
Ucapan Tante Mira tentang Kevan mulai mengusik keingintahuan Zafira. Rasa kesal karena sikap Kevan padanya mulai melunak. Dengan seksama, Zhafira mendengarkan penjelasan wanita itu.
Semalam, Kevan mulai mengingat penggalan-penggalan kejadian masa lalu dan membuatnya mengingat kedua orang tuanya.
"Memangnya, dia mengingat kejadian apa, Tante?"
"Dia mengingat saat pertama kali kami pindah ke rumah ini. Kejadian itu, saat Kevan baru saja lulus SMP," jelas wanita itu.
"Lalu, kenapa dia bisa mengingat Vino, Dafa dan Refa, tapi yang lainnya tidak? Padahal, kami berteman sama-sama. Apa Tante sudah menanyakan hal ini pada dokter?"
"Sudah, tapi dokter juga tidak bisa memastikan karena kejadian-kejadian yang dia ingat bersifat acak dan tidak beraturan. Jadi, Tante harap kamu bisa sedikit bersabar dalam menghadapi Kevan, siapa tahu saja dia bisa mengingatmu kembali."
Zhafira tersenyum walau harapan itu baginya terlihat sulit, tapi dia akan mencoba membuat Kevan mengingatnya kembali.
Zhafira memandangi Kevan yang sementara duduk sambil tersenyum di depan ponselnya. Melihat senyum di wajah Kevan membuat Zhafira ikut tersenyum. Senyum yang sudah tak lagi Kevan berikan untuknya.
Perlahan, Zhafira berjalan mendekati pemuda itu dan duduk di sampingnya. "Aku minta maaf," ucap Zhafira sambil mengulurkan tangannya ke arah pemuda itu.
Kevan memandanginya, tapi tak lama karena pandangannya kembali tertuju pada layar ponselnya.
"Apa kamu tidak suka dengan kehadiranku di sini?" tanya Zhafira yang membuat Kevan kembali menatap ke arahnya.
"Kalau iya, memangnya kenapa? Apa kamu marah kalau aku tidak suka kamu ada di dekatku? Aku sama sekali tidak percaya kalau aku mencintai wanita sepertimu di masa laluku. Melihatmu saja aku tidak berpikir kalau aku bisa jatuh cinta padamu."
Semua ucapan Kevan membuat Zhafira tersenyum kecut. Dia sama sekali tidak menyangka kalau Kevan akan mengucapkan hal itu padanya.
"Apa kamu memang tidak percaya kalau kita berdua dulu saling mencintai? Kalau aku memberikan bukti, apa kamu akan percaya?"
"Kalau memang kita saling mencintai, maka orang pertama yang akan aku ingat pasti kamu, tapi nyatanya aku sama sekali tidak mengingatmu."
Ucapan Kevan kembali menghujam hatinya, tapi dia berusaha untuk tidak mempedulikan ucapan pemuda itu. "Apa semudah itu kamu melupakanku dari ingatanmu? Apa tidak ada sedikit saja rasa ingin tahumu untuk mencari tahu siapa aku?"
"Aku tidak ingin mencari tahu karena setiap aku mencoba mengingatmu, kepalaku ini bisa saja hancur. Jadi, jangan coba memaksaku untuk mengingatmu. Aku tidak tahu dulu hubungan kita seperti apa, tapi sekarang jangan mengharapkan lebih karena aku tidak punya perasaan apa-apa padamu. Mulai sekarang, bersikap wajarlah padaku dan jangan mencoba untuk membuatku menyukaimu karena tidak mungkin bagiku untuk kembali mencintaimu." Kevan kemudian pergi meninggalkan Zhafira yang kini tengah menahan air mata.
Hatinya kini hancur dan terluka. Berulang kali dia mencoba untuk masuk ke dalam ingatan Kevan, tapi berulang kali pula dia menerima penolakkan. Dia merasa begitu rendah di depan Kevan karena mengemis untuk diakui pemuda itu. "Apa aku salah jika mempertahankan dirimu? Apa aku salah jika masih mengharap sedikit saja cintamu?"
Zhafira kembali menghapus air matanya. Semua ucapan Kevan akhirnya membuat dia sadar, kalau sudah waktunya dia membiarkan Kevan menentukan pilihannya sendiri. Kalau memang rasa cinta yang selama ini Kevan rasakan untuknya tulus, tanpa dia meminta pun Kevan pasti akan mengingatnya dan kembali padanya. Kini, dia sudah bertekad untuk tidak memaksa Kevan untuk mencoba mengingatnya lagi karena sudah cukup usaha yang dia lakukan, tapi hasilnya hanya penolakkan yang dia dapatkan.
Zhafira mencoba menata hatinya dan berusaha untuk tetap tersenyum. Dia berusaha untuk bisa berbesar hati dan mencoba menerima kenyataan yang rasanya sangat menyakitkan baginya.
Zhafira bangkit dari tempat duduknya dan menemui Tante Mira yang sedang sibuk di halaman belakang rumahnya. "Lagi buat apa, Tante?"
