
Zhafira tampak malu-malu saat Kevan terus memandanginya. Di dalam mobil sedan berwarna hitam yang tampak mewah, Zhafira duduk diam terpaku dan sesekali melirik ke arah Kevan yang sedari tadi memandanginya. "Kenapa kamu terus memandangiku seperti itu? Apa ada yang aneh dengan wajahku?" tanya Zhafira yang membuat Kevan tersenyum.
"Tidak ada yang aneh dengan wajahmu, tapi hatiku ini yang merasa aneh karena sedari tadi berdetak lebih cepat dari biasanya karena melihat kecantikan wajahmu itu," jawab Kevan jujur hingha membuat Zhafira tersenyum malu.
"Dasar gombal!! Sejak kapan kamu sudah pandai merayu seperti itu?"
Kevan tersenyum bahkan tertawa pelan. Kevan lantas menghentikkan laju mobilnya dan memarkirkannya di sisi jalan. "Kenapa? Apa kamu tidak percaya padaku? Kalau tidak percaya, coba saja kamu rasakan sendiri getaran di dadaku ini," ucap Kevan sambil meraih tangan Zhafira dan diletakkan di dadanya.
"Apa kamu sudah percaya?"
Zhafira menarik kembali tangannya, tapi Kevan segera meraihnya dan mengecupnya dengan mesra.
"Apapun yang terjadi, aku tetap akan menjadikanmu sebagai istriku. Aku hanya ingin memintamu lebih bersabar, tapi melihatmu seperti ini aku jadi tidak sabar untuk segera menikahimu," ucap Kevan yang sekali lagi membuat Zhafira tersenyum.
"Aku akan menunggu hingga saat itu tiba. Aku janji, akan menjadi istri yang selalu ada untukmu, asalkan kamu tidak akan mengkhianatiku maka aku akan selamanya ada di sisimu."
"Bagaimana mungkin aku bisa mengkhianatimu kalau aku sendiri tidak ingin kehilanganmu," ucap Kevan sambil mengelus lembut pipi Zhafira.
"Sampai kapan kamu akan terus menatapku seperti itu? Cepatlah, aku tidak ingin orang tuamu menunggu," ucap Zhafira yang membuat Kevan segera melajukan kembali mobilnya.
Sejurus, tampak sebuah senyuman terukir di bibir mungil Zhafira. Dia begitu terharu mendengar penuturan Kevan yang membuatnya merasa menjadi wanita yang paling bahagia di dunia.
Di depan halaman sebuah rumah yang terlihat megah, mobil itu berhenti. Zhafira tampak kagum dengan kemewahan rumah itu. Baru kali ini dia datang ke rumah Kevan yang sudah lima tahun lebih berhubungan dengannya.
Zhafira menghentikan langkahnya di depan pintu rumah itu. Perasaannya kini bercampur aduk antara cemas, takut, malu, dan perasaannya lainnya yang membuat kakinya seakan lemas dan tidak bisa melangkah.
"Ayo kita masuk," ajak Kevan sambil menggenggam tangan gadis itu.
"Kenapa? Kamu takut? Jangan khawatir, karena ada aku yang akan selalu menemanimu," ucap Kevan sambil menggenggam tangan gadis itu dan melangkah bersama dan menemui orang tuanya yang ternyata sudah menunggunya dari tadi.
Zhafira masih berdiri terpaku di depan kedua orang tua Kevan yang masih mememandanginya
"Ayo, silahkan duduk," ucap Ibunda Kevan sambil mengajak Zhafira duduk di sebuah kursi sofa yang terlihat sangat mewah.
Dengan senyum, wanita itu terus memandangi Zhafira yang seakan membuatnya kagum dengan kecantikan kekasih anaknya itu. "Jadi, namamu adalah Zhafira?" tanya wanita itu yang masih takjub dengan kecantikan Zhafira.
"Iya, Tante. Maaf, karena saya baru datang berkunjung sekarang," jawab Zhafira sesopan mungkin.
"Ternyata kamu sangat cantik. Pantas saja Kevan begitu mencintaimu hingga terus memaksa kami untuk bertemu denganmu. Sekarang Tante jadi paham kenapa Kevan tidak bisa berpaling darimu," lanjut wanita itu yang membuat Zhafira tersenyum dan menundukkan wajahnya.
"Apa kamu benar-benar mencintai anak saya?" Tiba-tiba pria paruh baya itu melontarkan pertanyaan setelah dari tadi hanya menatap Zhafira tanpa berkata apa-apa.
