
Dokter akhirnya mengizinkan Kevan keluar dari rumah sakit karena kondisinya yang sudah membaik.
"Dok, kepala anak saya tidak bermasalah, kan?" tanya Mira saat dokter selesai memeriksa kondisi Kevan.
"Alhamdulillah, kondisi pasien saat ini baik-baik saja. Saya juga sempat bingung karena hasil tes terakhir menunjukkan kalau ada sedikit penyumbatan di kepala pasien, tapi setelah diperiksa ulang ternyata penyumbatan itu sudah menghilang. Sepertinya, ini suatu keajaiban," jelas dokter yang membuat Mira dan suaminya ikut bersyukur.
"Itu semua memang keajaiban, dok." Mira tampak bahagia karena dia tahu keajaiban bagi anaknya adalah Zhafira.
Mira dan suaminya lantas menemui anaknya yang sedang ditemani oleh Zhafira. "Sebaiknya kalian siap-siap, saat ini juga kita akan pulang," ucap Mira sambil berjalan mendekati Kevan dan Zhafira.
"Benar, Tante? Tapi, kepala Kevan tidak ada masalah, kan? Kevan baik-baik saja, kan?" tanya Zhafira yang membuat Mira tersenyum padanya.
"Kondisi Kevan saat ini sudah baik-baik saja. Dia tidak akan mengalami sakit lagi di kepalanya karena penyumbatan di kepalanya sudah menghilang," jelas Mira yang membuat Zhafira spontan memeluk Kevan.
Melihat Kevan yang tersenyum dan melirik ke arah orang tuanya membuat Zhafira melepaskan pelukannya.
"Kenapa? Apa kalian malu karena ada Mama dan Papa?" tanya Mira yang paham dengan tingkah anak dan calon menantunya itu.
Zhafira tersenyum malu dan menundukkan wajahnya hingga membuat Kevan tersenyum dan memeluk gadis itu. "Tidak apa-apa, toh cuma pelukkan," ucap Kevan karena Zhafira berusaha mengelak.
Orang tua Kevan hanya tersenyum melihat tingkah mereka yang saling menyayangi, hingga membuat Mira tidak sabar untuk segera menjadikan Zhafira sebagai menantunya.
Hari itu juga, Kevan keluar dari rumah sakit. Dengan mobil avanza berwarna metalik, mereka meninggalkan gedung rumah sakit itu. Di dalam mobil, Zhafira duduk di dekat Kevan dan menyandarkan kepalanya di lengan pemuda itu dengan tangan yang saling menggenggam. Hingga tiba di depan sebuah rumah mewah, mobil itu berhenti.
"Ayo, aku ingin memberikanmu sesuatu," ajak Kevan saat mereka baru saja turun dari mobil.
Zhafira hanya tersenyum dan mengikuti kemana Kevan akan membawanya. Hingga langkahnya terhenti saat Kevan mengajaknya masuk ke sebuah kamar.
"Kamu mau apa?" tanya Zhafira yang tiba-tiba menghentikan langkahnya dan membuat Kevan tersenyum.
"Kenapa? Apa kamu pikir kalau aku ingin melakukan yang macam-macam padamu?" tanya Kevan.
"Zha, kamu percaya kan sama aku? Mana mungkin aku akan melakukan hal itu padamu. Aku mencintaimu karena aku benar-benar sayang padamu bukan karena nafsu. Aku tidak akan melakukan itu hingga nanti kita menikah. Aku tahu batasannya. Sekarang, kamu percaya, kan?" tanya Kevan sambil menggenggam tangan Zhafira.
Zhafira mengangguk dan masuk ke dalam kamar itu saat Kevan sudah membuka pintu kamarnya. "Ini adalah kamarku yang sebentar lagi akan menjadi kamarmu," jelas Kevan sambil membuka lemari dan mengeluarkan sebuah kotak kayu yang sudah lama dia simpan.
"Kotak apa itu?" tanya Zhafira penasaran.
Kevan meletakkan kotak kayu itu di atas tempat tidurnya dan berjalan mendekati Zhafira dan mendudukannya di sisi tempat tidur. "Kamu ingatkan dengan apa yang kamu ucapkan padaku waktu itu? Kamu bilang jika ingatanku sudah kembali maka aku akan mengembalikan gaun pengantin dan cincin yang waktu itu sudah kamu kembalikan padaku. Dan kini, aku ingin mengembalikannya padamu." Kevan lantas mengambil kotak kayu itu dan membukanya. Diambilnya gaun pengantin yang sudah disimpannya selama ini dan cincin bermata berlian.