"Ayo, cepat ke sini. Apa bunga itu sudah mati?" tanya Mira sambil menunjuk ke salah satu pot bunga mawar merah yang sudah mulai layu.
"Sepertinya belum, Tante. Bunga ini hanya layu karena tidak disiram hingga tanahnya menjadi kering," jelas Zhafira sambil menyiram bunga itu dan memetik daun-daun kering.
"Kamu tahu soal bunga juga?"
"Kebetulan mamaku suka menanam bunga, makanya aku bisa paham sedikit tentang bunga," jelasnya.
Kebersamaan mereka rupanya telah menarik perhatian Kevan. Dari jendela kamarnya, dia bisa melihat wajah Zhafira yang tersenyum.
"Apa benar dia wanita yang dulu aku cintai? Tapi, mengapa aku sama sekali tidak bisa mengingatnya?" Kevan tiba-tiba memegang kepalanya dan menahan rasa sakit hingga memaksanya untuk menghempaskan tubuhnya di atas tempat tidur dengan suara erangan yang membuat wajahnya memerah.
Kevan yang mencoba mengingat tentang Zhafira, harus menahan rasa sakit jika dia terus memaksa. Rasa sakit itulah yang memaksanya untuk bisa melupakan Zhafira, karena di hatinya cinta itu tak lagi ada. Semua rasa yang dulu pernah ada untuk Zhafira, kini hilang bersama dengan semua ingatannya.
Sejak saat itu, Zhafira tidak pernah lagi berusaha untuk mendekati Kevan. Walaupun bertemu dengannya, Zhafira hanya melewatinya tanpa berkata apa-apa.
"Zha, kamu belum siap-siap?" tanya Ardi saat menemui Zhafira yang masih duduk di depan meja makan.
"Siap-siap mau kemana?"
"Dafa mau ajak kita ke pantai."
"Ke pantai? Kenapa Kakak baru beritahu aku sekarang?" tanya Zhafira yang langsung beranjak dari meja makan dan berlari kecil menuju ke kamarnya.
"Cepat ganti baju, jangan lama-lama."
"Iya, iya."
Zhafira yang mengenakan kaos hitam dengan celana jeans ketat dan rambut yang dibiarkan terurai terlihat cantik.
Dengan langkah gontai, Zhafira menemui teman-temannya yang sedari tadi sudah menunggunya di depan rumah. "Mana mobilnya?" tanya Zhafira pada Dafa yang sementara memeriksa sepeda motornya.
"Tidak ada mobil, kita pergi naik motor," jawab Vino.
"Kalau kalian naik motor, terus aku naik apa? Masa aku harus pergi naik ojek, kan lucu."
"Kamu naik motor sama Kevan, dia kan sendiri," ucap Vino yang sontak membuat Zhafira terkejut.
"Kalian masih waras, kan? Mana ada Kevan di sini? Kalaupun dia ada, aku tidak akan pergi dengannya," ucap Zhafira kesal.
"Tuh, dia ada di belakangmu," tunjuk Vino yang membuat Zhafira segera membalikkan tubuhnya dan benar saja, Kevan sudah berdiri di depannya. Melihat Kevan, wajah Zhafira mulai berubah.
"Aku tidak akan pergi, aku di rumah saja," ucap Zhafira yang kemudian berjalan meninggalkan mereka.
"Zha, tunggu!!" panggil Dafa yang berusaha mencegahnya.
"Apa kamu tidak ingin membuat Kevan kembali ingat padamu? Kita melakukan semua ini demi kalian."
"Aku sudah tidak butuh karena dia memang tidak ingin mengingatku. Semua akan percuma karena memang dia tidak ingin lagi mengingatku," ucap Zhafira sambil berjalan meninggalkan mereka.
"Apa kamu tidak mau pergi karena ada aku? Apa kamu marah karena aku tidak lagi mengingatmu? Apa hanya karena aku, kamu tega membuat teman-temanmu kecewa?" Langkah Zhafira terhenti saat Kevan mengatakan semua itu.
"Bukankah, kamu yang memintaku untuk tidak mendekatimu? Bukankah, kamu sendiri yang bilang kalau aku harus menjauhimu? Apa kamu lupa?!!" Zhafira berusaha menahan rasa sakit yang kini dia rasakan. Tak pernah sekalipun dia semarah itu kepada Kevan, tapi semua ucapan Kevan padanya sudah terlanjur membuat dia sakit hati dan terluka.
"Tenanglah, kalian jangan bertengkar," lerai Dafa.
"Aku tahu kamu tidak bersalah karena semua itu bukan keinginanmu, tapi tak bisakah kamu beri sedikit ruang di hatimu untuk mencari tahu siapa aku? Sudah cukup waktu yang aku berikan untukmu karena sekarang aku sudah memutuskan untuk menyerah," ucapnya dengan air mata yang mulai jatuh.
"Zhafira!! Apa yang kamu katakan?!" Dafa meraih tangan Zhafira dan meminta penjelasan dari gadis itu.
