
Dengan terburu-buru, Kevan memasuki sebuah rumah yang terbilang sangat mewah. Rumah bertingkat tiga itu tampak megah dengan cat tembok yang terlihat natural dan minimalis.
"Kenapa kamu baru datang? Bukankah, Papa sudah mengingatakan agar kamu tidak terlambat datang?" tanya seorang pria paruh baya yang terlihat maskulin dengan balutan setelan jas berwarna hitam.
"Maafkan Kevan, Pa," jawab Kevan sambil menunduk.
"Cepat kamu mandi dan temani Papa menemui klien kita," ucap pria itu yang kemudian pergi menuju ruang kerjanya.
Selepas kepergian ayahnya, Kevan terduduk lemas di sebuah kursi sofa sambil menyandarkan punggungnya di kursi itu. Ditatap ayahnya seperti itu, membuat jantungnya berdetak lebih cepat.
"Pergilah, Nak. Jangan buat ayahmu marah," ucap seorang wanita yang tampak mengelus kepala Kevan hingga membuatnya menyandarkan kepalanya di pundak wanita itu. "Sampai kapan aku akan seperti ini, Ma. Aku ingin bebas setidaknya sekali, aku ingin menghabiskan masa mudaku dengan teman-teman dan juga Zhafira. Apa Papa tidak bisa mengerti itu?" tanya Kevan pada wanita itu yang ternyata adalah ibunya.
"Bersabarlah, Nak. Mama mengerti, tapi papamu tidak ingin kamu menghabiskan masa mudamu hanya untuk bersenang-senang, karena baginya kamu adalah pewaris kami satu-satunya dan dia tidak ingin meninggalkan semua usahanya ini terbuang sia-sia hanya karena kesenanganmu semata," jelas wanita itu sambil menangis.
"Kevan janji, Ma. Kevan akan menuruti semua perkataan papa asalkan papa mau bertemu dengan Zhafira. Tolong bujuk papa, Ma," ucap Kevan memohon.
Wanita itu terdiam tanpa bisa mengatakan apapun. Dia sangat paham dengan perasaan anaknya, tapi dia tidak bisa berbuat apapun karena dia sendiri tidak berani membantah perkataan suaminya itu. "Pergilah, Nak. Jangan buat ayahmu menunggu," ucap wanita itu yang kemudian bangkit dan meninggalkan anaknya walau sebenarnya dia sangat terluka karena melihat anaknya yang menangis dan memohon padanya.
"Maafkan Mama, Nak. Mama tidak bisa membantumu. Mama mohon, tolong jangan membenci Mama," batin wanita itu yang menitikkan air mata saat meninggalkan anaknya itu.
Sudah beberapa kali Kevan meminta pada ibunya dan sudah beberapa kali pula dia diacuhkan. Permintaannya agar mereka menemui Zhafira, tak pernah mereka respon. Setiap Kevan ingin membicarakan tentang Zhafira, mereka selalu mengelak tanpa sebab. Seakan mereka memang tidak menginginkannya berhubungan dengan Zhafira.
Di depan cermin, Kevan menatap wajahnya yang basah karena diguyur air dari shower yang masih menyala. Air yang jatuh dan membasahi wajahnya, seakan menutupi air mata yang jatuh karena penolakkan orang tuanya. "Aku akan tetap mempertahankanmu walau orang tuaku tidak menginginkanmu. Aku tetap akan menjadikanmu sebagai istriku. Aku tidak akan menyerah, aku janji padamu," ucap Kevan pelan sambil mengusap wajahnya.
*****
Di sebuah kafe, Zhafira dan Dafena sedang bertemu. Kafe yang terlihat mewah itu menjadi pilihan Dafena untuk bertemu dengan sahabatnya itu.
"Apa ada yang ingin kamu bicarakan denganku hingga mengajakku ke tempat mewah seperti ini?" tanya Zhafira pada Dafena yang sementara membuka buku menu.
