sudah menjadi kebiasaan hampir semua gadis di sekolah itu. Tak jarang, mereka rela berpanas-panasan hanya untuk melihat idola mereka itu. Namun, itu tidak berlaku bagi Zhafira. Di saat gadis-gadis lain sedang terlena dengan cowok-cowok itu, Zhafira malah tengah bercanda dengan kedua sahabatnya.
Kheyla dan Refa, kedua sahabatanya itu kini telah berbaikan dengannya. Mereka tampak kompak saat berkumpul bersama. Mereka tidak peduli dengan pandangan sinis atau benci dari gadis-gadis lain yang cemburu karena kedekatan mereka dengan hampir semua anggota tim basket. Karena itu, mereka bertiga lebih memilih makan bakso di kantin daripada harus melihat cowok-cowok itu di lapangan karena pada akhirnya cowok-cowok itu juga yang akan datang menemui mereka.
Dan benar saja, baru saja mereka keluar dari kantin, kelima cowok itu sudah berdiri di depan mereka. "Mau kemana?" tanya Vino.
"Kalian bertiga parah, tidak setia kawan," ujar Revan yang membuat Refa naik darah.
"Maksud kamu apa? Oh, jadi kalau kalian sedang main basket kami bertiga harus ada di lapangan dan teriak-teriak seperti gadis-gadis itu, iya? Maaf, tidak penting," jawab Refa kesal dan pergi meninggalkan mereka.
"Refa!! Tunggu aku!!" panggil Kheyla sambil berlari mengikuti sahabatnya itu..
"Mereka berdua kenapa, sih,?" tanya Vino heran.
"Tidak apa-apa, kok. Mereka hanya sedang kesal," jawab Zhafira yang mengerti dengan perasaan temannya itu. Dia paham karena dia pernah berada di posisi mereka, di mana dia pernah menyukai seseorang, tapi orang itu ternyata menyukai orang lain dan orang itu adalah Dafa.
*****
Jam menunjukkan pukul tujuh pagi saat motor yang dikendarai Dafa memasuki gerbang sekolah. Zhafira yang datang bersama dengan Dafa selalu menjadi pusat perhatian gadis-gadis yang berlalu lalang di tempat itu. Mereka berpikir kalau dia adalah kekasih Dafa, dan itu membuat Zhafira suka mengerjai mereka dengan berpura-pura menggandeng tangan Dafa dan berlaku manja padanya. Dafa yang mengerti dengan sikap sahabatnya itu malah membiarkan dirinya dijadikan sebagai objek untuk membuat gadis-gadis itu sakit hati.
"Kamu lihat kan saat mereka melihatku menggenggam tanganmu? Wah, rupanya kamu sudah menjadi idola mereka," ucap Zhafira sambil menatap sahabatnya itu.
Dafa hanya tersenyum. Tanpa sadar, Zhafira belum melepaskan genggaman tangannya hingga mereka bertemu dengan seorang gadis yang berdiri di depan ruang guru. Seketika, genggaman tangannya dia lepaskan. Wajahnya yang tadi tersenyum, kini terlihat datar.
"Hai," ucap gadis itu sambil tersenyum pada mereka berdua.
Zhafira tersenyum walau terlihat sedikit dipaksakan. Sementara Dafa, tersenyum sambil melambaikan tangannya. "Kalian berdua ternyata sekolah di sini?" tanya gadis itu penasaran.
Zhafira hanya mengangguk. Dia sempat gugup saat berhadapan dengan gadis itu. Dafa, yang berdiri di sampingnya juga terlihat canggung. Bagaimana tidak, gadis itu adalah cinta pertamanya yang sudah membuat dia jatuh cinta. Walau cinta itu harus ditolak karena Dafa yang dulu tidak menarik baginya. Gadis itu dengan mudahnya menolak Dafa hanya karena dia menyukai kakak kelasnya yang jago main basket.
Sejak saat itu, Dafa memutuskan untuk belajar bermain basket dan serius menekuni olah raga itu, hingga akhirnya dia menjadi pemain yang cukup di akui hingga sekarang.
Gadis itu bernama Dafina Aulia Hasby, gadis keturunan arab, cina dan indonesia itu mempunyai wajah yang sangat manis. Hidungnya yang mancung dengan alisnya yang hitam dan kulitnya yang putih sudah cukup untuk membuat setiap pria yang melihatnya akan terpesona dengan kecantikkannya itu.
"Aku akan sekolah di sini, aku harap kita bisa berteman nanti," ucap Dafina yang kemudian masuk ke dalam ruang guru karena sudah dipanggil oleh Pak Deny.
Zhafira menatap kepergian gadis itu dengan perasaan campur aduk. Begitupun dengan Dafa yang tidak menyangka akan bertemu kembali dengan gadis yang sudah membuat dia jatuh cinta dan sakit hati di masa lalunya.
"Kalian kenapa bengong?" tanya Ardi saat melintas di depan mereka. Sontak saja, mereka terkejut dan menatap Ardi dengan heran.
"Tidak apa-apa, kok," jawab Zhafira yang kemudian pergi ke kelasnya.
Zhafira tidak bisa menyembunyikan perasaan takutnya. Dia takut kalau Dafa akan kembali menyukai gadis itu, gadis yang pernah membuat sahabatnya itu terluka. Gadis yang pernah membuat Dafa jatuh cinta. "Kenapa dia harus datang lagi? Apa Dafa akan kembali menyukai dia?" batin Zhafira khawatir.
"Kamu kenapa?" tanya Ardi saat melihat Zhafira terlihat murung.
"Tidak apa-apa," jawab Zhafira, walau sebenarnya Ardi tahu kalau ada sesuatu yang sedang dipikirkan oleh gadis itu.
"Kalau punya masalah, katakan saja padaku siapa tahu aku bisa membantu," tawar Ardi.
"Terima kasih, sungguh aku baik-baik saja," jawab Zhafira yang mencoba untuk meyakinkan pemuda itu.
Ardi tersenyum. Dengan lembut, dia membelai kepala Zhafira seakan ingin mengatakan kalau dia akan selalu ada untuk gadis itu. Tanpa mereka sadari, Kevan melihat perlakuan Ardi pada Zhafira hingga membuat dia segera memalingkan pandangannya.
Di kelas, Dafa terperanjat kaget saat Pak Deni datang bersama seorang gadis yang sudah dikenalnya. Gadis itu tampak tersenyum padanya. Dafa hanya membalas senyumnya kemudian kembali menundukkan wajahnya.
Dafa sama sekali tidak menyangka kalau gadis itu akan sekelas dengannya. Pesonanya yang terlihat semakin dewasa menambah aura kecantikannya. Dafa sudah bertekad untuk menghindar darinya karena dia tidak ingin lagi merasakan hal yang sama seperti dulu. Dia tidak ingin lagi terluka karena baginya penolakan itu terlalu menyakitkan.
Melihat tingkah Dafa yang berusaha menghindar darinya membuat gadis itu sedikit kecewa. Dia tidak menyangka, pemuda yang dulu pernah ditolaknya, kini telah menjadi seorang pemuda yang tampan dan gagah. Perubahan pada diri Dafa telah menarik perhatian gadis itu. Walau sempat melihat kedekatan Dafa bersama Zhafira, tapi dia bertekad untuk mendapatkan kembali perhatian Dafa. Dan kini, dia telah bertekad untuk membuat Dafa kembali jatuh cinta padanya, bagaimanapun caranya.