"Aku berterima kasih untuk usaha kalian, tapi kita harus menghentikannya. Aku tidak bisa memaksa Kevan untuk bisa mengingatku, karena memang dia tidak ingin mengingatku. Jadi, untuk apa aku memaksa kalau yang aku dapatkan hanya penolakkan." Zhafira menghapus air matanya dan berjalan mendekati Kevan.
"Di mataku, kamu tetaplah Kevan seperti yang aku kenal dulu, tapi di matamu aku bukanlah siapa-siapa. Aku tidak ingin menyalahkanmu. Aku masih ingin ada di dekatmu dan membantumu melewati masa-masa sulit ini, tapi aku tidak bisa karena kini di hatimu tidak ada aku." Zhafira menundukkan kepalanya dan mulai menangis. Melihat Zhafira menangis membuat Ardi segera memeluknya.
"Kak, maafkan aku jika aku sudah membuatmu kecewa. Maaf, karena keputusanku ini akan mengecewakan kalian, tapi aku mohon tolong mengerti dengan keadaanku." Zhafira kemudian meninggalkan mereka dan masuk ke dalam kamarnya. Zhafira menangis meluapkan rasa sedihnya sambil memeluk gaun pengantin yang selama ini menjadi pengobat rindunya. Dengan air mata, Zhafira memandang cincin yang melingkar di jari manisnya. "Apa hubungan kita akan berakhir seperti ini?"
Cincin emas bermata berlian itu kemudian dia lepaskan dari jari manisnya. Cincin itu akan dia kembalikan bersama gaun pengantin yang selama ini sudah menemaninya dalam penantian dan kerinduan yang ternyata hanya semu.
Dengan menahan air mata, Zhafira keluar dari kamarnya dan menemui Kevan. "Aku kembalikan cincin dan gaun pengantin yang pernah kamu berikan untukku. Maaf, jika hubungan kita berakhir seperti ini. Aku akan datang dan menjelaskan semuanya pada orang tuamu dan terima kasih karena kamu pernah memberikan cinta dan sayangmu untukku. Aku janji, aku tidak akan mengganggumu lagi dan kalaupun kita bertemu, anggaplah aku seperti orang asing karena memang aku hanya orang asing di matamu." Zhafira meraih tangan Kevan dan mengembalikan gaun pengantin dan cincin itu.
"Zha, apa yang kamu lakukan?" tanya Dafena yang mencoba menghentikan Zhafira.
"Aku rasa ini mungkin jalan yang terbaik agar kami sama-sama tidak saling menyakiti. Aku minta pada kalian untuk bisa menerima keputusanku ini." Zhafira kemudian bergegas masuk ke dalam rumah dan mengunci diri di dalam kamarnya.
Kevan hanya diam dan terpaku memandangi cincin dan gaun pengantin yang kini ada di tangannya. Tanpa sadar, air matanya jatuh dari pelupuk matanya. Air mata yang dia sendiri tidak paham kenapa air mata itu bisa leluasa keluar tanpa dia sadari.
"Kenapa aku menitikkan air mata saat melihat cincin dan gaun pengantin ini?" batin Kevan yang perlahan menghapus air bening itu.
"Aku minta maaf. Aku sama sekali tidak menyangka semuanya akan berakhir seperti ini." Dafa terlihat sedih hingga membuat Dafena memeluknya.
"Sudahlah, jangan menyalahkan dirimu sendiri, nanti setelah Zhafira tenang, aku yang akan bicara dengannya," ucap Dafena yang mencoba menenangkan suaminya itu.
Kevan yang masih berdiri tiba-tiba merasakan pusing dan sakit kepala yang membuatnya hampir terjatuh.
"Kevan, kamu tidak apa-apa?" tanya mereka hampir bersamaan dan segera memegang tubuh pemuda itu agar tidak terjatuh.
"Maafkan kami karena telah membuatmu mengalami hal sesulit ini. Andai aku tidak memintamu untuk ikut, mungkin semua ini tidak akan terjadi," ucap Dafa menyesal.
"Apa dulu aku pernah membuat dia menangis seperti itu? Kenapa air mataku jatuh saat aku melihat dia menangis di depanku?" tanya Kevan sambil menghapus air mata yang jatuh di pipinya.
"Itu mungkin reaksi dari hatimu yang sebenarnya masih mengingat Zhafira. Kami tidak ingin memaksamu untuk mengingat tentang Zhafira di masa lalumu, tapi setidaknya buka saja sedikit hatimu untuk mengenal Zhafira di saat ini. Kevan, kami tidak ingin kalian menyesal karena kami tahu perjalanan cinta kalian itu seperti apa," ucap Dafa.
Kevan merasakan sesuatu yang lain di hatinya hingga membuatnya bingung. Rasa sakit yang tidak bisa dia ungkapkan karena dia sendiri tidak tahu penyebab dari rasa sakit itu.
Kevan kembali menatap gaun pengantin dan cincin di tangannya, seakan ada suatu kekuatan yang memaksanya untuk kembali menatap gaun dan cincin itu hingga membuatnya kembali menitikkan air mata.