Zhafira

Zhafira
Part 36



Di atas brankar, tubuh Kevan terbaring dengan darah yang hampir memenuhi tubuhnya. Para perawat segera membawanya ke dalam ruang UGD dan segera ditangani oleh beberapa orang dokter karena luka yang dialami Kevan terlihat cukup parah.


Tak lama kemudian, dokter yang memeriksa Kevan keluar dengan tergesa-gesa dan menemui salah satu perawat. "Siapa yang akan bertanggung jawab dengan pasien korban kecelakaan tadi? Suster, apa ada keluarganya yang datang?" tanya dokter itu.


"Maaf, dok. Sampai saat ini, belum ada yang datang untuk pasien itu," jawab perawat.


"Bagaimana ini, kalau tidak segera dioperasi, nyawa pasien bisa terancam. Kita tidak mungkin melakukan operasi tanpa persetujuan dari keluarga pasien," ucap dokter itu yang terlihat panik.


Seorang pria paruh baya tiba-tiba datang dengan ditemani seorang security dan menemui dokter itu. "Saya yang akan bertanggung jawab. Tolong selamatkan anak saya, berapapun biayanya akan saya bayar, asalkan dokter bisa menyelamatkan anak saya," ucap pria itu sambil menangis.


"Baiklah, Bapak tenang saja. Suster, cepat berikan surat pernyataannya kepada ayah pasien untuk ditanda tangani dan siapkan ruang operasi sekarang juga," perintah dokter itu yang kemudian pergi dengan terburu-buru.


Pria paruh baya itu duduk dengan wajah yang terlihat pucat. Anaknya satu-satunya kini sedang bertarung dengan kematian. Sejenak, dia teringat kembali dengan perlakuannya pada anaknya itu yang membuatnya kembali menangis. "Maafkan, papa, Nak," ucapnya di sela-sela tangisnya.


Ponselnya tiba-tiba berdering. Dengan tangan gemetar, dia menjawab telepon itu yang membuatnya tidak bisa berkata apa-apa. "Pa, Kevan mana?" Suara itu adalah suara istrinya.


"Maafkan Papa, sekarang Kevan sedang dioperasi," jawabnya yang sontak saja membuat istrinya menangis.


"Kalau sampai terjadi apa-apa dengan Kevan, Mama tidak akan pernah memaafkan Papa. Apa belum cukup Papa menyakitinya? Asal Papa tahu, Papa telah menghancurkan dua hati yang saling mencintai. Apa Papa tidak merasa berdosa kepada mereka?" Kata-kata istrinya bagaikan sebuah silet yang menyayat hatinya. Ponsel di tangannya tiba-tiba terlepas. Pria itu lantas menangis karena mengingat perlakuannya selama ini kepada anaknya. Perlakuan yang membuat anaknya harus menghadapi kematian.


Sementara Kevan sedang bertarung dengan kematian di ruang operasi, Zhafira di sana tengah menangis melepas jasad kedua orang tuanya ke dalam liang lahat.


Zhafira duduk di depan liang lahat yang perlahan mulai ditutupi dengan tanah. Wajahnya tampak pucat dan hanya menatap tanpa ekspresi. Walau begitu, air matanya tak bisa dia tahan saat kedua jasad itu sudah tak lagi terlihat dan tertutup tanah.


Zhafira tak kuasa menahan tangis dan memeluk Ardi yang sedari tadi bersamanya. Di pelukan kakaknya itu, Zhafira menangis sesenggukkan hingga membuat tubuhnya melemah dan akhirnya pingsan.


Ardi yang panik segera membawa tubuh Zhafira ke dalam mobil. Melihat kondisi Zhafira yang tak sadarkan diri membuat Ardi tak kuasa menahan air mata. "Tabahkan hatimu, kalau kamu seperti ini, apa yang bisa Kakakmu ini jelaskan pada orang tua kita nanti?" ucapnya sambil duduk dan menggenggam tangan Zhafira.