"Kamu mau pesan apa? Biar aku pesankan untukmu," ucap Dafena yang mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Terserah kamu saja," jawab Zhafira.
Segelas es cappucino dan segelas jus alpukat diletakkan oleh pelayan kafe di depan mereka dengan di temani dua potong cake dengan taburan coklat di atasnya.
Zhafira masih menatap Dafena yang masih belum mengatakan apa-apa, walau sebenarnya dia tahu maksud dari pertemuan mereka. "Apa Dafa yang memintamu untuk bertemu denganku?" tanya Zhafira yang langsung mengalihkan pandangan Dafena.
"Ucapanku benar, kan? Dia yang memintamu untuk menanyakan sesuatu dariku. Iya, kan?" Dafena kembali tercekat. Dia tidak menyangka kalau Zhafira bisa menebak maksud dari pertemuannya itu.
"Aku tidak menyangka kalau kamu bisa mengetahui maksud pertemuan kita ini. Ternyata, kamu bisa menebak apa yang sekarang mengganggu pikiran Dafa," ucap Dafena sambil menyeruput es cappucino yang dari tadi teronggok di atas meja.
"Maafkan aku, tapi setidaknya dia tidak perlu sekhawatir itu. Aku tidak apa-apa karena memang aku tidak ada masalah apa-apa," jelas Zhafira.
"Maafkan aku jika aku terlalu ikut campur dengan hubunganmu dan Kevan, tapi asal kamu tahu, Dafa tidak berpikiran kalau saat ini kamu baik-baik saja. Entah mengapa, dia bisa tahu kalau saat ini kamu sedang bersedih dan dia sangat mengkhawatirkan dirimu," ucap Dafena yang berusaha menahan perasaannya.
"Dafena, ternyata kamu sangat mencintai Dafa. Apa kamu berpikir kalau Dafa lebih peduli padaku di bandingkan dirimu? Jangan sekali-kali kamu berpikiran seperti itu. Buang prasangka itu jauh-jauh karena bagiku kalian berdua adalah sahabatku dan aku tidak mungkin membuat sahabatku terluka," ucap Zhafira sambil menggenggam tangan sahabatnya itu.
"Katakan padanya kalau aku baik-baik saja dan tidak perlu mengkhawatirkanku. Aku sangat berterima kasih karena kalian berdua sangat peduli padaku. Dafena, aku mohon tolong jaga sahabatku itu. Aku tahu kalau dia sebenarnya sangat mencintaimu. Karena itu, katakan padanya kalau Zhafira pasti akan hidup bahagia," ucap Zhafira dengan senyum yang mengembang di sudut bibirnya.
Dafena tersenyum mendengar ucapan sahabatnya itu. Setidaknya, dia sudah mempunyai jawaban saat bertemu dengan Dafa nantinya. Jawaban yang mungkin bisa menenangkan hati kekasihnya itu.
Zhafira menyeruput jus alpukat yang sedari tadi hanya dipandangnya. Rasanya dia ingin menghabiskan jus itu untuk menghilangkan sesuatu yang mengganjal di dadanya. Sesuatu yang membuatnya ingin menangis karena rasa sedih yang harus ditanggungnya seorang diri. Rasa sedih yang tidak mungkin dia ceritakan pada orang lain.
Zhafira perlahan mengangkat kepalanya dan tiba-tiba saja pandangannya tertuju pada seseorang yang berjalan ke arahnya. "Kevan?" tanya Zhafira sambil berdiri dari tempat duduknya karena Kevan tidak sendiri. Di sampingnya, sudah berdiri seorang lelaki paruh baya yang menatap lurus ke arah Zhafira.
"Zhafira, perkenalkan ini ayahku," ucap Kevan sambil memperkenalkan sang ayah yang hanya menatap mereka dengan datar.
"Hallo Om, saya Zhafira, temannya Kevan," ucap Zhafira sambil menyodorkan tangannya untuk bersalaman.