"Maaf, Om. Saya benar-benar mencintai Kevan," jawab Zhafira tegas.
"Kamu tahu kan kalau dia itu anak saya satu-satunya dan kelak dia akan menjadi pewaris saya. Apa karena itu kamu mendekatinya?"
Mendengar pertanyaan pria paruh baya itu membuat Zhafira mengangkat wajahnya dan menatap lurus ke arah pria itu. "Maaf, saya tidak punya niat apapun selama berhubungan dengan Kevan. Saya tidak pernah tahu kalau dia adalah anak konglomerat. Saya tidak butuh dengan semua harta yang dimilikinya karena yang saya butuh hanya perhatian dan kasih sayang yang selama ini sudah dia berikan untuk saya. Kalau Om menganggap saya seperti itu, saya mohon maaf, karena Om salah dalam menilai saya," ucap Zhafira sambil menahan air matanya agar tidak jatuh.
Semua ucapan Zhafira sesaat telah membungkam pria itu dan membuat Kevan dan ibunya menatap dengan rasa bangga padanya.
"Kalau saya menolak untuk Kevan melanjutkan hubungan kalian, apa yang akan kamu lakukan?"
"Pa, maksud Papa, apa?" tanya Kevan yang terperanjat kaget saat mendengar ucapan ayahnya itu.
"Bagaimana? Apa yang akan kamu lakukan?"
Zhafira tersenyum dan menatap ke arah Kevan yang kini menatap ke arahnya dengan penuh rasa cinta. "Apa yang akan kamu lakukan jika kita harus mengakhiri hubungan kita saat ini juga?" tanya Zhafira kepada Kevan. Sontak, pemuda itu langsung berdiri mendekatinya dan menggenggam tangannya. "Aku tidak akan pernah lakukan itu. Aku rela jika harus kehilangan dunia dan isinya, tapi aku takkan rela jika aku harus kehilanganmu," ucap Kevan tulus hingga membuat ibunya menitikkan air mata.
"Pa, kami saling mencintai dan Kevan akan melakukan apa saja agar Papa bisa merestui hubungan kami. Tidak mudah bagi Kevan untuk bisa melepaskan Zhafira karena Zhafira adalah tujuan hidup Kevan." Kevan tampak menitikkan air mata seraya memohon kepada ayahnya yang masih menatap mereka dengan tatapan datar tanpa ekspresi.
"Apa kamu akan melakukan apa saja kalau Papa mengizinkan kalian untuk tetap bersama?"
Zhafira menatap Kevan dengan air mata yang jatuh di sudut matanya. Dia tidak menyangka kalau Kevan akan melakukan apa saja asalkan mereka tetap bersama.
"Apa kamu bisa berjanji pada Papa?"
"Kevan janji, Pa. Kevan akan melakukan apapun perintah Papa asalkan Papa merestui hubungan kami," ucap Kevan memohon.
"Baiklah. Untuk saat ini, Papa akan merestui hubungan kalian, tapi bukan berarti Papa sudah memberi izin untuk kalian bisa terus bersama karena Papa harus melihat dulu kesungguhan kalian dan kesungguhan janjimu pada Papa," ucap pria itu yang lantas membuat Kevan segera memeluknya.
"Terima kasih, Pa. Terima kasih karena sudah bisa menerima Zhafira," ucapnya sambil memeluk ayahnya itu yang hanya diam tanpa ekspresi.
Pria itu kemudian masuk ke dalam ruangan kerjanya dan meninggalkan mereka yang sedang berbahagia karena sudah mendapat restu darinya.
"Kevan, jangan sampai kamu melupakan janjimu pada ayahmu. Mama senang akhirnya bisa melihat lagi senyuman di wajahmu itu dan semua berkat gadis cantik ini," ucap wanita itu sambil mencubit lembut dagu Zhafira.
"Mama harap kalian berdua akan selalu bahagia dan Mama sangat senang karena akan memiliki menantu yang cantik sepertimu," ucap wanita itu yang tersenyum ke arah Zhafira.
"Terima kasih, Tante. Aku janji akan membahagiakan Kevan," ucap Zhafira yang membuat wanita itu memeluknya. "Tolong jaga anak Tante, dia sangat mencintaimu," bisik wanita itu yang membuat Zhafira mengangguk dan menitikkan air mata.
"Ma, hari ini Kevan ingin mengajak Zhafira keluar sebentar. Kevan sangat bahagia hingga ingin menghabiskan hari ini dengan Zhafira, karena besok Kevan harus kembali lagi menjalankan janji Kevan pada Papa."