Dafa yang sedari tadi memperhatikan Zhafira hanya bisa menatapnya tanpa bisa berbuat apa-apa. Dia sadar, bukan kehadirannya yang kini diharapkan oleh Zhafira, melainkan Kevan yang kini entah di mana.


"Kamu tidak apa-apa?" tanya Dafena yang sudah berdiri di sampingnya. Melihat Dafena, Dafa lantas memeluknya dan menangis di pelukan istrinya itu. Rasanya, dia ingin mengeluarkan semua perasaan sedihnya saat ini.


"Aku mengerti perasaanmu, kita berdoa saja semoga Zhafira bisa melewati semua ujian ini," ucap Dafena sambil mengelus punggung suaminya itu.


"Aku harus bagaimana? Aku tidak sanggup melihat Zhafira seperti ini. Aku tidak sanggup melihat dia terluka lagi," ucap Dafa yang masih memeluk istrinya. Tanpa di sadarinya, semua ucapannya itu telah membuat Dafena menitikkan air mata. Sekuat apapun dia mencoba untuk bertahan, tapi nyatanya perasaan cemburu perlahan merasuki hatinya.


Dafena tidak mengatakan apapun, hanya pelukan penuh kasih sayang yang bisa dia berikan saat ini untuk suami yang sangat di cintainya itu. "Apakah aku pantas cemburu padamu di saat seperti ini? Apakah aku egois jika memintamu untuk tidak memperlihatkan rasa khawatirmu pada wanita lain selain untukku?" batin Dafena yang sekali lagi harus menahan cemburu.


Setelah selesai pemakaman, mereka akhirnya kembali dan meninggalkan tempat itu. Zhafira yang sudah siuman, hanya bisa memandangi gundukan tanah basah yang ditaburi bunga yang perlahan mulai menjauh. Dari balik kaca mobil, Zhafira terus memandangi gundukan tanah itu yang perlahan mulai menghilang di balik tikungan jalan.


Kini, wajah cantik sang bunda takkan lagi dilihatnya. Kasih sayang dari ayahnya, kini tak lagi bisa dia rasakan. Separuh hidupnya kini bagaikan telah terenggut dengan kepergian kedua orang tua yang sangat di sayanginya itu.


"Kak Ardi, apa Kevan sudah bisa dihubungi?" tanya Zhafira yang tiba-tiba, hingga membuatnya terkejut. Sedari kemarin, Zhafira tak berkata sepatah katapun, dia hanya diam membisu dan kini yang dia tanyakan adalah Kevan.


"Belum, nanti Kakak akan coba menghubunginya lagi, siapa tahu ponselnya sudah aktif," jawab Ardi yang terlihat gugup karena dia sudah mengetahui tentang Kevan dari Dafa.


Dafa tidak mampu jika harus menanggung rahasia itu seorang diri, dengan berat hati dia menceritakan perihal Kevan kepada Ardi dan juga sahabat-sahabatnya. Mendengar penjelasan Dafa, mereka terpukul. Mereka tak kuasa menahan tangis karena kini sahabat mereka harus kembali merasakan sakit dan terluka.


Setibanya di rumah, Ardi langsung membawa Zhafira ke kamarnya dengan di temani Tante Maya dan juga sahabat-sahabatnya.


"Kamu harus kuat, mulai sekarang Tante yang akan menjagamu. Tante harus melaksanakan janji Tante sama ibumu untuk menjagamu," ucap Maya yang berusaha tegar.


"Zha, istirahatlah. Kami ada di bawah. Untuk sementara, kami akan menginap di sini untuk menemanimu dan Ardi," ucap Kheyla sambil memeluk sahabatnya itu.