Lelaki paruh baya itu hanya menatap Zhafira dengan tatapan dingin. Dia tidak mempedulikan tangan Zhafira yang sedari tadi sudah menunggu untuk berjabat tangan.
"Jadi kamu gadis bernama Zhafira yang sering diceritakan Kevan padaku? Apa dia gadis yang kamu inginkan untuk menjadi istrimu?" tanya lelaki itu yang menatap ke arah Kevan.
"Iya, Pa. Dia adalah gadis yang Kevan suka. Dia adalah gadis yang ingin Kevan perkenalkan pada Papa sebagai calon istri Kevan," jelas Kevan yang membuat ayahnya tersenyum kecut.
"Zha, besok aku akan datang menjemputmu. Aku akan minta izin sama papa untuk menjemputmu lebih awal karena aku ingin menghabiskan lebih banyak waktuku bersamamu besok," ucap Kevan dengan senyum dan mata yang berbinar-binar. Dia terlihat begitu bahagia mendengar ayahnya yang sudah bersedia bertemu dengan kekasihnya itu.
Sebelum pergi, Kevan sempat memeluk Zhafira dan mengecup keningnya karena rasa bahagia yang tak bisa dia ungkapkan dengan kata-kata.
Dafena yang melihat kemesraan mereka, ikut tersenyum bahagia karena akhirnya dia tahu kalau kedua sahabatnya itu memang saling mencintai. Tak ada alasan bagi Dafa untuk mengkhawatirkan Zhafira karena kini Zhafira pasti sedang berbahagia.
"Aku turut senang karena kamu akan bertemu dengan orang tua Kevan. Aku berdoa semoga besok pertemuanmu dengan orang tua Kevan bisa membuat mereka merestui hubungan kalian," ucap Dafena sambil memeluk sahabatnya itu.
Zhafira mengangguk dan masih tidak percaya kalau besok dia akan bertemu dengan orang tua Kevan. Tiba-tiba, Zhafira duduk dengan lemas seakan darahnya berdesir dengan jantungnya yang berdetak takaruan.
"Jangan panik, santai saja. Aku yakin besok kamu pasti tidak akan bisa berbuat apa-apa di depan mereka karena cemas," ucap Dafena yang membuat Zhafira menatap ke arahnya.
"Tenang saja, aku cuma bercanda, kok," ucap Dafena sambil tersenyum karena melihat Zhafira yang pucat karena pertemuan yang tidak disangka-sangka dengan Kevan tadi.
*****
Di depan cermin, Zhafira menatap dirinya yang tampak cantik dengan balutan gaun selutut yang berwarna peach. Rambutnya yang panjang diikat polos hingga membuatnya terlihat lebih natural.
"Ciee ... ciee ... yang mau ketemuan sama calon mertua," ucap Ardi yang datang bersama Riska dan langsung menghempaskan tubuhnya di atas tempat tidur Zhafira.
"Jangan usil, sana keluar," usir Zhafira yang terlihat kesal.
"Sudah, sudah. Mama tidak ingin kalian bertengkar," ucap Riska sambil merapikan rambut Zhafira.
"Kak Ardi tuh, Ma. Sudah tahu aku lagi gugup, malah diganggu terus," keluh Zhafira manja pada ibunya itu.
"Iya, maaf, tapi sampai kapan kamu terus berdiri di situ. Sana turun, pangeran tampanmu sudah datang menjemput," ucap Ardi yang langsung membuat Zhafira semakin panik.
"Benar, Ma? Kevan sudah ada di bawah?" tanyanya seakan tidak percaya.
"Iya, makanya Mama naik untuk memberitahu kamu. Bahkan, dia sudah datang dari setengah jam yang lalu."
"Hah? Setengah jam yang lalu? Lalu kenapa Mama dan Kak Ardi tidak memberitahuku?"
"Itu kemauannya Kevan, dia ingin berbincang sama Mama dan Kakakmu ini untuk meminta restu pada kami," jelas Ardi yang membuat Zhafira tersenyum.