"Zha, menikahlah denganku," ucap Kevan sambil memberikan gaun pengantin itu. Zhafira menatap wajah kekasihnya itu dan tersenyum. Anggukkan kepala Zhafira membuat Kevan tersenyum bahagia dan menitikkan air matanya. Cincin yang dipegangnya kemudian dia sematkan di jari manis Zhafira dengan sebuah kecupan di kening gadis itu.
"Aku berharap, selamanya kita akan selalu bersama dan takkan pernah terpisah. Kamu mau kan menjadi ibu dari anak-anakku kelak?" Zhafira mengangguk dan menangis dalam pelukan lelaki itu.
Zhafira begitu bahagia hingga membuatnya menangis. Kevan memeluk tubuh Zhafira yang menangis dalam pelukannya.
"Kita harus memberitahu mama dan papa agar mereka bisa mempersiapkan acara pernikahan kita," ucap Kevan sambil menghapus air mata di pipi Zhafira.
"Baiklah. Kita juga harus memberitahu teman-teman dan juga Kak Ardi," ucap Zhafira sambil berdiri, tapi Kevan segera meraih tangannya kembali dan menarik tubuh Zhafira hingga mendekat ke arahnya.
"Apa kamu sudah buru-buru untuk keluar dari kamar ini? Apa kamu tidak ingin menemaniku di sini?" tanya Kevan dengan tatapannya yang bisa membuat hati menjadi luluh.
Zhafira tersenyum dan menggeleng. "Nanti saja setelah aku menjadi istrimu, maka aku akan menemanimu di sini dan tidak akan keluar sebelum kamu menyuruhku keluar," ucap Zhafira yang membuat Kevan tersenyum.
"Kalau begitu, apa aku boleh minta sesuatu?"
"Minta apa?"
"Aku hanya ingin meminta ini." Kevan kemudian mencium bibir Zhafira.
"Sudah?" tanya Zhafira saat Kevan sudah melepaskan bibirnya dari bibir gadis itu.
"Apa kamu masih menginginkannya?"
"Tidak perlu. Maaf, tapi saat ini aku tidak menginginkan itu, tapi aku ingin ... "
"Ingin apa? Jangan bilang kalau kamu ingin kita melakukan hal ... "
Zhafira menutup mulut Kevan dengan sebuah ciuman sambil memeluknya. "Jangan berpikiran yang macam-macam. Yang aku maksud bukan itu, tapi aku sudah lapar, aku ingin makan," bisik Zhafira manja.
"Kenapa kamu tidak bilang dari tadi?" ucap Kevan yang kemudian melepaskan pelukannya dan menarik tangan Zhafira dan membawanya ke ruang makan.
"Ayo, dimakan." Zhafira menatap makanan yang sudah terhidang di atas meja makan.
"Kenapa dilihat seperti itu? Kamu tidak suka?" Zhafira menggeleng.
"Terus? Apa kamu mau aku suap?" Zhafira masih menggeleng.
"Temani aku makan, bisa kan?" ucap Zhafira yang membuat Kevan tersenyum dan duduk di samping gadis itu.
*****
Di ruang keluarga, kedua orang tua Kevan sedang duduk bercengkrama. Mereka sedang membahas tentang rencana pernikahan Kevan dan Zhafira. "Pa, apa sebaiknya kita melamar Zhafira saja sekaligus membicarakan pernikahan mereka?" tanya wanita itu pada suaminya yang sementara membaca koran.
"Papa kok, begitu sih? Ini adalah pernikahan anak kita satu-satunya, kenapa Papa terlihat acuh seperti itu?" tanya istrinya yang mulai tidak suka dengan sikap suaminya itu.
"Bukan begitu, Ma. Untuk urusan seperti itu, Papa serahkan saja sama Mama, kan Mama lebih tahu dari pada Papa," jawab suaminya lembut.
"Papa dan Mama kenapa bertengkar? Tidak usah dipikirkan, toh Kevan sudah melamar Zhafira, tinggal nikah saja, ya sudah selesai," ucap Kevan mencoba menengahi pertengkaran kedua orang tuanya itu.
"Anak sama Bapak ternyata sama saja. Apa kalian pikir menikah itu hanya begitu-begitu saja? Semuanya harus ada persiapan. Mama harus mengurus katering, dekorasi dan lain sebagainya. Kalian para lelaki hanya mau enaknya saja," ucap wanita itu yang mulai jengkel dengan sikap anak dan suaminya itu.