"Terima kasih, tapi Khey, kalian bisa kan menghubungi Kevan? Aku mohon, tolong hubungi dia, bilang padanya kalau aku ingin memeluknya. Aku mohon," ucap Zhafira sambil menangis. Melihat kesedihan di wajah gadis itu membuat mereka ikut menangis. Entah mereka harus mengatakan apa, karena Kevan hingga kini tidak ada kabar.


"Jangan menangis. Baiklah, kami akan menghubungi dia, tapi kamu sebaiknya istirahat dulu. Apa kamu ingin Kevan melihatmu dengan wajah seperti ini? Tidurlah, aku janji akan mempertemukanmu dengan Kevan," ucap Kheyla yang tidak menyadari dengan kata-kata yang baru diucapkannya itu. Semua kata-kata itu terlontar tanpa dia sadari.


Zhafira mengangguk. Matanya yang lelah dan wajah yang pucat, memaksanya untuk bisa terlelap. Walau dia tidak ingin, tapi rasa lelah telah membuainya dalam tidur.


Mereka meninggalkan kamar Zhafira dengan menahan air mata. Dafena yang tidak sanggup menahan tangis, berlari dan menangis dalam pelukan Dafa. "Maafkan aku. Apa seperti itu jika kita merindukan orang yang kita sayangi? Apa aku bisa sekuat itu jika aku kehilanganmu?" ucap Dafena dalam pelukan Dafa hingga membuat Dafa memeluknya dengan erat.


"Kalian harus menemukan Kevan. Bagaimanapun caranya, Zhafira harus bertemu dengan Kevan. Aku tidak sanggup jika melihat Zhafira seperti itu," ucap Kheyla sambil menangis.


"Kami tahu, tapi kami harus mencarinya di mana? Ibunya saja belum mendapat kabar darinya, lalu kita bisa apa? Lagipula, dia sudah dijodohkan dengan wanita lain, apa kalian sanggup jika melihat Zhafira mengetahui hal ini?" tanya Revan.


Melihat Zhafira yang berdiri di atas tangga, membuat Ardi segera berlari ke arahnya dan memeluknya. "Maafkan Kakak karena tidak berterus terang padamu, itu karena Kakak takut kamu semakin terluka," ucap Ardi yang tak kuasa menahan tangis.


"Aku tidak percaya kalau Kevan akan berbuat sekejam itu padaku. Aku tidak percaya kalau Kevan akan meninggalkanku. Aku tidak percaya!!" teriak Zhafira yang langsung membuat tubuhnya kembali ambruk.


Melihat Zhafira yang kembali pingsan membuat mereka menjadi panik. Ardi segera membawa Zhafira ke dalam kamarnya dan diikuti teman-temannya.


Dafena yang merasa tidak tega hanya bisa menunggu di bawah. Dia tidak sanggup melihat penderitaan Zhafira.


"Kamu tidak apa-apa, kan?" tanya Dafa pada istrinya yang lemas dalam pelukannya.


"Aku tidak sanggup melihat penderitaan Zhafira. Kenapa di saat dia kehilangan orang tuanya dia juga harus kehilangan Kevan?" Dafena menangis sambil memegang dadanya yang terasa sakit.


Dafa tidak bisa mengatakan apapun, hanya pelukan kasih sayang yang bisa dia berikan untuk istrinya itu hingga dia dikejutkan dengan bunyi ponselnya.


Dafa menatap layar ponselnya, tertera nomor yang tidak dikenal. "Hallo."


"Nak Dafa, Kevan, Nak. Kevan."


"Kenapa dengan Kevan? Apa dia sudah menghubungi Tante?"


"Kevan mengalami kecelakaan, Nak. Sekarang dia sedang dioperasi," ucap wanita itu sambil menangis.


"Kecelakaan? Bagaimana mungkin ini bisa terjadi? Lalu, bagaimana keadaannya?"