"Pergilah. Bersenang-senanglah kalian dan tolong jaga menantu Mama, karena mulai sekarang Mama ingin Zhafira sering-sering menemui Mama. Bisa kan, Nak?"
"Iya, Tante. Zhafira pasti akan sering-sering main ke sini menemani Tante," ucap Zhafira yang membuat wanita itu tersenyum.
Setelah berpamitan, kedua insan yang sedang berbahagia itu lantas pergi ke suatu tempat yang membuat ikatan tali cinta mereka akan terjalin semakin erat.
Di sebuah pantai, Kevan menghentikan laju mobilnya dan mengajak Zhafira menuju sebuah taman kecil di pesisir pantai dengan hamparan pasir putih yang terlihat bagaikan di atas gumpalan awan.
Zhafira begitu terpesona dengan keindahan di tempat itu hingga membuat bibirnya selalu merekah dengan senyuman yang selalu terpancar dari wajahnya.
"Apa kamu bahagia?" tanya Kevan yang tak bisa berpaling dari memandangi wajah kekasihnya itu.
Zhafira mengangguk tanpa suara. Yang terlihat hanya sebuah senyuman dengan mata yang terpejam seakan ingin menghirup aroma laut yang sudah lama tidak pernah dilakukannya.
Kevan menatap wajah cantik itu dalam-dalam dan melayangkan sebuah kecupan di kening kekasihnya itu hingga membuat Zhafira membuka matanya.
"Apa kamu bersedia menjadi istriku?" tanya Kevan yang sudah memegang sebuah kotak kecil di tangannya dan menyodorkannya pada kekasihnya itu.
Zhafira terperanjat melihat aksi kekasihnya itu. Dia tidak menyangka kalau Kevan akan melamarnya di tempat seindah itu.
Zhafira tersenyum bahagia. Bahagia karena momen inilah yang selama ini ditunggu-tunggu olehnya. Bahagia karena akhirnya dia bisa menunjukkan kepada semua orang kalau dia pantas untuk bahagia.
Zhafira mengangguk pelan hingga membuat Kevan tersenyum bahagia. Dengan mesra, Kevan memakaikan sebuah cincin emas berhias sebuah berlian yang menaut indah di jari manis Zhafira.
Zhafira menatap Kevan dengan air mata bahagia yang jatuh di sudut matanya. Dengan senyum, Kevan menghapus air mata itu dan mendaratkan sebuah kecupan mesra di bibir gadis itu. "Terima kasih karena telah menungguku dan terima kasih karena sudah mencintai dan menerimaku di dalam hidupmu," ucap Kevan yang membuat Zhafira memeluk kekasihnya itu.
Zhafira begitu terharu hingga menitikkan air mata bahagia. Rasanya, dia tidak ingin melepaskan pelukannya itu dan selamanya akan berlindung di balik dada bidang kekasihnya yang akan selalu menjaga dan mencintainya.
"Aku janji akan selalu menemanimu dan selamanya akan menyayangi dan mencintaimu," ucap Zhafira di antara air mata bahagia yang perlahan jatuh di sudut matanya.
Sementara di ruang kerjanya, pria itu tampak tersenyum kecut saat mengingat kembali pertemuannya dengan Zhafira.
Di dalam hati kecilnya, dia begitu kagum dengan kesungguhan gadis itu yang bisa membuat Kevan tidak bisa berpisah dengannya. Walau sebenarnya, jauh di dasar hatinya dia tidak ingin Kevan jatuh dalam pelukan Zhafira, karena dia tidak ingin rencana yang sudah lama dia rencanakan hancur karena kehadiran Zhafira.
"Untuk sementara, aku akan biarkan kalian bahagia, tapi itu tidak akan lama karena Kevan tidak pantas bersanding denganmu. Aku terpaksa merestui kalian agar Kevan bisa patuh padaku, tapi setelah itu dengan terpaksa kalian harus berpisah," ucap pria itu dengan wajah datar tanpa ekspresi.
Di tengah kebahagian yang kini dirasakan Kevan dan Zhafira, tersembunyi sebuah badai yang kapan saja bisa menghantam bahtera cinta mereka. Sebuah badai yang sengaja disembunyikan oleh seseorang yang ingin menghancurkan kisah cinta mereka dan membuat bahtera mereka kandas hingga tenggelam di laut dalam dan karam tanpa harapan.