"Lalu, Mama dan Kak Ardi bilang apa?"
"Zha, kami akan merestui hubunganmu dengan Kevan karena kami tahu dia sangat mencintaimu. Kalau dia bisa membahagiakanmu, kenapa Mama harus melarang? Kak Ardi juga sudah memberikan izinnya karena dia juga tahu bagaimana hubungan kalian selama lima tahun ini. Mama hanya ingin kamu bahagia dan menjalani kehidupan ini dengan selalu tersenyum tanpa air mata, karena Mama tidak ingin meninggalkanmu nanti dengan rasa bersalah karena tidak bisa membuatmu bahagia," ucap Riska yang membuat Zhafira menangis.
"Kenapa Mama bicara seperti itu? Aku akan selalu bahagia dan Mama tidak akan pergi meninggalkanku sebelum aku bisa membuat Mama bahagia," ucap Zhafira dalam pelukan ibunya.
Melihat mereka menangis, membuat Ardi ikut menangis. Riska kemudian meraih tangan pemuda itu dan segera memeluknya. "Kalian berdua harus bisa saling menjaga. Mama ingin kalian berdua selalu bahagia, bisa, kan?" Zhafira dan Ardi mengangguk kompak dan menangis dalam pelukan wanita itu.
Riska tampak menangis sambil memeluk kedua anaknya itu seakan itu adalah pelukan terakhir seorang ibu pada anaknya. Entah mengapa, saat ini dia merasa sangat sedih dan juga bahagia. Kedua rasa itu bercampur aduk di dalam hatinya hingga membuatnya enggan melepaskan pelukannya itu.
"Kalian berdua sudah membuat Mama bahagia hingga menangis seperti ini. Ayo, bersihkan wajahmu dan turun temui Kevan. Dia pasti sudah tidak sabar karena dari tadi menunggumu," ucap Riska sambil menghapus sisa air mata di pipi anaknya itu.
Zhafira tersenyum dan membersihkan wajahnya dari sisa air mata. Dengan di temani Ardi, Zhafira menuruni anak tangga dengan anggunnya hingga membuat Ardi menatapnya tanpa berkedip. Sungguh, kecantikan Zhafira telah mengalihkan perhatiannya. Kecantikan yang sudah membuatnya tidak bisa berpaling pada wanita lain. Kecantikan yang membuatnya rela untuk terus mempertahankan gadis itu walau ditentang oleh orang tuanya sendiri.
"Kamu sangat cantik," puji Kevan yang membuat Zhafira tersipu malu.
"Siapa dulu dong kakaknya," ucap Ardi yang membuat mereka berdua tersenyum.
"Iya, Kak Ardi juga sangat tampan sampai-sampai tidak berani mengungkapkan cinta pada Riana," ucap Zhafira yang langsung saja membuat Ardi terkejut.
"Sudah, lebih baik kalian berdua pergi saja daripada rahasiaku bisa terbongkar gara-gara mulut pacarmu ini. Kevan, pastikan minggu depan baru kamu membawa pulang Zhafira, bila perlu sekarang saja kalian menikah biar dia bisa ikut tinggal denganmu," ucap Ardi sambil mendorong mereka untuk pergi.
"Kalau aku sudah menikah dan tinggal dengan Kevan, Kak Ardi pasti akan merindukanku dan memintaku untuk kembali ke rumah ini lagi," ucap Zhafira.
"Iya, iya, makanya kamu harus segera menemui orang tua Kevan biar kalian bisa secepatnya menikah dan aku bisa segera menggendong keponakanku," ucap Ardi yang membuat Zhafira segera meninggalkannya karena mulutnya yang mulai berbicara yang tidak-tidak.
"Dasar Kak Ardi. Keponakan? Keponakan dari Hong Kong," ucap Zhafira yang terlihat kesal dan membuat Kevan menahan senyum.