"Tante, jangan khawatir soal itu. Aku dan Kevan sudah memikirkannya. Untuk urusan itu semua, kami berdua sudah punya tim khusus, tinggal perintah maka mereka akan melaksanakannya dengan senang hati," ucap Zhafira mencoba menenangkan calon mertuanya itu.
"Tim khusus? Memangnya kalian punya tim khusus?"
"Mereka adalah sahabat-sahabat aku dan Kevan. Mereka yang akan membantu kita, jadi Tante tidak perlu khawatir lagi."
"Kalau begitu, kita tentukan saja tanggal pernikahannya, mumpung kamu ada di sini. Bagaimana kalau minggu depan saja, kalian setuju, kan?" Zhafira mengangguk walau wajahnya terlihat sedih.
"Apa ada yang ingin kamu katakan?" tanya Kevan yang mengerti kalau saat ini Zhafira sedang memikirkan sesuatu.
"Aku sudah tidak mempunyai orang tua lagi, hanya tinggal ayah, tapi aku ... "
"Zha, aku akan menemanimu untuk bertemu dengan ayahmu. Bagaimanapun juga, dia harus tahu kalau putrinya kini akan menikah," ucap Kevan sambil menggenggam tangan kekasihnya itu.
"Tapi ... "
"Kalau kamu tidak ingin menemuinya, setidaknya biarkan aku bertemu dengannya dan meminta izinnya untuk menikahimu, kamu tidak keberatan, kan?" Zhafira mengangguk walau ada sedikit rasa enggan karena dia belum bisa memaafkan ayahnya itu.
"Sebaiknya, kamu istirahat saja di kamarku. Besok, kita akan pergi menemui ayahmu dan sekalian meminta teman-teman untuk datang ke sini dan membicarakan segala keperluan untuk pernikahan kita nanti." Zhafira mengangguk dan meminta izin kepada orang tua Kevan untuk beristirahat sebentar.
Dengan ditemani Kevan, Zhafira membaringkan tubuhnya di atas kasur empuk sambil menggenggam tangan pemuda itu yang tengah duduk di sisi tempat tidur. "Kevan, apa aku salah jika belum bisa memaafkannya?"
"Zha, Tuhan saja maha pemaaf, masa kamu tidak bisa, apalagi dia itukan ayahmu. Seburuk-buruknya orang tua, tapi dia tidak mungkin terus menyakiti anaknya. Cobalah buka hati kamu dan memaafkan ayahmu, aku yakin kamu pasti bisa melakukannya," ucap Kevan lembut hingga membuat Zhafira menitikkan air mata. Dia teringat lagi dengan ayahnya yang sudah hampir enam tahun tidak dijumpainya, bahkan setiap ayahnya menghubunginya dia selalu menolak.
Kevan membelai lembut rambut Zhafira yang perlahan mulai menutup matanya, hingga dia terlelap dalam buaian mimpi. Kevan kemudian keluar dan tidur di kamar tamu.
Keesokkan harinya, mereka sudah bersiap-siap menuju ke rumah ayahnya. Zhafira perlahan menata hatinya agar tidak terbawa emosi saat bertemu ayahnya nanti. Kevan menggenggam tangan gadis itu dan meyakinkannya. "Ayo kita pergi." Mobil sedan berwarna hitam itu kemudian melaju dan melewati beberapa ruas jalan yang mulai berkelok hingga tak lama kemudian mereka berhenti di depan sebuah rumah yang terlihat sederhana. Di halaman rumah yang tidak terlalu besar itu, tampak seorang gadis kecil yang berumur lima tahun sedang bermain.
"Kakak mau cari siapa?" tanya anak itu polos.
"Apa Pak Fauzy tinggal di rumah ini?" tanya Kevan sambil menatap ke arah anak itu.
"Pak Fauzy? Tidak ada Pak Fauzy di sini, yang ada hanya papaku," ucap anak itu yang terlihat lucu.
"Nak, kamu bicara sama siapa?" tanya seorang pria yang keluar dari dalam rumah itu.
"Papa!!" teriak anak itu sambil berlari dan meminta digendong oleh pria itu.
Zhafira menatap wajah pria itu yang tampak mulai keriput di dahinya. Zhafira diam terpaku dan menatap gadis kecil itu yang berlaku manja pada ayahnya. Sejenak, Zhafira merasa cemburu karena dengan mudahnya anak itu bermanja-manja dalam gendongan ayahnya. Dia begitu marah hingga ingin pergi dari tempat itu, tapi genggaman tangan Kevan yang sedari tadi digenggamnya membuat dia mengurungkan niatnya itu.