"Papanya sekarang sedang menunggunya di ruang operasi. Sampaikan dukacita Tante pada Zhafira dan katakan padanya kalau Tante minta maaf," ucap wanita itu yang langsung menutup teleponnya. Dia tidak sanggup melanjutkan kata-katanya karena rasa bersalahnya pada anaknya dan juga pada Zhafira.


"Ada apa? Kevan kenapa?" tanya Dafena penasaran. Dafa lantas memeluk istrinya itu dan mulai menangis. "Ada apa?"


"Kevan mengalami kecelakaan dan sekarang sedang dioperasi." Jawaban Dafa kembali menghancurkan hatinya. Suami istri itu berpelukan dan menangisi kisah sedih Zhafira dan Kevan.


"Kalian berdua kenapa menangis? Ada apa?" tanya Vino yang baru saja turun dari kamar Zhafira.


"Pelankan suaramu, apa kamu ingin Zhafira kembali mendengar berita buruk ini?"


"Jelaskan perlahan, sebenarnya apa yang membuat kalian berdua menangis?" tanya Ardi pelan.


"Kevan mengalami kecelakaan dan kini dia sedang dioperasi," jawab Dafa yang membuat mereka terduduk lesu. Kheyla menangis sesenggukan karena mengingat kedua sahabatnya itu. Tak hanya Kheyla, tapi semua sahabatnya ikut menangis. Mereka tidak menyangka penderitaan Zhafira belum juga berakhir.


*****


Hampir empat jam Kevan berada di ruang operasi dan selama empat jam itu pula ayahnya duduk dan menangisi kesalahannya. "Maafkan, Papa, Nak. Papa janji, tidak akan memaksamu lagi." Suara tangisnya kian meratap. Rasa penyesalan memang selalu datang terlambat. Walau begitu, tidak ada kata terlambat untuk bisa berubah.


Pintu ruang operasi perlahan terbuka. Seorang dokter terlihat keluar dan berjalan menghampiri pria paruh baya itu.


"Bagaimana keadaan anak saya, dokter," tanya pria itu cemas.


"Kami sudah berusaha semaksimal mungkin. Untuk sementara, pasien sudah melewati masa krisis, tapi kami tidak bisa menjamin pasien bisa bertahan berapa lama karena kondisinya memang sangat parah. Kami hanya bisa berusaha, tapi Tuhan yang akan menentukan. Karena itu, keluarga harus siap menerima jika terjadi sesuatu pada pasien," ucap dokter itu yang kemudian pergi meninggalkan pria itu yang kini terduduk lesu.


"Tidak!! Anakku tidak boleh mati!! Tidak!!" pekik pria itu saat melihat Kevan keluar dari ruang operasi dengan perban yang menutupi kepalanya.


"Sabar, Pak. Jangan seperti itu, kasihan pasiennya jika mendengar Bapak menangis seperti ini," bujuk salah satu perawat.


Dengan menahan tangis, pria itu berjalan di samping tubuh anaknya yang diam tak bergerak dan memasuki kamar inap.


Tubuh Kevan dipindahkan di atas tempat tidur dan dipasangi dengan alat-alat yang melekat di tubuhnya.


"Apa kamu sebegitu bencinya sama Papa, hingga menghukum Papa seperti ini?" ucap pria itu sambil menggenggam tangan anaknya itu.


"Maafkan Papa karena sudah menyakitimu dan Zhafira," lanjutnya yang tiba-tiba membuat air mata Kevan jatuh di sudut matanya. Melihat hal itu, pria itu kembali menangis dan menghapus air mata anaknya itu.


"Papa akan menebus semua kesalahan Papa. Papa akan mempertemukan kalian, Papa janji," ucap pria itu yang menghapus air mata yang kembali mengalir di sudut mata anaknya itu.


Sungguh, kekuatan cinta ternyata begitu dahsyat. Selama nafas masih di badan, walau tubuh tak lagi bergerak, tapi kekuatan cinta tak akan pernah pudar, kecuali nyawa yang tak lagi ada.