"Om, kami ingin bicara dengan Om," ucap Kevan. Pria itu kemudian mempersilakan mereka untuk masuk. Sementara gadis kecil itu masih digendong ayahnya.
"Bicaralah, ada apa kalian datang ke sini?" tanya pria itu yang sesekali melihat ke arah Zhafira.
"Maksud kedatangan kami karena kami ingin meminta izin pada Om karena aku dan Zhafira minggu depan akan menikah," jawab Kevan yang sontak membuat wajah pria itu menunduk. Tampak, wajah pria itu memerah karena menahan tangis.
"Papa tahu Papa salah, tapi Papa bahagia karena kamu masih mengingat Papa," ucap pria itu dengan tangis hingga membuat gadis kecil itu mendekatinya.
"Papa, jangan menangis, kalau Papa menangis, Zhafira akan ikut menangis," ucap gadis kecil itu yang membuat Zhafira memandang ke arah gadis kecil itu.
Pria itu kemudian memangku gadis kecil itu dalam pangkuannya. "Namanya sama dengan namamu. Papa memberinya nama Zhafira, karena dia sangat mirip denganmu. Papa sudah menerima hukuman Papa, tapi anak ini juga harus menanggungnya." Pria itu kembali menitikkan air mata hingga membuat gadis kecil itu memeluknya.
"Papa minta maaf, karena sudah membuatmu dan ibumu menderita, dan Tuhan sudah membalas perbuatan Papa. Ibu anak ini meninggal saat melahirkannya dulu hingga Papa harus merawatnya seorang diri. Pekerjaan Papa hancur hingga Papa harus bekerja serabutan untuk mencukupi kebutuhan kami. Zhafira, maafkan Papamu ini, Nak." Tangis pria itu kembali pecah dan membuat gadis kecil itu ikut menangis. Zhafira mendengar setiap ucapan ayahnya dengan air mata yang coba dia sembunyikan.
Zhafira menatap gadis kecil yang tidak berdosa itu. Wajah mungilnya mengingatkannya saat dia masih kecil dulu. Sejenak, dia menundukkan wajahnya dan mencoba menata hatinya. Zhafira kemudian bangkit dan mendekati ayah dan adiknya itu dan duduk di depan mereka.
"Zhafira, itu nama kamu?" tanya Zhafira pada gadis kecil itu. Gadis kecil itu mengangguk.
"Boleh aku memelukmu?" tanya Zhafira yang membuat gadis itu menatap ke ayahnya seakan meminta izin dari pria itu.
"Peluklah, dia itu Kakakmu," ucap pria itu yang membuat wajah gadis itu tersenyum.
"Kakak Zhafira? Kakak Zhafira yang juga bernama Zhafira?" tanya gadis kecil itu kembali dan dibalas dengan anggukkan ayahnya.
Gadis kecil itu kemudian memeluk Zhafira sambil mencium kedua pipinya hingga membuat Zhafira tersenyum. "Kamu mau ikut Kakak jalan-jalan?" tanya Zhafira pada gadis kecil itu.
"Mau Kak, tapi Papa ... " ucap gadis itu sambil menatap ayahnya.
"Papa juga akan Kakak ajak," ucap Zhafira dengan air mata yang perlahan jatuh hingga membuat ayahnya kembali menangis. Zhafira lantas memeluk ayahnya dan menangis dalam pelukan ayahnya itu.
"Maafkan Zhafira, Pa. Zhafira tidak tahu kalau selama ini Papa hidup seperti ini. Maafkan Zhafira," ucap Zhafira sambil menangis sesenggukkan hingga membuat Kevan ikut menitikkan air mata.
Pertemuan ayah dan anak yang tidak bertemu hampir enam tahun itu akhirnya berakhir dengan bahagia. Zhafira mampu memaafkan ayahnya dan menerima adiknya yang sementara sedang bermain dengan Kevan di luar. Sementara Zhafira masih duduk bersama ayahnya dan mencoba untuk menata hatinya yang berangsur mulai melupakan masa-masa lalu yang suram saat ditinggal pergi ayahnya. Kini, dia memutuskan untuk bisa menerima kehadiran sang ayah dan juga adik kecilnya yang sudah membuat dia teringat akan masa kecilnya.